
Pagi harinya...
Oma sudah duduk dimeja makan bersama Edsel dan juga Eiden. Mereka berdua sudah sehat dan bisa keluar dari kamar mereka.
Mereka juga sekarang bisa makan dengan rasa yang lebih nikmat. Beberapa hari mereka tidak makan dengan benar. Dan membuat mata mereka sedikit cekung karena agak kurusan.
"Makan ini biar sehat dan kuat. Ngga mudah terserang flu."
"Iya Oma."
Omanya lalu menyendokan telur gulung dengan cincangan daging sapi didalamnya.
"Ngga ada ayam goreng ya Oma?" Tanya Eiden.
"Kau mau ayam goreng?"
"He em." Kata Eiden sambil mengangguk.
"Baiklah, nanti siang Oma akan bikinin ayam goreng yang lezat, tapi...sekarang Eiden makan pakai ini dulu ya? Ini juga enak." Kata Oma membujuk Eiden. Sedangkan Edsel sudah makan dengan lahap karena itu makanan kesukaannya.
Makanannya hampir habis dipiring Edsel.
"Ayo makan. Makan apa yang ada diatas meja. Jangan mengeluh tentang makanan. Itu tidak baik. Sekarang makan yang ada dulu. Nanti siang Oma akan bikin ayam goreng yang enak." Kata Nadiya dari dapur.
"Betul kata mami. Kita tidak boleh mengeluh tentang makanan yang sudah disediakan diatas meja. Kita harus banyak-banyak bersyukur, banyak loh orang didunia ini yang bahkan sekarang tidak mempunyai apapun untuk dimakan. Mereka lapar sepanjang hari dan harus bekerja keras untuk sepiring nasi. Ayo dimakan....." Omanya berusaha memasukkan sedikit nasehat pada kedua cucunya.
"Iya Oma." Syukurlah, akhirnya Eiden mengerti dan mau makan setelah diingatkan tentang banyak orang yang lapar dipagi hari dan tidak punya apapun untuk dimakan.
"Enak kan?"
Eiden mengangguk.
Regan turun dari lantai tiga. Lalu dia melihat Oma dan kedua adiknya disana sedang sarapan.
Regan lalu mendekat dan meminum susu yang sudah disediakan bibi parti diatas meja.
Glek!
Regan meminumnya dengan cepat.
"Minumlah sambil duduk, sejak kapan kau sarapan sambil berdiri?" kata Omanya.
"Kenapa pipimu?"
Regan lalu menyentuh salah satu pipinya dan melihat ke Oma yang menatapnya dengan teliti.
"Ohh...ini....ini kena bola saat kemarin Regan futsal." Kata Regan sambil melihat kedapur.
Matanya bertemu dengan mata maminya.
__ADS_1
"Regan pergi dulu. Hari ini Regan akan pulang malam. Ada syuting." Kata Regan sambil memalingkan wajahnya dari tatapan maminya.
Nadiya berjalan mendekat namun Regan sudah dengan cepat meninggalkan meja makan.
"Sejak kapan dia syuting?" Tanya Oma dengan tatapan aneh.
"Nadiya juga tidak tahu mami. Dia tidak suka kamera tapi mau syuting." kata Nadiya yang ingat jika Regan tidak menyukai kamera apalagi berpose layaknya model.
"Prasetyo tidak turun makan Nad?" tanya Oma pada Nadiya.
"Dia sudah berangkat kekantor pagi-pagi sekali Oma." Kata Nadiya yang tidak sempat membuatkan sarapan untuk Prasetyo.
Bibi Parti yang melayaninya tadi pagi. Mungkin Prasetyo masih kesal. Apalagi semalaman dia mencari Sasha dan tidak menemukannya.
Sehingga mereka tidak berbicara semalaman.
Bahkan Nadiya tidak tahu kapan Prasetyo pulang dan kapan dia berangkat lagi.
Dia juga tidak membangunkan Nadiya dipagi hari ataupun ditengah malam seperti biasanya.
Padahal beberapa hari mereka tidak bertemu.
Dan jika bertemu Prasetyo selalu memperlakukannya dengan mesra dan mereka akan berpelukan sepanjang hari.
***
Tiba-tiba sinar sang Surya masuk menerobos gorden dikamar Sasha dan menyapu wajahnya.
Karena merasa ada sinar yang mengganggunya, Sashapun bangun. Dia belum begitu sadar, dan handphonenya berbunyi.
Dia melihat siapa yang menelpon.
"Iya, Bu..."
"Apakah kau sudah bangun?"
"Sudah."
"Kamu nanti tolong antarkan pesanan kerumah langganan saya. Ada alamatnya di nota yang kemarin aku berikan padamu. Aku sepertinya masih sibuk hari ini."
"Baik Bu..."
"Andro nanti akan mengantarkanmu." Kata Jeslin.
Sasha lalu bangun dan mandi dengan cepat.
Sepertinya matahari bersinar cerah hari ini.
Diluar Andro juga sudah rapi dan wangi. Dia lalu masuk keruang kerjanya dan memeriksa nota pesanan pelanggan.
__ADS_1
Dia duduk dan mulai sibuk dengan kertas-kertas diatas mejanya.
Tok,tok,tok!
"Masuk!" kata Andro pada Sasha. Matanya melebar dan dia tersenyum melihat Sasha berdiri dipintu.
"Kau sudah bangun? Duduklah disini. Hari ini kita akan sangat sibuk. Karena banyak pesanan akan diantarkan hari ini," kata Andro sambil menyerahkan beberapa nota kepada Sasha agar dia salin alamatnya.
"Nanti kau kemas semua dan kita akan mengangarkanya setelah sarapan," kata Andro sambil menyerahkan nota kepada Sasha.
Matanya tertuju pada leher Sasha yang jenjang, dan buah dada yang montok saat memberikan nota itu.
"Iya...saya akan mulai menyiapkanya," kata Sasha lalu pergi dari ruangan Andro.
Didalam ruanganya Andro memainkan pulpen yang sedang dia pegang, dan teringat apa yang dia lihat kemarin.
Tubuh yang indah saat Sasha berganti baju.
"Entah kapan aku bisa menjamahnya," keluhnya.
"Jeslin sudah mencampakkan aku. Aku butuh kehangatan. Dan aku tahu siapa yang akan menggantikan dirinya." Gumam Andro sambil bangkit dari tempat duduknya.
Dreeetttt!
Ada pesan masuk dihandphonenya yang dia letakkan diatas meja kerjanya.
Setelah membacanya dia lalu memasukan handphone itu ke sakunya.
"Kau pasti sedang dalam pelukan laki-laki itu. Dasar jal*ng!" Gerutu Andro kesal.
Rupanya hari ini Jeslin tidak bisa datang karena suaminya ingin terus berada didekatnya.
Dia sedang mengambil cuti tiga hari karena kelelahan dari kunjungan keluar kota.
Dan dia butuh Jeslin untuk merawatnya dan melayani semua kebutuhannya.
"Sasha! Ayo kita sarapan dulu!" kata Andro pada Sasha yang sedang mengemas beberapa baju.
"Setelah sarapan kita akan mengantarkan semua pesanan. Dan setelah itu aku akan mengajakmu kesebuah tempat dimana para model biasanya kesana sebelum menjadi model sesungguhnya," kata Andro.
"Baik mas," kata Sasha sumringah karena dia akan menjadi model sebentar lagi.
Sementara Andro duduk didekatnya dan terus melirik Sasha dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Dia melihatnya seakan baju itu tidak terlihat.
Yang dia bayangkan adalah tubuhnya yang kemarin dia lihat dari celah pintu.
Sasha tidak menyadarinya karena sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1