Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Jauh mimpiku


__ADS_3

Esok harinya Nadiya sudah masak beberapa menu makanan dibantu oleh Prasetyo untuk menyambut kedatangan Ibu mertuanya.


"Akhirnya kelar juga Pras. Biarkan aku yang meneruskan sisanya lebih baik kamu jemput mami saja mungkin sebentar lagi sudah mau tiba." Kata Nadiya kepada Prasetyo sambil membereskan beberapa masakan yang sudah matang.


"Kamu yakin sudah tidak membutuhkan bantuanku lagi?" Tanya Prasetyo.


Nadiya kemudian mengangguk sambil tersenyum manis. Senyumnya itu lo, bikin Prasetyo klepek-klepek dan mendekatinya kemudian mencium keningnya.


"Ehmmm bau bawang." Goda Prasetyo.


Sontak saja membuat pipi Nadiya memerah.


"Jelaslah bau bawang....kan lagi masak dan baru saja ngulek bawang." Kata Nadiya kesal.


"Oke kalau begitu aku akan mandi dan langsung menjemput mami."


Baru saja Prasetyo akan mandi kemudian pintu apartemen diketuk oleh seseorang dan dari suaranya sepertinya mereka mengenali suara itu.


Ternyata Ibu Monik bersama Sasha sudah ada di depan pintu apartemen.


"Mami? Kok Mami sudah sampai di sini nggak ngabarin Prasetyo? Prasetyo baru saja mau jemput mami?" kata Prasetyo yang terpana dan kaget karena maminya malah sudah sampai.


"Coba kau tengok hp-mu sudah berapa kali Mami panggil kamu tidak jawab akhirnya mami naik taksi saja." Kata Ibu Monic.


"Benarkah? Prasetyo sama Nadiya sedang memasak masakan untuk menyambut kedatangan Mami, jadi Prasetyo tidak memegang HP, eh Mami malah sudah sampai sini." Kata Prasetyo beralasan agar Maminya tidak marah.


"Nad Mami sudah tiba di sini." Kata Prasetyo berteriak kepada Nadiya yang ada di dapur.


"Ya Nadiya datang." Kata Nadiya masih dengan wajah yang sangat berminyak dan tanpa riasan.


"Mami? Mami kok sudah sampai? Baru Prasetyo mau jemput mami."


"Iya kalian tuh sibuk masak, Mami telepon berkali-kali nggak ada yang mengangkat HP, Prasetyo HP kamu juga."


"Maaf ya Mami Nadiya tidak tahu, Nadiya pikir Mami belum sampai sini, jadi Prasetyo sama Nadiya masak dulu buat menyambut Mami, maaf ya Mami." Kata Nadiya merasa tidak enak hati. Mungkin kalau ibu kandung Nadiya, its okelah, Nadiya tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Kalau ini kan sama ibu Mertua, jadi harus pandai membawa diri dan menjaga sikap untuk menyenangkan hatinya.


"Ya sudahlah tidak apa-apa, Mami juga tadi langsung dapat taksi kok, tidak menunggu lama ya sudah mami istirahat dulu ya." Kata Ibu Monic.


"Oh ya,mami lupa! Kenalkan ini Sasha anak dari mendiang sekretaris Mami. Mami anggap dia seperti cucu mami sendiri. Kedua orang tuanya sudah tiada." Jelas ibu Monic.


Mendengar cerita ibu Monic tentang Sasha maka hati Nadiya menjadi trenyuh akan nasibnya. Jika Regan mengalami masalah orang tuanya yang bercerai, nah kalau ini lebih membuatnya sedih karena kedua orang tuanya sudah tidak ada diusianya yang masih anak-anak.


"Hai Sasha....Kamu anak yang manis dan cantik, ayo silakan masuk sini istirahat di sini." Kata Nadiya menggandeng tangan Sasha dan mengajaknya duduk disofa.


"Hai Tante, hai Om." Sapa sasha sambil tersenyum manis kepada Nadiya juga Prasetyo. Sasha memang mempunya pembawaan wajah yang ceria dan mudah bergaul sebenarnya.


"Sasha sini ikut Oma, ayo istirahat dulu." Kata Ibu Monic sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan kekamar tamu.


"Iya Oma." Kata Sasha sambil menarik koper kecilnya masuk kedalam kamar satu lagi. Karena memang di apartemen Prasetyo ada 2 kamar, satu kamar utama dan satu lagi kamar untuk tamu atau jika ada saudara yang menginap.


"Ya sudah kalau mami mau istirahat. Mami mau minum apa biar Nadiya bikinin." Kata Nadiya menawarkan minuman untuk ibu mertuanya.


"Nggak usah Nad, Mami baru saja minum, Mami tidak haus." Kata ibu Monic.


"Kalau begitu Nadiya selesaiin dulu masaknya ya Mami, sebentar lagi kelar, tinggal nyuci piring." Kata Nadiya karena mertuanya mau istirahat, jadi Nadiya bisa menyelesaikan beberes didapat sebelum tiba waktu makan.


"Ya sudah sana, kamu selesaiin dulu pekerjaan kamu, mami sama Sasha mau istirahat di kamar dulu."


"Pras, kamu tolong bawain koper Mami ke kamar ya." titah Ibu Monic.

__ADS_1


"Iya mami." Prasetyo kemudian berjalan di belakang Ibu Monic dan juga Sasha.


"Kopernya Pras taruh sini ya mi." Kata Prasetyo sambil meletakan koper dipojok.


"Ya taruh situ saja." Kata ibu Monic.


"Hai Sasha. Akhirnya kita berjumpa lagi dan maafkan om ya, om tidak tahu jika Sasha mengalami masa-masa yang berat?" Kata Prasetyo kepada Sasha saat mereka berada di kamar bertiga.


"Ceritanya panjang Pras." Kata Ibu Monic.


"Maksud mami?" Prasetyo bingung.


"Ibunya sudah tiada beberapa bulan yang lalu." Ibu Monic mulai mengingat kejadian yang memilukan itu.


"Ya Tuhan, bagaimana bisa terjadi mami?" Prasetyo penasaran.


Kemudian ibu Monic menceritakan awal mula Sarah dan Sasha berpamitan untuk pulang ke Indonesia untuk mencari Ayah Sasha namun di perjalanan seseorang mengejar taksi yang mereka naiki sehingga terjadilah kecelakaan itu dan ibunya meninggal saat kritis di rumah sakit." terang IBu Monic.


"Maaf ya Sasha om tidak tahu jika ibu kamu sudah tiada."


Mata Sasha berkaca-kaca kemudian Prasetyo memeluknya.


"Sudah jangan sedih dan Jangan menangis lagi kan sekarang ada oma, ada Om juga ada tante Nadiya. Ya sudah jangan menangis lagi ya." Hibur Prasetyo sambil membelai rambut panjang Sasa.


Saat ini usia Sasha genap 10 tahun sehingga sudah mulai beranjak remaja dan memasuki masa pubertas.


"Om boleh nggak saya tinggal di sini dengan om, sasa mau sekolah di sini karena Papi sasakan dikubur di sini, mami Sasha juga dikubur di sini." kata Sasha."


"Boleh saja, boleh kok tinggal di sini sama Om juga sama tante sama Oma juga ya?" Kata Prasetyo.


"Ya Om, Sasha mau dekat sama Mami sama papi juga jadi kalau Sasha kangen sama Mami sama papi Sasha bisa pergi ke kuburan untuk berbicara pada Mami juga Papi."


"Iya mau Om."


"Emang Om Pras sudah punya anak? kan Om baru saja menikah kok anaknya sudah gede?" Tanya Sasha polos.


"Iya anak Om sudah segede kamu sekarang sudah kelas 7 tapi anaknya om Pras sekolahnya di asrama."


"Anaknya sudah gede ya Om?"


"Iya dong mau kenalan sama anaknya om?"


"Mau Om, buat teman Sasha jadi Sasha sekolah di tempat yang baru, dan Sasha punya teman." Kata Sasha.


"Baiklah nanti kalau sudah mulai masuk sekolah, nanti Om akan ajak Sasha untuk ketemu sama Regan anaknya om, Ya udah nanti kamu sekolah di sana ya."


"Iya Om. Om... istri


om cantik ya namanya siapa om?"


"Kamu boleh panggil tante Nadiya."


"Iya om, tante Nadiya juga pandai memasak ya Om." Kata Sasha.


"Iya dong Om yang ngajarin tante Nadiya memasak." Kata Prasetyo memuji dirinya sendiri. hehehe


"Masa sih Om emang om pinter masak?"


"Ya dong Om itu pintar masak Om itu itu dulu lagi masih muda belajar memasak sama chef ternama jadi Om pintar masak nanti kamu cobain ya masakan Om sama Tante."

__ADS_1


"Iya Om."


"Ya sudah sekarang kamu istirahat dulu ya nanti kalau semua sudah siap Om akan panggil kamu ke sini ya."


Sasya kemudian mengangguk.


Satu jam kemudian Nadiya sudah menyelesaikan masakannya dan membereskan semua peralatan di dapur setelah itu dia menyiapkan piring untuk mereka makan di meja makan yang ada di ruang tamu jadi satu dengan ruang tamu.


Kemudian ibu Monic dan Sasha keluar dari kamarnya setelah mereka merasa sudah cukup istirahat dan Prasetyo memanggil mereka untuk makan.


"Mari makan."


Mereka terlihat senang dengan masakan dari Prasetyo dan Nadiya. Terutama Sasha dia makan dengan sangat lahap sekali. Beberapa menu makanan bahkan habis saat itu juga.


"Wah kalian bisa buka restoran nih masakan kalian sangat enak." Puji Ibu Monica.


"Iya Pras sangat pandai memasak dan Nadiya banyak belajar dari Prasetyo dalam mengolah makanan." Kata Nadiya.


"Ya anak Tante ini memang hobi masak dari dulu dari kecil itu sudah seneng dan kalau Maminya lagi masak di dapur kadang-kadang nungguin mami didapur seharian mami masak eh pas sudah gede dia belajar dari Chef, kebetulan di sana juga dia kan mandiri, hidup sendiri jadi masak sendiri dimakan sendiri ya seperti itulah." Terang ibu Monic.


"Iya beruntung ya Nadiya sangat bersyukur karena Pras pandai memasak jadi Nadiya bisa mempelajari menu-menu masakan baru dan cara pengolahan yang Nadiya tidak tahu." Kata Nadiya.


"Sasha juga pengen bisa masak kayak Om sama tante."


"Ya nanti kan kamu tinggal di sini Jadi kamu juga bisa belajar masak dari Om juga Tantemu Nadiya." kata ibu Monic.


"Ya Oma."


"Sasha ayo nambah makanannya." Tawar Nadiya.


"Sudah tante, Sasha sudah kenyang."


Kemudian Nadiya membereskan semua piring dan mangkok-mangkok ke belakang, kemudian dia mencuci piring sampai selesai setelah itu Nadiya bergabung bersama mereka menonton televisi sambil berbincang-bincang.


"Oh ya Nadiya, Prasetyo, Ini Sasha mau tinggal di sini bersama kalian karena dia ingin sekolah di sini biar dekat dengan mendiang ayah dan ibunya boleh kan?"


"Iya boleh sekali, Sasha boleh tinggal di sini kok, kebetulan anaknya tante Regan juga seumuran dengan Sasha jadi kalian bisa menjadi teman." kata Nadiya.


"Iya Tante, terima kasih."


"Mami juga tinggal di sini kan?"


"Iya dong Mami kan pengen nimang cucu dari kalian, ayo gimana sudah ada kabar baik belum?" Kata Ibu Monic.


Nadiya dan Prasetyo kemudian berpandangan dan mereka tersenyum tersipu malu.


"Jangan lama-lama cepat-cepat kasih kabar baik biar Mami bisa menimang cucu ya." kata ibu Monic.


"Iya doain saja ya Mami biar Nadiya cepat hamil."


Nadiya kemudian tersipu malu.


Malam ini Nadiya tidak bisa tidur karena dia memikirkan sesuatu yang sangat mengusik relung hatinya. Permintaan Ibu Monic untuk memberikan cucu itulah yang mengganjal di hati dan membebani pikiran Nadiya. Nadiya bertanya-tanya di dalam hati mungkinkah dia bisa mempunyai anak lagi setelah melahirkan Regan.


Nadiya tahu benar kondisinya bahwa dia pernah melakukan operasi kanker kandungan dan bisa mempunyai Regan itu adalah suatu anugerah yang terindah di dalam hidupnya. Namun dia tidak pernah berpikir panjang bahwa pernikahan yang kedua ini suaminya juga menginginkan seorang keturunan dari dirinya. Nadiya menjadi ragu dan bimbang tentang apakah dia masih bisa hamil lagi atau tidak. Jika Nadiya tidak bisa hamil lagi maka Ibu Monic pasti sangat kecewa. Prasetyo juga pasti akan sedih karena tidak bisa memberikan keturunan untuk kedua orang tuanya.


Apalagi Prasetyo adalah anak tunggal satu-satunya. Bagi mereka keturunan pasti sangatlah penting dan mereka menaruh harapan besar pada Nadiya saat ini. Nadiya tidak bisa membayangkan jika dia tidak bisa memberikan keturunan kepada keluarga Prasetyo. Nadiya akan merasa menjadi istri yang tidak sempurna dan tidak berharga karena tidak bisa membahagiakan keluarga.


Nadiya berharap dan berdoa pada Tuhan menganugerahkan nya lagi seorang anak dari pernikahannya yang kedua. Ini sangat penting sekali bagi kehidupannya di masa yang akan datang terutama di mata keluarga besar Prasetyo. Keturunan seperti hal mutlak saat ini mengingat tidak ada anak yang lain yang bisa memberikan keturunan selain Prasetyo.

__ADS_1


Akhirnya karena lelah Nadiya pun tertidur dengan berbagai pikiran yang membebaninya.


__ADS_2