Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Mimpi


__ADS_3

Author masuk sebentar ya.


Author terlihat letih dan pucat, ternyata dia sedang demam dan terserang batuk pilek.


uhuk! uhuk!


Author masih begadang saat tengah malam. Dan Sasha yang saat ini sedang duduk menemani author karena latihan larinya lagi liburpun heran dan bertanya pada author.


"Sudahlah Thor, terusin besok saja. Ini sudah larut malam." Kata Sasha yang sudah tidak tahan lagi menemani author didepan tulisan yang semakin membuat ngantuknya menjadi-jadi.


Uuaaaahhhhh!


Author terlihat menguap dan matanya tinggal lima watt.


Sashapun menatap wajah memelas author yang duduk sambil memegang kepalanya.


"Sudahlah Thor, terusin besok saja. Bukunya sampai kebalik gitu?" kata Sasha sambil naik keatas tempat tidur.


"Seandainya bisa seperti itu. Tentu aku tidak perlu begadang," kata author yang sedang mengasihani dirinya sendiri.


Memalukan! bisik cicak yang dari tadi terus mengawasi gerak-gerik author yang terlihat aneh dan tidak seperti biasanya.


"Emangnya kenapa Thor?" tanya Sasha yang penasaran dengan author yang tetap begadang meskipun sedang tidak enak badan.


"Karena satu rumah sedang demam semua. Terpaksa aku harus tidur dikamarmu malam ini. Suami ada diluar kota, anak dua-duanya sedang demam, kakek dan neneknya pun sedang demam juga. Aku yang awalnya sehat, segar bugarpun karena merawat mereka semua sendirian, akhirnya ikut tumbang juga."


"Waduh! gawat kalau seperti itu Thor! Pakai masker dong Thor." kata Sasha mengingatkan author agar tetap memakai masker meskipun didalam rumah.


"Masker sudah, cuci tangan rajin, tapi tetap saja yang namanya virus menyebar lewat udara. Saat makan kita pasti akan membuka masker bukan? Dan ngga mungkin saat makan aku numpang kerumah tetangga kan? Nah lagi aku buka mulut dan menyuap nasi, kemungkinan virusnya ikut masuk kedalam. Akhirnya aku tertular flu dan batuk seperti mereka." kata author yang seperti sedang putus asa.


"Hati-hati loh Thor, jangan-jangan kamu terkena virus yang sedang mewabah." kata Sasha yang langsung memakai maskernya saat dia melihat author sedang flu disertai batuk.


"Sudah kerumah sakit belum?"


"Sudah diperiksa sama dokter umum. Kalau kerumah sakit nanti malah dikira kena wabah. Padahal ini kan cuma demam, batuk dan pilek, karena satu Minggu diguyur hujan seharian dan tidak ada sinar matahari. Satu kampung hampir terserang flu semua."


"Liburlah Thor, sehari. Biar istirahat gitu, kan ntar cepat sembuh." kata Sasha yang sedih melihat author begadang setiap malam. Mirip lagu apa ya? Sepertinya pernah dengar? kata Sasha dalam hati.


Begadang jangan begadang


kalau tiada artinya


kok malah nyanyi sih?


"Cuma itu lirik yang Sasha ingat. Dan itupun ada teman yang hobi nyanyi lagu itu."


"Maunya sih gitu. Tapi kan sekarang lagi kejar update. Satu bulan 60.000 kata. Kalau ngga mencapai target, bisa sia-sia kerja keras author selama ini." Kata author sambil memainkan pulpennya karena sedang berpikir.


"Oh gitu, ya udah deh Thor, selamat malam. Sepertinya aku ngga bisa tidur disini malam ini."


"Kenapa?"


"Aku harus jaga kesehatan. Lusa aku harus ikut kompetisi. Kau kan sedang sakit. Jadi maaf ya Thor, bukan bermaksud menyinggung, tapi virus Omn itu mudah menular. Jadi aku akan tidur dikamar Rossa saja."


"Ya udah sana. Aku juga udah ngantuk, mau tidur. Kebanyakan begadang membuatku mudah sakit."


"Kalau siang aja gimana sih Thor, halunya?"

__ADS_1


"Kedua bocilku gimana? Bisa buyar semua tulisannya."


hehehehe


Sasha lalu pergi keluar dan pindah kekamar Rossa malam ini. Soalnya kamarnya lagi dipinjam sama author satu malam.


Tapi saat bangun author kaget karena dia tidak sedang berada di Amerika. Ternyata itu semua cuma mimpi.


Di Amerika


Rossa berjalan mendekati Sasha yang sedang minum air mineral dan duduk dipinggir lapangan hijau.


"Sasha bagaimana kabarmu? Maaf ya, karena sibuk aku tidak sempat datang kerumah sakit," kata Rossa dengan jantung yang berdetak tidak menentu.


ehh,


Sasha lalu menatap sahabatnya dan tersenyum. "Iya tidak papa. Vano dan Diana sering kesana. Hanya saja tidak melihatmu, aku pikir kamu sakit."


ehm?


Kata Sasha sambil melempar bekas botol minuman ke tempat sampah.


Klontang!


"Ehm, apakah kau tidak marah padaku?" tanya Rossa sambil menatap sahabatnya.


"Tidak sayang, aishh, kenapa aku harus marah, saat sahabatku sangat sibuk. Aku tidak harus marah kan?" kata Sasha sambil mencubit pipi Rossa yang cubby.


eeehhhhmmm,


"Aku berpikir kau marah, sehingga aku takut menemuimu."


"Ya, sekarang aku justru marah, karena kau tidak sibuk, tapi kau tetap tidak menemuiku," kata Sasha.


Rossa kemudian tersenyum,


hehehe....


"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Sasha sambil menggandeng tangan Rossa.


Dari kejauhan,


Regan tiba-tiba datang tapi tidak untuk bertemu dengan Sasha, melainkan untuk menemui Catrine.


Rossa dan Sasha saling berpandangan, namun mereka tidak terlalu tertarik dengan apa yang akan mereka katakan, sehingga Rossa dan Sasha berjalan meninggalkan lapangan dan menuju ke kantin.


Catrine menyadari kedatangan Regan.


Bahkan dari jauh pun bayanganya bisa dengan mudah diketahui oleh Catrine.


Bagaimana tidak?


Karena setiap saat bayangan Regan selalu menggantung dikedua bola matanya.


Catherine bersiap menemui Regan.


Catrine sangat senang jika Regan mau berbicara padanya. Meskipun Catrine tahu, jika tidak ada hal yang penting, Regan tidak akan menemuinya.

__ADS_1


Deg.


"Bagaimana latihan pertamamu calon bintang?" tanya Regan sedikit sinis.


Eh,


Catrine mendongak kearahnya. Karena saat itu dia sedang membungkuk untuk mengambil sesuatu yang katun ketanah.


"lancar, semua baik. Tapi by the way kenapa kau datang? Biasanya aku yang harus menemuimu, itu pun sulit sekali. Pasti ada hal penting, jika kau sampai menemuiku." kata Catrine sambil duduk di dekat Regan.


"Kau benar. Jika tidak penting maka aku tidak akan menemuimu."


Benar dugaanku, bisik Catrine.


"Ini sangat penting dan harus kukatakan padamu?"


"Apa itu?" Catrine semakin penasaran. Apa hal yang penting hingga membuatnya harus menemuiku disini?


"Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau!"


"Ehh, maksudmu?"


"Jadi jangan pernah menyentuh Sasha atau menyulitkannya." Kata Regan dingin tanpa ekspresi.


Haa?


"Ohh, jadi kau kesini demi Sasha? hahaha...." Catherine nampak kesal dengan sikap Regan.


"Sudah kuduga. Kau kesini untuk membelanya. Kau bahkan menganggapku seakan aku adalah musuhnya."


"Aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya," kata Regan tetap dengan nada dingin dan datar.


"Menyebalkan!" umpat Catrine.


Regan diam saja, lalu dia pergi dari lapangan dan membisikkan sekali lagi ke telinga Catrine.


"Jika kau sampai menyakitinya, aku tidak akan memaafkanmu," kata Regan sambil berlalu.


Jiiihhh!


Dia pikir siapa dia?


Karena kau tahu aku mencintaimu, kau seenaknya menghinaku!


Sementara Catrine hanya diam saja dan menatap kepergian Regan.


Semua orang tertarik untuk membicarakannya seakan dia seorang bintang! Gerutu Catrine sambil mengikat tali sepatunya nya.


Beberapa helai rambutnya berkibar tertiup angin dan menutupi sebagian wajahnya. Diapun bangun dan mengikat kembali tali rambutnya yang nampak acak-acakan dan sangat berantakan.


Tapi tiba-tiba topinya terbang tertiup angin. Dan jatuh tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Kau juga kesal padaku?!" umpat Catrine setelah berhasil menangkap topinya.


Entah kenapa hari ini semua orang terasa sangat menyebalkan!


Catrine lalu menatap keatas. Dia melihat langit yang tinggi menjulang. Dan setelah itu diapun tertunduk dan seperti sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


Lalu dia memonyongkan mulutnya dan seakan dia teringat sebuah kejadian yang menyebalkan.


__ADS_2