
Menteri menjadi khawatir saat tidak ada jawaban dari Catherine. Dan tiba-tiba teleponya terputus.
"Chatrine!"
"Chatrine!"
Tut, tut, tut.....
Teleponnya sudah ditutup oleh Catrine karena dia marah tidak bisa ikut pertandingan.
Dia tidak bisa menahan kemarahannya. Dan selalu menjadi tabiatnya untuk melampiaskan kemarahannya kepada siapa saja. Termasuk papinya.
Menteri sangat cemas. Tanpa berpikir panjang Menteri langsung menyetop taksi dan meninggalkan mobilnya bersama pengawalnya yang sedang menelpon kesana-kemari mencari keberadaan Catrine.
"Taksi!"
"Kemana pak?"
"Asrama pelajar!"
"Baik pak!"
"Bisa lebih dipercepat? Ini sangat darurat!" Kata Menteri sambil menatap lurus kedepan.
Mereka tidak tahu jika menteri sudah menemukan Catrine.
Anak buahnya masih tetap menelpon dan mencari keberadaanya.
Menteri sampai di asrama dan langsung menuju ke kamar putrinya... di sana dia melihat Catherine sedang mengamuk dan melempar semua barang-barangnya.
Pranggg!
Buuukkkk!
Klontang!
Apa saja dilempar olehnya ketembok.
Suasana di asrama memang sepi karena semua penghuninya menyaksikan acara pertandingan dan semua tumpah di acara itu.
Begitu melihat putrinya mengamuk dengan rambut acak-acakan dan berantakan maka Menteri itu langsung memeluknya.
"Tenanglah.... Papi tahu kamu sedih. Papi ada disini...tenanglah...." Kata Menteri menenangkan putrinya.
"Mereka jahat! Mereka semua meningglkanku disini?" Kata Catrine mengadu kepada papinya.
"Iya, iya, papi tahu. Sudah! Sudah ya....jangan menangis lagi." Kata Papinya sambil mengusap airmata Catrine.
"Kenapa kau ada disini sendirian dan bukanya pergi kesana?" Tanya Menteri sambil membelai rambut putrinya.
__ADS_1
"Catrine juga tidak tahu Pi. Saat Catrine terbangun, mungkin acaranya sudah selesai."
"Kau tertidur hingga sesiang ini?"
"Iya....tapi ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya Catrine bangun pagi-pagi sekali. Tapi entah kenapa Catrine sangat mengantuk dan tidak bangun di pagi hari."
Menteripun merasa ada yang janggal.
Mana mungkin putrinya bisa seceroboh ini. Pasti ada yang tidak beres.
Menteri sangat memahami kesedihan putrinya, hatinya pasti hancur berkeping-keping karena tidak bisa ikut di kompetisi tadi pagi.
Menteri juga sangat menyesal karena tidak mengirimkan anak buahnya untuk mendampingi Catherine.
Karena Catrine menolak untuk dijemput dan akan berangkat sendiri dan menteri berpikir jika Catherine berangkat bersama semua teman-temannya.
Namun kenyataannya putrinya sendirian diasrama dan keadaanya saat ini sangat menyedihkan.
Menteri melihat kelantai.
Matanya tertahan pada sebutir pil yang ada dibelakang kaki Catrine.
Perlahan-lahan menteri melepaskan pelukan Catrine dan mundur satu langkah.
"Tetap di tempatmu!" kata menteri kepada Catrine.
"Ada apa pi..."
"Ini milikmu?"
Catrine pun melihat pil yang ada ditangan papinya.
Catrine menggeleng.
"Bukan."
Menteri mengamati pil itu dan mendekatkannya ke matanya, lalu setelah dia yakin mirip pil
obat tidur yang pernah dia minum, dia pun menanyakannya kepada Catrine.
"Ini obat tidur. Apakah kau meminumnya?"
"Tidak. Catrine tidak pernah meminum obat tidur."
"Apakah sebelum tidur kau meminum sesuatu?" tanya Menteri sambil mengamati pil ditanganya.
"Ya. Catrine ingat. Catrine saat itu kekamar mandi, lalu minum air dan setelah itu Catrine merasa sangat mengantuk. Akhirnya Catrinepun tidur."
Menteri pun lalu mencium bau dan aroma air di dalam gelas itu.
__ADS_1
Menteri kemudian menaruh pil didalam gelas yang berbeda dan menambahkan sedikit air.
Setelah hancur dan tercampur dengan air, kemudian menteri mendekatkan gelas itu ke hidungnya,
"Baunya sama. Kau telah meminum obat tidur."
"Apa? Bagaimana mungkin?" Catrine sangat terkejut.
"Ada orang lain yang sengaja menjebakmu, agar kau tidak ikut kompetisi."
"Kurang ajar! Siapa yang sudah melakukan semua ini?" Geram Catrine.
"Orang yang tidak menyukaimu."
"Aku akan mengahancurkanya jika aku menemukan orangnya."
"Tentu." kata Menteri. "Ini tidak bisa dibiarkan. Orang itu harus kita temukan."
"Caranya?" Tanya Catrine dengan mata penuh amarah.
"Kau pasti mencurigai seseorang dari temanmu yang tidak mendukungmu. Periksa kamarnya. Dan jika kau menemukanya, obat yang sama seperti tadi, maka pasti dia yang sudah melakukanya."
"Papi benar. Jika dia memiliki obat yang sama seperti ini, maka dia pasti pemiliknya."
"Tapi bagaimana mungkin mahasiswa bisa menyimpan obat tidur didalam kamarnya? Jika ketahuan bukankah akan terkena sanksi."
"Papi benar. Mereka pasti sengaja membelinya untuk membuatku tertidur."
"Mereka tidak akan berani menyimpannya didalam asrama."
"Jika seperti itu, maka akan sulit menemukanya." Kata Menteri.
Menteri lalu mengelap tangannya dengan tisuue yang ada diatas meja.
"Siapa yang paling diuntungkan dengan ketidakhadiranmu disana?" Tanya Menteri.
"Sasha! Hanya dia yang akan diuntungkan jika aku tidak ikut kompetisi itu. Pasti dia pelakunya." Kata Catrine.
"Bisa dia, bisa juga orang lain. Aku tidak yakin dia senekat itu." Kata Menteri.
Merekapun diam dan berpikir siapa kira-kira yang berada dibalik semua ini.
Jika tidak ada yang menyimpan pil itu maka pasti akan sulit menemukan pelakunya.
"Tapi aku pasti akan menemukan siapa pelakunya." gumam Catrine.
"Jika kau sudah menemukan pelakunya, beritahu papi. Papi akan segera memberinya pelajaran."
Catrine mengangguk.
__ADS_1
"Sekarang, bersihkan semua ini. Jangan sampai teman-temanmu melihat keadaanmu yang berantakan ini."
"Baik Pi."