
"Maksud kami, tadi dari dokter lalu aku mengantar Oma kesalon."
"Ooohhh, gitu..."
"Ya, ya benar yang dikatakan Prasetyo. Sudah dulu ya, Oma mau istirahat dulu. Kata dokter Oma harus banyak istirahat." Oma sengaja menghindari Nadiya karena tidak mau dia curiga.
"Aku juga mau mandi dulu. Sepertinya hari ini cuaca sangat terik. Aku terus berkeringat." Kata Prasetyo lalu lari menaiki tangga dan langsung masuk kekamarnya.
Nadiya hanya bengong melihat mereka yang bersikap aneh.
"Kenapa dengan mereka hari ini? Mereka sangat aneh."
Nadiya lalu mengambil minuman dingin dikulkas dan meminumnya.
***
Untung saja aku cepat masuk kamar, jika tidak maka dia akan bertanya macam-macam, gumam Oma sambil tersenyum bahagia karena bisa bertemu cucu dan cicitnya.
Sementara Prasetyo langsung berendam dikamar mandi karena perjalanan kerumah Sasha yang lumayan jauh dan rumahnya yang panas karena masih banyak area persawahan membuatnya berkeringat terus.
***
Keesokan harinya saat Nadiya pergi mengantarkan Edsel dan Eiden kesekolah, Oma dan Prasetyo pergi lagi.
"Ayo Pras! Buruan nanti Nadiya keburu pulang."
"Tunggu mi...."
Prasetyo lalu mengambil tas kantornya dan berangkat bersama maminya.
"Kita kemana dulu ini mi?"
"Kita ke yayasan. Mami sudah memesan seorang asisten rumah tangga untuk Sasha. Kebetulan dia baru datang dari kampung."
Sesampainya di yayasan
"Berapa usia kamu?"
__ADS_1
"30 tahun."
"Kamu sudah pernah bekerja sebelumnya?"
"Ya Bu, sudah."
"Baiklah, artinya kamu sudah berpengalaman. Kamu nanti akan bekerja untuk cucu saya. Ayo sekarang ikut saya."
Setelah menyelesaikan admistrasi, ibu Monic lalu membawa asisten rumah tangga untuk Sasha.
Sesampainya ditempat Sasha, Ibu Monic langsung mengatakan apa saja yang akan dikerjakan oleh asisten tersebut.
Dan masalah gaji, nanti akan dibayar setiap tanggal satu, Ibu Monic yang akan membayarnya.
Tiba-tiba handphone Prasetyo berbunyi.
"Ya, halo Nad, ada apa?"
"Aku mau kekantormu Pras! Ada urusan penting!" Kata Nadiya lalu menutup teleponnya.
"Siapa Pras? Apakah itu Nadiya?"
"Waduh gimana ini?" Oma terlihat bingung, karena jika mengantarkanya kerumah maka, pasti tidak akan keburu kekantor.
"Ya sudah, Oma ikut kamu kekantor saja." Kata ibu Monic.
Mereka lalu berpamitan pada Sasha dan langsung menuju kekantor Prasetyo.
"Ternyata Nadiya belum sampai karena jalanan macet." Kata Prasetyo saat sampai dikantor lebih dulu dan membaca pesannya.
"Syukurlah, jika dia sampai lebih dulu. Dia akan bingung setiap kali kamu terlambat kekantor."
Ibu Monic lalu duduk disofa sambil menunggu Nadiya datang.
Tidak lama kemudian Nadiya datang dan menanyakan pada sekretaris Prasetyo.
"Apakah bapak ada?"
__ADS_1
"Iya Bu, bapak baru saja datang."
Nadiya kaget dan tampak mengangguk-angguk.
"Dari mana dia, kok baru saja datang?"
Gumam Nadiya pelan. Nadiya lalur membuka pintu dan kaget saat melihat Oma juga ada disana.
"Oma!?"
"Ohh, iya, tadi Oma ada urusan jadi Oma minta tolong Prasetyo untuk mengantar lebih dulu."
Nadiya lalu tersenyum dan membawa sebuah berkas kemeja Prasetyo.
Mereka lalu berbicara serius tentang berkas itu yang tadi diserahkan anak buah Nadiya dan harus dilihat kembali oleh Prasetyo. Ada sesuatu yang mencurigakan didalam anggaran didalamnya.
Mereka sedang bekerja sama untuk membangun yayasan anak-anak dan yang menangani itu adalah salah satu anak buah Prasetyo.
Prasetyo mempercayakan proyek itu padanya.
"Nanti akan aku periksa. Kau mau langsung pulang atau kau akan tunggu hingga aku selesai?"
"Aku akan langsung pulang aja. Oma, mau pulang sama Nadiya atau sama Prasetyo?"
"Aku akan pulang denganmu saja." Kata Oma lega karena Nadiya percaya aja apa yang dikatakannya.
Didalam mobil saat pulang kerumah, Nadiya sebenarnya heran karena beberapa hari ini Prasetyo sering bepergian dengan maminya.
"Mami sekarang terlihat sangat sibuk." Kata Nadiya sambil menyetir.
"Ohh, iya, mami sibuk sekali. Dirumah membuat mami bosan."
"Ohh iya. Apakah mami akan menggunakan jasa sopir lagi? Jika mami mau, Nadiya akan carikan sopir atau anak buah Prasetyo akan mengantarkan mami untuk jalan-jalan jika mami bosan."
"Tidak Nad, Prasetyo bisa mengatarkan mami, lagian mami pergi kan tidak setiap hari."
"Baiklah kalau begitu, jika mami mau, Nadiya juga bisa mengantarkan mami. Nanti anak-anak biar diantarkan sama sopir."
__ADS_1
"Ouuuuhhh ya, ya, nanti akan mami pikirkan. Mami agak mengantuk, sebaiknya mami tidur dulu." Kata Omanya yang pura-pura memejamkan mata karena tidak ingin berbicara banyak dengan Nadiya.
Dia takut jika Nadiya banyak bertanya maka dia akan keceplosan.