
Hari ini Vano tidak datang kekamar Sasha. Dia juga tidak datang kekampus. Dia cuti selama tiga bulan, dan setelah itu bagai hilang ditelan bumi.
Sasha sedang duduk termenung sendirian dikantin kampus. Dia menatap dikejauhan dan sedang memikirkan Vano. Kenapa Bank tiba-tiba menghilang dan menjauhinya?
Apa sebabnya?
Pertanyaan itu terus mengganjal dihatinya. Beberapa hari yang lalu semua masih nampak biasa saja. Tidak ada hal yang aneh atau janggal. Namun tiba-tiba kemarin dia mengatakan hal yang tidak masuk akal.
Rossa datang dengan dua buah es krim ditanganya.
"Nih buatmu." kata Rossa sambil memberikan es krim kepada Sasha.
"Makasih."
"Bengong aja kenapa?" tanya Rossa.
"Ngga papa." jawab Sasha.
"Aku ngga lihat Vano seharian ini." kata Rosaa yang biasanya melihat Vano dimana-mana. Dimana ada Sasha pasti ada Vano tidak jauh darinya.
"Dia cuti tiga bulan." kata Sasha.
"Kenapa?" tanya Rossa penasaran.
"Aku tidak tahu. Sepertinya dia merahasiakan hal penting dan dia tidak ingin aku mengetahuinya."
Rossa lalu menghabiskan es krim yang dia pegang dengan cepat.
Sasha lalu bangun dan akan menemui Jack. Jack pasti mengetahui sesuatu. Kata Sasha didalam hati.
"Hai! Mau kemana?" tanya Rossa karena Sasha tiba-tiba bangun dan meninggalkanya.
"Aku mau menemui Jack." kata Sasha.
Rossa hanya memandangi sahabatnya yang telah melesat dan tidak terlihat lagi.
Jalannya sangat cepat sekali. Baru sebentar saja sudah tidak terlihat diantara kerumunan mahasiswa yang sedang berdiri.
"Apakah kau melihat Jack?" tanya Sasha pada Elena yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Tidak!" kata Elena.
"Tapi....coba aja lihat dikamarnya. Sepertinya seharian ini dia belum keluar." kata Elena.
__ADS_1
"Makasih!" kata Sasha.
Sasha lalu bergegas kekamar Jack. Pintunya terkunci dari dalam.
Berarti Jack ada disana.
"Jack! Ini aku, Sasha. Bukain dong!" kata Sasha sambil mengetuk pelan.
"Sasha?" Jack lalu terbangun dan berdiri membukakan pintu untuk Sasha.
"Jack!" kata Sasha saat dia lihat Jack dipintu.
"Masuk!" kata Jack mempersilakan Sasha masuk.
"Duduklah! Mau minum apa? Tapi.... hehehe aku lupa ngga isi galon. Aku kehabisan air minum." kata Jack baru teringat jika galon air mineralnya habis.
"Ngga papa. Aku sudah minum barusan." kata Sasha.
"Ada apa? tumben kemari? Pasti penting banget nih!" kata Jack yang memang jarang sekali Sasha kekamarnya. Jika tidak ada keperluan sangat penting Sasha tidak pernah masuk kekamarnya.
"Aku sedih!" kata Sasha.
"Sedih? kenapa?" tanya Jack langsung ikut trenyuh saat Sasha bilang jika dia sedang sedih. Rasa ingin menghibur dan melindungi langsung meronta-ronta dari dalam sanubarinya.
Dia paling tidak bisa melihat wanita menangis. Apalagi wanita itu adalah gadis yang dicintainya.
Sesaat Sasha menangis dibagi Jack. Dia juga tidak mengatakan apapun. Dia hanya menangis dan mengeluarkan emosi kesedihannya karena berpisah dari Vano tanpa sebab yang jelas.
Saat Sasha sudah lebih tenang dia lalu sadar, jika dia seperti ini maka sama saja dia memberikan harapan palsu pada Jack. Apalagi kata Vano Jack, menyukainya.
Deg.
Sasha jadi kaget karena baru saja tanpa disadarinya dia bersandar pada bahu Jack. Apa yang akan Jack pikirkan sekarang?
"Vano tiba-tiba menjauhiku dan tidak ada kabar apapun." kata Sasha pada Jack yang menatapnya dengan lembut.
"Vano? Kenapa ngga coba menelponnya?" tanya Jack.
"Teleponya dimatikan. Aku tidak tahu kenapa dia seperti itu?" kata Sasha dengan emosionalnya.
"Kemarin kalian bersama bukan?" tanya Jack.
"Iya. Tapi itu adalah pertemuan kami yang terakhir kalinya. Dia mengatakan agar aku tidak menemuinya dan tidak mencarinya." kata Sasha sambil mengusap airmatanya.
__ADS_1
"Apakah kau tahu kemana dia pergi?" tanya Sasha.
Jack menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu."
Apakah kau kesini hanya untuk mencari Vano?
Kau terlihat sangat mencintainya.
Kau menangis dibahuku, dan kau sedang menangisinya....
Kenapa melihat Sasha mencemaskan Vano, hatiku rasanya sakit dan sesak?
Apakah aku masih mencintainya? Aku pikir menjauhinya bisa membuatku melupakan segalanya.
Tapi aku masih merasakan debaran ini, saat kau menangis dipelukanku.
"Sasha...." Kata Jack kemudian menatap Sasha dengan lekat.
"Bagaimana jika Vano tidak pernah kembali?" tanya Jack sambil menembus mata hati Sasha.
"Vano, tidak kembali?" Sasha mengulang pertanyaan Jack.
"Ya. jika dia tidak kembali, bisakah kau melupakanya?"
Sasha lalu menatap Jack dengan tatapan sendu.
Sasha hanya diam saja.
"Entahlah."
"Jack lalu merengkuh Sasha kedalam pelukannya."
Sasha sedikit merasa tenang dalam pelukan Jack. Bagaimanapun sebelum benih-benih cinta itu masuk, mereka adalah sahabat dekat sejak pertama kali tinggal di asrama.
Namun saat Jack mengetahui jika Vano mencintai Sasha dan Sasha juga mencintai Vano, Jack berusaha mundur dan menghibur dirinya sendiri dengan sering berkumpul bersama teman-temannya diclub.
Sesaat memang dia terhibur dan bisa melupakan rasa cintanya, namun saat dia tahu jika Vano telah meninggalkan Sasha, rasa itu hadir kembali.
Rasa yang menepi telah merapat kembali dan bahkan ada setitik harapan disana.
Jika Vano tiada maka, Jack bisa bersama Sasha karena Sasha akan melupakan perasaanya pada Vano.
__ADS_1
Harapan untuk bersama Sasha kembali menghiasi lubuk hati Jack. Jackpun tersenyum sambil membelai rambut Sasha.