
Dikantor Advokad
"Silahkan masuk." Kata Pak Haris.
Kemudian Elis masuk dan bersalaman pada Pak Haris.
"Silahkan duduk ibu Elis." Kata Pak Haris.
"Terimakasih pak." Kata Elis.
"Ada yang bisa saya bantu?" Kata pengacara itu.
"Iya pak. Saya membutuhkan bantuan bapak untuk membantu kasus teman saya. Saat ini teman saya ada didalam penjara karena menyebabkan kecelakaan dan terdapat satu korban jiwa." Kata Elis menerangkan sambil menceritakan detail awal mula terjadinya kecelakaan itu.
"Baiklah ibu Elis, nanti akan saya pelajari kasus yang menimpa bapak Ardy dan nanti saya akan kekantor polisi dan menemui beliau." Kata Pak Haris.
"Terimakasih pak. Kalau begitu saya mohon pamit." Kata Elis sambil berpamitan dan keluar dari kantornya.
Kemudian Elis tidak langsung kekantor, melainkan kekantor polisi untuk menemui sahabatnya dan membawakan makanan kesukaan sahabatnya itu.
Sesampainya dikantor polisi Ardy sedang duduk dipojokan sambil melamun dan memikirkan masa depanya.
"Ardy?" Kata Elis saat sudah mendapat ijin untuk menemui sahabatnya.
Kemudian polisi membuka pintu dan membawa mereka keruang penerimaan tamu. Kemudian mereka dikasih waktu setengah jam untuk berbicara.
Polisi keluar dan menunggu mereka diluar ruangan sambil berjaga-jaga.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Elis.
"Seperti yang kamu lihat, aku lagi-lagi harus menerima kakalahanku melawan takdir. Aku sangat berharap bisa menemui putriku namun aku malah dipenjara. Dulu aku juga sangat berharap bisa menemui dan melihat putriku namun akhirnya Nadiya meninggalkanku dan kami bercerai. Nasip sangat kejam terhadap diriku. Sekarang biarlah aku tidak akan melawanya lagi. Aku akan melihat apa yang bisa dilakukan takdir terhadap diriku." Kata Ardy berputus asa.
__ADS_1
"Jangan berkata begitu Ardy. Kata-katamu seperti pisau menusuk hatiku. Aku sangat sedih mendengarnya." Kata Elis sambil meneteskan airmata.
"Apa yang bisa kulakukan sekarang? Aku ada didalam penjara, sebentar lagi karirku akan hancur dan nama baiku tercemar. Aku seperti manusia yang tidak berguna dan jahat. Aku telah menghilangkan nyawa orang yang tidak berdosa? Apalagi yang bisa aku harapkan dari hidupku ini?" Kata Ardy menatap Elis dengan tatapan sendu.
"Jangan berkata begitu Ardy. Aku akan berjuang membantumu keluar dari sini. Aku akan menggunakan jasa pengacara terbaik dikota ini." Kata Elis meyakinkan Ardy agar tidak berputus asa dan tetap punya semangat hidup.
"Aku sudah menyerah tak ada gunanya aku melawan takdirku ini." Kata Ardy sambil menunduk.
"Tidak Ardy semua itu adalah kecelakaan. Semua itu tidak sepenuhnya kesalahanmu." Kata Elis sambil meyakinkan Ardy jika semua itu hanya kecelakaan.
"Maaf waktu berkunjung anda habis." Kata seorang polisi.
"Baik pak." Kata Elis sambil memberikan paper bag yang berisi baju ganti Ardy dan makanan serta minuman.
"Aku pulang dulu, besok aku akan menemuimu lagi." Kata Elis sambil keluar dari ruangan itu. Ardy mengangguk dan membawa paper bag itu kembali kedalam ruang tahanan.
Elis kemudian keluar dari kantor polisi dan langsung kembali ke kantornya. Dia harus kesana untuk menggantikan Ardy sementara. Kemudian dipintu masuk Elis bertemu dengan Joan yang sedang berbicara dengan beberapa pegawai kantor.
Joan yang melihat Elis datang langsung pura-pura baik dan menanyakan kabar Ardy.
"Kok kamu ikut masuk kesini?" Tanya Elis kaget.
"Iya karena Pak Ardy sedang tidak ada dikantor maka saya berinisiatif untuk membantu Anda." Elis kemudian tersenyum dan senang karena Joan mungkin bisa diandalkan sementara Ardy tidak ada. Bukankah Joan adalah teman Ardy? Pasti dia juga piawai seperti Ardy, batin Elis.
"Baiklah sementara Pak Ardy tidak ada dikantor maka kamu boleh membantu pekerjaan saya." Kata Elis dan menyerahkan beberapa berkas padanya.
"Duduklah disini saya akan masuk kedalam ruangan saya." Kata Elis. Nanti jika kamu sudah selesai tolong taruh diruangan saya. Dan laporkan pada saya jika ada yang perlu saya ketahui. Kata Elis pada Joan.
"Baik Bu." Kemudian Joan duduk di kursi Ardy dan mulai sibuk dengan beberapa berkas yang menumpuk dimeja. Memang dia juga lumayan berpengalaman karena pernah menjadi CEO diperusahaan istrinya, Karina. Sehingga pengalamanya itu saat ini sangat berguna dan membantunya dalam menangani perusahaan selama Ardy tidak ada.
Joan mulai tersenyum menyeringai setelah separo dari pekerjaanya dia selesaikan. Dia akan lembur malam ini untuk menarik simpati Elis. Karena kesempatan tidak pernah datang dua kali, sehingga dia harus gunakan sebaik-baiknya.
__ADS_1
Jam 12 malam akhirnya dia bisa menyelesaikan semua pekerjaannya dan keluar dari kantor.
Karina sudah menelpon dari tadi dan Joan tidak mengangkatnya karena dia sangat sibuk. Kemudian sebelum pulang dia menelpon Karina dan mengatakan jika dia sedang dalam perjalanan pulang.
Besok Ibu Elis akan terkejut karena pekerjaanya sudah aku selesaikan tepat waktu. Dan aku siap menerima pujian darinya. Oh Joan....kamu memang pahlawan sejati. Kamu selalu datang tepat waktu dan membantu mereka yang membutuhkan. Dia memuji dirinya sendiri seperti biasanya.
🌹🌹🌹
Nadiya sedang duduk bersama Prasetyo sambil menonton televisi berduaan.
"Perasaanku tidak enak. Bagaimana kalau Minggu depan kita pulang?" Tanya Nadiya pada Prasetyo.
"Tapi...bukankah seharusnya kita masih tiga Minggu lagi disini?" Kata Prasetyo sepertinya keberatan karena dia bahkan belum diterima Nadiya sepenuhnya.
"Iya tapi perasaanku tidak enak entah kenapa? Bagaimana jika kita pulang lebih awal dari rencana sebelumnya?" Kata Nadiya.
"Baiklah jika kamu ingin kita pulang lebih cepat. Sekarang lebih baik kita tidur, aku sudah mengantuk." Kata Prasetyo kemudianengajak Nadiya tidur kekamar.
"Baiklah. Biar aku matikan tivinya." Kata Nadiya.
Prasetyo sudah berbaring di ranjang dan menunggu Nadiya sambil memikirkan sesuatu. Entah apa yang sedang dipikirkanya karena dia senyum-senyum sendiri.
"Kemarilah Nadiya.....karena kita pulang lebih awal bisakah aku tanyakan sesuatu padamu?" Tanya Prasetyo sambil duduk berhadapan dengan Nadiya diatas ranjang.
Mereka diam sejenak, dan Prasetyo menatap mata Nadiya dengan lembut. Tatapanya menembus kehati Nadiya dan membuat jantungnya berdegup kencang.
"Apakah kita bisa.....melakukanya sekarang?" Tanya Prasetyo karena dia juga ingin mengetahui isi hati Nadiya dan apa arti dirinya bagi Nadiya.
Nadiya terdiam dan menatap Prasetyo dengan berbagai rasa yang sulit untuk di nyatakan.
"Aku.....aku...." Nafasnya mulai tak beraturan. Nadiya kemudian menghela nafas dan menahanya untuk beberapa saat sampai akhirnya dia mempunyai kekuatan untuk melawan bayangan masa lalunya. Dan meyakinkan dirinya bahwa hal itu tidak akan terjadi pada pernikahannya kali ini.
__ADS_1
"Baiklah...kau ....kau....boleh melakukan tugasmu." Kata Nadiya sambil menghembuskan nafasnya dan berusaha untuk merasa baik-baik saja, walaupun sebenarnya berbagai perasaan sedang bergejolak didalam hatinya.
Jauh direlung hatinya berbisik untuk mulai menerima Prasetyo dan menunaikan tugasnya sebagai istri yang sah. Jika tidak hari ini, lalu sampai kapan dia akan siap? Jika dia tidak siap setiap hari, lalu bagaimana dengan perasaan Prasetyo yang sudah resmi menjadi suaminya. Berapa lama dia harus menunggu?