
Sasha berlari kekantor Rektor dan kebetulan ada pelatih dan juga Rektor yang sedang menunggu kedatangan Menteri.
Menteri akan memberikan sumbangan besar awal tahun ini. Dan berkasnya akan dibawa siang ini untuk diserahkan kepada Rektor. Menteri sudah berjanji kepada Rektor untuk memberikan sumbangan dalam jumlah besar dan renovasi bagian depan kampus.
Hal itu tentu saja tidak luput dari persetujuan Rektor untuk memberikan kesempatan kepada Catrine untuk ikut bertanding dan menjadi wakil dari universitas.
Sasha berdiri dipintu dan memegang handlenya. Sesaat dia ragu untuk masuk kesana. Tapi akhirnya dia memberanikan diri untuk masuk kedalam.
Tok, tok, tok.
Rektor dan pelatih yang sedang berbincangpun langsung menoleh kearah pintu.
Sasha masuk dan berdiri didepan Rektor dan pelatih yang ternyata sudah bekerja sama untuk membuat keputusan sepihak.
"Sasha?" tanya mereka bersamaan. Mereka berpikir Sasha akan pulang besok. Namun ternyata hari ini sudah diizinkan pulang lebih awal dari sebelumnya.
"Kakimu sepertinya sudah sembuh." Kata Rektor. Mereka menatap kaki Sasha yang memang sudah sembuh, namun itu hanya nampak dari luar, karena dokter tetap masih melarang Sasha untuk berlari.
"Kau terlihat bingung. Ada perlu apa? Katakan?" Tanya pelatih saat melihat Sasha nampak kebingungan.
Sasha sendiri hanya berdiri mematung dan diam sambil menatap mereka secara bergantian. Dia ingin membicarakan tentang namanya yang tidak didaftarkan dalam kompetisi.
"Nama saya, kenapa bukan nama saya yang didaftarkan untuk mewakili universitas ini?" tanya Sasha sambil menatap Rektor dan pelatih bergantian.
"Ohh itu," Rektor tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Dan seolah itu hanya masalah dan hal kecil baginya.
"Nama kamu terpaksa kami ganti dengan nama Catrine. Karena kami khawatir kakimu akan bertambah cedera jika memaksakan diri. Dokter juga melarangmu berlari bukan?" Tanya Rektor.
"Tapi kaki saya sudah sembuh. Dokter memang melarang saya berlari, tapi saya tidak merasakan sakit saat berlari. Dan saya yakin saya bisa berlari seperti semula." Kata Sasha sambil menatap penuh harap agar mereka percaya padanya.
"Tapi kami tidak bisa mengambil resiko. Kami tidak ingin terjadi hal yang buruk selama pertandingan nanti. Ini pertandingan skala besar, dan kita harus mengirim pelari yang profesional." Kata pelatih.
"Apakah maksud bapak saya tidak profesional? Saya bahkan masih tetap berlari dalam keadaan kaki terluka dan membuktikan jika saya mampu." Kata Sasha kemudian berusaha meyakinkan pelatih dan rektor untuk mengubah keputusannya.
__ADS_1
"Itulah maksud saya. Harusnya saat tahu kakimu terluka, kau tidak perlu ikut berlari. Itu sangat beresiko. Dan itu tidak profesional. Harusnya kamu istirahat dan mengundurkan jika terjadi hal seperti itu. Dan tidak membuat kami dilema seperti ini. Kau hanya selisih beberapa detik saja dari Catrine. Dan kau adalah pemenangnya. Namun secara fisik, kami lebih cenderung mempercayai kemampuan Catrine dan itulah alasan kami mendaftarkanya, dan namamu juga ada disana, tapi sebagai pelari cadangan." Kata Pelatih berusaha membuat Sasha mengerti alasanya.
Namun Sasha yakin bukan itu alasan utamanya. Pelatih itu saat ini mendukungnya untuk terus maju ke kompetisi selanjutnya. Namun sekarang sepertinya lebih mendukung Catrine daripada dirinya. Pasti telah terjadi sesuatu dibalik semua ini.
Sasha berkata didalam hati jika keputusan yang mereka buat itu terkesan atas perintah seseorang. Dan Sasha bisa menebak, siapa lagi yang bisa mengatur semua ini, jika bukan Menteri.
Bahkan Sasha sendiri pernah berhadapan langsung dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Menteri mempengaruhi teman-temannya. Dan bagaimana dia berusaha menyuap semua orang agar Catrine bisa meraih juara dan melanjutkan ke kompetisi selanjutnya.
"Pelari cadangan?" tanya Sasha tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Ya. Kau sebagai pelari cadangan jika pelari utama tidak bisa atau berhalangan, maka kau akan menggantikanya," kata pelatih sambil menatap Rektor.
"Tapi...."
"Jika kau mau tetap berlari, maka mulai besok kau boleh ikut latihan bersama Catrine. Meskipun sebagai pelari cadangan, tapi kau tetap harus berlatih bukan? Jika pelari utama sakit atau dengan alasan tertentu tidak bisa mengikuti lomba, maka kau akan menggantikanya. Percayalah padaku. Ini demi kebaikanmu." Kata pelatih tersebut berusaha meyakinkan Sasha.
Sasha terdiam dan menatap hampa kewajah pelatih tersebut.
"Baiklah." Akhirnya Sasha menunduk dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Sesampainya dikamar Sasha.
"Apa yang kamu lakukan disana?" tanya Regan pada Sasha yang tiba-tiba lari dari kamarnya dan langsung pergi kekantor Rektor.
"Aku ingin kejelasan. Kenapa namaku tidak didaftarkan? Justru nama Catrine yang didaftarkan tanpa seizinku." Kata Sasha kesal.
"Bukankah sudah kubilang dari awal untuk tidak mengikuti pertandingan ini. Kau tahu ini hanya bagian dari politik belaka. Ada orang dibalik semua ini," kata Regan penuh emosi.
"Kau juga mengetahuinya?"
"Itulah kenapa aku melarangmu ikut dan akhirnya yang aku takutkan terjadi juga. Kau akan kecewa dengan hasilnya."
Sasha tertunduk.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba mendongakkan wajahnya.
"Tidak! Aku tetap akan mengikuti kompetisi ini hingga akhir. Mereka ingin aku menjadi pelari cadangan. Dan aku akan berlatih meskipun hanya sebagai pelari cadangan. Jika nasibku baik, maka....bagaimana kalau tiba-tiba pelari utama sakit? Bukankah aku harus menggantikanya?" Sasha berkata setelah berpikir dengan kepala dingin.
Tidak mudah merubah keputusan yang sudah dibuat oleh mereka. Mereka punya wewenang dan banyak kenalan untuk mendukungnya. Bahkan seandainya Sasha melakukan protes pun sepertinya hanya membuang waktu saja.
Nama Catrine sudah terlanjur ada disana. Publik juga sudah mengetahuinya. Dukungan positif untuk Catrine dan Sasha terus ditulis dikolom komentar. Nama universitas tempat dia menempa ilmu juga akan menjadi perbincangan publik jika dia katakan yang sesungguhnya, itulah yang menjadi pertimbangan Sasha.
Dia tidak mau suasana yang sudah tenang tiba-tiba menjadi gaduh karena klarifikasinya. Akan banyak wartawan didepan gedung universitas. Akan banyak orang yang mencoba menemuinya dan ingin tahu kebenaranya.
Sasha memikirkan masalahnya akan semakin rumit jika ada klarifikasi dari dirinya.
"Kau tetap keras kepala. Kau tahu aku sangat khawatir dengan sikapmu ini." Kata Regan sambil melihat tanganya yang semakin perih.
"Kenapa tanganmu?" Tanya Sasha sambil melihat tangan Regan yang terluka akibat menonjok tembok saat tadi keluar dari kantor sebelum datang kerumah sakit.
"Kok bisa terluka seperti ini? Apakah kau habis memukul seseorang? Tapi aneh. Kau yang memukul, kenapa kau yang terluka?" tanya Sasha pada Regan.
"Ya ini seperti dirimu. Kau yang menjadi juara tapi kau yang teraniaya."
"Ahk. Aku sedang berbicara tentang dirimu. Kau malah mengasihaniku." Gerutu Sasha kesal karena merasa dikasihani.
Akhirnya Sasha bengun dan berjalan mencari kotak obatnya. Setelah ketemu Sasha langsung membukanya.
Baru saja akan berdiri tiba-tiba Elena datang dan langsung menatap Regan.
Saat menatap Regan dia lihat punggung tangan Regan yang sedang ada dipangkuanya terluka.
Elenapun kaget dan langsung mendekati Sasha yang sedang memegang kotak obat.
"Biar aku yang mengobati." Kata Elena yang memang mengambil jurusan kedokteran. Merasa ada yang lebih kompeten dalam hal mengobati luka, maka Sasha mempersilahkannya.
Meskipun Sasha lihat Regan mengedipkan mata, agar dia yang mengobatinya, namun Sasha juga terlalu sungkan untuk menikah bantuan Elena, bagaimana mungkin dia mengecewakannya setelah apa yang dilakukan Elena dan bantuan Elena sehingga dia bisa lari dan menjadi juara.
__ADS_1
Dengan tersenyum Sasha memberikan kotak obat itu kepada Elena. Sasha pura-pura tidak mengerti maksud Regan dan tidak melihatnya kembali.