
Andro mengirim pesan pada Jeslin. Ada yang ingin dia bicarakan. Dan ini sangat penting.
~Tidak bisa sekarang, aku sedang sibuk saat ini~
Setelah membalas pesan itu Jeslin lalu menyiapkan makanan yang akan dia hidangkan untuk makan bersama.
"Apakah semua sudah siap? Sebentar lagi mereka datang." Kata suaminya.
Jeslin mengangguk dan tersenyum pada suaminya dengan hangat. Ini adalah pertama kalinya dia merasakan memiliki keluarga seutuhnya.
Karena hubunganya dengan Vano semakin membaik dan suaminya juga semakin sayang padanya.
Tidak lama kemudian Sasha datang dengan menggendong putranya, Aaron. Dan menyusul dibelakangnya Vano.
"Ayo, sini! Kemarilah! Mamamu sudah menyiapkan masakan spesial untuk kita makan malam." Kemudian papanya mengambil Aaron dari gendongan Sasha.
"Ayo ikut Opa, kau sudah besar, cepatlah besar, kita main bola sama-sama."
Aaron lalu tertawa lebar sambil memasukkan sesuatu kesaku opanya.
"Duduk sini, sama opa."
Mereka berbincang-bincang sambil menikmati makan malam.
Mereka terlihat sangat bahagia. Namun tiba-tiba, Jeslin mendapat telepon dari Andro.
"Kenapa kau menelponku?" Tanya Jeslin berbicara didapur agar tidak terdengar oleh keluarganya yang lain.
"Aku ingin kau datang kemari. Aku sudah mengirimkan alamatnya. Jika kau tidak datang malam ini, maka besok aku akan datang kerumahmu, dan membongkar hubungan kita."
"Apakah kau mengancamku?" Ujar Jeslin gregetan dan kesal karena Andro terus saja mengganggunya.
"Terserah, aku hanya ingin kau datang malam ini. Dan aku tidak peduli apa yang sedang kau lakukan dengan keluargamu itu." Kata Andro yang tahu jika mereka sedang berkumpul dan makan malam.
Dia kesal dengan Jeslin karena semakin menjauhinya, sementara dengan Sasha karena kejadian waktu itu.
"Aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang."
Andro lalu mengirim alamat hotel yang dipesan untuk Jeslin dan dirinya.
Jeslin lalu membual pesan itu dan menahan nafasnya.
"Jika aku tidak datang, maka tamatlah riwayatku. Jika aku datang, dan ada yang melihatku, maka aku juga akan terkena masalah. Apa yang harus aku lakukan? Haruskan aku melenyapkannya? Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darahnya. Dan jika aku melenyapkannya, bagaimana jika aku tertangkap dan aku akan menghabiskan hari tuaku didalam penjara. Kurang ajar! Dia membuatku tidak waras!"
__ADS_1
Jeslin lalu berpamitan pada keluarganya jika dia ada janji dengan salah seorang langganannya. Dan dia adalah klien penting.
"Apakah kau tidak bisa menundanya hingga besok siang?"
"Dia akan pergi keluar negeri." Kata Jeslin beralasan.
"Ya sudah," akhirnya dengan berat hati suaminya mengijinkan Jeslin pergi.
Jeslin lalu naik kemobilnya dan menuju hotel yang dimaksud oleh Andro.
Hotel itu ada agak jauh dari rumahnya, dan Jeslin tahu kenapa dia memesan hotel itu, karena agar tidak ada yang melihat Jeslin dan mengenalinya.
Dia memesan atas namanya.
Setelah sampai diparkiran, Jeslin lalu pergi ke resepsionis dan mencari kamar yang sudah dipesan oleh Andro.
Jeslin membuka pintunya yang memang tidak dikunci. Begitu Jeslin sudah masuk, Andro dengan cepat menguncinya.
"Kemarilah! Aku sangat membutuhkanmu malam ini."
"Apa maksudmu?" Kata Jeslin kesal.
"Aku merindukanmu...." Kata Andro mulai mendekati Jeslin dan membelai punggungnya.
"Aku tidak mau. Aku sudah tidak ingin seperti ini lagi? Mari kita akhiri saja. Sebelum suamiku tahu."
"Bagaimana jika aku tidak mau mengakhirinya. Aku membutuhkanmu, sentuhan mu dan kehangatan mu." Kata Andro dan tangannya mulai menyusup ke baju Jeslin.
"Tidak! Biarkan aku pergi. Sekarang, suamiku sedang menungguku dirumah."
"Biarkan saja dia menunggumu. Kita akan bersenang-senang malam ini. Aku bahkan tidak pernah mengeluh saat menunggumu begitu lama. Kenapa dia harus mengeluh jika hanya menunggumu satu malam." Kata Andro dan mulai meremas sesuatu yang begitu kenyal dan menantang.
"Ahhhh....hhhhkkk"
"Biarkan aku hidup tenang, jika tidak ada yang ingin kau bicarakan. Sebaiknya biarkan aku pulang. Aku pikir kau ingin mengatakan sesuatu." Kata Jeslin berusaha menjauh.
Tangan Andro menahanya dan memegang erat pinggangnya.
"Aku sudah mengatakanya. Apakah kau tidak mendengarnya? Aku sangat merindukanmu. Dan aku membutuhkanmu malam ini."
"Tidak Andro, aku tidak bisa melakukannya." Jeslin menolak untuk melayaninya.
"Jika kau tidak melakukanya, maka aku akan mengatakan kepada suamimu tentang hubungan kita." Andro mulai mengancam dan menarik tubuh Jeslin dekat tepat dihadapannya.
__ADS_1
Wajah mereka bertatapan sangat dekat dan tercium aroma menyengat dari mulut Andro.
"Kau mulai mengancamku?"
"Tidak, jika kau menuruti keinginanku. Tapi kau malah mempersulit hubungan kita. Kemarilah, puaskan aku. Setelah itu kau boleh pergi." Kata Andro yang cemburu dengan kehidupan Jeslin yang mulai terlihat akrab dengan keluarga suaminya.
Dulu dia melakukan semua itu demi uang. Namun saat ini sepertinya keyakinannya mulai goyah. Dia mulai menjauhi Andro. Dan Andro tidak akan melepaskanya, sampai kapanpun.
"Kemarilah, kita lakukan dengan pelan dan lembut. Aku tidak ingin kasar padamu. Aku sangat mencintaimu."
"Kau memang pria sialan!"
"Andro langsung menutup mulut Jeslin dengan tanganya dan setelah itu mulutnya mengunci mulut Jeslin dan tanganya meremas kuat bagian sensitif lainnya.
Jeslin terpaksa melayaninya, karena ancaman Andro yang bisa membuat dia kehilangan segalanya.
Akhirnya Jeslin membuat Andri terkulai lemas dan saat Jeslin ingin pergi setelah memenuhi keinginannya, tangan Andro menariknya hingga dia jatuh tepat diatas tubuhnya.
"Kau mau kemana? Tidurlah disini. Aku ingin kau menemaniku hingga pagi."
Tangan Andro menenggak erat tangan Jeslin hingga dia tertidur.
Jeslin berusaha melepaskan genggaman Andro. Pelan-pelan akhirnya dia berhasil melepaskan genggaman tangan itu.
Dan saat ini sudah jam 2 dini hari.
"Haruskah aku pulang jam segini? Sebaiknya aku mengirim pesan jika aku menginap dipuncak. Ada baju harus aku perbaiki. Ya, begitu lebih baik." Dia berbicara pada dirinya sendiri.
Setelah pesan itu terkirim, akhirnya Jeslin juga merebahkan dirinya disamping Andro.
Dia juga merasa sangat lelah setelah melayaninya dan juga sebelum itu dia belum sempat istirahat karena memasak untuk makan malam bersama keluarganya.
Badannya terasa pegal dan ngilu, matanya juga sangat berat, dan tidak butuh waktu lama, akhirnya diapun tertidur.
Pagi harinya Vano yang sedang berangkat kekantor melihat ibu tirinya keluar dari hotel yang dia menginap semalam dengan seorang pria, yang pernah dia lihat sebelumnya.
Vano kekantor karena dia akan mengambil sesuatu yang tertinggal juga karena dia akan resain.
Dia akan mulai bekerja disalah satu perusahaan papanya.
Hingga kembali keapartemenya, Vano masih kepikiran dengan apa yang dia lihat tadi pagi.
"Aku harus menyelidikinya." Kata Vano lalu dia menelpon papanya.
__ADS_1