
"Dokter....tolong selamatkan mereka berapapun biayanya akan saya bayar. Mereka putra dan calon menantu saya. Satu Minggu lagi mereka akan menikah....tolong selamatkan mereka dokter...Hiks hiks!" Kata ibu Monic yang langsung kelokasi begitu dikabari oleh anak buah Nadiya. Kebetulan saat itu dia berada tidak jauh dari tempat terjadinya kecelakaan itu.
"Baiklah. Ibu silahkan tunggu diluar. Biar saya tangani pasien dulu." Kata Dokter.
"Baik dokter..."
Kemudian didalam ruangan UGD Dokter dan beberapa suster langsung merawat kedua pasien itu dengan baik.
Untung keduanya hanya luka ringan meskipun mereka tidak sadarkan diri karena benturan dibagian kepala.
Dan mobil yang dikendarai Prasetyo adalah mobil dengan pengaman khusus sehingga bagian badan tidak cedera, hanya kepalanya saja yang luka dan berdarah membuatnya pingsan saat kejadian.
Jika mobil itu tidak dirancang dengan pengaman yang canggih maka mungkin kaki Prasetyo sudah patah dan badanya gepeng. Beruntung Prasetyo memesan khusus mobil mewah lengkap dengan pengaman, sehingga saat terjadi kecelakaan tidak membuat pengemudinya terluka parah. Meskipun mobilnya ringsek.
"Ibu silahkan masuk. Sebentar lagi pasien akan sadar...." Kata Dokter.
"Terimakasih Dokter...." Kemudian Ibu Monic masuk dan melihat mereka berdua terbaring dengan kepala diperban membuatnya sedih.
Nadiya perlahan membuka matanya dan samar-samar dilihatnya langit-langit kamar rumah sakit yang berwarna putih. Dan silau lampu yang menyilaukan penglihatannya.
"Prasetyo......" Nadiya mengingat kejadian terakhir dan sangat khawatir dengan darah dimuka Prasetyo juga karena Prasetyo tidak sadarkan diri saat itu.
Ibu Monic yang melihat Nadiya sudah siuman langsung duduk mendekatinya.
"Syukurlah kamu sudah sadar. Kalian beruntung tidak cedera parah, karena mobil itu memiliki pengaman khusus." Kata Ibu Monic.
"Gimana keadaan Prasetyo tante?" Tanya Nadiya masih menghawatirkan kekasihnya.
"Kata dokter sebentar lagi dia juga akan siuman." Kata ibu Monic.
__ADS_1
Perlahan-lahan jari Prasetyo bergerak dan matanya terbuka. Dia benar-benar lupa apa yang telah terjadi padanya. Karena saat kejadian dia langsung pingsan.
"Kepalaku sakit sekali. Aku ada dimana?" Ibu Monic yang mendengar suara putranya, langsung mendekatinya dan berdiri disampingnya.
"Kamu ada dirumah sakit." Kata ibu Monic setelah Prasetyo membuka matanya.
"Dimana Nadiya? Bagaimana keadaanya?" Tanya Prasetyo lirih dan pelan.
"Dia ada disana..." Kata Ibu Monic sambil menunjuk kearah Nadiya yang sedang berbaring.
Prasetyo menoleh kearah Nadiya dengan sangat pelan dan hati-hati sambil menahan kepalanya yang sakit jika sedikit saja digerakan
"Apakah dia baik-baik saja?"
"Kata dokter kalian mengelami cedera bagian kepala. Tapi syukurlah tidak sampai gegar otak.
Kalian pingsan saat kejadian kemudian pengawal Nadiya yang membawa kalian kerumah sakit ini."
Prasetyo masih berbaring dan belum bisa jalan kemana-mana karena kepalanya masih berat dan kakinya juga masih sakit, sehingga dia hanya tiduran saja.
Nadiya berjalan dan duduk disofa dekat jendela sambil menunggu Prasetyo yang masih terlelap di pagi hari itu.
Dia memikirkan bagaimana kecelakaan bisa terjadi sementara jalanan begitu sepi? Dan siapa mobil yang sudah menabrak dirinya? Apakah polisi sudah menemukan orangnya? Bukankan didepan mobil mewah Prasetyo ada kamera tersembunyi? Sehingga seharusnya polisi sudah bisa mengabarkan tentang orang yang sudah menabrak dengan bantuan kamera itu.
Terdengar ketukan pintu dan pengawal Nadiya masuk bersama dua orang polisi.
"Selamat pagi ibu Nadiya, saya datang untuk mengabarkan jika mobil yang menabrak ibu kami temukan didalam jurang tidak jauh dari kecelakaan itu. Namun sayang didalam mobil itu tidak ada siapapun. Hanya mobilnya saja yang hancur dan tidak ada petunjuk sama sekali karena tidak ada satupun kamera ditempat tersebut yang bisa kita gunakan untuk mengidentifikasi pelaku tabrak lari. Dan mobil yang masuk jurang itu terbakar. Tapi kami akan berusaha untuk mencari informasi tentang pelaku dan kepemilikan mobil yang jatuh ke jurang itu." Kata polisi itu menjelaskan kepada Nadiya.
__ADS_1
"Baik pak. Terimakasih banyak." Kata Nadiya.
"Baik. Kami permisi dulu. Semoga ibu Nadiya dan Pak Prasetyo cepat pulih. Kami dengar satu Minggu lagi kalian akan menikah." Kata polisi itu. Nadiya tersenyum mendengar bahwa berita pernikahannya benar-benar heboh dan hampir semua orang satu Negara mengetahuinya.
"Saya mohon berita kecelakaan ini dirahasiakan dari publik. Karena saya tidak ingin papi saya tahu dan syok. Papi saya baru saja selesai operasi jantung."
"Baiklah tentu saja jika itu permintaan Ibu. Kami permisi dulu." Kata Polisi itu sambil tersenyum meninggalkan ruangan VVIP yang sangat mewah.
"Nad." Panggil Prasetyo yang baru saja bangun.
"Ya. Kamu sudah bangun?"
"Sini Nad...." Kata Prasetyo sambil mengangkat sedikit kepalanya dan menyandarkannya pada bantal.
"Siapa tadi yang datang?" Tanya Prasetyo.
"Polisi yang memberi keterangan tentang mobil yang menabrak kita. Kata polisi mobil itu masuk jurang dan terbakar. Sehingga sulit menemukan identitas pelaku karena tidak ada jejak dan alat bukti sama sekali."
"Menurutmu ini murni kecelakaan atau seseorang sengaja mencelakai kita?" Tanya Prasetyo pelan. " Aku bahkan baru datang dari Luar Negeri dan aku tidak punya musuh sama sekali. Jadi aku tidak yakin jika itu disengaja oleh seseorang."
Kemudian Nadiya diam sejenak dan berfikir siapa dalang dibalik kecelakaan itu. Aku tidak punya musuh. Beberapa orang yang tidak menyukaiku mungkin Joan, tapi dia ada didalam penjara. Karina, dia tidak akan senekat itu. Apakah ibu tirinya, tapi harusnya dia yang celaka bukan Prasetyo. Untuk apa menyingkirkan Prasetyo bukankah tidak ada untungnya baginya? Ibu tirinya hanya mengincar uang dari papinya jadi harusnya aku yang ditabrak bukan Prasetyo yang sedang mengemudi. Ini pasti orang lain, tapi entah apa motifnya dia tidak tahu.
Kemudian Nadiya memanggil salah satu anak buahnya untuk menyelidiki kasus ini secara diam-diam. "Jangan kasih tahu siapapun termasuk Prasetyo. Laporkan padaku hal kecil yang kalian curigai."
"Kalian lakukan secara diam-diam. Dan jangan sampai terdengar oleh papi."
"Baik bos."
Kemudian Suster datang membawa sarapan untuk mereka berdua. Ibu Monic sudah pulang karena tidak enak badan sehingga Nadiya yang menyuapi Prasetyo karena tangan kanannya masih sakit.
__ADS_1
Kemudian seseorang mengetuk pintu dan berdiri didalam ruangan itu. Wajahnya tidak asing lagi. Tapi darimana dia tahu jika Nadiya kecelakaan padahal berita itu tidak dipublikasi oleh polisi. Dia terlihat datar tanpa ekspresi namun terlihat sangat angkuh dan sombong. Saat Nadiya menoleh mata mereka bertemu dan wajah Nadiya menjadi berubah saking terkejutnya. Piring yang dia pegang juga hampir terlepas dari genggamanya, untunglah Prasetyo menahan dengan tangan kirinya.