
Keluar dari ruang Rektor dan berdebat dengan mereka bertiga membuat Regan naik darah. Mereka semua mencari alasan yang tidak masuk akal untuk menyudutkan Sasha. Alasan yang mereka buat sedemikian rupa, mampu meyakinkan publik jika Catrine akan masuk ke kompetisi selanjutnya dengan izin dari pemenang.
Tidak ada yang protes dengan alasan yang masuk akal itu. Karena mereka tahu jika pemenang pertama kakinya cedera. Otomatis pemenang kedua akan menggantikanya. Ini seperti propaganda dan muslihat yang tidak terlihat.
Tidak ada protes dari teman mahasiswa dan dari netizen, saat berita itu diunggah disalah satu media sosial oleh seorang mahasiswa yang gemar melakukan vlog seputar kegiatan dikampus.
Tidak ada makian, tidak ada rasa kesal dan tidak ada yang kecewa dan merasa dirugikan dengan keputusan itu. Mereka berpikir Sasha sudah mundur dan dengan sukarela memberikan posisinya untuk Catrine.
Bahkan Menteri pun terlihat sangat bangga saat membaca komentar dari para netizen yang tanpa kemarahan, mereka justru mendoakan agar Catrine menang dan bersemangat.
Sementara mereka juga memuji sikap Sasha yang bijaksana. Tidak ada yang tahu jika semua keputusan ini dibuat secara sepihak. Karena Sasha sendiri berada dirumah sakit, dan tidak bisa memberikan klarifikasi tentang semua ini.
Regan keluar dari kantor Rektor dengan wajah memerah karena marah. Tangannya mengepal dan langsung menonjok apa saja yang didekatnya.
Tangannya menjadi terluka akibat dia menonjok tembok didekatnya dengan begitu keras.
Tiba-tiba dia ingat jika harus menjemput Sasha dirumah sakit.
"Sudah terlambat!" gumam Regan sambil meraih ponselnya dan menatap layar dihpnya yang mati.
"Batrenya lowbat. Sial!" Batre handphonenya ternyata habis sehingga dia tidak bisa menelpon atau mengirim pesan kepada Sasha.
Akhirnya Regan mengambil kunci mobilnya dan langsung melajukanya menuju rumah sakit.
Dia lalu parkir, dan berjalan masuk kedalam rumah sakit. Dia berdiri didepan lift, dan karena lift terasa begitu lama, akhirnya Regan berlari menaiki tangga hingga nafasnya terasa sesak.
Akhirnya dia sampai dilantai lima dan langsung berjalan kekamar Sasha.
Dia lalu membuka pintu dan dilihatnya kamar itu sudah kosong.
Artinya Sasha sudah pulang tanpa menunggunya.
Regan lalu berpapasan dengan seorang suster dan menanyakanya.
"Sus, pasien dikamar ini apa sudah pulang?"
Tanya Regan sambil matanya mencari disekitarnya. Dia berfikir siapa tahu Sasha baru saja keluar dan masih ada dirumah sakit. Atau dia menunggunya ditempat lain.
"Sudah. Tadi ada dua temannya yang menjemputnya kesini," kata suster tersebut.
"Terimakasih suster."
Regan lalu menatap kamar kosong itu lagi dan berfikir mungkin Vano dan Rossa yang menjemputnya. Karena mereka teman dekat Sasha.
Rossa adalah sahabatnya sejak mereka kuliah disana. Dan Vano juga salah satu sahabatnya yang terus berusaha mendekatinya dan selalu mencari kesempatan untuk bersamanya.
Regan lalu berjalan cepat menuju lift. Dia takut Sasha sudah sampai di Asrama dan melakukan protes kepada Rektor dikantornya.
Sedangkan Regan tidak ada disana untuk membantunya.
Regan lalu memencet tombol lift berulang kali hingga akhirnya liftnya terbuka lalu Regan masuk.
__ADS_1
Bau keringat bercampur minyak wangi dan juga obat-obatan membuat perutnya mual dan kepalanya pusing. Liftnya penuh sehingga dia harus berdesakan dengan para pengunjung.
Karena tidak tahan dengan bau yang menyengat, Reganpun turun dilantai empat dan melanjutkan dengan tangga biasa.
Dia lalu berjalan turun kebawah tanpa menggunakan lift. Kakinya sangat lelah namun menurutnya itu lebih baik daripada dia harus naik lift dan muntah disana.
"Sial! Bau apaan itu tadi. Perutku rasanya berteriak dan hampir aja mabok."
"Mual banget. Minyak apaan yang dipakai orang berbadan tinggi tadi. Sepertinya dia kebanyakan makan kambing. Baunya seperti bulu kambing yang sudah lama tidak mandi," umpat Regan.
Akhirnya Regan berjalan keparkiran dan langsung masuk mobil lalu melajukan mobilnya balik lagi keasrama.
Tidak menunggu waktu lama Regan akhirnya sampai juga di asrama.
Dia lalu langsung berlari menuju kamar Sasha dan memastikan dia sudah sampai dan ada disana.
Sasha yang baru aja sampai kemudian duduk dan melihat handphonenya.
"Dia tidak menelepon. Kemana dia? Katanya mau jemput malah ditelepon saja ngga bisa." gerutu Sasha lalu mengambil charger dan mengecas handphonenya.
"Disini lebih baik. Aku sudah bosan terlalu lama dirumah sakit." kata Sasha.
Sementara Vano masuk kedalam sendirian setelah mengantarkan Diana ke studio untuk siaran.
"Cepat sekali sampainya. Bukankah tadi kau bilang akan mengantarkan Diana?" Tanya Sasha yang melihat Vano masuk kedalam.
"Sudah. Aku tadi ngebut, Diana sampai ketakutan. Hahahaha. Oh ya, dimana Madina? Sepi amat nih kamar?" tanya Vano yang tidak melihat satupun teman Sasha.
"Lalu dimana Rossa?"
"Entahlah. Satu Minggu aku tidak melihatnya. Kata Diana dia sangat sibuk. Kau tahukan kalau dia adalah panitia dan ikut banyak kegiatan dikampus. Jadi sulit untuk menemuinya."
"Tapi namanya juga kalian kan sahabat, sesibuk apapun pasti bisa kan mencari waktu luang." Kata Vano mengagetkan Sasha.
Deg.
Sahabat?
Kau benar, sesibuk apapun pasti ada sedikit waktu luang.
Jika tidak bisa mengunjunginya dirumah sakit, harusnya dia adalah orang pertama yang menunggu kedatanganku saat ini.
Wajah Sasha menjadi sedikit muram dan sedih.
"Kenapa kau terlihat sedih begitu?" tanya Vano yang melihat perubahan pada wajah Sasha.
"Ngga papa. Aku ngga sedih, aku hanya merasa sendirian dan itu membuatku sedikit tidak nyaman." kata Sasha jujur pada Vano.
"Kan ada aku. Sekarangpun aku ada disini untuk menemanimu. Tapi kau tetap merasa sendiri? Apakah aku ini kau anggap hantu atau penampakan gitu?" Kata Vano sedikit melucu agar Sasha tidak kesepian.
"Kau juga akhir-akhir ini terlihat sangat sibuk dengan pekerjaanmu. Kau jadi lupa sama aku." kata Sasha sambil menepuk bahu Vano saat dia mengatakan tentang hantu atau penampakan.
__ADS_1
Jelas saja membuatnya merinding.
Karena dia jadi teringat kejadian beberapa bulan yang lalu. Hingga saat inipun kasusnya masih bergulir dan tinggal sidang terakhir. Lalu pelakunya akan dijatuhi hukuman yang setimpal.
Sasha lalu menatap Vano sangat dekat.
Deg.
Vano kaget dan menjadi canggung saat Sasha menatapnya seperti itu. Vano yang tadinya tertunduk pun balas menatap Vano.
Mereka bertatapan dan mencoba membaca apa yang tersimpan dihati orang yang ditatapnya.
Vano sendiri yang pernah ditolak oleh Sasha, ragu untuk mengatakanya kembali. Egonya dan harga dirinya merasa terluka jika sampai ditolak kedua kali.
Sementara Sasha mencari kebenaran dari sikap dan perhatian Vano untuknya. Apakah hanya sebagai teman, sahabat atau masih ada cinta disana.
Vano memang suka menggombal dan itu adalah satu hobi dan keisenganya. Dan Sasha juga tidak bisa menganggap serius setiap rayuannya.
Dia memang tipe seperti itu. Mudah merayu wanita dan mengumbar rayuan.
Namun kebenaran sesungguhnya masih menjadi misteri didalam sanubari.
Vanopun ragu untuk mengartikan tatapan Sasha saat ini. Mereka menatap satu sama lain dan tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan Regan.
Regan yang melihat mereka saling bertatapan langsung berdiri ditengah-tengah keduanya.
Reganpun tertawa didalam hati karena datang disaat yang tepat. Jika tidak tatapan itu akan berubah menjadi pelukan, pikir Regan.
Vano langsung kesal dan membuang mukanya kearah lain. Begitupun Sasha, dia juga membuang mukanya dan pura-pura mengecek handphonenya.
Tiba-tiba sunyi dan tidak ada suara apapun.
Regan lalu duduk ditengah Sasha dan Vano.
"Sonoan ahk!" Kata Vano. " Tempat segini lebar tapi duduknya cari tempat yang sempit." gerutu Vano.
Tapi tidak digubris oleh Regan.
Vano akhirnya menggeser tempat duduknya. Dan ulah Regan yang selalu menjadi penghalang kedekatannya dengan Sasha kadang membuatnya kesal.
"Aku tadi kerumah sakit tapi kau sudah tidak ada disana." Kata Regan pada Sasha yang terlihat kesal karena Regan tadi tidak menjemputnya.
"Kau kemana aja?" tanya Sasha sambil mengusap layar ponselnya.
"Aku tadi kekantor Rektor. Dan setelah itu langsung kerumah sakit."
"Kantor Rektor?" tanya Sasha dan dia jadi ingat sesuatu.
Diapun harus pergi kesana. Tiba-tiba Sasha langsung bangkit dan keluar dari kamarnya.
Vano dan Regan saling berpandangan dan mereka lalu bangkit dari duduknya dan dengan cepat mengejar Sasha yang berjalan sangat cepat kearah kantor di samping asrama didalam kampus.
__ADS_1