Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Tinggal kenangan


__ADS_3

Pelatih akan berenang di pantai bersama beberapa teman-temannya.


Diapun sudah menggunakan baju renang, dan bersiap untuk berenang.


Saat pelatih sedang berenang tiba-tiba ada dua orang berbadan besar yang menyeretnya berenang ditengah laut. Bahkan beruang kali wajahnya dicelupkan kedalam air sehingga dia kesulitan untuk bernafas.


"Siapa kalian?" teriak pelatih sambil berusaha menghirup udara. Dadanya terasa sesak dan terasa penuh oleh air.


"Kau tidak perlu tahu siapa kami!" kata kedua orang tidak dikenal itu.


Karena dicelupkan kedalam air dalam waktu lama akhirnya pelatih itupun tidak sadarkan diri.


Dia terapung ditengah laut. Tidak ada yang melihat kejadian itu, karena saat itu teman-temannya sedang berenang ditempat yang berbeda.


Saat akan pulang mereka mencarinya, namun karena tidak menemukanya mereka berpikir jika pelatih itu sudah pulang.


Dua hari para mahasiswa kebingungan karena kamar pelatih terbuka dan dia tidak terlihat dimana-mana.


Semua orang mencarinya, sampai tiba-tiba ada beberapa anggota kepolisian yang datang dan memberikan kabar duka jika pelatih itu meninggal akibat terbawa arus saat berenang.


"Apa?" tanya Vano tidak percaya.


"Aku dengar dari Rektor. Sekarang Rektor sedang kekantor polisi." kata Regan yang saat ini sedang duduk disamping Vano.


"Pantas saja dia hari pelatih tidak terlihat dimana-mana." kata Vano.


"Aku juga kekamarnya kemarin. Dan aku kesana dua kali namun tidak berhasil menemuinya." kata Regan.


"Kapan jenazahnya akan disemayamkan?"


"Besok katanya."


"Sekarang kau akan kesana?"


"Kau mau ikut?"


"Ayo kita pergi sama-sama."


Vano dan Regan pergi bersama-sama kerumah duka. Saat ini jenazahnya sudah dipindahkan dari rumah sakit kepolisian kerumah duka.

__ADS_1


"Aku akan mengajak Sasha sekalian."


"Ya udah. Aku tunggu sini."


Vano lalu kekamar Sasha. Dilihatnya Sasha sedang duduk bersama Madina didepan laptop nya.


"Sasha. Kau mau ikut?" ajak Vano saat sudah sampai didekatnya.


"Kemana?" tanya Sasha sambil menoleh kearah Vano.


"Kerumah duka." jawab Vano sambil menatap wajah Sasha.


"Siapa yang meninggal?" tanya Sasha karena belum mendengar kabar tentang meninggalnya pelatih mereka.


"Pelatih kita." jawab Vano pelan dan lirih. Kehilangan jelas nampak dari wajahnya.


"Apa?" Sasha dan Madina lalu saling bertatap.


Hiks! hiks! Mereka malah menangis berpelukan.


"Bagaimana ini bisa terjadi? hiks! hiks....."


"Apa sebabnya?" Tanya Madina yang terlihat lebih tabah.


"Belum tahu pasti. Kabarnya sih tenggelam dan terbawa arus." kata Vano yang ikut sedih melihat wajah Sasha yang begitu terpukul.


"Ayo kita kesana. Regan juga ikut."


Tiba-tiba Rossa ada dipintu dan mendengar apa yang mereka bicarakan, airmatanya mengalir deras.


Dia juga sangat sedih dengan kabar duka itu. Dan diapun langsung memeluk Sasha dan mereka berpelukan.


"Ayo kita kesana sekarang." Kata Madina yang terlihat lebih sabar dan tabah.


Sasha dan Rossa berjalan beriringan. Tangan Sasha menjadi sangat dingin. Kakinya bahkan gemetar saat berjalan. Airmatanya tidak berhenti mengalir dan semakin deras.


Beberapa Mahasiswa yang tidak tahu kabar tersebutpun heran melihat Sasha menangis sepanjang jalan.


"Dimana Regan?" tanya Madina.

__ADS_1


"Dia disana. Sudah ada diparkiran." jawab Vano.


Sesampainya diparkiran mereka langsung naik kemobil dan langsung menuju kerumah duka.


Tidak berapa lama mereka sudah sampai disana. Beberapa dosen dan mahasiswa sudah ada disana. Mereka duduk dikursi yang sudah tersedia dengan berjejer rapi. Hening. Tak ada suara.


Mereka semua bersedih karena kematian pelatih yang sangat mendadak.


Tidak ada pesan ataupun orang yang terakhir kali menemuinya.


Hanya Rossa yang terus mengamati dan tidak percaya jika dia tenggelam.


Bagaimana mungkin bisa tenggelam, Rossa tahu benar jika pelatih jago berenang. Mana mungkin tenggelam, karena berenang disana sudah menjadi rutinitasnya diakhir pekan.


Pasti dia sudah tahu bagaimana ombak di laut dipinggir pantai itu.


Aku tidak percaya jika dia meninggal karena berenang.


Rossa akhirnya berdiri disamping peti kaca itu. Dia lalu mendoakan agar jiwanya tenang disana.


Menyesal sekali tidak ada pesan atau apapun sebelum kematiannya.


Sasha juga berdiri disamping Rossa. Dia juga mendoakan pelatih yang begitu gigih dan bersungguh-sungguh dalam melatihnya selama ini.


Dan jasanya tidak akan dia lupakan sampai kapanpun. Sasha akan terus mengenang kebaikan dan semua jasa juga perjuangannya.


Kebahagian itu bahkan belum genap seminggu. Tapi duka kehilangan ini, telah membuat kebahagiaan itu sirna.


Perayaan untuk kemenangan Sasha padahal tinggal dua hari lagi. Namun sangat disayangkan, pelatih tidak bisa bersama mereka dan ikut berbahagia.


Dia sudah tenang di alam sana.


Kenanganya akan selalu tertinggal dalam sanubari setiap mahasiswa yang dekat dengannya.


Dan terakhir kali yang paling dekat adalah Sasha dan teman-temannya.


Perjuangan telah usai. Namanya akan selalu dikenang sebagai pelatih yang hebat dan handal.


Prestasi Sasha adalah bukti kesabarannya dalam melatih setiap muridnya.

__ADS_1


__ADS_2