
Saat Leo menelpon, Nadiya sedang duduk bersama suaminya. Ardy sedang mengelus-elus perut Nadiya yang besar. Kadangkala Ardy menempelkan telinganya menyentuh perut yang semakin kencang itu dan berbisik betapa dia menyayangi anaknya dan Nadiya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
Nadiya mengangkat telepon.
"Ohh....Iya, selamat ya. Nanti kita akan kesana."
Kemudian Nadiya menutup teleponnya dan menoleh pada Ardy. "Sarah sudah lahiran pa."
"Apa?!" Ardy kaget. "Kan tadi baru selesai acara tujuh bulanan kok bisa melahirkan lebih cepat dari kamu ma?" Tanya Ardy bingung, karena baru selesai acara tujuh bulanan kok langsung melahirkan.
Nadiya tahu apa yang menyebabkan Sarah melahirkan lebih cepat, dan rahasia apa yang ia simpan dari Ardy dan Leo tentang usia kehamilanya. "Ya....bisa saja pa. Banyak kok wanita melahirkan diusia kandungan tujuh bulan."
"Ohh....bisa ya ma. Terus sekarang gimana kondisi ibu dan bayinya?"
"Kata Leo semuanya sehat. Besok kita kesana ya pa. Kita sama-sama menengok Sarah dan bayinya", ajak Nadiya.
__ADS_1
Pagi harinya Nadiya sudah sampai dirumah sakit ditemani suaminya. Ardy selalu menemani Nadiya saat pergi kemanapun karena kehamilan Nadiya tinggal menghitung hari. Apalagi Nadiya dua hari ini sering merasakan kontraksi didalam perutnya. Sehingga saat datang ke acara Sarah waktu itu Nadiya cuma sebentar terus pulang. Sehingga tidak tahu jika Sarah menghilang selama acara berlangsung.
Nadiya mengucapkan selamat kepada Sarah dan Leo. Ardy saat itu sedang melihat bayi yang cantik dan lucu yang sedang membuka mulutnya mencari sesuatu. Bayinya menangis karena kehausan sehingga Sarah bangun dan mulai memberinya asi. Kemudian Ardy dan Nadiya berpamitan pulang, tetapi saat keluar dari rumah sakit tiba-tiba perut Nadiya terasa sangat sakit. Kemudian Nadiya meminta pada Ardy untuk kembali kerumah sakit.
"Dokter, tolong istri saya mau melahirkan."
Kemudian Dokter dengan cepat membawa Nadiya keruang bersalin. Tapi karena posisi bayinya yang sungsang. Akhirnya dokter menyarankan Nadiya melahirkan secara Caesar demi keselamatan bayinya. Ardy dan Nadiya menyetujui dan mereka langsung keruang operasi. Ini adalah kedua kalinya Nadiya masuk keruang operasi, yang pertama saat ada kanker dirahimnya dan yang kedua dia akan melahirkan bayinya. Katakutan dan kecemasan yang sama saat berada di ruangan itu. Apalagi saat cahaya lampu begitu terang dan menyilaukan mata. Nadiya bisa mendengar suara-suara yang ditimbulkan dari alat-alat yang digunakan oleh dokter. Nadiya masih sadar karena biasanya saat kelahiran Caesar hanya dibius bagian perut kebawah saja. Jadi bagian perut keatas tidak dibius. Bahkan jika dia berani matanya bisa melihat bagaimana dokter mengeluarkan bayinya dari dalam perutnya.
Semua gerakan dilakukan dengan terampil dan cepat. Tanpa merasakan sakit bayi Nadiya sudah lahir ke dunia meskipun tidak melalui jalan yang normal seperti seharusnya. Tapi normal atau lahir Caesar bagi seorang ibu itu tidaklah menjadi masalah, yang terpenting adalah ibu dan bayinya sehat.
Ardy masuk keruang operasi dan takjub melihat bayinya yang lincah dan montok sedang minum susu di dada Nadiya. Ini adalah kebahagiaan yang membuatnya menjadi orang paling beruntung di dunia, setelah perjuangannya selama ini akhirnya mendapatkan seorang putra yang sudah lama begitu dirindukanya. Tak ada kalimat yang bisa menjelaskan kebahagiaan yang memenuhi benaknya.
Lima tahun kemudian kebahagiaan yang menyertai kedua keluarga tersebut menjadi hancur, saat Leo mengetahui kebenaran tentang putrinya Sasha. Bahwa Sasha bukanlah darah dagingnya. Dan setelah mengetahui bahwa Ardylah ayahnya yang sesungguhnya. Tak bisa dia lukiskan rasa kecewa yang dia rasakan seperti memenuhi jagad raya baginya. Langit yang biasanya damai berubah seperti badai petir yang bergemuruh dalam tubuhnya. Darahnya mungkin takkan mengalir lagi meskipun dipenggal kepalanya. Jantungnya berhenti berdetak dan darah berubah menjadi hitam karena dukanya.
Badanya lunglai dan seluruh tulang seperti terlepas dari dagingnya. Shock! Kecewa! Merasa dikhianati! Dan Duka yang sangat dalam. Orang yang sangat dicintainya sampai hati melakukan penghianatan dengan begitu kejam padanya. Meskipun sudah mengetahui kebenaranya tapi nurani telah meninggalkanya hingga menipunya mentah-mentah.
__ADS_1
Kebahagiaan yang selama ini dirasakanya ternyata hanya seperti fatamorgana. Cinta dan kasih sayang yang ditunjukan ternyata hanya wujud dari penghianatan. Apa arti kebersamaan jika didalamnya ternyata penuh kebohongan hanya untuk menutupi kesalahan dan yang tersisa hanya ruang hampa yang hitam.
Sarah menangis sesenggukan dan merangkak memohon dikaki Leo. Memegang kakinya sambil berurai airmata. Tapi sepertinya, seluruh cinta yang Leo rasakan selama ini untuk Sarah, bahkan tidak bisa menutup luka didalam hatinya. Begitu sakit dan sangat sakit duka yang saat ini Leo rasakan bahkan membuat setetes airmatapun tidak bisa mengalir dari matanya. Kemarahan dan Bara dalam hati Leolah yang membuat airmatanya mengering dan hanya senyum penuh kepahitan tersirat dari bibir Leo mentertawakan kebodohannya.
"Aku mohon Leo..... jangan pergi...sekali saja lihatlah Sasha. Jika bukan demi aku....tetaplah disini demi Sasha." Sarah berkata sambil terus menangis dengan penyesalan yang begitu dalam.
"Sasha bahkan bukan anaku tapi dia putri orang lain. Darah orang lain mengalir dalam tubuhnya. Dan kau.......kau menipuku sekejam itu. Hanya untuk menutup aib dan rasa malu, kau permainkan cinta dan ketulusanku. Apa yang tersisa dari hubungan ini sekarang? Dan siapa yang sedang coba kau permainkan? Aku.....Aku begitu mencintaimu. Sangat tulus bahkan jika kau minta, seluruh harta dan jiwaku rela aku berikan untukmu. Tapi rasa sakit yang kau berikan terasa merenggut seluruh cinta yang aku punya untukmu. Aku tak tahu harus menyebutmu apa? Cinta yang kau balas dengan tuba tak pernah aku mengira jika wanita yang begitu aku banggakan ternyata tega melakukanya."
"Iya. Aku melakukan kesalahan. Aku minta maaf padamu. Tapi biarkan aku memperbaikinya. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Jangan menghukumku seperti ini Leo.....Aku tidak sanggup hidup tanpa dirimu. Kembalilah demi Sasha....kau yang dia lihat saat pertama kali lahir ke dunia ini, kau yang telah memberinya nama, kau juga yang telah merawatnya saat dia sakit, bagaimana mungkin kau akan meninggalkanya? Baginya kau adalah ayahnya. Hanya kau yang dia sebut ayah. Aku mohon Leo.....pikirkan sekali lagi. Saat ini memang kau marah. Aku tahu aku bahkan tidak pantas menerima maafmu. Tapi....tetaplah disini. Kita akan membicarakanya. Setelah Sasha pulang dari sekolah, kemarahanmu akan reda setelah kau melihatnya. Dia adalah anakmu...." Sarah terus memohon dan meminta agar Leo memberinya kesempatan kedua.
"Tidak Sarah. Apa kau pikir bisa mengganti darah yang mengalir dalam tubuh seseorang hanya dengan transfusi darah. Ini tidak sesederhana itu. Kenyataan yang telah aku lihat begitu sakit. Apalagi aku ini hanya seperti mainan bagimu." Kata Leo bahkan tidak mau menoleh kebelakang dan tidak mau melihat wajah Sarah meski hanya sedetik.
"Dia memanggilmu ayah Leo.....kau adalah ayahnya.....kenapa kau tidak mengerti......" Kata Sarah masih memegang kaki Leo dengan kuat.
"Lepaskan aku Sarah. Aku ingin pergi sebelum Sasha kembali. Aku bahkan takkan sanggup menatap matanya dan memberinya kabar yang mengerikan ini." Leo berkata sambil melepaskan kakinya dari genggaman Sarah.
"Leo......kembalilah.....jangan pergi.....Leooooo!! Sarah menjerit sejadinya sambil menangis terisak-isak. Sarah tersungkur dilantai dan tak mampu berdiri. Sambil terus menjerit memanggil nama Leo. Dan tanganya melambai padanya. Tapi Leo sedikitpun tidak mau menoleh kebelakang apalagi menatap wajah Sarah meskipun hanya sekali saja.
__ADS_1