
Mendengar jawaban Nadiya membuat Prasetyo tersenyum dan merasa bahwa Nadiya sudah mulai menerima kehadiranya secara utuh.
"Terimakasih." Kata Prasetyo sambil mencium punggung tangan Nadiya. Nadiya berusaha tenang dan bersikap lembut. Hari ini dia harus berusaha melawan bayangan hitam itu. Biarkan Prasetyo mendapatkan haknya sebagai suami yang sah.
Prasetyo kemudian membaringkan Nadiya dan mulai melakukan keinginannya yang dia tahan selama ini. Kali ini dia tidak akan membuang kesempatan setelah mendapat izin dari Nadiya. Dia mulai melepaskan kemejanya dan celananya hingga hanya memakai pakaian dalam saja.
Nadiya masih tertunduk dan berdebar-debar namun dia menahanya dan menarik nafas panjang dan berusaha tersenyum demi kewajibanya.
Prasetyo kemudian melepaskan kancing baju Nadiya dan membiarkanya terbuka bagian atasnya.
Kemudian dia mulai mencium kening dan pipi Nadiya. Tanganya agresif kebeberapa wilayah terlarang dan dengan cepat badanya sudah berada diatas tubuh Nadiya.
Dia mencium bibir Nadiya dalam waktu lama sambil menggunakan kecepatan itu untuk membuat Nadiya ikut dalam permainan panasnya.
Nadiya menutup matanya saat Prasetyo sudah kehilangan kesabarannya dan mulai menyatukan dirinya. Nadiya merasakan sesuatu yang sudah lama tidak pernah dia lakukan sejak kepergian Ardy.
Berulang kali Prasetyo terhempas dan mengulanginya lagi dan lagi hingga Nadiya sampai lemas tidak berdaya.
Nadiya menarik nafas panjang dan mendekap Prasetyo saat diapun melakukan pelepasan karena berulang kali Prasetyo melakukan permainan yang membuatnya terhempas dan melakukan pelepasan.
Permainan panas itu berlangsung sangat lama. Lima jam Prasetyo menggempur Nadiya hingga Nadiya kesulitan untuk bangun dari tempat tidurnya. Kakinya terasa lemah saat dia akan berjalan kekamar mandi. Hingga dia harus berpegangan pada tembok saat berjalan.
Setelah kembali dari kamar mandi dilihatnya Prasetyo sudah tertidur pulas dengan pakaian yang masih berserakan.
Selimutnya juga merosot hingga terjuntai dilantai. Akhirnya masih dengan mengenakan handuk Nadiya menyelimuti Prasetyo dan saat ini dia benar-benar sudah harus move on dari bayangan hitam itu.
Dirinya secara utuh sudah dia serahkan kepada Prasetyo dan mereka sudah melakukan penyatuan berulang kali. Dan saat ini hanya Prasetyo yang boleh bertahta dihatinya. Dan hanya dia yang akan menjadi tujuan hidupnya. Tidak ada tempat bagi bayangan hitam itu lagi. Mulai saat ini, dengan penyatuan ini, dia berjanji untuk mengubur kisahnya dan tidak akan pernah membukanya lagi. Dia juga berjanji akan menjadi istri yang baik untuk Prasetyo.
Setelah melihat wajah Prasetyo begitu lama dalam cahaya remang-remang kemudian Nadiya mendekatkan wajahnya dan mencium pipinya.
Kemudian dia juga merebahkan dirinya disamping suaminya, dan mulai tertidur dengan perasaan yang lebih ringan.
Pagi harinya Prasetyo bangun lebih dulu dan dia lihat Nadiya masih lelap tertidur. Kemudian Prasetyo pergi kekamar mandi dan balik lagi ketempat tidur. Tirai gorden masih menutupi kamar tersebut sehingga cahaya matahari masih tertahan dijendela. Suasana kamar itu masih remang-remang.
Prasetyo mencium leher Nadiya yang tertidur dan saat dia membuka selimut yang menutupi Nadiya, dia tersenyum karena dia bisa mengulangi permainannya sekali lagi. Sepertinya setelah mendapat izin dari Nadiya, Prasetyo seperti singa yang lapar dan selalu timbul keinginan untuk membuat mangsanya tidak berdaya.
Akhirnya karena merasa ada yang menggelitiknya Nadiya terbangun dan membuka matanya. Dan dia sangat kaget saat tiba-tiba wajah Prasetyo berada dekat sekali dengan wajahnya.
Tanpa menunggu Nadiya benar-benar sadar, Prasetyo langsung menyerangnya dengan serangan yang mematikan dibeberapa daerah sensitifnya.
Nadiya mulai bernafas dengan berat karena serangan Prasetyo yang bertubi-tubi. Prasetyo tersenyum saat kesempatan untuk penyatuan itu kembali terbuka. Tanpa menundanya Prasetyo langsung melakukan pelepasan hingga tiga kali. Dan hal itu bikin Nadiya geregetan.
Sekalinya dikasih izin dia seperti singa kelaparan. Seakan besok tidak ada hari lagi untuk melakukanya. Kemudian dengan cepat Nadiya mendorongnya dan berlari kekamar mandi.
Setengah jam Nadiya dikamar mandi dan berendam di bathtub dengan air hangat dan sedikit aroma terapi. Untunglah Prasetyo kemarin membeli beberapa bunga segar yang dia taruh dibeberapa tempat dikamar mandi, sehingga membuat perasaan Nadiya menjadi segar kembali setelah melihat keindahan bunga tersebut.
Setelah hilang lelahnya Nadiya bangun dan keluar dari kamar mandi dengan mengendap karena jika Prasetyo melihatnya dia takut akan ada serangan tiba-tiba lagi darinya.
Dengan cepat dia menyelinap keruang ganti baju dan dengan cepat memakai bajunya.
Sementara Prasetyo menunggu Nadiya sangat lama ada dikamar mandi. Kemudian dia menoleh kekamar mandi dan dia lihat pintu sudah terbuka. Dia pikir Nadiya masih ada disana dan akan mengajaknya berendam bersama di bathtub. Tapi saat sampai dikamar mandi dilihatnya Nadiya sudah tidak ada disana lagi.
Dia mencari Nadiya dan melongo keluar namun Nadiya tidak ada.
Kemana dia menghilangang secepat ini?
Kemudian Prasetyo langsung mandi menggunakan shower dan selesai dengan cepat.
"Nadiya! Yuk kita keluar. Aku sudah sangat lapar." Kata Prasetyo setelah selesai memakai baju dan merapikan rambutnya.
__ADS_1
"Ya tunggu." Jawab Nadiya yang masih mengeringkan rambutnya.
"Aku tunggu diluar ya." Kata Prasetyo.
"Ya. Baiklah. Nanti aku akan menyusul." Kata Nadiya sambil meletakan hairdryer dan memakai sedikit pelembab untuk bibirnya.
Kemudian dia melangkah keluar dan mendekati Prasetyo.
"Kita akan mencari restoran terdekat. Aku sudah sangat lapar." Kata Prasetyo.
Ya, bagaimana tidak lapar? Kamu kaya orang kemasukan setan. Aku juga jadi sangat lapar karena dirimu. Gumam Nadiya.
Kemudian Prasetyo dengan cepat melajukan mobilnya. Dan mereka sampai pada mall berbelanjaan yang banyak restoran makanan dikanan dan kirinya.
"Kita makan disini saja." Kata Prasetyo sambil mencari parkir yang nyaman.
"Ya." Sahut Nadiya.
Kemudian Prasetyo turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Nadiya.
Prasetyo masuk kedalam dan memesan makanan dengan jumlah porsi yang lebih besar hingga membuat Nadiya terkejut.
"Kau akan menghabiskan semua makanan ini?" Tanya Nadiya yang melihat meja penuh dengan makanan.
"Iya. Aku sangat lapar." Kata Prasetyo yang langsung melahap semua makanan itu hingga tidak tersisa.
"Kamu sungguh luar biasa." Gumam Nadiya. Dan Prasetyo mendengar perkataan Nadiya dan tersenyum padanya.
"Apakah kamu puas?" Tanya Prasetyo.
"Maksudnya?" Bukankan aku sedang berbicara tentang aksi makanya yang lahap. Tapi kok jawabanya menjurus kehal lainya.
Bisa-bisanya dia mengatakan hal ini setelah mengerjainya habis-habisan. Gumam Nadiya.
"Setelah ini kita akan berbelanja."
Kata Prasetyo yang melihat muka Nadiya langsung berseri dan senang.
"Bukankah kita bisa membeli beberapa barang antik disini?" Kata Prasetyo sambil melirik kearah Nadiya.
"Barang antik?" Tanya Nadiya mengulangi perkataan Prasetyo.
"Ya. Tas kecil seharga mobil mewah, bukankah itu namanya barang antik?" Prasetyo menggoda lagi dengan kegemaran Nadiya yang satu ini.
"Katakan sekali lagi maka besok kita pulang." Kata Nadiya sambil melirik kearah Prasetyo.
"Iya maaf. Yuk kita kesana, aku akan menemanimu berkeliling disini mencari barang-barang antik yang kamu sukai." Kata Prasetyo dan langsung sebuah cubitan mendarat dilenganya.
Kemudian mereka berkeliling dari butik satu kebutik lainya untuk mencari beberapa barang yang disukai oleh Nadiya.
Prasetyo menenteng paper bag kanan kiri sementara Nadiya berjalan melenggang didepanya sambil matanya awas melihat beberapa barang yang dijual didalam mall itu.
Prasetyo akhirnya ngos-ngosan mengikuti Nadiya yang bolak-balik tidak ada capeknya sama sekali.
Mana dia sudah menenteng berbagai barang yang entah apa isinya kok jumlahnya sangat banyak. Dan Nadiya sepertinya juga tidak mau kehilangan kesempatan untuk berbelanja mumpung ada Prasetyo yang menenteng belanjaannya.
"Aku tunggu disini saja. Aku sudah lelah. Aku tak sanggup lagi berjalan." Kata Prasetyo sambil duduk disofa disebuah butik.
__ADS_1
"Baiklah, tunggulah disini aku akan jalan kesana sebentar." Kata Nadiya kemudian berjalan kebutik yang letaknya agak jauh dari tempat Prasetyo duduk.
"Ok sudah! Ayo kita pulang." Kata Nadiya kemudian membantu Prasetyo menenteng barang belanjaannya kebagasi mobil.
"Aku tidak percaya kau bisa melakukan ini berjam-jam." Kata Prasetyo sambil memasukan barang belanjaannya kedalam bagasi.
"Ya kapan lagi kita akan kesini?" Kata Nadiya sambil masuk kedalam mobilnya.
"Ok kita akan pulang dan melanjutkan permainan yang lain." Kata Prasetyo sambil tersenyum dan melajukan mobilnya dengan cepat.
"Oya bukankan nanti malam akan ada badai salju?" Tanya Nadiya yang tadi mendengar berita yang disiarkan ditelevisi.
"Benarkah?" Tanya Prasetyo.
"Aku mendengar beritanya tadi pagi. Lebih baik kita membeli persiapan makanan karena kita tidak tahu apakah badai itu berlangsung sehari atau beberapa hari." ujar Nadiya memberi saran untuk membeli beberapa persediaan makanan.
"Baiklah kita bisa membelinya disana." Kata Prasetyo sambil menunjuk kesebuah swalayan yang besar tidak jauh dari mall itu.
"Ayo turunlah kita sudah sampai. Tapi sepertinya bagasi sudah tidak muat lagi." Kata Prasetyo.
"Iya kita akan taruh persediaan makanan disini." Nadiya menunjuk ruang yang kosong didalam mobil itu.
Mereka kemudian masuk kedalam dan mengambil kereta dorong untuk wadah barang belanjaan yang jumlahnya banyak.
"Kita membutuhkan ini." Kata Nadiya pada Prasetyo sambil mengambil beberapa makanan kaleng yang praktis.
"Belilah sosis dalam jumlah banyak. Itu makanan kesukaanku." Kata Prasetyo pada Nadiya.
"Jangan lupa beli minuman ABC, minuman itu akan menghangatkan badan kita saat turun badai." Kata Prasetyo pada Nadiya.
"Kita melupakan ini." Kata Prasetyo.
"Apa itu?" Tanya Nadiya sambil menoleh kearah Prasetyo.
"Penambah kekuatan untuk laki-laki." Kata Prasetyo sambil menatap Nadiya dan masukan barang itu kedalam keranjangnya.
Melihat kelakuanya yang suka aneh, Nadiya berjalan mendekatinya dan mengambil barang itu kembali dan dia letakan ditempatnya semula.
"Awas jika kau memasukanya kembali. Aku akan membuatmu tidur diluar diterpa badai." Kata Nadiya kemudian meninggalkanya dan mulai sibuk memasukkan beberapa makanan cepat saji yang lainya.
"Yuk sepertinya semua barang yang kita perlukan sudah kita beli." Kata Nadiya sambil berjalan kekasir untuk membayar.
Kemudian tanpa sepengetahuan Nadiya Prasetyo memasukan barang yang tadi kedalam keranjang belanjaanya.
"Pergilah kemobil lebih dahulu." Kata Prasetyo sambil membawa barang belanjaanya kekasir.
"Ini kunci mobilnya." Kata Prasetyo sambil memberikan kunci mobil kepada Nadiya.
------------------
Hai, Kak! 😀😀😀
Terimakasih atas dukungan dari kalian pembaca setia dan untuk kalian yang sudah Fav, memberikan Like dan juga meninggalkan komentar.
Tanpa dukungan dari kalian apalah arti dari karya ini.....
Dan Author mengucapkan maaf pada kalian semua jika dalam penulisannya masih banyak kesalahan dan kekurangan, juga cerita dan episode yang akan lumayan panjang dan kadang membosankan.
Sekali lagi terimakasih dan salam sayang dari Author 😘😍😍
__ADS_1