Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Cinta yang diam


__ADS_3

"Aku akan melepaskan bajuku dulu." Kata Nadiya sambil beranjak dari ranjang dan menunggu Prasetyo keluar dari kamarnya.


"Baiklah. Lepaskanlah. Aku akan membantumu." Kata Prasetyo dan kemudian berjalan mendekati Nadiya.


"Apa tidak sebaiknya kamu tunggu diluar?" Kata Nadiya.


"Apa!?" Tanya Prasetyo bingung karena disuruh menunggu diluar. Kan mereka sudah suami istri, masa istrinya ganti baju suaminya harus menunggu diluar kamar.


"Ehm...maksudku, aku malu jika kau melihatku berganti pakaian."


"Apa? Bagaimana mungkin kau bisa merasa begitu. Aku adalah suamimu. Tidak usah merasa sungkan padaku. Lepaskan saja bajumu...." Kata Prasetyo sambil terus melihat Nadiya yang diam tak bergeming.


"Keluarlah...aku mohon..."Pinta Nadiya.


"Baiklah. Aku yakin kau akan memanggilku dan membutuhkan bantuanku untuk melepaskan bajumu." Kata Prasetyo kemudian melangkah keluar dari kamarnya.


Aku tidak percaya ini. Aku benar-benar terjebak bersamanya di pulau terpencil ini. Sekarang aku akan melepaskan baju pengantin ini dan berganti baju yang lebih santai. Tapi....isshh kenapa baju ini sulit dibuka? Bagaimana cara membukanya? Dan siapa yang akan membantuku membuka baju ini?


Kemudian dengan bantuan kaca rias Nadiya mencoba menurunkan kancing bajunya yang ada dibelakang. Tapi sampai tanganya pegal-pegal ternyata usahanya sia-sia. Baju itu tetap melekat di badannya dan tidak bisa dilepaskan.


Akhir Nadiya memanggil Prasetyo untuk membantunya membuka baju pengantinya.


"Pras....." Panggil Nadiya.


"Ya. Ada apa sayang....Aku datang...." Sahut Prasetyo sambil cekikikan karena Nadiya pasti akan minta bantuannya untuk membukakan bajunya.


"Kemarilah." Kata Nadiya setelah dilihatnya Prasetyo masuk.


"Ya?" Kata Prasetyo sambil mendekat.


"Aku tidak bisa membuka bajuku. Tolong kamu bantu turunkan resletingnya. Tapi tutuplah matamu." Kata Nadiya sambil berbicara pada cermin riasnya dan melihat Prasetyo dari dalam cermin.


"Ok. Siappp. Berdirilah. Dan aku akan menutup mataku." Kata Prasetyo sambil berdiri dibelakang badan Nadiya dan sedikit memicingkan matanya.


"Sudah." Kata Prasetyo.


"Balikan badanmu" Kata Nadiya.


"Aku? harus membalikan badanku?" Tanya Prasetyo.

__ADS_1


"Iya. Ayo cepatlah." Kata Nadiya sambil kedua tangannya memegang lengan Prasetyo dan membalikan lalu memunggunginya.


"Aku belum pernah menikah jadi aku tidak tahu jika malam pertama serumit ini...." Gumam Prasetyo.


"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Nadiya setelah melepaskan baju dan dengan cepat memakai baju santai sebelum Prasetyo membalikan badannya.


"Tidak!" Jawab Prasetyo sambil membalikan badannya dan...... wow...matanya langsung terbelalak saat melihat dada Nadiya yang terbuka karena baru saja akan menutup resleting depan dari perut hingga keleher.


"Kau lihat apa?" Kata Nadiya menyadari pandangan nakal suaminya.


"Tidak! Aku tidak melihat apapun...." Kata Prasetyo sambil memejamkan matanya.


"Sudah! Bukalah matamu..." Kata Nadiya yang sudah rapi dengan baju santai.


Namun tiba-tiba Prasetyo memeluk tubuh Nadiya dengan sangat erat dan penuh kekuatan. Sehingga Nadiya tidak bisa menggerakkan badannya sedikitpun.


"Praasss....." Kata Nadiya sambil mencoba mengeluarkan kedua tangannya dari rengkuhan Prasetyo.


"Aku sangat ingin memelukmu. Jadi diamlah. Aku tidak akan melakukan apapun." Kata Prasetyo yang menatap wajah Nadiya dari dalam cermin.


Nadiya nampak memejamkan matanya dan tetap berusaha untuk terlepas dari rengkuhan Prasetyo.


"Maksudmu?" Tanya Nadiya tidak mengerti.


"Temanku bilang begitu. Aku juga tidak tahu artinya. Lain kali jika bertemu dengannya aku akan bertanya apa arti dari ungkapan itu."


"Kau mengatakan sesuatu yang kau sendiri tidak tahu artinya." Gerutu Nadiya kesal.


"Temanku selalu mengatakan ungkapan itu setiap menemui teman kencannya."


"Oooohhh jadi kalian sering berkencan dan mengungkapkan slogan itu pada setiap pacar kalian." Kata Nadiya sedikit meninggikan suaranya.


"Bukan aku. Tapi temanku."


"Kalian sama saja merayu wanita dengan berbagai kata-kata yang manis dan membuat mereka melayang ke udara." Kata Nadiya.


"Apakah itu juga berlaku untukmu? Apakah aku bisa merayumu dan membuatmu melayang di udara seperti katamu?"


"Aku bukan kapas yang mudah kau terbangkan dengan rayuanmu." Kata Nadiya yang akhirnya bisa melepaskan diri dari tangan Prasetyo dan bernafas dengan lega.

__ADS_1


"Nadiya....." Terasa aneh dia memanggilku begitu, gumam Nadiya.


"Ya..." Kata Nadiya sambil menoleh. Dan saat menoleh tiba-tiba mulutnya dikunci oleh bibir Prasetyo dengan sangat kuat, membuat Nadiya merasa sesak dan sulit bernafas.


Pertama Nadiya hanya diam saja dan membiarkan Prasetyo menguasai permainan bibirnya. Kemudian saat Nadiya semakin kesulitan bernafas, diapun menggigit bibir Prasetyo meskipun tidak terlalu keras. Tapi setidaknya dia bisa melepaskan diri dari serangan bibirnya yang tiba-tiba.


"Kenapa kau menggigitku? Seperti vampir saja." Kata Prasetyo.


"Apa? Kau bilang apa?" Tanya Nadiya sambil memegang bibirnya yang menjadi merah.


"Aku tidak percaya jika kau juga jelmaan vampir."


"Apa?" Tanya Nadiya yang mendengar Prasetyo bergumam tentang vampir.


"Untung saja hanya bibirku yang digigit. Bagaimana jika....Ooouuuhhh." Prasetyo menundukkan wajahnya dan mengarahkan matanya pada adek kecilnya. Dia membayangkan jika Nadiya juga melakukan pada adek kesayangannya maka.....Aku tidak sanggup membayangkanya.


"Ayo kita jalan-jalan saja." Kata Prasetyo yang begidik ketakutan.


Aku memang suka menonton dan membaca novel tentang vampir. Tapi tidak pernah aku bayangkan jika aku akan menikah dengan manusia setengah vampir.


Kata Prasetyo sambil menarik Nadiya keluar dari kamar itu.


Akhirnya mereka menikmati keindahan pantai dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Keindahan alam dengan langitnya yang putih kebiruan. Seluas mata memandang yang terlihat hanya ombak dan deburan yang begitu indah.



Prasetyo menggandeng tangan Nadiya dan mereka berjalan dipinggir pantai tanpa alas kaki. Mereka saling berpandangan dan tersenyum secara bersamaan. Cinta yang diam hanya bisa dirasakan dan tak mudah untuk diungkapkan.


Kadang matalah yang mengungkapkan apa yang tersimpan didalam hati saat bibir tak mampu melafalkannya.


Dan setiap kali angin datang kemudian menyibakkan rambut Nadiya hingga menutupi pandanganya.


Nikmatnya berbulan madu serasa dunia hanya untuk mereka berdua. Waktu pun berputar seperti pacuan kuda yang yang berlalu dengan begitu cepat. Tidak terasa matahari telah terlelap dan memberi ruang bagi sepasang pengantin baru untuk menikmati cahaya bulan.


Nadiya masih bersandar pada bahu Prasetyo sambil kakinya bermain air.


"Sepertinya udara mulai terasa dingin. Masuk yuk?" Ajak Prasetyo.


"Baiklah." Kamu diam Prasetyo mengulurkan tanganya pada Nadiya. Nadiya menggapainya dan berdiri disamping Prasetyo. Dengan cepat Prasetyo berpindah kedepan Nadiya dan langsung meluknya sangat erat. Lagi-lagi Nadiya berusaha lepas namun tenaganya tidak sekuat kekuatan Prasetyo.

__ADS_1


Kenapa dia selalu menyerang tiba-tiba? Aku bahkan tidak tahu jika gerakannya begitu cepat. Jantungku makin tidak karuan jika dia tidak melepaskan pelukannya. Apakah dia selalu menyerang saat orang lain tidak siap? Bagaimana jika nanti malam dia juga menyerangnya seperti seekor tupai? Yang kecepatannya seperti kedipan mata? Gumam Nadiya sambil meronta namun malah Prasetyo semakin erat memeluknya.


__ADS_2