
Sandra sedang berbaring menghadap jendela kamarnya. Ruangan ini terasa sangat sepi dirasakan olehnya. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Ternyata dia adalah Prasetyo.
"Sandra... Bagaimana keadaanmu? Apakah kamu sudah bisa bangun dan berjalan?"
"Belum pak, kaki saya rasanya masih baal dan kaku sekali."
"Kalau kamu mau belajar jalan biarkan saya membantumu. Saat ini Nadiya sedang bersama keluarga besar jadi tidak bisa membantumu dan menemanimu di sini."
"Baiklah Pak, tidak papa, saya bisa berjalan sendiri." Jawab Sandra.
"Apakah kamu perlu saya temani?"
"Tidak Pak. Bapak silakan bersama keluarga Bapak saja, biarkan saya sendiri. Nanti saya akan meminta tolong pada suster untuk membantu saya belajar berjalan kembali."
"Baiklah Sandra, Jika kamu membutuhkan sesuatu kamu bisa menelepon atau kirim pesan kepada saya."
"Baik Pak, terima kasih." Kata Sandra kepada Prasetyo.
Kemudian Prasetyo berjalan keluar dari ruangan Sandra. Tinggal Sandra seorang dan saat ini kembali melamun sepeninggal Prasetyo. Sandra berfikir dia ingin sekali melihat dan memeluk kedua bayi yang sudah dilahirkannya itu. tapi dia pun akhirnya mengurungkan niatnya karena di sana masih banyak keluarga besar ibu Nadiya.
Setelah berpikir kembali akhirnya Sandra menemukan cara untuk kesana. Dia kemudian memaksakan badannya yang masih kaku untuk bangun dan berjalan dengan berpegangan pada ranjang.
Jika tidak aku paksakan lalu kapan aku akan bisa berjalan normal kembali. Pengaruh obat bius ini rasanya sudah semakin hilang dari badanku. Kakiku sudah tidak terlalu baal namun perutku rasanya masih sakit dan terasa linu akibat jahitan.
Aku tidak boleh berbaring terus tanpa melakukan apapun. Jika kesehatanku cepat pulih maka aku akan bisa menemui kedua bayi itu sebelum dibawa pulang oleh ibu Nadiya. "Suster.....!"
Sandra memanggil suster yang jaga melalui telepon disampingnya. Tidak lama kemudian seorang suster masuk dan bertanya kepada Sandra.
"Ada yang bisa saya bantu ibu?"
"Tolong bantu saya bangun dan berdiri suster." Kata Sandra sambil berusaha bangun dari tempat tidurnya.
"Baik bu silakan Ibu berpegangan pada saya."
Sandra kemudian memegang bahu suster dan berusaha untuk bangun.
Pelan-pelan saja Bu, lama-lama nanti akan terbiasa dan tidak akan terasa kaku lagi." Kata Suster itu.
__ADS_1
"Iya sus...."
Setelah berusaha dengan keras dan menahan rasa nyeri diperutnya akhirnya Sandra bisa berjalan dengan baik dan tidak kaku lagi. Pengaruh obat bius itu sudah hilang, saat ini hanya tinggal rasa nyeri diperutnya saja jika terlalu banyak bergerak.
Sandra berjalan keluar dari kamarnya dan menuju kekamar Nadiya. Baru saja Sandra melihat Ibu Monic dan kedua cucunya meningglkan kamar Nadiya.
Sandra kemudian membuka pintu dan berdiri disana. Tertegun melihat kedua tempat tidur bayi dari kejauhan.
Nadiya menoleh saat menyadari ada orang dipintu, yang tidak lain adalah Sandra.
"Sandra...bagaimana keadaanmu? Masuklah, kenapa berdiri disana. Kemarilah, kamu pasti ingin melihat mereka bukan?"
Sandra mengangguk pelan, dan tersenyum kepada Nadiya. Kemudian Sandra berjalan mendekati kedua tempat tidur bayi berwarna putih.
Sandra terpana melihat kedua bayi yang sudah dilahirkannya kedunia ini. Kedua sudut matanya menggenang airmata kebahagiaan dan juga rasa yang tidak bisa diungkapkan.
"Lihatlah mereka sangat lucu dan imut sekali. Mereka sangat mirip dengan Pak Prasetyo dan juga Ibu Nadiya." Kemudian Sandra menggendong salah satu dari bayi itu. Mereka sedang tertidur dengan mata terpejam dan bulu mata yang panjang juga lebat.
Tiba-tiba dari pintu Ibu Monic masuk dan matanya langsung menatap tajam kepada Sandra yang saat ini sedang menggendong cucunya.
"Nadiya, siapa dia? Kenapa kau biarkan orang asing menyentuh cucuku?"
"Dia sahabat Nadiya mami."
"Ohhh...lain kali hati-hati Nadiya jika kau sedang sendirian. Sekarang lagi marak kasus penculikan bayi. Kamu harus menjaganya dengan baik, jangan sampai terjadi apa-apa dengan cucuku"
Pesan ibu Monic sambil keluar dari ruangan Nadiya. Setelah Ibu Monic pergi Nadiya berjalan mendekati Sandra dan tersenyum padanya.
"Sandra...jangan tersinggung dengan ucapan mami tadi. Itu karena mami terlalu over protektif."
"Iya Bu...tidak papa. Saya tidak tersinggung kok. Saya sangat senang sekali akhirnya bisa melihat bayi yang saya kandung selama sembilan bulan."
"Oya Sandra...Jika keadaanmu sudah lebih baik saya berencana untuk memberikan cek sisa uang yang akan saya berikan padamu sebelum saya kembali keapartemen."
"Terserah ibu saja."
"Selagi kita disini dan tidak ada yang akan mencurigainya, apakah kamu setuju dengan rencanaku ini?"
__ADS_1
"Iya Bu. Tidak papa."
"Baiklah Sandra jika kamu setuju."
"Oya Bu, Kapa ibu akan kembali ketanah air?"
"Masih lama Sandra, mungkin kami akan disini setengah tahun lagi. Dan bagaimana denganmu Sandra? Apakah kamu akan langsung pulang setelah pulih?"
"Benar Bu, kasihan kedua orang tua saya, karena sudah satu tahun kami tidak berkomunikasi. Saya akan pulang minggu depan, setelah perut saya sedikit kempes dan badan saya normal kembali, supaya tidak ada yang curiga jika saya habis melahirkan."
"Kau benar Sandra, sebaiknya tunggu sampai kamu pulih seperti semula. Baiklah jika begitu, saya akan memberikan cek nya saat kamu akan pulang saja."
"Baik Bu."
"Sandra...bisakah saya minta sesuatu darimu?"
"Bisa Bu..."
"Sandra...setelah kita menyelesaikan kerjasama kita, aku harap kau tidak menemuiku ataupun Prasetyo." Sandra terperanjat. Namun kemudian Nadiya meneruskan kalimatnya yang belum selesai diutarakan.
"Jangan tersinggung Sandra...aku hanya berfikir jika kita sering bertemu setelah ini maka mungkin lambat laun apa yang sudah kita rahasiakan akan terbongkar. Kau mengertikan maksudku?"
"Iya Bu, saya mengerti." Artinya Sandra hanya memiliki kesempatan beberapa hari lagi untuk melihat sikembar yang menggemaskan ini. Setelah ini maka mereka akan kembali menjadi orang asing lagi.
"Iya Bu, saya janji. Setelah kita keluar dari sini maka saya tidak akan menemui ibu lagi dan juga kedua anak yang telah saya kandung."
"Terimakasih Sandra atas pengertianmu."
Sandra kemudian menggendong kedua bayi itu secara bergantian. Kemudian salah satu dari mereka menangis dan sepertinya kehausan.
"Bu...sepertinya mereka haus. Apakah saya harus menyusui mereka?"
"Tidak usah Sandra...biarkan mereka meminum susu formula saja. Aku tidak ingin mereka nanti terbiasa bergantung padamu dan mereka akan kaget saat aku mengganti susunya. Jika mereka sudah terbiasa maka hal itu akan lebih baik."
"Iya Bu...." Tadinya Sandra akan memberikan air susunya kepada kedua bayi itu. Namun benar apa yang dikatakan Nadiya, jika mereka terbiasa dengan kehadiran Sandra maka kedua bayi kembar itu akan susah move on dari kebiasaanya.
Akhirnya Nadiya dengan cepat memberikan susu formula dalam porsi yang sedikit, dan kedua bayi itu langsung menghabiskanya dalam waktu sekejap.
__ADS_1