
Pria itu mendekat dan tersenyum menyeringai. Kemudian dengan sikapnya yang congkak dia duduk disofa dekat jendela. Kakinya disilangkan dan matanya melihat kelangit-langit ruangan itu.
"Kalian pasti syok melihatku ada disini." Kata orang itu sambil memonyongkan mulutnya.
"Siapa dia?" Tanya Prasetyo yang sedang makan disuapi oleh Nadiya.
"Bagaimana kamu bisa masuk kemari dan melewati pengawalku?" Tanya Nadiya sambil tetap memunggunginya. Dan karena Prasetyo tidak mau makan lagi, maka Nadiya meletakan piring dimeja. Klotakkk! Hatinya sangat jengkel pria itu bisa masuk tanpa izin darinya.
"Kamu pasti bingung bagaimana aku bisa masuk kemari?" Kata pria itu yang tidak lain adalah Joan yang entah bagaimana dia bisa bebas bersyarat. Pasti ada yang tidak beres dengan kasusnya. Sehingga dia bisa berkeliaran sementara Nadiya sudah bersusah payah memasukannya kedalam penjara.
"Ok. Apa maumu? Aku tidak punya urusan denganmu. Pergilah, saat ini kami sedang ingin istirahat. Dan tidak ingin diganggu oleh siapapun."
Prasetyo diam saja dan hanya melihat Nadiya yang kesal karena kehadiran Joan.
"Baiklah, jika kedatanganku mengganggu kalian. Aku akan pergi. Selamat beristirahat dan semoga cepat sembuh." Kata Joan sambil pergi meninggalkan Nadiya.
Nadiya mengikutinya sampai dipintu. "Aku pasti akan membuatmu masuk kembali kedalam penjara!" Ancam Nadiya.
"Lakukan jika kau bisa!" Joan menantangnya dan melihat dari kesombonganya pasti dia didukung oleh seseorang yang punya pengaruh kuat. Jika tidak mana mungkin dia secongkak itu.
"Nikmatilah hari kalian dan berhati-hatilah mulai sekarang. Terutama kau.....jangan coba berani mengancamku....dan jangan pernah mencampuri urusanku." Kata Joan sambil menutup pintu.
Kemudian Nadiya memanggil kedua pengawalnya dan menanyakan bagaimana dia bisa masuk kemari?
"Kami tidak berani menghalanginya bos. Pak Menteri ada bersama orang itu." Kata pengawal itu.
"Menteri, kalian tahu siapa dia?"
"Tidak bos. Tapi tadi kami dengar kalau kepala rumah sakit memanggilnya pak Menteri, jadi setelah orang tadi masuk mereka langsung pergi dari sini."
"Baiklah. Lakukan tugas kalian. Dan beritahu saya jika ada apa-apa." Kata Nadiya.
"Baik Bos!" Kemudian Nadiya menutup pintu dan berjalan mendekati Prasetyo yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Siapa dia? Kamu seperti mengenalnya?" Tanya Prasetyo ingin tahu apa yang sudah terjadi yang tidak dia ketahui.
"Namanya Joan. Dia adalah suami Karina saudara tiriku."
"Kalian seperti punya masalah pribadi."
"Aku memasukanya kedalam penjara. Mungkin dia mengetahuinya. Dan dendam padaku." Kata Nadiya.
"Mungkinkah dia yang menabrak kita?" Tanya Prasetyo.
__ADS_1
"Aku tidak yakin jika dia nekat melakukan itu." Nadiya masih ragu-ragu jika Joan yang melakukanya. Karena yang ditabrak adalah Prasetyo, sedangkan dia tidak punya masalah dengan Prasetyo.
"Kalau dia ada didalam penjara. Kenapa sekarang bisa ada diluar dan berkeliaran?" Kata Prasetyo.
"Itulah yang sedang aku pikirkan. Siapa dibalik pembebasan bersyarat Joan. Dia pasti bukan orang sembarangan. Mengingat kasus Joan bukan kasus biasa." Nadiya menjadi muram karena memikirkan masalah ini.
"Menurutmu apakah orang itu juga punya masalah denganmu, sehingga membebaskan Joan?" Kata Prasetyo.
"Tidak. Aku tidak pernah bermasalah dengan kementrian manapun dalam menjalankan usahaku. Mungkin beberapa kasus penyuapan melibatkan pejabat itu, sehingga dia tidak ingin namanya terseret jika Joan ada didalam penjara." Mungkin ini lebih masuk akal.
"Yang kamu katakan ada benarnya juga. Joan sangat berbahaya jika sampai menyebut dan menyeret beberapa nama pejabat penting. Yah beruntung si Joan itu. Sehingga dia bisa bebas bersyarat karena ada orang lain yang dia pegang kartu as nya." Ujar Prasetyo.
"Yang kamu katakan memang benar. Dia menjadi sangat berani kepadaku bahkan lebih berani dari sebelumnya." Nadiya memegang kepalanya yang menjadi sakit karena banyak berfikir.
"Kenapa dengan kepalamu, panggil dokter jika kamu merasa sakit." Kata Prasetyo yang tidak bisa bangun dari tempat tidurnya.
"Tidak papa. Aku akan istirahat. Tidak usah panggil dokter." Nadiya bangun dari tempat duduknya dan saat akan berjalan tiba-tiba tangan kiri Prasetyo menahanya.
Nadiya menoleh dan menatap matanya. Mereka saling bertatapan dengan mesra dan mata mereka seperti berbicara dari hati ke hati.
"Nadiya. Jauhi Joan. Jangan bermasalah denganya. Aku tidak ingin kamu berada dalam bahaya. Dia sekarang bersama orang yang lebih kuat. Aku sangat khawatir dengan keselamatanmu. Lupakan semua masalah pribadimu denganya. Lupakan kasusnya. Biarlah pihak berwajib yang berwenang untuk menyelidikinya." Kata Prasetyo.
Kemudian Nadiya berbaring dan mencoba memejamkan matanya.
🌹🌹🌹
Sementara Ardy sedang menelpon seseorang dari Apartemennya.
"Baiklah besok kamu ambil uangnya. Kita bertemu dipuncak. Ingat jangan pernah menyebut namaku jika kamu tertangkap." Kata Ardy.
Kemudian Ardy mulai menghitung uangnya lalu setelah jumlahnya pas dia masukan kedalam koper dan langsung melakukan mobilnya kearah puncak.
Disana seorang pria yang wajahnya ditutup sudah menunggunya. Dia melihat kearah pegunungan dan memunggungi Ardy.
"Ini sudah saya hitung. Kamu boleh menghitungnya kembali." Kata Ardy sambil menyerahkan koper itu padanya.
"Akhirnya kita menjadi teman." Kata orang itu.
"Ingat aku tidak ingin berteman denganmu. Lupakan apa yang sudah kita lakukan. Dan jangan pernah menemuimu lagi." Kata Ardy pada orang itu.
"Ternyata kau masih sama saja. Meskipun aku sudah membantumu tapi kamu masih saja sombong dan angkuh." Kata orang itu yang tidak lain adalah Joan.
__ADS_1
"Kita impas. Aku sudah mengeluarkanmu dari penjara jadi jangan membuatku berada dalam masalah."
"Tenang bos. Seloowww santai saja bos. Kita punya kepentingan yang sama. Untuk menggagalkan pernikahan itu." Kata Joan yang membuka penutup mukanya karena pengap.
"Aku tidak peduli dengan kepentinganmu. Tapi menjauhlah dari Nadiya. Jangan pernah menyentuhnya sedikitpun. Kamu bahkan sudah membuatnyanya cedera. Aku menyuruhmu mencelakai Prasetyo tapi kamu hampir saja menghilangkan nyawa orang yang aku cintai." Kata Ardy sambil duduk diatas pohon yang tumbang dan sudah kering tidak berdaun.
"Aku heran sama kamu. Sudah cerai tapi masih saja bucin." Kata Joan mengejek Ardy.
"Tutup mulutmu. Kau tidak tahu apa-apa jadi sebaiknya tidak usah mencampuri urusan pribadiku." Kata Ardy kesal dibilang bucin.
"Yaaahhhh, dunia ini luas, banyak wanita cantik dimana-mana kau bisa memilih salah satu dari mereka. Yang perawan ada, yang janda juga banyak. Terserah maumu mau pilih yang mana." Kata Joan sambil membuka kaleng soda yang dia bawa.
"Kau mau minum?" Kata Joan menawarkan minuman pada Ardy.
"Tidak." Kemudian Ardy meraih sesuatu dari kantongnya dan menghisapnya, setelah itu kepulan asap menyebar di udara.
"Aku tadi kerumah sakit dimana Nadiya dirawat sama teman lelakinya itu."
"Kau kesana?" Tanya Ardy.
"Bukankah kau ingin tahu bagaimana keadaanya. Saat aku datang kesana dia sedang menyuapi calon suaminya. Dan dia hanya cedera dikepalanya." Kata Joan sambil membuang kaleng bekas minumanya.
"Sial! Hubungan mereka makin dekat saja." Kata Ardy membuang sesuatu dari kedua jarinya.
"Bahkan mereka memesan VVIP room dan tidur satu kamar berdua." Mendengar ocehan Joan hati Ardy makin panas saja. Dan kemudian dia mencengkeram kerah baju Joan karena terus berbicara yang membuatnya sakit hati.
"Lepaskan! Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat! Kenapa kau marah padaku. Marahlah pada laki-laki itu!" Kata Joan sambil mengibaskan tangan Ardy. "Dasar aneh!"
"Apa kamu bilang?" Kata Ardy sambil matanya melotot.
"Ok, Bos. Sampai disini pertemuan kita. Kita akan bertemu untuk misi selanjutnya. Dan ....Jangan mudah emosi..." Kata Joan sambil menepok pundak Ardy. Baru saja Ardy akan memukulnya, namun dia sudah lari terbirit-birit dan masuk kedalam mobilnya.
Visual Prasetyo
Visual Ardy
Visual Joan
__ADS_1