Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Siapa pemilik suara itu?


__ADS_3

"Katakan siapa yang menyuruhmu?" Kata pengawal Nadiya sambil mencengkeram kerah leher laki-laki yang duduk di kursi dengan tangan terikat.


"Ampun! Ampuni saya! Saya hanya menjalankan tugas dari bapak! Saya tidak tahu apa-apa!" Kata laki-laki separo baya yang ketakutan bahwa karirnya akan hancur.


"Katakan namanya siapa?! Cepat! Jangan sampai kesabaranku habis! Atau kamu akan menyesal seumur hidupmu!" Kata Nadiya sambil memberi isyarat pada pengawalnya.


"Habisi dia!"


"Jangan! Jangan habisi saya..... saya akan mengatakan yang sebenarnya. Yang menyuruh saya adalah Tuan......Tuan Joan." Katanya terengah-engah.


"Lepaskan dia!" Kemudian pengawal Nadiya melepaskan tali yang terikat pada pria tersebut.


"Sudah kuduga bahwa Joan berada dibalik pencurian uang perusahaan. Dan menyebabkan ayahnya menderita kerugian dalam jumlah besar." Kata Nadiya sambil mengepalkan tangannya dan matanya terbakar oleh amarah.


"Tapi tidak mudah menyingkirkannya. Karina dan ibu tirinya Sofia adalah pion Joan. Dan Joan menggunakan mereka untuk ambisinya. Mereka telah bekerja sama dalam misi pencurian uang perusahaan." Kata Nadiya pada salah satu pengawal kepercayaanya yang baru berusia 22 tahun. Meskipun usianya 22 tahun tapi badanya gagah dan kekar sehingga diperkerjakan oleh Nadiya.


"Saya akan menculik Joan." Kata Wisnu pengawal kepercayaanya sekaligus sopir pribadinya.


"Tidak!" Kata Nadiya. "Sulit menemukan bukti bahwa Joan terlibat. Hampir separo pegawai perusaan yang sudah saya pecat terlibat dalam penggelapan uang tersebut."


"Lalu bagaimana kita akan mengungkapnya?" Kata sopir tersebut.


"Nanti akan aku pikirkan caranya." Kata Ceo kemudian berjalan meninggalkan tempat yang gelap dan pengap tersebut.


Salah satu pengawal berjalan didepan Ceo dan kemudian membuka pintu mobil untuk bosnya tersebut.


Nadiya meraih kacamata hitam dan kemudian memakainya untuk menghindari cahaya matahari. Rambutnya pendek dibawah telinga dan sedikit keriting gantung dibagian bawahnya. Warna kecoklatan yang eksotik menambah penampilanya yang sangat menawan.


Nadiya menghubungi seseorang yang dia sewa untuk melaporkan gerak-gerik Joan.


"Kamu terus ikuti dia. Jangan sampai lengah. Laporkan setiap detailnya. Dan langsung kirimkan pada saya." Kata Ceo Nadiya dengan tegas dan langsung menutup telepon tanpa basa-basi.


Nadiya ingin tahu dimana Joan menyembunyikan uang perusahaan yang telah dia curi untuk kepentingannya sendiri. Sehingga CEO Nadiya harus hati-hati jangan sampai kecurigaannya diketahui oleh Joan. Atau dia tidak akan bisa mengembalikan uang yang telah diambil Joan kepada ayahnya.

__ADS_1


Sementara Ibu Sofia dan Karina saat ini sedang menunggu untuk bertemu dengan Nadiya. Ibu Sofia memarahi sekretaris Nadiya karena telah membuatnya menunggu lama. Kemudian saat itu juga mereka dikejutkan dengan kedatangan Nadiya dari pintu utama. Seketika suasana didalam kantor menjadi hening. Ibu Sofia yang tadi marah-marah langsung diam dan duduk diruang tunggu. Semua pegawai termasuk sekretaris yang kesal karena dimarahi ibu Sofia juga duduk tertunduk.


Tanpa menoleh pada pegawai dan juga Ibu Sofia yang duduk disofa Nadiya melangkah dengan kepala tegak dan mata yang tajam menatap hanya kedepan. Kemudian setelah Nadiya masuk dan duduk didalam ruanganya Sekretarisnya memberitahukan jika Ibu Sofia ingin bertemu dengannya.


"Suruh mereka masuk!"


"Baik Bu....!"


Ibu Sofia dan Karina masuk kedalam dan duduk diruangan Nadiya. Kemudian Karina menyerahkan selembar kertas dan minta tanda tangan Nadiya.


"Untuk apa semua ini?"


"Aku membutuhkannya. Joan akan mengelola tanah itu dan menjadikanya pabrik kayu jati dan membuat usaha mebel." Kata Karina


"Kamu yakin? Joan akan serius dengan usahanya ini? Ini bukan jumlah uang yang sedikit." Kata Nadiya menatap tajam kearah Karina dan melihat keseriusan dari gurat wajah saudara tirinya itu.


Karina mengangguk. Kemudian ibu Sofia menyerahkan beberapa berkas untuk ditandatangani oleh Nadiya. Nadiya membaca dan kemudian memberikan tanda tangan dibawahnya. Karina dan Ibunya saling berpandangan dengan wajah sumringah. Dan terutama ibu Sofia yang tak menyangka akan mendapatkan tanda tangan Nadiya dengan mudah. Tanpa perlu berbelit-belit atau membuatnya ditanya seperti sedang mengintrogasi tersangka.


"Oke. Sudah." Kemudian Nadiya memberikan berkas yang sudah ditandatangani kepada ibu Sofia.


"Sama-sama." Kata Nadiya dengan wajah datar dan terus memperhatikan mimik muka mereka yang sangat mencurigakan. Nadiya sengaja membuat urusan mereka menjadi mudah karena suatu tujuan yang lebih besar.


"Mama cepetan!" Kata Karina kepada ibunya yang berjalan dengan pelan dan berbicara pada sekretaris Nadiya.


"Iya tunggu......" Kata ibunya sambil melotot pada Karina.


"Nanti kalau Nadiya keluar dan berubah pikiran bagaimana? Ayo cepetan pergi dari sini!" Kata Karina sambil menggandeng ibunya yang masih saja berbicara pada sekretaris Nadiya. Entah apa yang dibicarakan karena ibu Sofia berbicara sambil setengah mengancamnya. Dan sekretaris itu juga kelihatan tak menyukai apa yang baru saja dikatakan ibu Sofia.


"Iya sudah! Lepaskan tanganmu! Mama bisa jalan sendiri!" Kata ibu Sofia sambil melepaskan lenganya dari pegangan Karina yang menariknya keluar dari kantor Nadiya. Hingga ibu Sofia hampir terjatuh karena keseleo dan mau ditolong oleh pengawal Nadiya.


"Sudah! Saya tidak perlu bantuan kamu! Saya tahu kamu anak buahnya Nadiya yang sudah membuat hidup saya jadi susah!" Kata ibu Sofia sambil marah-marah.


"Ini semu gara-gara kamu ngga sabaran! Lihat mama hampir saja jatuh!" Kata ibu Sofia sambil melotot kearah Karina karena membuatnya malu didepan pengawal Nadiya.

__ADS_1


"Kalian suami istri pada ngga pecus bekerja! Menangani Nadiya saja ngga bisa. Apalagi suami kamu yang oon itu. Bisanya cuma berfoya-foya tapi tidak bisa bekerja. Tidak bisa mengambil hati ayahmu. Malah sekarang bikin mama jadi susah!"


"Sudahlah ma. Jangan bicara begitu tentang Joan. Dia kan suami Karina. Joan juga sudah bekerja keras ma." Karina cemberut pada mamanya dan tidak terima suaminya dicela ibunya.


"Bekerja keras apaan. Bisanya cuma duduk-duduk saja tapi otaknya ngga dipakai. Sama perempuan saja kalah!"


"Itu kesalahan mama sehingga papa tidak mempercayai Joan dan Karina, malah memberikan jabatan tertinggi pada Nadiya."


"Dasar anak tidak tahu diri! Kalian yang bodoh malah menyalahkan mama!" Kata Ibu Sofia sambil masuk kemobilnya. "Coba kalau kamu tidak menikah sama sibodoh itu. Hidup kita tidak akan seperti ini."


Karina diam saja dan cemberut disamping ibunya yang terus mencela dan membenci suaminya.


Sementara setelah ibu tirinya dan Karina keluar dari kantornya, Nadiya langsung menyuruh seseorang untuk menghadangnya dijalan yang sepi dan mengambil berkas yang sudah ditandatanganinya.


"Lakukan dengan cepat dan jangan sampai mereka tahu jika aku yang menyuruhmu!"


"Baik Bu." Jawab orang suruhan Nadiya.


Dua jam kemudian orang suruhan Nadiya kembali dengan babak belur tanpa berkas ditanganya. Hal itu membuat Nadiya naik pitam dan menyuruhnya keluar dari ruangannya.


"Pergi dari sini! Tidak pecus bekerja!" Hardik Nadiya dengan suara lantang dan tinggi.


Pengawal itu kemudian pergi setengah berlari dari ruangan Nadiya.


Siapa yang sudah menolong mereka dan membuat anak buahnya babak belur? Pengawalnya bilang dia adalah Ceo yang terkenal baik hati dan murah senyum. Dia bekerja pada perusahaan ternama dan kebetulan lewat. Kemudian mendengar Karina berteriak tanpa berpikir panjang langsung menghajar anak buah Nadiya? Siapa dia yang berani menghalangi tujuannya? Aku harus mencari tahu tentang dirinya.......Dia musuh atau kawan?


Nadiya berputar-putar duduk diatas kursinya sambil jari lentiknya memainkan pulpen. Kukunya dicat warna merah menyala dan serasi dengan lipstiknya. Matanya melirik ke beberapa nomor telepon yang ada diatas meja. Kemudian dengan lincah jari telunjuknya memencet salah satu nomor dan terdengar sahutan seorang laki-laki menyapanya.


Saat mendengar suara dari telepon yang ada di telinganya Nadiya melepaskan gagang telepon dan membiarkannya menggantung dibawah meja.....Nadiya sangat mengenal suara itu. Suara itu membuat gagang telepon terlepas dari genggamanya.....Dan beberapa saat Nadiya terpana dan menarik nafas dalam-dalam.


Huh! huh! huh!


Dengan cepat kemudian menaruh gagang telepon pada tempatnya.

__ADS_1


Nampak wajah Nadiya masih tegang saat keluar dari ruangannya dan membuat pegawainya ketakutan. Mereka selalu cemas saat Nadiya memasang wajah itu, karena berarti ada yang tidak beres dan mengusik ketenangannya. Dan bisa saja salah satu pegawai menjadi sasaran pelampiasan kamarahanya.


Bersambung.........


__ADS_2