
Latihan hari pertama.
Catrine sedang meregangkan kakinya di lapangan sendirian. Dia nampak ceria. Rambut panjangnya diikat dibelakang. Dia memakai kaos dan celana olahraga berwarna putih. Dan juga dia memakai topi putih untuk melindungi wajahnya dari teriknya cahaya matahari.
Dari jauh Sasha berlari ketengah lapangan. Sasha hari ini mengenakan kaos dan celana olahraga berwarna abu-abu. Dia memakai topi juga berwarna senada dengan bajunya.
Kakinya nampak biasa saja, namun entah kenapa dokter melarangnya ikut lomba, dan sangat tidak menganjurkanya untuk berlari.
Apakah dokter itu menerima suap dan ancaman dari Menteri?
Sasha jadi berpikir buruk mengenai dokter itu akibat banyak sekali hal yang terjadi dibelakangnya.
Sasha sendiri awalnya ragu untuk berlari karena dokter ituengatakan hal yang menakutkan. Namun saat Sasha bangun di pagi hari, tiba-tiba dia terpikir untuk melakukan uji coba pada kakinya.
Jika berhasil maka dia akan sangat bersyukur. Dan jika terjadi masalah lagi dan harus dirawat, toh dia hanya pelari cadangan. Tidak terlalu ada beban mental yang memaksanya untuk berlari. Jika terluka lagi, dia juga memutuskan untuk tidak menyesal, karena setidaknya dia sudah mencoba dan agar keraguannya itu tidak terus menggantung dikepalainya.
Sasha berjalan diantara pepohonan didalam asrama, awalnya perlahan, lama-lama ritme nya dia percepat.
Dan semakin lama dia menambah kecepatannya saat dia tidak merasakan sakit apapun.
Dan ternyata meskipun larinya sangat cepat, tidak terjadi hal yang ditakutkan itu. Kakinya juga tidak cedera dan tidak terasa sakit. Lalu, kenapa dokter itu mengetakan jika kakinya cedera?
Sasha lalu mengingat kembali apa yang terjadi satu Minggu yang lalu.
Saat itu aku pingsan, tiba-tiba saat aku bangun, kakiku sudah penuh perban dan sudah diobati. Apakah jangan-jangan aku pingsan karena kelelahan dan bukan karena cedera kaki?
Sasha akhirnya bisa tersenyum lega, saat dia mengetahui jika tidak terjadi hal yang menakutkan saat dia menggunakan kakinya untuk berlari cepat.
Catrine yang melihat dari kejauhan juga sedikit bingung melihat kecepatan Sasha dalam berlari .
"Bukankah kakinya cedera? Tapi kenapa dia bisa berlari secepat itu? Ahk, tapi aku tidak peduli, berlatihlah secepat mungkin, karena semua itu akan sia-sia. Kau hanya pelari cadangan, dan belum tentu keahlianmu itu akan digunakan." Gumam Catrine lalu tanganya melambai kearah Sasha.
Sasha yang memang sedang berlari kearahnya pun semakin mempercepat larinya. Pelatih yang baru datang juga melihat bagaimana cepatnya Sasha berlari.
Pelatih itu kemudian tersenyum. Senyum yang penuh rahasia. Dan hanya dia yang tahu rahasia apa yang tersimpan dibalik senyuman itu saat melihat Sasha berlari dengan kencang. Dan tidak terlihat sedikitpun kalau dia pernah cedera.
__ADS_1
Pelatih itu sudah menduga, semuanya pasti sudah bekerja sama untuk menumbangkan Sasha. Dan pelatih itu tahu bagaimana melindungi muridnya. Hanya dia yang tahu dan tidak seorangpun mencurigainya.
Saat ini hanya pelatih yang bisa melindungi Sasha dari orang-orang disekitarnya yang mungkin akan menusuknya dari belakang.
Sashapun mendekat dan menyapa Catrine yang terlihat meremehkannya.
Wajah Catrine terlihat begitu bahagia diatas duka orang lain. Senyumnya begitu dipaksakan. dan sedikitpun tidak tersirat ketulusan didalamnya.
"Hai!" Sapa Sasha sambil meregangkan otot dikakinya.
"Kau terlihat masih bersemangat. Padahal kau hanya pelari cadangan saja." kata Catrine dengan nada menghina dan merendahkan.
Namun Sasha hanya diam saja dan enggan membalas perkataan Catrine.
Tiba-tiba pelatih masuk dan menyapa mereka berdua.
"Kalian berdua apakah sudah siap?" tanya pelatih sambil melihat kearah Sasha dan Catrine secara bergantian.
"Sudah! kami sudah siap!" jawab Catrine.
"Jika kalian sudah siap, seperti biasa, kalian pemanasan dulu. Setelah itu kalian berlari keliling lapangan ini," kata pelatih kepada Sasha dan juga Catrine.
Mereka pun mengikuti instruksi dari pelatih. Saat Catrine dan Sasha berlari, tiba-tiba Rossa datang dan memberikan kertas catatan kepada pelatih. Rossa lalu melihat Sasha sedang berlari bersamaan dengan Catrine.
Rossa merasa tidak enak hati jika terus-menerus menghindarinya. Akhirnya Rossa memutuskan untuk menunggunya di pinggir lapangan.
Rossa terus memperhatikan Sasha yang berlari tanpa terlihat lelah ataupun kesakitan di kakinya. Semua terlihat normal saja.
Rossa menjadi terkejut dengan semua yang dilihatnya. Lalu jika Sasha sehat dan kakinya tidak cedera, kenapa Catrine menggantikannya?
Apakah semua orang sama seperti diriku ini? dan semua orang menghianatinya? Tapi aku tidak akan melakukan kesalahan sekali lagi. Saat ini aku akan mendukungnya dan ada di sampingnya.
Aku tidak peduli lagi dengan ancaman Catrine yang akan membongkar kesepakatan ini. Aku akan tetap mendukung sahabatku, apapun yang akan terjadi.
Rossa bergumam sendiri didalam hati.
__ADS_1
Pelatih terus memperhatikan setiap gerakan Sasha. Bahkan saat dia melompati pembatas yang di buat oleh pelatih untuk melatih kekuatan otot mereka. Sasha nampak tidak mendapat kesulitan dari semua itu. Sasha juga tidak terlihat merasakan sakit di pergelangan kakinya.
Semua terlihat normal dan tidak nampak jika kakinya pernah cedera. Semua uang melihatnya berlari dan melompat dengan begitu ringan akan kagum dan terpana.
Bagaimana mungkin orang yang satu Minggu dirawat dirumah sakit bisa berlari secepat itu dan melompat dengan begitu ringan tanpa ada keluhan.
"Sasha kau berlatih dengan baik. Teruslah jaga kesehatanmu dan tetap berlari seperti itu," kata Pelatih itu penuh ketulusan menyemangati Sasha.
Mendengar pelatih menatapnya dengan tulus dan memujinya membuat hati Sasha bersemangat lebih besar dari sebelumnya. Meskipun hanya sebagai pelari cadangan dia tetap bersemangat dalam berlatih karena ada harapan besar yang menantinya setelah ini.
"Terima kasih pak."
"Oh ya Sasha, apakah kau tidak merasakan sakit saat berlari dan melompat tadi?" tanya pelatih penasaran.
"Tidak pak! Saya merasa semuanya normal. Saya juga bingung dengan perkataan dokter yang mengatakan kaki saya cedera. Tapi saya merasa tidak ada cedera sedikitpun di kaki saya."
Pelatih lalu tersenyum tanpa menjawab apapun. Tapi dia sudah mengerti semuanya. Dari setiap kejadian yang sudah terjadi pelatih itu bisa mengambil sebuah kesimpulan. Dan hanya dia sendiri yang tahu, apa kesimpulan dan yang dia simpan didalam hatinya.
Nanti semua orang akan terkejut melihat pertandinganya. Dan semua sudah direncanakan oleh pelatih itu tanpa sepengetahuan siapapun.
Namun jika waktunya tiba, pelatih itu akan membutuhkan bantuan seseorang untuk menjalankan rencananya. Semua orang akan terkejut dan terpana, Menteri dan Rektor akan mulai kebingungan. Dan saat itu terjadi, semua sudah terlambat untuk menyadarinya.
Biarlah sekarang setiap keadaan seperti kemauan mereka. Supaya tidak ada yang curiga rencana besar yang sedang dia rencanakan untuk Sasha. Dan melindungi Sasha dari cedera lainya.
"Oke, sekarang kau boleh istirahat! Latihan hari ini cukup sampai disini," kata pelatih lalu menghampiri Catrine yang sedang minum, dan melihat sasha dan pelatih yang ngobrol barusan.
"Bapak terlihat senang melihat Sasha bisa berlari seperti tadi," kata Catrine dengan nada sedikit sinis.
"Tentu saja aku senang, kalian berdua adalah pelari hebat, teruslah berlari dan jangan cepat merasa puas, kita tidak tahu kekuatan dan kecepatan lawan nanti saat di pertandingan.
"Mereka pasti akan saya kalahkan!" kata Catrine penuh percaya diri.
"Tetaplah tambah kecepatan lari mu setiap kita latihan." kata pelatih itu disertai anggukan kepala oleh Catrine.
Sebagai pelatih, dia harus tetap memberikan semangat dan nasehat kepada muridnya. Meskipun nasehatnya itu akan diikuti atau tidak, tapi sudah menjadi kewajibannya untuk tetap menyampaikannya.
__ADS_1