
Prasetyo dan Nadiya saling berpandangan mendengar ungkapan Regan. Nadiya langsung memalingkan mukanya dan melihat kewajah putranya. Sementara Prasetyo menatap wajah Nadiya begitu lekat dan mesra.
Pemandangan itu membakar hati Ardy dan ingin rasanya saat itu juga menyeret Pria sok keren itu hengkang dari ruangan ini.
"Mami sama om Pras pulang ya sayang karena sudah ada papi yang jaga Regan." Nadiya berpamitan pada Regan.
"Kenapa harus pulang? Kenapa mami ngga bobo disini saja? Om Pras saja yang pulang." Kata regan merengek.
"Disini Regan sama papi dulu ya. Opa lagi sakit juga dan mami harus jaga opa dulu, besok mami akan datang pagi-pagi sekali"
Nadiya beralasan karena tidak mungkin menjelaskan tentang apa yang terjadi sebenarnya. Regan juga belum mengerti dan memahami karena usianya masih kecil.
"Baiklah, tapi mami janji besok harus datang ya?" Kata Regan dengan dua bola mata yang berkaca-kaca dan siap mencair. Nadiya trenyuh melihat kedua mata putranya. Akhirnya setelah menarik nafas panjang dan mencium kening putranya, Nadiya berpamitan pada Ardy dan juga Regan.
Regan sangat sedih melepas kepergian ibunya. Padahal dia pikir ayah dan ibunya akan berkumpul dan bersama-sama merawat dirinya. Tapi tetap saja hanya salah satu dari mereka yang saat ini bersamanya. Jika dulu ada maminya tapi jauh dari papinya, saat ini kebalikannya. Dia harus bersama papinya dan jauh dari maminya. Alasan orang dewasa memang tidak mudah dipahami dan dimengerti oleh anak-anak seusianya.
Ruangan kamar yang tadinya rame dan terasa hangat menjadi sunyi senyap. Hanya ada Ardy dan Regan saja sehingga rasa kesepian mulai menghinggapi keduanya. Ardy juga merasa sedih melihat putranya yang merasa kesepian karena ditinggal ibunya.
Tak mungkin juga dia menahan Nadiya disini, karena hubungan mereka yang sudah tidak jelas dan sudah seperti orang lain. Dia menyadari dampak dari keegoisan orang dewasa hanya membuat anak-anak terluka dan menderita.
Tapi Ardy juga tidak tahu darimana dia harus memperbaiki semuanya. Haruskan dia memohon dan meminta pada Nadiya? Sedangkan Ardy tahu dia bukanlah Nadiya yang dia kenal dulu. Dia adalah Nadiya yang berbeda. Nadiya hanya akan menghinanya jika dia merendahkan dirinya. Apalagi muka menyebalkan dari bodyguard itu yang akan mengejek dan menelanjangi harga dirinya.
Ardy kemudian mendekati Regan dan menghiburnya dengan membacakan sebuah cerita tentang petualangan yang menyenangkan. Dan ternyata ceritanya sangat ampuh bisa membuat Regan tertawa lepas dan mengusir kesunyian yang baru saja mereka rasakan.
Tidak lama kemudia Regan tertidur pulas dan Ardi kemudian menyelimutinya dengan penuh kasih sayang. Menatap putranya dan terbayang kejadian beberapa waktu silam.
Seandainya dia tidak melakukan kesalahan dan Nadiya tidak lari dari rumah maka semua ini tidak akan di alami putranya. Sebagai putra pasti dia ingin melihat keluarganya utuh dan bahagia. Tapi ego orang dewasa sulit sekali diturunkan levelnya. Bagi mereka ego adalah harga dirinya. Sedangkan anak-anak selalu tertindas diantara dua ego orang tuanya.
Keesokan harinya Nadiya datang bersama Prasetyo untuk melihat putranya.
"Hari ini Om akan memasak lagi ya, untuk Regan?" Kata Prasetyo berusaha mengambil hati Regan.
"Tidak usah! Kita akan memesan dari restoran yang paling enak. Regan pasti suka." Ardy menolak tawaran Prasetyo.
"Tapi Regan mau makan masakan yang kemarin dari om Pras." Kata Regan sedikit ngeyel.
"Tidak sayang hari ini kita akan makan dari restoran saja." Kata Ardy yang tidak akan memberi kesempatan kepada Prasetyo untuk dekat-dekat dengan Nadiya.
"Baiklah Regan lain kali om akan masak untuk kamu. Hari ini mami masih sakit, jadi tidak ada yang membantu om masak di dapur." Kata Prasetyo mencari alasan yang tepat.
__ADS_1
Kemudian Nadiya mengiyakan dan duduk disamping Regan.
"Regan mau ikut mami jalan-jalan ngga ditaman dekat apartemen?" Kata Nadiya setelah melihat Regan sudah pulih.
"Mau mami. Regan bosan dirumah sakit terus, sekarang dirumah juga bosan, Regan mau ikut mami aja."
"Baiklah sini mama gantiin baju dan rapiin rambutnya. Regan sudah mandi belum?"
"Sudah. Tadi dimandiin sama papi."
"Kalian mau kemana?" Tanya Ardy sinis karena si nyamuk itu alias Pras ikut bersama Nadiya. "Heran saya. Dimana-mana kenapa banyak nyamuk. Sudah di tepok juga tetap aja masih datang!" Ardy menyindir Prasetyo.
"Kami mau jalan-jalan sekalian cari udara segar. Kasihan Regan pasti bosan dirumah saja." Jawab Nadiya yang tidak mempedulikan sindiran Ardy.
"Baiklah. Jangan lama-lama dan cepat bawa Regan pulang. Dia tidak boleh terlalu capek."
"Iya Mas." Kata Nadiya
"Papi ikut tidak?" Ardy sangat berharap Regan menanyakan hal ini. Supaya dia bisa terus mengawasi Nadiya dan bodyguardnya itu.
Tapi Nadiya punya jawaban yang cerdas seketika itu juga. "Tidak! Papi tidak ikut."
"Kenapa mami, papi tidak ikut?"
"Karena papi banyak pekerjaan sayang. Jadi biar tidak ada yang mengganggu papi saat bekerja. Papi tidak suka suasana berisik." Nadiya menoleh dan melirik kearah Ardy. Raut muka Ardy tampak kesal dan jengkel karena mereka akan bersenang-senang tanpa dirinya.
"Yuk kita berangkat sekarang? Regan bisa jalan sendiri kan?" Kata Nadiya sambil beranjak pergi meninggalkan Ardy yang berdiri seperti patung.
"Kita akan bersenang-senang kan mami?"
"Iya tentu saja sayang....."
"Kami pergi dulu dan....selamat bekerja." Kata Prasetyo berpamitan pada Ardy. Ardy kesal dan menendang pintu tapi malah kakinya yang sakit.
"Aduhhh!" Berharap supaya Nadiya menoleh dan mengurungkan niatnya untuk pergi. Tapi rupanya Nadiya tidak menoleh sama sekali.
Ardy masuk kedalam dan mengunci pintu kemudian duduk dimeja kerjanya. Tapi bahkan dia tidak bisa konsentrasi bekerja karena terus memikirkan apa yang sedang Nadiya dan Prasetyo lakukan saat ini.
Kemudian Ardy berjalan keluar kamar dan turun kebawah sambil matanya melihat kesana-kemari kalau saja mereka tidak jadi pergi atau sudah kembali. Ardy berharap hujan akan segera turun tapi mana mungkin, saat ini bahkan matahari mulai terasa terik.
__ADS_1
Ardy berjalan mondar-mandir sambil melihat beberapa mobil yang berhenti. Akhirnya karena bosan dibawah Ardy naik keatas apartemen lagi. Dan disana Ardy melongok dari jendela menunggu kedatangan mereka. Tapi mereka juga tetap tidak datang, bahkan sama sekali tidak menelepon dan memberi kabar.
Kemudian karena kesal dan bosan dirumah sendirian, Ardy menelpon Nadiya.
"Kalian dimana?"
"Kami lagi bersenang-senanh ayah. Regan sangat suka sekali main sama Om Pras." Baru saja Nadiya akan menjawab pertanyaan Ardy tapi putranya tidak sabar untuk bercerita tentang kebahagiaanya pada papinya.
"Ya sudah. Kasih teleponya ke mami."
"Ada apa?" Tanya Nadiya.
"Ajak Regan pulang! Dia harus istirahat. Apalagi disini mendung, sebentar lagi akan turun hujan." Kemudian Nadiya menatap keangkasa dan menembus kelangit, tapi ditempatnya bahkan tidak ada awan mendung dan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Cuaca panas begini kok dibilang mau hujan?! Ada-ada saja!"
"Tapi disini panas. Mana mungkin akan turun hujan. Kamu hanya cari alasan saja." Jawab Nadiya kesal.
"Aku tidak mau dengar alasan darimu. Regan harus pulang sekarang, titik." Kemudian Ardy menutup teleponnya. Dan dengan kecewa Nadiya berjalan mendekati Regan yang sedang asyik bermain bersama Prasetyo.
"Kita bisa pulang sekarang?" Tanya Nadiya kepada mereka berdua yang menoleh secara bersamaan.
"Yah lagi asyik-asyiknya main. Mami malah suruh pulang." Kata Regan dengan mimik wajah kecewa.
"Sekarang kita pulang dulu. Lain kali kita akan kesini lagi." Kata Nadiya.
"Baiklah kalau begitu. Om kenapa sih, om sama mami terus?"
"Karena Om dan Mami akan......" Kemudian Nadiya memotong kalimat Prasetyo.
"Karena Om adalah sahabat mami sayang."
"Oh kalau sahabat kemana-mana selalu bersama ya? Kayak mami dan om?" Kata Regan polos.
"Hemmmm...."Nadiya dan Prasetyo tersenyum bersamaan.
Diperjalanan pulang Regan tertidur dipangkuan Nadiya, sementara Prasetyo menyetir mobilnya. Kemudian tiba-tiba Prasetyo menghentikan mobilnya dan menatap Nadiya dengan mesra. Nadiya menjadi salah tingkah dan pipinya merona merah.
"Aku percaya padamu, kamu adalah wanita hebat dan aku yakin kamu hanya tercipta untukku dengan semua kisahmu yang telah lalu. Aku menerima dirimu apa adanya. Aku berjanji akan menjadi partner terbaik untuk hidupmu dan Regan. Pertimbangkanlah kesungguhanku ini." Kata Prasetyo dengan menatap tajam dan lekat wajah Nadiya. Prasetyo meminangnya lebih cepat dari yang seharusnya, karena takut dengan sikap Nadiya yang akan luluh oleh mantan suaminya.
Hanya waktu yang bisa mengubah segalanya tapi juga bisa merampas segalanya. Waktu sangat penting dalam beberapa momen kehidupan. Karena Prasetyo tidak ingin kelonggaran waktu justru mengubah sikap Nadiya dan merampasnya dari sisinya.
__ADS_1
Bersambung......