Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Berbohong demi kebaikan


__ADS_3

Prasetyo sudah melepas semua perbanya dengan bantuan Nadiya. Dan sekarang luka dikepalanya hanya ditutup pakai plester saja. Dan kakinya juga sudah tidak sakit lagi saat berjalan. Meskipun dia harus berjalan dengan pelan namun dia yakin di hari H pernikahan mereka maka dia pasti bisa melakukan yang terbaik.


"Pelan-pelan saja. Jangan terlalu dipaksakan jika masih sakit." Kata Nadiya sambil memegang lengan Prasetyo yang berdiri dan berjalan selangkah demi selangkah.


"Aku bisa berjalan sendiri."


"Kamu yakin?" Tanya Nadiya ragu-ragu.


"Iya." Prasetyo mengangguk dan mulai berjalan mengelilingi ruangan kamarnya tanpa bantuan alat atau siapapun. Nadiya melihatnya dengan tatapan penuh kegembiraan.


Aku sudah tidak sabar untuk memiliki Nadiya sebelum trauble maker itu berulah. Aku harus sembuh dan tidak ingin menunda pernikahan ini. Aku benar-benar secepatnya ingin membuat Nadiya menjadi miliku. Gumam Prasetyo.


"Sudahlah. Jika sudah lelah beristirahatlah." Kata Nadiya yang khawatir dengan kegigihan Prasetyo takut malah membuatnya cedera.


"Tidak papa. Aku sudah merasa sehat. Aku akan keluar menemui Om. Kamu mengurungku seperti tahanan saja." Kata Prasetyo.


"Baiklah. Kamu boleh keluar. Tapi jangan katakan apapun tentang kecelakaan itu atau papi akan khawatir. Katakan bahwa kau jatuh saat berjalan." Kata Nadiya.


"Kau pikir aku anak kecil yang jalan saja bisa jatuh? Alasanmu tidak masuk akal." Kata Prasetyo.


"Baiklah katakan kau jatuh dari lantai satu dan terluka."


"Apakah kau pikir aku mencoba bunuh diri sehingga bisa jatuh dari lantai satu? Alasanmu sangat aneh." Nadiya menjadi gregetan karena Prasetyo tidak mau mengikuti keinginannya.


"Begini saja, katakan bahwa aku terjatuh dari motor. Itu lebih tepat." Kata Prasetyo setelah memikirkan alasan yang masuk akal.


"Baiklah terserah kau saja." Kemudian mereka keluar dan Prasetyo berjalan disekitar taman untuk menghirup udara segar didampingi Nadiya disampingnya.


"Rasanya udara ini sangat menyegarkan tenggorokanku. sudah beberapa hari aku hanya terbaring diruangan yang sama sepanjang hari, dan itu membuatku merasa sangat bosan." Ujar Prasetyo sambil melihat bunga mawar yang dia tanam bersama Nadiya mulai bermekaran sangat indah. Taman didepan rumah Nadiya begitu luas, kira-kira setengah hektar, sehingga bisa untuk memarkir banyak mobil juga untuk ruangan hijau yang sedap dipandang mata.


"Aku merasa sangat bahagia." Kata Prasetyo.


"Kenapa?" Tanya Nadiya.


"Karena aku bisa memandang wajahmu setiap saat. Aku merasa beruntung sepanjang hari ada yang menemani, jadi secara tidak langsung aku mengucapkan terimakasih pada orang yang sudah menabrakku. Karena aku menjadi lebih dekat denganmu dan ada yang menyuapiku makan." Kata Prasetyo sambil meremas jemari Nadiya.


Kemudian dengan satu tanyanya dia mencubit lengan Prasetyo yang justru merasa diuntungkan dengan kejadian yang hampir saja merenggut nyawa mereka berdua.


"Aku akan menelfon Regan dan menanyakan kabarnya." Kata Nadiya karena merasa rindu pada putranya yang sekarang tinggal di asrama untuk sekolah dan kegiatan yang lainya.


"Teleponlah, dan katakan kalau aku juga merindukanya." Kata Prasetyo.


"Baiklah. Tunggulah disini aku akan segera kembali." Kemudian Nadiya berjalan masuk kedalam rumahnya dan berpapasan dengan papinya yang akan berjalan-jalan disekitar rumahnya untuk menjaga kesehatan dan mencari udara segar di pagi hari.


"Papi? Papi sudah bangun?" Nadiya kaget karena tiba-tiba berpapasan dengan papinya, terutama jika papinya mengetahui luka Prasetyo.


"Nadiya, kamu dari mana pagi-pagi begini?" Tanya papinya heran karena tidak biasanya Nadiya pagi-pagi sudah berada dihalaman rumahnya.


"Nadiya habis menemani Prasetyo papi...."

__ADS_1


"Ohhh dirumah ada Nak Pras juga. Kapan datangnya, kok papi tidak melihat kedatanganya?"


"Tadi malem papi."


"Ohh. Sekarang ada dimana Nak Pras nya?"


"Ada ditaman Pi, lagi berolahraga dan menghirup udara segar."


"Baiklah papi akan kesana dan olahraga bersamanya."


"Tapi Pi...."


"Kenapa? Kok kamu jadi aneh begini?" Kata papinya.


"Tidak Pi. Tidak papa. Ya sudah Nadiya mau menelfon Regan dulu."


"Ya sudah sana." Kata Papinya kemudian berjalan pelan-pelan ditaman sambil mencari Prasetyo.


"Ohh. Rupanya disana...." Gumam Tuan Alex dan berjalan menghampiri Prasetyo yang sedang berolahraga ringan.


Setelah dekat Tuan Alex terkejut melihat beberapa bekas luka di muka dan kaki juga tangan Prasetyo.


"Pagi om." Sapa Prasetyo dan menghentikan olahraganya kemudian membungkuk kepada Tuan Alex.


"Pagi juga Nak Pras."


"Kenapa kok banyak luka di wajah dan tangan nak Pras?" Tanya Tuan Alex.


"Ehhmm jatuh dari motor? Kapan? Kok Nadiya tidak memberitahu Om, jika nak Pras jatuh dari motor?"


"Beberapa hari lalu om. Mungkin karena Nadiya tidak mau om menjadi khawatir, apalagi sebentar lagi kami akan menikah. Sehingga Nadiya tidak memberitahu om mengenai hal ini."


"Pantas saja Nadiya tidak kelihatan ada dirumah. Papi pikir dia menginap di asrama Regan."


"Tidak Om. Nadiya merawat saya dirumah sakit."


"Lalu gimana sakitnya? Apakah sekarang sudah sembuh?"


"Sudah om. Tinggal luka kecil saja dan beberapa bekasnya yang masih kelihatan." Kata Prasetyo.


"Baiklah nak Pras...Om tinggal keliling taman dulu ya? Apa nak Pras mau ikut om keliling taman?"


"Tadi sudah om, sama Nadiya."


"Baiklah... Istirahatlah sebentar lagi kalian akan menikah. Jadi kondisi kalian harus fit."


"Iya om."


Dan dari jauh Nadiya berlari-lari kecil kehalaman rumah mendekati Prasetyo dan ingin tahu apa reaksi papinya.

__ADS_1


"Ngga usah lari-lari nanti jatuh." Kata Prasetyo yang melihat Nadiya berlari kearahnya.


"Gimana? Apakah Papi menanyakan sesuatu?"


"Iya seperti yang sudah kita sepakati. Bahwa aku jatuh dari motor."


"Ohh syukurlah. Aku jadi tenang. Aku sangat tegang jika menyangkut kesehatan papi."


"Baiklah yuk sarapan dulu. Kamu harus segera minum obat."


"Baiklah" Kemudian mereka berjalan beriringan masuk kedalam rumah dan pergi ke wastafel untuk mencuci tangan dan muka sebelum makan.


"Bi...jangan bikin susu untuk Tuan. Soalnya Tuan mau minum obat." Titah Nadiya.


"Baik non." Kata bibinya kemudian kebelakang untuk mengambil sarapan yang sudah disiapkan dari tadi.


"Jengkol?"


"Ya. Ini enak sekali. Aku sangat menyukai menu yang satu ini. Karena saat kecil aku tinggal dikampung bersama ibuku sehingga menu seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari kami. Dibelakang rumah kami ada pohon jengkolnya. Kami jadi sering memasaknya dan sebagian kami bagikan ketetangga."


"Apakah tidak ada menu yang lainya?" Tanya Prasetyo.


"Hahahaha."Nadiya tertawa melihat ekspresi Prasetyo.


"Kenapa tertawa?"


"Kamu lucu. Baiklah ini adalah menu makan siang tapi sengaja dimasak pagi hari biar bumbunya meresap. Jadi siang tinggal dipanasin. Sekarang kita makan roti tawar saja ya. Kamu mau selai apa?"


"Selai kacang saja." Jawab Prasetyo.


"Baiklah aku akan membuatkanmu selai kacang. Oh ya, ngomong-ngomong kamu belum pernah makan jengkol ya?"


Prasetyo menggelengkan kepalanya. Kemudian Nadiya tersenyum dan melirik jengkol yang ada diatas meja.


"Nanti kamu harus mencobanya. Masakan bibi sangat enak. Ini lebih enak dari daging. Kamu pasti ketagihan." Kata Nadiya.


Prasetyo menggelengkan kepalanya.


"Ngga mau?" Tanya Nadiya yang merasa lucu melihat ekspresi Prasetyo.


"Baiklah sekarang makan dulu rotinya. Aku akan mengambilkan obatnya."


------------------------


Hai, Kak! 😀😀😀


Terimakasih atas dukungan dari kalian pembaca setia dan untuk kalian yang sudah Fav, memberikan Like dan juga meninggalkan komentar.


Tanpa dukungan dari kalian apalah arti dari karya ini.....

__ADS_1


Dan Author mengucapkan maaf pada kalian semua jika dalam penulisannya masih banyak kesalahan dan kekurangan, juga cerita dan episode yang akan lumayan panjang dan kadang membosankan.


Sekali lagi terimakasih dan salam sayang dari Author 😘😍😍


__ADS_2