
Sandra sampai didepan rumahnya dan langsung masuk kedalam serasa tidak sabar untuk bertemu dengan ibunya.
"Sandra? kamu pulang nak? Kamu kemana aja? ibu telepon kok sulit sekali?"
Kata Ibunya dan berhenti mengupas bawang.
"Ibu ini gimana sih?" Sandra mulai kesal.
Keinginannya untuk menjadi nyonya Prasetyo telah kandas.
"Kenapa Sekar bisa pergi dari sini?"
"Ohh, maafkan ibu nak, Ibu lagi kepasar dan saat pulang Sekar sudah tidak ada dirumah."
"Apakah dia tidak minum obat?"
"Ibu tidak tahu kalau soal itu. Dia menyimpan obatnya dikamarnya."
Sandra lalu pergi kekamar yang pernah dipakai Sekar. Dia membuka laci, dan dia lihat obatnya masih utuh.
"Pantas saja, obatnya masih utuh. Jadi satu bulan ini dia tidak meminum obatnya."
Sandra lalu mengambil obat itu dan melemparkanya ke tempat sampah dengan kasar.
"Bu! Ini bapak bawa ikan banyak!"
"Iya pak......"
Tiba-tiba terdengar Sandra berteriak dari kamarnya.
"Aaaaaaaaakkkkkkk!"
"Siapa itu Bu?" Tanya suaminya. Ibunya lalu lari dan mengetuk pintu.
"Sandra? Ada apa nak? Apa kamu baik-baik saja?"
Didalam kamar, Sandra menangis karena impiannya telah hancur.
"Ada apa?" Ibunya lalu memeluknya. " Kenapa kamu menangis?"
Sandra lalu memeluk ibunya dan mengais tersedu-sedu.
"Pulang-pulang kok menangis, ada apa, cerita sama ibu...."
Sandra lalu mengusap airmatanya.
"Ngga papa Bu, maafkan Sandra bu, sudah kasar sama ibu."
Ibunya mengangguk lalu memeluknya.
***
Saat ini Sasha sedang diruang operasi, Arya dan Vano menunggu diluar. Setelah Vano tahu jika suaminya tidak datang, maka dia memutuskan untuk menemaninya sampai dia melahirkan.
Tidak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi, Dokter lalu keluar dan menyuruh Arya masuk kedalam.
"Apakah anda suaminya?" Tanya dokter pada Vano.
Vano menggelengkan kepalanya.
"Bukan...."
"Saya ayahnya." Kata Arya.
"Silahkan bapak masuk kedalam."
Vano hanya bisa menarik nafas panjang, dan menahan rasa kesalnya karena suami Sasha tidak datang disaat istrinya membutuhkannya.
Dia tidak tahu jika ternyata Sasha belum menikah.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Sasha sudah dipindahkan dari ruang operasi keruang perawatan.
Sasha sedang menatap bayinya yang sangat tampan. Vano masuk dan mengucapkan selamat pada Sasha.
"Selamat, kau sudah menjadi seorang ibu." Kata Vano sambil menatap bayi mungil disamping Sasha.
"Terimakasih."
"Saya akan keluar dulu." Kata Arya memberikan kesempatan pada Vano untuk berdua saja dengan Sasha.
"Vano, maafkan aku....."Kata Sasha, yang atas saran Arya, dia harus berterus terang kepada Vano atas keadaan yang sesungguhnya.
Sashapun merasa bersalah telah menyembunyikan kebenaran yang sesungguhnya kepada Vano.
Namun saat ini, putranya sudah lahir, sehingga dia tidak perlu menutupi apapun lagi.
Sasha lalu menceritakan bagaimana dia bisa hamil dan siapa yang melakukan semua ini. Hingga dia harus menyembunyikan kenyataan jika dia belum menikah.
"Apa?" Vano kaget dan shock.
"Ya. Aku belum menikah. Suamiku tidak akan pernah datang, karena dia memang tidak ada."
"Kenapa kau harus berbohong padaku?"
"Karena aku ingin melahirkannya dengan tenang. Awalnya aku tidak menerimanya, dan ingin membuangnya saat usianya masih sangat muda. Namun setelah aku fikirkan, akhirnya aku memutuskan untuk melahirkanya, dan membuat cerita itu. Maafkan aku....."
Kata Sasha dan airmatanya menggenang di pelupuk matanya.
"Tidak papa, aku akan menjadi ayahnya." Kata Vano dan membuat Sasha tercengang.
"Maksudmu?"
"Ayo kita menikah." Kata Vano
"Menikah?" Sasha kaget dengan lamaran Vano yang mendadak seperti itu.
"Tapi...." Sasha bingung dan ragu.
"Tapi secepat ini?"
"Setelah dia agak besar, aku akan menemui papaku dan kita akan menikah." Kata Vano meyakinkan Sasha bahwa dia tidak main-main dengan ucapannya.
***
Beberapa bulan kemudian Vano kembali ketanah air dan menemui papanya.
"Pa, Vano akan menikah." Kata Vano
Papanya menatapnya dengan sangat kaget.
"Menikah? Apakah kau sudah selesaikan kuliahmu?"
Vano menggeleng.
"Bagaimana kau akan menikah. Kuliahmu saja belum selesai!"
"Tapi, pa. Vano sudah punya anak. Dan dia sudah melahirkan." Kata Vano dan Ayahnya lebih syock lagi mendengar pengakuan dari putra satu-satunya.
Sementara ibu tirinya yang baru saja keluar dari dapur juga kaget dan menutup mulutnya. Dia berdiri seperti patung dan tidak percaya pada apa yang didengarnya.
Suaminya pasti akan murka.
"Kenapa kau lakukan itu? Apakah kau tidak menganggapku ayahmu? Kau mencoreng namaku? Kau tahu itu sangat buruk dan akan membuat keluarga kita menjadi bahan tertawaan? Berulang kali papa bilang, hati-hati dalam bergaul! Kau adalah anak seorang gubernur, kau juga akan meneruskan beberapa perusahaan papa. Tapi kau malah merusak segalanya."
Vano tertunduk dan menahan nafasnya. Dia sudah menduga ini akan terjadi.
Vano lalu mendongakkan kepalanya.
"Vano tetap akan menikah. Datanglah jika kalian ada waktu."
__ADS_1
"Kau anak tidak tahu diri! Kau berani melawan ayahmu! Ha!"
plaaakkkkk!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Vano.
"Pengawal! Bawa dia kekamar! Dia akan sadar setelah ini!" Lalu empat orang membawanya kekamarnya.
Vano berusaha melawan namun tidak bisa. Dadanya tiba-tiba menjadi sesak.
Kemudian mereka menguncinya disana.
"Buka pintunya! Buka! Kurang ajar kalian semua!" Umpat Vano dari dalam kamar yang terkunci.
Ayahnya bisa melakukan apa saja, karena dia punya uang dan punya kuasa.
"Herman! Selidiki siapa gadis yang akan dinikahi Vano. Katakan padanya, Vano tidak akan menikahinya. Dan berikan uang atau apapun yang dia inginkan. Mobil, rumah, dan suruh dia menikah dengan pria lain."
"Baik Pak!"
***
Keesokan harinya Herman datang menemui Ayahnya Vano.
"Dia tidak ada disini. Dia ada di Amerika. Mereka teman kuliah satu kampus." Terang Herman.
"Apakah dia juga kuliah disana?"
"Benar pak!"
"Temui dia. Dan katakan apa yang dia inginkan."
"Baik pak!"
Herman lalu memesan tiket dan terbang ke Amerika.
***
Bibi membawa makanan untuk Vano dan dibawa kekamarnya.
"Ini dimakan den."
"Bi, apa yang direncanakan papa? Bibi tahu? Kasih tahu saya bi....tolong bi..." Vano nampak memohon karena dia tidak tahu apa rencana papanya.
Dia khawatir pada keadaan Sasha dan bayinya.
"Anu den, Bapak menyuruh orang ke Amerika, untuk menyelidiki calon istri Den Vano."
"Sudah kuduga, papa akan melakukan segala cara untuk memisahkannya."
"Dimakan ya den. Kalau den Vano tidak makan, nanti bibi yang dimarahin den."
"Iya Bi. Makasih ya bi...."
"Iya den." Kata bibi yang sudah bekerja lama dirumah itu.
Diapun keluar dan bertemu dengan Jeslin, nyonyanya.
"Apakah dia mau makan bi?"
"Iya nyonya, Den Vano mau makan."
Jeslin tampak mengengguk-angguk. Dia juga sebenarnya kasihan dengan Vano. Namun suaminya juga tidak mau mendengar pendapatnya.
Bahkan dia tidak bisa berbicara dengan Vano, karena mereka memang jarang terlihat akrab.
Vano tidak menyukainya, entah karena apa. Jeslin lalu melangkah mendekati suaminya yang sedang duduk membaca berita.
"Jika dia sedikit saja membuat kesalahan. Nama keluarga kita akan mengisi seluruh koran ini." Kata suaminya dengan kesal.
__ADS_1
Jeslin diam saja dan hanya duduk disampingnya.