
Hari menjelang sore, Prasetyo turun dari lantai tiga bersama Freya. Mereka berjalan kedapur lalu Prasetyo membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan makanan.
"Duduklah disana! Aku akan memasak makanan yang enak untukmu." Kata Prasetyo yang mengingat momen saat memasak bersama Freya.
Prasetyo merasa saat ini adalah masa-masa terindah saat mereka bersama. Dan merasa bahwa Freya mungkin adalah istrinya. Karena saat itu mereka hampir menikah, dan Prasetyo tidak bisa mengingat lagi kejadian setelah itu.
"Aku akan menunggumu disini."
"Baiklah kau duduklah disana dan aku akan memasak untukmu." Kata Prasetyo.
"Ohh ya, Freya.... Apakah kita sudah menikah?" Tanya Prasetyo karena tidak bisa mengingat apapun selain persiapan pernikahan mereka saat itu.
"Kita belum menikah." Kata Freya.
"Kenapa kita belum menikah? Bukankah saat itu kita sudah merencanakannya? Bahkan Vino sudah menikah dengan Nadiya selama tujuh tahun. Apa yang terjadi dan kenapa kita tidak menikah?" Tanya Prasetyo.
"Aku harus bertugas didaerah pedalaman dan daerah tertinggal. Dan hp aku hilang, kau juga tidak pernah menghubungiku. Saat aku kembali kau sudah tidak tinggal disana. Dan aku dengar kau pindah ke Indonesia." Kata Freya menjelaskan pelan-pelan. Dia tidak bisa memaksa Prasetyo untuk mengingat semuanya. Atau akibatnya bisa fatal. Ingatannya bisa hilang semuanya jika dipaksa bekerja terlalu keras.
Dan jika ingatannya tidak pernah kembali siapa yang diuntungkan? Dia hanya mengingat diriku saja. Dan bukankah itu yang aku inginkan? Untuk hidup bersamanya disisa umurku dan menghabiskan hari tua bersamanya? Haruskah ku kembalikan ingatannya? Atau aku lebih suka dia tidak ingat segalanya? Freya mulai membatin dan ada pertentangan didalam hatinya.
"Kenapa aku tidak menghubungimu? Aku sangat mencintaimu dan begitu juga dirimu? Kenapa kita bisa berpisah selama itu?" Tanya Prasetyo.
"Karena kita belum ditakdirkan untuk bersama." Kata Freya.
"Baiklah jika begitu maka kita akan melunasi tujuh tahun yang telah berlalu. Kita akan menikah." Kata Prasetyo.
"Begitukah? Apakah kau sedang melamarku disela-sela aktifitas memasakmu. Dan apakah kau sedang melamarku didapur? Kau ini lucu sekali."
"Ayolah Freya, aku serius. Aku berjanji untuk mengembalikan tujuh tahun yang sudah terenggut dari kita." Kata Prasetyo sambil memotong bawang bombay.
"Aku hidup didaerah pedalaman. Bagaimana mungkin kau akan tahan hidup disana? Aku membuka klinik didaerah tertinggal yang jauh dari perkotaan. Kau tidak akan bisa hidup disana Pras." Kata Freya.
"Aku akan berusaha menyesuaikan diri. Pasti semua terasa lebih mudah jika bersamamu Freya. Aku tidak ingin jauh dan terpisah lagi darimu." Kata Prasetyo.
"Iya pelan-pelan saja. Saat ini kau masih dalam masa pemulihan. Jika kau sudah benar-benar sehat maka baru akan kita pikirkan apa yang sebaiknya kita lakukan?"
"Kau pikir aku sakit? Aku bahkan bisa memasak. Mana ada orang sakit bisa memasak. Aku hanya kehilangan sebagian memori yang aku miliki. Aku masih waras dan tidak gila. Jadi memori yang hilang mungkin tidak terlalu penting bagiku. Dan yang paling penting adalah saat ini aku masih mengingatmu." Kata Prasetyo.
"Kau sangat pandai merayu Pras. Tapi aku tidak akan mudah kau rayu. Kau selalu nampak manis namun kau ini mudah hilang dan pergi." Kata Freya.
"Aku akan mulai memasukan bawang bombaynya apakah kau mau duduk saja disitu?" Tanya Prasetyo.
"Kau tidak suka jika aku membantumu bukan?" Tanya Freya.
"Sekarang kau boleh membantuku." Kata Prasetyo yang ingin berdekatan dengan Freya.
"Baiklah! Apa yang harus kulakukan?" Tanya Freya.
"Berdirilah disini, didekatku." Kata Prasetyo. "Aku hampir selesai."
"Kau memanggilku hanya agar aku berdiri didekatmu? Kau ini sangat nakal!" Kata Freya dan mereka tertawa cekikikan hingga lupa jika Freya hanya berpura-pura menjadi kekasih Prasetyo.
Saat itulah Nadiya masuk dan tertegun melihat keakraban mereka berdua.
__ADS_1
"Nadiya...." Kata Prasetyo biasa saja tanpa canggung sedikitpun. Berbeda dengan Freya yang langsung mundur tiga langkah dari sisi Prasetyo.
"Aku hanya akan mengambil air mineral. Kau sedang apa?" Tanya Nadiya.
"Aku sedang masak spesial untuk kita makan malam nanti." Kata Prasetyo.
"Sepertinya baunya sangat harum." Kata Nadiya.
"Tentu saja. Kau nanti bisa mencobanya."
"Tentu." Kata Nadiya.
"Ini adalah makanan kesukaan Freya."
"Freya?" Tanya Nadiya dan hampir saja terbatuk karena kaget.
"Iya. Kami sering memasaknya saat tinggal bersama."
"Tinggal bersama?" Tanya Nadiya kaget.
"Iya. Apakah aku tidak pernah bercerita kepadamu?"
"Cerita?" Tanya Nadiya. "Kau tidak pernah menceritakan tentang dirimu." Kata Nadiya.
"Ohh ya. Mungkin karena aku sibuk dan kau juga sibuk. Sehingga kita tidak pernah ada waktu untuk bercerita tentang diri kita." Kata Prasetyo.
"Ahk! Bilang saja kau lupa padaku Pras!" Celetuk Freya.
"Tidak! Mana mungkin aku melupakanmu." Kata Prasetyo sambil membereskan sisa bahan makanan yang sudah selesai dimasak semuanya.
"Bukan begitu Freya. Kami sangat sibuk. Aku lihat Nadiya juga sibuk jadi kami pasti tidak pernah punya waktu untuk ngobrol. Benarkan Nadiya?" Kata Prasetyo.
"Ya benar. Kita sangat sibuk, sehingga kita jarang bercerita tentang hal yang telah lalu. Aku juga baru tahu jika Prasetyo sangat mencintai kekasihnya yang bernama Freya." Kata Nadiya sambil melirik kearah Freya.
"Baiklah kalau begitu bagaimana kalau malam ini kita makan malam ditaman saja." Kata Prasetyo.
"Boleh. Gimana Freya? Apakah kamu setuju?" Tanya Nadiya kepada Freya yang terlihat salah tingkah.
"Ok. Ayo kita makan diluar. Pasti lebih menyenangkan." Kata Freya.
"Ayo, aku akan membantumu, menyiapkan meja dan lilin." Kata Nadiya.
Merekapun berjalan kehalaman dan disana Edsel berlari mendekati mereka.
"Apakah kalian akan main bersama kami?" Tanya Edsel yang melihat keluarganya berada diluar ruangan."
"Tentu saja jagoan!" Kata Prasetyo sambil menggeser meja.
"Pak Arya! Tolong bantu kami. Kita akan makan ditaman malam ini." Kata Nadiya.
"Baik Bu."
"Kami juga akan membantu!" Kata Edsel dan juga Eiden sambil melemparkan bola dan berlari lalu duduk diatas kursi yang sudah dirapikan oleh Pak Arya.
__ADS_1
"Aku akan sedikit menghiasnya." Kata Nadiya lalu pergi memetik beberapa bunga mawar yang masih segar dari taman dan menaruhnya didalam vas bunga.
Nadiya pergi lagi memetik bunga untuk dihias dipinggir tempat makan itu.
Arya memperhatikan saat Nadiya memetik bunga dan menatapnya sangat lama.
Kau masih saja tidak berubah. Kau masih menyukai bunga mawar sama seperti dulu. Aku akan membantumu memetik bunga.
"Edsel! Eiden! Ayo kita bantu mami memetik bunga!" Ajak Arya.
"Iya Om." Kata Edsel dan juga Eiden sambil berlari menyusul maminya.
Nadiya memetik bunga mawar merah dan mawar lainnya. Rupanya dia lupa membawa keranjang tempat untuk memetik bunga yang biasa dia gunakan. Saat dia aku menaruh bunga yang sudah dia petik tiba-tiba Arya sudah berdiri disampingnya dan memberikan keranjang bunga padanya.
"Oh! Terimakasih! Saya lupa tadi mengambil keranjang." Kata Nadiya.
Arya kemudian tersenyum dan berdiri disamping Nadiya.
"Apakah Bu Nadiya menyukai bunga mawar?" Tanya Arya.
"Ya. Saya sangat suka dengan bunga mawar."
"Sejak kapan?" Tanya Arya sambil memetik beberapa bunga segar.
"Sejak...." Nadiya kemudian teringat beberapa momen saat bersama Ardy. Lalu Nadiya berhenti dan tidak meneruskan kalimatnya.
"Pasti sejak muda." Kata Arya yang melihat perubahan pada wajah Nadiya.
"Iya benar." Kata Nadiya lalu tersenyum.
"Ini mami!" Kata Edsel dan Eiden menyerahkan bunga mawar yang berhasil mereka petik.
"Waahhhh! Bunganya sudah banyak mami! Keranjangnya hampir penuh!" Kata Eiden.
"Ya tentu saja cepat penuh. Kita berempat memetik bersama, jadi keranjang bunganya cepat penuh.
"Waahhhh harum sekali..." Kata Eiden.
"Ini namanya bunga melati. Mami akan memetik beberapa sebagai hiasan nanti." Kata Nadiya.
"Aaaayyiiiikkkk Aku suka yang kecil-kecil ini mami. Tapi pohonnya terlalu tinggi. Eiden tidak bisa mengambilnya." Kata Eiden.
"Om akan mengambilkannya." Kata Arya yang memang badannya tinggi. Mudah bagi Arya untuk mengambil bunga melati itu.
"Sini Om! Aku mau pegang yang bergerombol itu." Kata Edsel saat Arya memetik bunga melati yang bergerombol.
"Nih...jangan sampai rusak." Kata Arya sambil memberikan bunga yang baru saja dia petik.
"Sudah cukup! Sepertinya keranjangnya sudah tidak muat lagi. Ayo sekarang kita akan mulai menghiasnya." Kata Nadiya dan berjalan keluar dari taman bunga itu.
Dari jauh nampak Freya sedang membawa makanan bersama Prasetyo sambil berbicara dan bercanda. Wajah Prasetyo nampak manis sekali saat tersenyum dan memandang Freya.
Aku baru menyadari jika kau sangat manis Pras...Semoga ingatanmu cepat kembali dan aku akan lebih menyayangimu dan memperhatikanmu. Aku sangat ingin memelukmu. Dan kau juga suka memelukku dari belakang dan mengagetkanku. Aku sangat merindukan keisenganmu itu. Dan senyumanmu yang manis.
__ADS_1
Nadiya menghentikan langkahnya dan terpana melihat senyuman dan keceriaan Prasetyo.