
Beberapa hari kemudian Regan sudah dinyatakan sembuh oleh dokter dan boleh dibawa pulang oleh orang tuanya.
"Asyiiiikkk! Regan sudah boleh pulang.....!" Kata Regan dengan muka yang berseri. Tentu saja dia sudah bosan berhari-hari dirumah sakit tanpa melakukan aktivitas apapun. Dan yang paling membuatnya bahagia adalah saat melihat papi dan maminya ada bersamanya saat ini.
Nadiya gemas dan bahagia melihat Regan sudah sehat dan boleh pulang. Kemudian dia mendekat dan mencium pipi kirinya. Hal yang sama juga reflek dilakukan oleh Ardy yang langsung mencium pipi kanan Regan. Regan sangat bahagia mendapatkan kedua ciuman dari ayah dan ibunya.
Karena kejadian yang reflek itu membuat Ardy dan Nadiya bertatapan dan berpandangan untuk sesaat. Ceklek! Prasetyo yang baru saja masuk kaget melihat pemandangan itu. Dengan cepat dia memanggil Nadiya dan mengalihkan pandangannya dari Ardy. Prasetyo tidak ingin Ardy kembali merebut hati Nadiya karena dia saat ini adalah calon istrinya. Dan Prasetyo juga tahu jika mereka sudah lama berpisah.
Nadiya mundur satu langkah dan membiarkan Ardy menggendong putranya kemudian membawanya kedalam mobil. Sebenarnya Regan juga sudah bisa berjalan karena kakinya hanya menderita luka ringan. Tapi Ardy memilih untuk menggendongnya dan diikuti Nadiya juga Prasetyo dibelakangnya.
Mereka naik mobil yang berbeda keapartemen Ardy. Satu jam kemudian Nadiya dan Prasetyo sudah sampai terlebih dahulu dan menunggu dipintu. Sementara Ardy terlihat berjalan mendekati mereka dan membuka pintu. Sebenarnya Ardy muak melihat Nadiya selalu bersama lelaki itu. Toh sudah ada dirinya kenapa lelaki itu terus menguntitnya? Dan caranya melihat Nadiya membuatku lebih kesal lagi. Bagaimanapun cinta didalam hatiku belum sepenuhnya padam. Bagaimanapun kami belum bercerai meskipun sudah lama berpisah.
"Baiklah aku yang akan memasak untuk sarapan kita hari ini. Nadiya kau bisa membantuku?" Tanya Prasetyo yang sudah menyiapkan bahan untuk memasak. Tadi Prasetyo dan Nadiya sudah membeli bahan-bahan yang dibutuhkan disupermarket.
"Baiklah aku akan membantumu" Jawab Nadiya sambil meletakkan tasnya. Dan memberikan beberapa mainan untuk Regan sementara dia membantu Prasetyo memasak di dapur.
Sesekali Ardy melirik pada mereka berdua yang asyik masak di dapur dan terdengar percakapan yang hangat sambil sesekali terdengar mereka tertawa bersamaan. Makin jengkel saja rasanya hati Ardy.
"Tolong Nad, kamu pegangin ini, biar aku menuangkan airnya. Hati-hati ya jangan sampai tumpah?" Kata Prasetyo sambil menyerahkan mangkok besar pada Nadiya.
"Baiklah. Aku akan hati-hati."
"Sekalian tolong dagingnya, biar aku yang akan memanggangnya."
"Oke, Sudah. Lalu apalagi? Tanya Nadiya.
"Tolong kamu bawa irisan bawang bombai kesini aku akan menumis bersama bumbu ini."
"Wow! Baunya sangat harum. Ini pasti lezat!" Seru Nadiya.
"Oke kamu boleh berdiri disana dan biarkan aku menyelesaikan ini semua." Kata Prasetyo sambil tangannya memasak dengan cekatan dan terlatih.
"Baiklah chef." Jawab Nadiya. Dan diikuti oleh senyuman termanis didunia dari Prasetyo yang menatapnya dengan lembut.
Namun tiba-tiba Nadiya tidak sengaja menjatuhkan pisau dan menggores kakinya.
"Aduh!!! Jerit Nadiya. Ardy langsung berlari kedapur dan menolong Nadiya setelah mendengar teriakannya.
Prasetyo baru saja akan mematikan kompor dan menolongnya saat tahu kaki Nadiya berdarah, tapi Ardy sudah lebih dulu mendekat dan bersimpuh dikaki jenjangnya begitu melihat kaki Nadiya terluka.
Kemudian memapah Nadiya duduk dan membersihkan lukanya. Kemudian dengan terampil mengobati dan memberinya perban kain kasa . Ardy mengobati tanpa bicara sedikitpun. Rupanya dia sangat khawatir sehingga dia hanya fokus pada kaki Nadiya yang berdarah.
Nadiya terus memperhatikan apa yang sedang dilakukan Ardy pada kakinya. Sambil sesekali menahan perih dan sakit. Nadiya melihat wajah Ardy dari jarak yang sangat dekat sehingga bulu-bulu halus di kulitnya juga terlihat olehnya. Nadiya terus memperhatikan bagaimana tangan Ardy dengan cekatan membalut lukanya dengan kain kasa yang dia simpan didekat dapur.
Ardy mendongakkan kepalanya dan mata mereka bertemu dan saling berpandangan.
"Sakit?" Tanya Ardy yang membuat Nadiya sedikit salah tingkah.
"Iya. Sakit......"
Nadiya mengangguk. "Duduk disana. Tidak usah mondar-mandir." Kata Ardy pada Nadiya.
__ADS_1
Akhirnya Ardy memapah Nadiya pada Sofa yang panjang dan menyuruhnya istirahat disana. Prasetyo datang dan mendekati Nadiya dan minta maaf padanya.
"Maaf. Ini semua salahku. Andai aku tidak menyuruhmu kedapur maka semua ini tidak akan terjadi."
"Tidak Pras. Ini bukan salahmu. Aku yang ceroboh dan menjatuhkan pisau." Sahut Nadiya.
"Sakit ya?" Tanya Prasetyo.
"Sedikit lebih baik sekarang. Ardy sudah mengobatinya." Jawab Nadiya.
"Baiklah aku akan menyiapkan sarapan untuk kita makan ya?" Prasetyo kemudian mempersiapkan makan untuk Nadiya dan semuanya.
Nadiya mengangguk. Sementara dari tempat tidur Regan, Ardi memperhatikan apa yang dibicarakan Nadiya dan bodyguardnya itu. Semakin hari Ardy melihat Nadiya dan bodyguardnya itu semakin dekat saja. Bos yang aneh, memperlakukan bodyguard seperti pada kekasihnya saja! Gerutu Ardy kesal pada bodyguard yang terus mencari kesempatan dan mendekati Nadiya.
Prasetyo menyiapkan empat porsi makanan dan dia berikan pada Ardy, Regan dan yang dua untuk dirinya dan Nadiya.
Prasetyo menaruh piringnya dan memberikan satu piring untuk dirinya dan Nadiya. Prasetyo sengaja ingin menunjukan pada Ardy bahwa saat ini Nadiya adalah calon istrinya. Sehingga dia makan satu piring berdua. Tentu saja pemandangan itu sangat menyebalkan bagi Ardy. Tanganya mengepal dan serasa ingin di pukulkan ke muka bodyguard itu yang sengaja menggoda istrinya. Tapi hal itu dia tahan dan dia hanya melihat saja tanpa melakukan apapun.
"Lady first" Kata Prasetyo dan memberikan suapan pertamanya pada Nadiya.
"Terimakasih. hmmm.... masakanya memang lezat. Seperti masakan chef sungguhan."
"Kamu terlalu memujiku." Jawab Prasetyo yang sangat tersanjung mendengar pengakuan tulus Nadiya.
"Benar. Ini bukan hanya sekedar pujian.Coba kamu rasain?" Nadiya menawarkan satu sendok kepada Prasetyo. Dan mendekatkan pada mulutnya.
"Hmmmm...... Iya, rasanya lumayan lah." Jawab Prasetyo.
"Tidak terimakasih. Aku bisa gemuk kalau kamu terus masak seperti ini."
"Hahahaha. Gemuk juga tetap cantik." Puji Prasetyo dan membuat pipi Nadiya memerah. Tapi kemudian tawa itu surut saat ingat disana ada Ardy yang terus melotot dan tersenyum sinis pada mereka berdua.
"Papi nanti Regan mau main bola ya?" Terdengar suara Regan berbicara pada Papinya.
"Iya Nanti kalau sudah sembuh sayang." Jawab Ardy sambil sesekali matanya melirik ke arah Nadiya.
"Sekarang Regan sudah sembuh." Jawab Regan jenaka.
"Kan kata dokter harus istirahat dulu sampai benar-benar pulih. Sekarang Regan nonton film aja ya. Apa film kesukaan Regan?"
"Hmmmm Apa ya? Bagaiman kalau Harry Potter?"
"Baiklah sekarang Regan akan nonton film sama papi." Kemudian Ardy mulai mencari tumpukan kaset dan mereka menonton film Harry Potter.
"Mami mana pa?" Tanya Regan yang tidak melihat maminya berada didekat papinya.
"Mami ada diluar." Kebetulan Nadiya ada disofa yang jika dilihat dari tempat duduk Ardy didalam kamar kelihatan apa yang sedang dilakukanya. Tapi dari tempat Regan duduk tidak bisa melihat maminya.
"Sebentar papi panggilkan ya...." Kata Ardy sambil beranjak dari tempat duduknya.
Ternyata Nadiya lagi mencuci piring dan membersihkan dapur. Karena Ardy tidak ada asisten rumah tangga sehingga Nadiya membantunya. Setelah diperban kaki Nadiya sudah tidak terasa sakit saat berjalan. Hanya sakit sedikit dan dia memaksa pada Prasetyo untuk mencuci piring di dapur. Padahal tadi Prasetyo melarangnya dan biarkan dia yang mengerjakan semua itu. Tapi Nadiya keras kepala, dan tetap memaksanya.
__ADS_1
"Regan memanggilmu. Biarkan aku yang ngelanjutin pekerjaan ini." Kata Ardy pada Nadiya.
"Baiklah aku akan segera kesana." Jawab Nadiya setelah mencuci tanganya dan mengeringkannya.
"Hallo sayang.....Regan lagi nonton apa tuh?" Sapa Nadiya melihat buah hatinya lagi asyik nonton.
"Harry Potter mami..." Jawab Regan
"Ya sudah mami temenin ya." Kata Nadiya sambil duduk disamping Regan.
"Hallo Regan?" Prasetyo masuk karena tahu ada Nadiya didalam dan Ardy diluar.
"Kamu siapa?" Tanya Regan polos dan ingin tahu siapa dia orang yang terus bersama maminya.
"Dia om Prasetyo. Teman mama." Sahut Nadiya menjelaskan pada Regan supaya Regan tidak bingung dengan kehadirannya diantara mereka.
"Hai om. Tadi om yang masak ya. Masakanya enak om. Lain kali om masak lagi ya. Regan suka." Puji Regan dengan mata bersinar karena masakanya yang sangat lezat.
"Tentu. Om akan senang bisa masak buat Regan lagi." Jawab Prasetyo karena senang sekali bisa menyenangkan calon anak tirinya. Apalagi jika bisa membuat tempat dihati Regan, itu akan memudahkan langkahnya meyakinkan Nadiya bahwa dia bisa menjadi ayah yang baik untuk Regan.
"Bibi dimana mami? Regan kok ngga lihat bibi?" Tanya Regan sambil matanya melihat sekeliling.
"Bibi.....sudah tidak bersama kita lagi sayang. Bibi sudah bersama Tuhan." Jawab Nadiya pelan dan sedikit bingung cara menjelaskan pada anak seusia Regan tentang bibinya yang sudah meninggal dunia.
"Kenapa?" Jawab Regan masih belum mengerti maksud ibunya.
"Karena Tuhan sayang sama bibi."
"Regan juga sayang sama bibi." Regan masih tidak mengerti.
"Kita semua sayang sama bibi. Tapi Tuhan lebih sayang, karena itu Tuhan memanggil bibi lebih cepat dari kita semua. Artinya bibi sudah meninggal sayang."
"Jadi bibi ngga pulang lagi ketemu Regan?" Regan masih tetap tidak mengerti arti kata bersama Tuhan yang dimaksud ibunya.
"Kalau Regan kangen sama bibi....maka kita akan berdoa untuk bibi agar bibi damai bersama Tuhan." Nadiya mencoba menjelaskan tanpa membuat Regan bersedih.
"Hiks hiks hiks........" Regan mulai menangis setelah memikirkan apa yang ibunya katakan.
"Regan pengen ketemu bibi. Tapi bibi malah bersama Tuhan. Hiks hiks hiks......." Regan sedih kehilangan bibinya. Tidak mudah baginya ditinggalkan orang yang sudah bersamanya sejak dia kecil dan mengurusnya 24 jam layaknya seorang ibu. Tentu ingatan tentang kebersamaan dan apa yang mereka lalui bersama membekas dalam ingatanya.
kemudian Prasetyo mengalihkan kesedihan Regan dan memperlihatkan sebuah gambar. Itu adalah tempat rekreasi yang sangat seru.
"Ini apa om?" Tanya Regan begitu melihat apa yang ada dipangkuannya. Rupanya perhatianya mulai teralih pada gambar yang sangat menarik.
"Lihat gambar ini? Bagus bukan? Jika Regan mau om akan mengajak Regan dan mami pergi kesini untuk bersenang-senang. Kita akan bermain semua permainan yang ada disana." Kata Prasetyo mencoba menghibur Regan.
"Regan mau om. Tapi....Papi ikut tidak?" Jawab Regan spontan dan sumringah.
Nadiya dan Prasetyo saling berpandangan mendengar pertanyaan Regan.
Bersambung......
__ADS_1