Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Pijatan Prasetyo


__ADS_3

Sarah sedang berada dikantor dan Sasha sedang sekolah. Dirumah hanya ada Tuan Han dan Ibu Monic. Mereka sedang makan siang berdua sambil ngobrol santai.


"Mami ngga nyangka ya Pa, kalau Prasetyo menikah dengan Nadiya yang sudah pernah menikah dan bahkan punya anak. Padahal anak kita itu terbilang ganteng dan sukses. Banyak wanita cantik yang masih single, tapi keras kepala dan tidak mau mendengarkan kata maminya." Kata Ibu Monic saat hanya berdua saja dirumah dengan suaminya.


"Ya sudahlah mami, yang penting anak kita sudah menikah dan hidup bahagia. Itukan keinginan Mami?" Kata Tuan Han.


"Iya sih Pi. Tapi dulu juga mami pernah tawarin Prasetyo buat menikah sama Sarah. Anak itu juga cantiknya ngga kalah sama Nadiya, dan dia juga pandai memasak, dan mengurus pekerjaan. Tapi Prasetyo tidak mau. Coba papi lihat Sarah, apa coba kekurangannya? Cantik dan anggun." Kata Ibu Monic yang saking inginnya punya cucu maka dia ingin agar Prasetyo menikahi Sarah pada saat itu. Namun ditolak Prasetyo dengan halus.


"Yah mami, kayak ngga tahu aja anak muda jaman sekarang, kata mereka cinta itu tidak bisa dipaksakan. Cinta itu tidak memandang rupa, pokoknya istilah anak muda jaman now, cinta ya cinta aja. Dan jangan tanyakan kenapa? kan ada lagunya juga? Mami ini gimana sih, kaya ngga pernah muda aja." Kata Tuan Han sambil nyeruput kopi.


"Tapi ngomong-ngomong kenapa ya Pi, dulu Nadiya bercerai?" Kata ibu Monic penasaran.


"Papi juga ngga tahu mi. Lagian itukan masa lalu. Untuk apa kita menanyakanya. Nanti malah tersinggung." Kata Tuan Han.


"Ya...mami kira papi tahu alasanya. Papi kan teman dekatnya Alex, mungkin dia pernah cerita sama papi." Kata ibu Monic.


"Kita paling ngomongin bisnis, jarang bicara masalah pribadi." Kata Tuan Han.


🌹🌹🌹


Didepan apartemen Ardy, sudah berdiri Elis sambil membawakan beberapa minuman dan makanan cepat saji.


tok tok tok!


Terdengar sahutan dari dalam.


"Ya. Masuk saja." Ardy menyuruh Elis masuk karena sudah menerima pesan jika dia ada diluar ruangan apartemen.


Elis masuk dan memberikan makanan serta minuman pada Ardy.


"Makanlah, kamu pasti belum makan." Kata Elis.


"Terimakasih." Kata Ardy sambil berdiri dijendela.

__ADS_1


"Kamu ngga kekantor?" Tanya Ardy pada Elis.


Elis menggelengkan kepalanya dan menatap Ardy yang kusut dan berantakan.


Elis kemudian berjalan dan memegang tangan Ardy serta mengajaknya duduk dimeja maka.


"Duduklah aku akan menemanimu makan." Kata Elis.


"Aku belum lapar." Kata Ardy yang sedang tidak berselera makan.


"Apakah kamu masih memikirkannya?" Tanya Elis penasaran tentang perasaan sahabatnya.


"Siapa?" Tanya Ardy.


"Dia yang membuatmu tidak berselera makan." Jawab Elis samar.


Ardy kemudian tersenyum pahit dan menatap keluar jendela.


"Baiklah ayo kita makan, aku tidak ingin membicarakannya." Kata Ardy sambil membuka makanan yang sudah dibawa oleh sahabatnya.


"Oya. ngomong-ngomong kapan kita akan mengadakan rapat untuk perhotelan didaerah pariwisata itu? Aku dengar konsepnya sudah matang." Kata Ardy berusaha menglihkan pikiranya dari mantan istrinya yang saat ini sedang berbulan madu.


"Minggu depan kita akan mengadakan rapat dengan semua pemegang saham. Dan juga semua yang terlibat dalam proyek itu. Papi juga tadi telfon katanya akan hadir." Kata Elis.


"Baiklah. Besok aku akan ke kantor dan mempersiapkan semuanya." Kata Ardy.


"Ya. Maukah kau menemaniku jalan-jalan hari ini?" Kata Elis.


"Baiklah. Tunggulah aku akan mandi dulu." Kata Ardy sambil berdiri dan pergi kekamar mandi.


Sementara Elis membersihkan meja dan mengelapnya hingga tidak ada sisa makanan yang masih berserakan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Nadiya dan Prasetyo sedang duduk bersama sambil menonton televisi. Hari ini mereka tidak pergi kemana-mana karena badan Nadiya yang pegal-pegal akibat berjalan kaki ke bukit kemarin.


Visual Nadiya dan Prasetyo.



Prasetyo menggenggam erat jemari Nadiya dan menaruhnya diatas pangkuannya. Mereka duduk sangat dekat dan Nadiya mulai membuka diri untuk Prasetyo. Meskipun sudah dua malam terlewatkan tanpa penyatuan diri.


"Sini tiduran, biar kulihat kakimu." Kata Prasetyo sambil membaringkan Nadiya diatas sofa. Kemudian dia menaruh kaki jenjang Nadiya diatas pangkuannya dan mulai memijitnya perlahan dari tumit hingga ke betis kemudian naik kepaha.


Prasetyo memang selalu mencari cara untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan selagi ada. Karena jika mereka kembali nanti kesibukan pasti sudah menantinya. Apalagi cutinya begitu lama, akan banyak pekerjaan yang sudah menunggu untuk dieksekusi.


"Tengkuraplah." Kata Prasetyo pada Nadiya.


"Baiklah. Apakah kau yakin kau bisa memijat?" Tanya Nadiya ragu-ragu.


"Besok kita akan jalan-jalan, jadi hari ini kakimu harus sudah fit, dan pegal-pegalnya akan aku pijat biar cepat hilang." Kata Prasetyo.


"Pijatanmu lumayan juga. Apakah kau juga sering memijat teman kencanmu sebelum ini?" Tanya Nadiya penasaran.


Prasetyo diam saja dan tidak menjawabnya. Kemudian Prasetyo tersenyum simpul dan mengatakan sesuatu didekat telinga Nadiya.


"Ya. Aku sering memijat mereka. Mereka bahkan kecanduan dan sering memintaku mengulanginya lagi dan lagi." Kata Prasetyo berbisik ketelinga Nadiya.


Mendengar ungkapan Prasetyo entah kenapa perasaan Nadiya menjadi kesal. Nadiya kemudian menarik kakinya dengan kasar dan duduk disamping Prasetyo.


"Kok sudahan? Bukankah tadi kamu bilang pijatanku lumayan? Kamu tidak ingin candu seperti mereka yang pernah aku pijat?" Kata Prasetyo dengan wajah datar dan tanpa rasa bersalah jika ucapanya sudah mempengaruhi perasaan Nadiya.


Aku sengaja melakukanya, karena aku ingin tahu perasaanmu padaku? Apakah ada sedikit saja sisa cinta dihatimu untuk diriku? Kau tidak pernah mengatakanya? Sikapmu juga sulit ditebak antara kau benar mencintaiku atau karena hak dan kewajiban yang mengikat hubungan ini. Batin Prasetyo dalam hati sambil menatap wajah Nadiya dengan tajam.


"Aku sudah tidak ingin dipijat lagi. Aku tidak seperti mereka yang mudah kamu kencani, kamu pijit dan entah apalagi." Kata Nadiya dengan suara serak dan langsung bangkit dari tempat duduknya dengan kasar. Rupanya jebakan Prasetyo berpengaruh pada emosi Nadiya.


Kemudian dengan cepat Prasetyo menarik lengan Nadiya dan memeluknya hingga wajah mereka bersentuhan tanpa jarak. Dengan cepat Prasetyo langsung memagut bibir mungilnya dan tidak memberi kesempatan pada Nadiya untuk mengelak.

__ADS_1


Detik sudah berganti menit tapi Prasetyo masih memagut dan ******* dengan sensasi yang membara. Tanganya mulai melepaskan resleting bagian belakang gaun Nadiya. Dan tanganya mulai masuk dan mencari titik-titik yang dia inginkan. Prasetyo benar-benar menikmati setiap sentuhannya dan memberikan rasa hangat dan nyaman pada seluruh tubuhnya.


Kemudian Prasetyo membaringkan Nadiya disofa dan menindihnya tanpa Nadiya bisa mengelak sedikitpun. Padahal Nadiya sedang kesal saat mendengar Prasetyo sering memijat teman kencannya. Dan Nadiya tidak menyangka Prasetyo selalu menggunakan jurus mendadak tanpa aba-aba untuk menguasai dirinya.


__ADS_2