Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Pembicaraan serius


__ADS_3

POV Arya


Aku masih betah tinggal disini. Apalagi saat ini Nadiya sedang membutuhkan aku. Suaminya yang tidak berguna itu bahkan tidak ingat siapa dirinya yang sebenarnya. Keadaan ini sangat menguntungkan bagiku. Kapan lagi aku mendapatkan kesempatan berdekatan dengan Nadiya. Apalagi jika Prasetyo kehilangan ingatannya selamanya. Maka kesempatanku untuk kembali merebut hati dan perhatian Nadiya semakin terbuka lebar.


Tterrrtttt!


Teeerrrttttttt!


Siapa sih pagi-pagi sudah menelpon?


"Halo Bos!"


"Ada apa?"


"Ada hal penting bos! Siang ini Bos harus menemui Tuan Burhan. Ada masalah dipelabuhan Bos."


"Ya sudah. Nanti sehabis makan siang aku akan kesana."


"Baik Bos."


Mereka selalu saja menggangguku. Sial!


Tok! tok! tok!


"Siapa?"


Tok! tok! tok!


"Siapa?"


Tok! tok! tok!


"Masuk saja. Tidak dikunci!"


"Uuuwaaaaaa!"Teriak kedua bocil itu.


"Kalian lagi! Sudah main diluar sana! Om sedang sibuk!" Mereka selalu saja mengganggu saat aku ingin sendirian.


"Ngga mau Om! Om harus menemani kami!" Seperti biasa Edsel dan Eiden selalu membuat keributan di pagi hari.


"Lain kali saja! Hari ini om sangat sibuk!"


"Mami yang suruh Om! Om harus bermain bersama kami sekarang juga! Ini perintah dari mami!"


"Dasar anak Prasetyo! Kelakuan persis sama kayak bapaknya!"


"Apa om bilang?"


"Ngga! Ayo turun!"

__ADS_1


Aku menutup pintu dan turun bersama Edsel dan juga Eiden.


Nadiya nampak sendirian dibawah pohon mangga. Aku kemudian mendekatinya dan ingin berbicara hanya berdua saja denganya.


"Om kemari! Kok om malah kesitu?"


"Dasar! Mereka ini....." Padahal aku ingin disana menemani Nadiya yang sedang sendirian.


"Kita main bola om!" Teriak Edsel sambil mengambil bola.


"Ya sudah, ayo kalian tendang kemari!"


Duuukkkk!


"Aduh!" Aku memegang pipiku yang sebelah kanan terasa pedih terkena bola.


"Siapa yang menendang ini!?" Aku melotot kepada mereka dan membuat darahku naik diubun-ubun.


"Eiden Om! Lagian om malah melihat kearah mami. Jadi bukan salah Eiden. Makanya....fokus dong om!" Teriak Edsel membuatku semakin kesal saja.


"Sudah berhenti dulu! Kalian main berdua saja. Om mau berbicara dengan mami kalian." Aku kemudian berjalan kearah Nadiya sambil memegang pipiku yang sedikit perih.


POV Author.


Nadiya sedang tersenyum kearah Edsel dan juga Eiden dan melihat keceriaan mereka membuat hatinya menjadi puas dan bahagia.


"Apakah pipi Pak Arya sakit? Aku melihat Eiden menendang bola sangat keras." Kata Nadiya sambil memiringkan wajahnya dan berusaha melihat pipi Arya.


"Eiden suka bermain sepak bola. Sehingga dia pandai menendang bola."


"Pantas saja, tendangannya sangat kuat. Dia berbakat menjadi pemain sepakbola."


"Kau benar Pak Arya. Tapi tidak dengan Edsel, dia tidak begitu suka bermain bola."


"Bagaimana kaki Bu Nadiya? Apakah sudah membaik?"


"Sudah lebih baik sekarang. Namun jika berjalan masih ngilu. Cuma tidak sesakit kemarin."


"Syukurlah jika begitu. Oh ya tadi saya dengar tamu yang bernama Freya itu akan kembali ke klinik akhir bulan ini. Dan pak Prasetyo akan ikut bersamanya?"


"Benarkah? Saya belum tahu malah soal itu?"


"Iya, tadi saya kebetulan lewat dan saya tidak sengaja mendengar percakapan mereka dengan Ibu Monic."


"Apakah mami menyetujuinya?"


"Sepertinya pak Prasetyo memaksa dan tetap akan pergi bersama Freya."


"Baiklah pak Arya. Saya akan bertanya langsung kepada mereka. Apakah Pak Arya bisa mengantar saya kesana dan bergabung dengan mereka?"

__ADS_1


"Mari Bu, saya antar...." Kata Arya dan tanganya langsung memegang handle pada kursi roda yang saat ini sedang diduduki oleh Nadiya.


Nadiya melihat mereka bertiga sedang terlibat pembicaraan yang serius, hal itu tergambar jelas dari mimik muka mereka.


"Nadiya, kemarilah!" Kata Ibu Monic.


"Iya mami....ada apa?" Kata Nadiya dengan jantung yang berdebar-debar.


"Freya akan kembali ke klinik akhir bulan ini. Sedangkan Prasetyo ingin ikut bersama Freya. Tanyakan padanya.... Prasetyo kukuh mau ikut kesana. Mami sudah melarangnya, tapi dia tetap pada pendiriannya." Kata Ibu Monic.


"Pras....apakah benar apa yang mami katakan? Kau berencana untuk tinggal bersama Freya?" Nadiya bertanya sambil memandang secara dekat wajah suaminya.


"Benar. Freya akan kembali ke klinik. Dan aku tidak ingin berpisah lagi darinya." Kata Prasetyo sambil memandang wajah Freya.


"Kenapa kau akan pergi secepat ini Freya?" Tanya Nadiya penasaran.


"Karena saya tidak bisa meninggalkan klinik terlalu lama Nadiya. Tadi saya mendapat telepon jika banyak pasien yang membutuhkan kami para dokter. Mungkin tidak sampai akhir bulan saya harus kembali ke klinik."


"Menyesal sekali tidak bisa menahanmu lebih lama disini Freya."


"Maafkan saya Nadiya."


Apa yang harus aku lakukan untuk melarang Prasetyo pergi kesana? Jika aku terlalu ekstrim melarangnya maka dia akan curiga. Namun jika aku membiarkanya pergi maka, bagaimana jika dia tidak pernah kembali? Haruskah aku ikut dengannya? Tapi....Edsel dan juga Eiden bagaimana?


"Sebaiknya kamu pikirkan lagi Pras. Tinggal dipedesaan itu tidak mudah. Disana listrik juga tidak seterang disini. Ketersediaan air juga tidak seperti dikota. Mungkin kau akan kesulitan dalam mendapatkan signal. Banyak sekali perbedaan antara dikota dan didesa kalau berbicara soal kemudahan." Kata Ibu Monic.


"Jika Freya saja bisa menetap disana hingga saat ini, kenapa Prasetyo tidak bisa mi?" Kata Prasetyo sambil meraih tangan maminya dan tersenyum hangat. Prasetyo sepertinya sedang berusaha meyakinkan ibu Monic.


"Tujuan kalian berbeda. Freya memang ingin membantu masyarakat didaerah pedalaman, jadi semuanya pasti terasa lebih mudah. Namun kau kesana hanya karena ingin bersama Freya. Mami tidak yakin kau akan bisa tinggal disana."


"Kita lihat saja mami. Jika Prasetyo nanti betah bagaimana?"


"Maka mami akan kesepian disini?"


"Ada Nadiya, Edsel dan juga Eiden kan mi...."


"Tetap saja mami akan kesepian. Biasa dekat denganmu dan tiba-tiba kau jauh..." Ibu Monic pun tidak kuasa menahan air matanya jika Prasetyo memutuskan untuk tinggal bersama Freya.


"Tuh kan....mami malah menangis. Prasetyo sudah besar mi. Prasetyo bisa menjaga diri. Sampai kapan mami akan terus mengkhawatirkan Prasetyo?"


"Kau adalah anak mami satu-satunya. Tentu saja mami akan terus mengkhawatirkanmu. Dasar bodoh!" Kata Ibu Monic semakin sedih karena keinginan Prasetyo yang begitu menggebu-gebu.


"Prasetyo tidak bisa melihat mami menangis. Mami....sudah...jangan menangis."


"Kau tidak akan pergi bukan?" Tanya Ibu Monic sambil terisak-isak.


"Berikan Prasetyo kesempatan sekali saja mi..." Kata Prasetyo tetap pada keinginanya.


"Kau ini tidak sayang pada mami."

__ADS_1


"Jangan bilang begitu mami.... Prasetyo sayang sama mami. Tapi kehilangan Freya selama tujuh tahun dan sekarang harus berpisah lagi, itu membuat Prasetyo takut jika kami tidak akan bertemu lagi."


Ibu Monic kemudian memandang Freya lalu memandang Nadiya. Dan seperti putus asa untuk menghentikan keinginan Prasetyo untuk pergi bersama Freya.


__ADS_2