Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Season 2


__ADS_3

Season 2


Regan dewasa dan sikembar


Nadiya sedang membuat minuman untuk Prasetyo dan setelah selesai diapun kemudian membawanya ke taman didepan rumah.


Namun tiba-tiba Edsel berlari dan menabrak maminya. Nadiya langsung berteriak karena gregetan dengan kenakalan sikembar yang terlalu dimanjakan oleh Prasetyo dan juga Omanya.


"Edseeell!!!" Nadiya langsung berlari dan mengejarnya. Namun Edsel berlari sangat kencang dan bersembunyi dibelakang Omanya.


"Kemari!" Edsel terus menyembunyikan wajahnya pada punggung Omanya yang sedang duduk bersama Prasetyo.


Nadiya terus berteriak dan ingin sekali menjewer telinganya karena gregetan kopi untuk Prasetyo tumpah bahkan sampai dua kali.


"Ampun Mami....Edsel tidak sengaja." Kata Edsel dengan wajah ketakutan.


"Makin hari makin menjadi-jadi kenakalannya. Dan semua ini karena kamu terlalu memanjakanya." Kata Nadiya menumpahkan kekesalannya pada Prasetyo.


"Edsel jangan nakal. Lihatlah wajah mami, mami sangat marah sama kalian. Kamu bikin ulah lagi ya?"


"Ngga papi...Edsel ngga sengaja numpahin kopi yang baru saja mami bikin." Kata Edsel beralasan.


"Ngga sengaja, tapi numpahin sampai dua kali." Kata Nadiya.


"Sudahlah Nadiya, mungkin kali ini Edsel memang tidak sengaja." Kata Omanya menimpali.


Nadiya akhirnya masuk kedalam dengan perasaan kesal. Tidak ada yang mau mengerti tentang bagaimana cara mendidik agar sikembar berhenti membuat kenakalan. Mereka semua memanjakannya sehingga mereka menjadi keras kepala.


Dan kenakalan mereka membuat Nadiya kewalahan dalam mengurus keduanya.

__ADS_1


Bahkan semua babysitter pun tidak ada yang betah lebih dari satu Minggu. Hal itu tentu saja sangat merepotkan Nadiya. Nadiya menjadi marah sepanjang hari dengan bermacam-macam ulah keduanya.


Jika dia terlalu keras pada sikembar maka Oma akan cemberut sepanjang hari. Dan bahkan mendiamkannya karena dianggap terlalu keras terhadap anak-anak. Tapi jika dibiarkan kenakalan mereka semakin hari semakin berbahaya dan membuat kepalanya hampir meledak karena emosi yang terus memuncak.


Dan tiba-tiba pintu mereka diketuk oleh seseorang dan mereka dari kepolisian. Ternyata Eiden menelpon polisi dan mengatakan jika dia mengalami penganiayaan. Dan beberapa anggota polisipun datang kerumah besar itu.


"Kami dari kepolisian. Kami mendapat laporan jika ada anak kecil yang dianiaya disini." Kata seorang anggota polisi.


"Aniaya?" Tanya Nadiya saat berhadapan dengan beberapa anggota polisi dan sangat terkejut melihat kedatangan mereka atas laporan seseorang.


"Maaf, mungkin bapak salah alamat rumah. Kami sekeluarga disini baik-baik saja dan tidak ada yang mengalami penganiayaan ..." Kata Nadiya menjelaskan.


Tiba-tiba Eiden turun dari atas dengan badan memar-memar. Dan langsung berlari kepada anggota polisi yang saat ini ada dihadapan ibunya.


"Eiden kenapa dengan badanmu? Siapa yang melakukan semua ini?" Tanya Nadiya.


"Mami..." Kata Eiden pelan dan ketakutan.


"Setelah melihat dan membuktikan apa yang kami lihat hari ini, maka kami harap anda ikut kami kekantor polisi."


"Apa? Bagaimana mungkin anda berfikir bahwa saya melakukan semua ini kepada anak saya sendiri?" Kata Nadiya kebingungan.


"Silahkan nanti anda jelaskan dikepolisian." Kata seorang anggota polisi.


"Kalian ini kelewatan! Awas ya nanti jika mami pulang." Kata Nadiya geregetan dengan ulah mereka.


"Ibu Nadiya, anda tidak boleh mengancam anak-anak. Di negara ini hak semua anak-anak dibawah umur dilindungi sepenuhnya oleh negara. Jadi tidak boleh melakukan kekerasan baik mental maupun fisik kepada anak-anak meskipun itu anak sendiri."


"Bapak pasti salah paham. Di keluarga kami tidak ada yang melakukan kekerasan seperti yang bapak fikirkan. Kami keluarga baik-baik. Dan ini hanya salah paham. Kami hanya mendidik mereka dan tidak ada yang melakukan kekerasan." Kata Nadiya kesal.

__ADS_1


"Baiklah jika memang benar apa yang ibu katakan, maka silahkan ikut kami kekantor polisi."


"Apakah saya harus ikut kekantor polisi? Bukankah sudah saya jelaskan bahwa kami keluarga baik-baik. Tidak ada yang pernah melakukan kekerasan baik antara suami istri terlebih lagi kepada anak-anak."


"Silahkan ikut kami kekantor polisi dan nanti ibu jelaskan dikepolisian." Kata inspektur itu tetap dengan pendiriannya.


Sementara Edsel tertawa dari atas dan berkedip kepada Eiden. Mereka tersenyum puas dan bahagia. Kemudian Ibu Monic dan Prasetyo muncul dari taman belakang rumah.


Mereka juga sangat terkejut saat melihat Polisi dipintu rumah dan sedang berbicara pada Nadiya.


"Ada masalah apa ini pak?" Tanya Prasetyo terkejut.


"Kami harus membawa ibu Nadiya kekantor polisi. Karena kami mendapat laporan jika ibu Nadiya sudah melakukan kekerasan kepada anak-anak nya."


"Itu tidak benar pak. Saya adalah saksinya, mereka memang nakalnya kelewatan." Kata Prasetyo.


"Semua anak-anak pasti nakal pak Prasetyo. Dan tidak selayaknya orang tua melakukan kekerasan terhadap anak-anak meskipun mereka nakal. Mereka hanyalah anak-anak yang belum dewasa. Dan ada undang-undang tentang hak dan perlindungan anak-anak."


"Tapi pasti telah terjadi kesalahpahaman disini." Kata Prasetyo.


"Tapi sebaiknya Ibu Nadiya ikut kami kekantor polisi dan menjelaskan semuanya." Kata Inspektur itu.


"Nadiya? Harus ikut kekantor polisi? Apakah tidak bisa diselesaikan disini saja pak? Kami adalah saksinya jika tidak ada kekerasan dalam keluarga kami." Kata Prasetyo membela Nadiya.


"Sudahlah Pras. Aku juga sudah mengatakanya, namun mereka tetap saja ingin agar aku ikut kekantor polisi dan memberikan penjelasan disana." Kata Nadiya yang akhirnya mengalah dan ikut kekantor polisi.


"Ya sudah, aku akan menyusul kamu dikantor polisi bersama Oma." Kata Prasetyo.


Oma kemudian mengangguk dan mereka naik mobil yang berbeda jalan kekantor polisi.

__ADS_1


Sementara Nadiya ikut bersama beberapa polisi dan naik mobil mereka.


Edsel dan Eiden tertawa cekikikan karena mereka berhasil menirukan beberapa adegan film dan menangkap penjahat. Mereka terlalu nakal dan ternyata semua itu tidak terjadi begitu saja. Ada seseorang yang sengaja memprovokasi mereka. Dan orang itu sepertinya punya dendam pribadi kepada Nadiya.


__ADS_2