Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Penyerahan diri


__ADS_3

Setelah melihat kearah Vano sesaat, airmatanya memenuhi seluruh muka dan penglihatanya.


Dengan cepat dia memakai baju dan pergi dari kamar itu, tanpa melepaskan ikatan Vano.


Vano masih terikat ditempatnya, bahkan untuk berteriak dia tidak mampu.


Jeslin juga kaget saat Andro terkapar didepannya.


Darah muncrat hingga kewajahnya.


"Hhhhhh...dia mati! Dia sudah mati! Aku membunuhnya.....aku benar-benar telah membunuhnya....." Jeslin tertunduk didepan jasad Andro.


Dia lalu mendongak dan menyadari jika Sasha sudah pergi dan Vano masih terikat.


"Aku akan melepaskanmu! Pergilah cepat!"


Tangan Jeslin yang berlumuran darah segera melepaskan ikatan Vano.


"Apa yang kau lakukan! Kenapa kau membunuhnya!"


"Dia lelaki Brengs*k! Dia pantas mati!"


"Kau membuatku dalam masalah!" Vano mulai gusar.


"Tidak! Ini masalahku! Kau tidak perlu terlibat! Aku akan memanggil polisi, kau cepatlah pergi!"


"Tapi.....dimana Sasha?" Vano sadar jika Sasha tidak ada dikamar saat ini.


"Polisi akan datang sebentar lagi untuk menangkapku. Aku tidak akan menyebut namamu. Dan kau tidak melihat semua ini!"


Vano masih berdiri, bingung.


Polisi datang setelah Jeslin menelpon dan menyerahkan dirinya karena telah membunuh Andro.


Jeslin juga menyuruh Vano pergi agar tidak terlihat dan terlibat dengan polisi.


"Pergilah! Cepaaaaatttt! Dia sudah mati! Polisi akan datang tidak lama lagi!"


"Tapi....kau... bagaimana dengan...." Vano bingung dengan kejadian yang begitu cepat.


Biarkan ini menjadi urusan dirinya dan Andro. Vano lalu menuruti perkataan Jeslin dan pergi mencari Sasha.


Setelah Vano pergi, polisi tidak lama lagi datang dan menangkap Jeslin. Jeslin tak bergeming saat tanganya diborgol dan dibawa masuk kemobil tahanan.


Sementara polisi yang lain memberikan garis kuning pada kamar itu dan membungkus mayat Andro.


Dikantor polisi.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu lama berita itu langsung tersebar diseluruh stasiun televisi dan media.


Semua orang membicarakan perselingkuhan dan kematian tragis oleh kekasihnya sendiri.


Dan yang tidak kalah membuat berita itu heboh adalah karena selama ini Jeslin dan suaminya terlihat harmonis dan tidak pernah ada gosip apapun.


Suaminya datang kekantor polisi dan menatap Jeslin dengan penuh amarah. Akibat ulahnya kini namanya dibicarakan semua orang. Dia bahkan malu untuk keluar dan menemui semua orang.


Suaminya juga memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya karena skandal istrinya.


Rumahnya dipenuhi oleh wartawan sepanjang hari selama 24 jam. Kantornya juga dipenuhi oleh wartawan. Dan beberapa anak buahnya saat ini sepanjang hari bergosip tentang istrinya yang tidak benar.


Telinganya terlalu panas untuk mendengar setiap pertanyaan yang menyakitkan dan sangat sensitif.


Untunglah nama Vano dan Sasha tidak dibawa-bawa. Jika saja publik tahu apa yang sebenarnya terjadi dan papanya juga tahu, maka dia akan mati mendadak saat itu juga.


"Maafkan saya pa. Saya siap jika kau akan menceraikan aku."


"Tentu saja! Aku pasti akan menceraikanmu! Aku tidak sudi punya istri seperti dirimu!" Kata suaminya marah dan hanya melihat Jeslin sekilas.


Dia tidak berdiri lama dan hanya memberikan kesaksian sedikit dikantor polisi.


"Pras! Kemarilah! Lihat berita itu, coba volumenya kencengin dikit! Itu....itu bukankah Jeslin!?" Nadiya menunjuk pada Jeslin yang saat itu dibawa oleh polisi kemobil tahanan.


"Iya itu temanmu. Kenapa dia dibawa kekantor polisi?"


"Entahlah, coba kita dengarkan...."


"Aku tidak menyangka, ternyata dia punya pria idaman lain." Gumam Prasetyo.


"Aku akan melihatnya esok. Apakah kau mau menemaniku?" Tanya Nadiya yang berfikir untuk menemui sahabatnya.


Nadiya dan Prasetyo juga turut prihatin dengan apa yang terjadi pada sahabatnya.


"Semoga kau kuat." Itu saja yang bisa Nadiya katakan saat ini.


"Tidak ada yang bisa kulakukan, aku hanya bisa berdoa semoga masalahmu cepat selesai."


Jeslin mengangguk.


Nadiya lalu pergi dan setelah Nadiya pergi, Vano datang dan menemui ibu tirinya.


"Maafkan aku, kau harus berada disini karena aku."


"Ini bukan salahmu. Dan, aku mohon jangan kemari lagi. Aku malu menemuimu. Aku tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kalian yang terhormat."


Jeslin mengusap airmatanya dan Vano pergi meninggalkannya. Saat ini Vano masih harus mencari Sasha.

__ADS_1


Entah dia ada dimana saat ini. Vano tidak tahu dimana dia berada. Dia tidak bisa dihubungi sama sekali dan bahkan dia tidak ingat jika anaknya tiap malam menangis karena ingin tidur dengannya.


Dua hari dua malam, Vano terus begadang memikirkanya.


"Kau kemana Sasha? Pulanglah. Kenapa kau harus pergi? Ini bukan salahmu." Kata Vano sambil mengusap airmatanya.


"Den, makan dulu." Kata bibinya dirumahnya.


Karena saat ini Vano tidak tinggal diapartemen lagi. Dia pulang kerumahnya karena anaknya terus saja rewel. Dan apartemennya penuh dengan wartawan dan tidak aman untuknya dan juga anaknya.


Bibi yang dulu mengurusi Vano saat ini mengurusi anaknya juga setiap malam. Aaron bisa tidur setelah bibinya menemaninya.


Papanya pergi keluar negeri untuk menenangkan diri. Apalagi setelah dia mundur dari jabatannya dan meninggalkan perusahaanya pada Vano. Dia tidak ingin membaca berita ataupun mendengarkan gosip tentang perselingkuhan istrinya yang berdarah.


***


Nadiya lalu menemui seorang pengacara atas permintaan Jeslin. Nadiya dan pengacaranya pergi ke villa itu untuk mencari bukti yang bisa meringankan hukuman Jeslin.


Awalnya Prasetyo keberatan Nadiya ikut campur, tapi karena mereka berteman dekat, maka Nadiya kekeh untuk tetap membantu sahabatnya.


"Dia meminta bantuanku. Aku tidak bisa menolaknya." Kata Nadiya ditelepon.


"Kau dimana sekarang?"


"Aku dipuncak. Aku ke Villa bersama pengacara." Kata Nadiya sambil melihat kamar yang ada garis kuningnya.


"Hati-hati...." Kata Prasetyo dengan cemas. Namun percuma dia mencegah Nadiya, dia tetap akan melakukanya, terlebih mereka sudah berteman dekat sejak lama.


Nadiya lalu menutup teleponnya.


"Gunakan sarung tangan ini. Dan jangan menyentuh apapun." Kata pengacaranya.


"Kau hanya boleh memotretnya."


"Tali....." Kata Nadiya.


"Tali ini berdarah. Apakah Jeslin diikat disini?" Tanya Nadiya lalu memotret tali itu.


"Coba saya lihat. Ya....ini adalah tali yang digunakan untuk mengikat. Ada darah ditali itu. Mungkin digunakan untuk mengikat ibu Jeslin. Jika benar begitu, dan ibu Jeslin memukul kepalanya untuk menyelamatkan dirinya maka mungkin bisa meringankan tuduhan jaksa. Jika ini pembunuhan berencana." Kata pengacara pada Nadiya.


"Iya, aku yakin Jeslin tidak berencana membunuhnya. Dia hanya terdesak dan itu terjadi tanpa direncanakan."


"Hukumannya akan lebih ringan jika itu tidak direncanakan." Kata Pengacara yang disewa Jeslin sambil terus mengamati tempat itu.


"Mari kita pergi sekarang." Kata Pengacara pada Nadiya.


"Baiklah."

__ADS_1


Nadiya lalu menemui Jeslin didalam penjara dan membisikan sesuatu.


"Terimakasih Nadiya." Kata Jeslin melihat kepedulian sahabatnya.


__ADS_2