
Pagi-pagi sekali Karina sudah tiba dirumah papinya, Tuan Alex. Karina celinguk sana, celinguk sini seperti seorang pencuri, padahal dia akan masuk kedalam rumah ayahnya sendiri.
Kemana mami? Biasanya mami pagi-pagi sudah olahraga atau joging. Tapi sepertinya sepi-sepi saja. Baguslah, kalau mami ngga ada aku jadi lebih leluasa untuk berbicara dengan papi.
Akhirnya dengan mengendap-endap Karina membuka pintu dan...... Buuukkkk!!!
"Esssffff ....."Karina menahan sakit karena kepalanya terbentur kepala maminya. Dahinya berkerut dan matanya menyipit menahan sakit akibat benturan tanpa berani berteriak.
Tapi lain dengan maminya yang langsung berteriak pada Karina dengan kesal karena masuk seperti pencuri.
"Karina! Kenapa kamu seperti pencuri begitu? Anak ini! Bikin jantungku mau copot saja pagi-pagi. Dan....." Ibu Sofia memegang kepalanya yang merah karena kebentur kepala Karina. "Kepalaku....sakit sekali." Kata Ibu Karina sambil memegangi kepalanya.
Karina berdiri seperti patung dan matanya mencari sosok papinya.
"Mami....maaf. Karina tidak sengaja."
"Lain kali jalan pakai mata! Kerumah orang tua jalanya seperti pencuri." Gerutu Ibu Sofia kesal.
"Papi belum bangun ya mami......" Tanya Karina.
"Kenapa memang. Jika ada perlu dengan papimu sudah katakan saja sama mami. Nanti mami yang bilangin ke papimu." Kata Ibu Sofia.
"Ehmmm....Karina mau ngomong langsung aja sama papi, tapi....papi dimana ya?" Kata Karuan yang tidak mau maminya tahu tentang masalah yang akan dibicarakanya.
"Emang apa yang mau kamu bicarakan?" Kata Ibu Sofia penasaran.
"Ehmmm...bukan apa-apa. Karina hanya kangen aja sama papi. Karina sudah lama ngga ngobrol sama papi."
__ADS_1
"Pasti juga tidak jauh dari uang." Celetuk ibu Sofia. Apalagi saat ini anaknya yang bodoh ini sudah dimanfaatkan oleh si Joan itu. Jika dia sudah pulang, ada saja kelakuanya dan triknya untuk menghabiskan uang mertuanya. Dan anak ini, hanya menurut saja apa kata suaminya tanpa menggunakan akalnya. Kenapa dia tidak sepandai diriku?" Gumam ibu Sofia.
"Mami....kok mami ngomongnya gitu sih? Bikin Karina tersinggung." Kata Karina yang memang sulit mengelabuhi ibunya yang cerdik.
"Ya memang selama ini begitu kan? Kalau suami kesayangan kamu itu sudah kembali....ada saja masalah yang datang." Kata Ibu Sofia.
Karina tidak menggubris kata-kata ibunya, saat dia lihat papinya turun dari tangga.
"Papi......" Karina langsung berjalan mendekati papinya. Mencium tangannya dan menggandengnya untuk duduk disofa.
"Karina?" Tuan Alex juga heran kenapa putrinya pagi-pagi sudah datang menemuinya. Biasanya selalu saja ada alasanya untuk lebih mementingkan urusanya daripada menemui papinya.
"Iya papi. Karina kangen sama papi." Kata Karina sambil memeluk papinya. Sementara ini Sofia mengedipkan mata berulang-ulang melihat kelakuan putrinya yang bernama ria dengan papinya. Pasti ada maunya. Aku harus mengawasinya, jangan sampai dia dimanfaatkan si Joan dan menguras harta ayahnya. Kata ibu Sofia dalam hati.
"Oya. Gimana kesehatan papi? Papi pegal-pegal ngga? Biar Karina pijitin?" Kata Karina sambil mencoba mengambil hati papinya sebelum mengutarakan maksudnya yang sebenarnya.
Ibu Sofia sampai terperanjat mendengar ucapan Karina yang ingin memijit papinya. Benar dugaanku, pasti ada yang tidak beres. Anak itu kalau disuruh mijit maminya saja alasanya sejagad raya. Lah ini? Tanpa diminta kok mau pakai nawarin pijit segala. Pasti dugaanku tidak salah. Aku harus pura-pura sibuk didekat mereka biar bisa mendengar percakapanya. Jika aku langsung bertanya pasti tidak akan dijawab olek Karina. Aku harus tahu apa rencananya." Gumam ibu Karina sambil mengambil sebuah surat kabar dan terlihat fokus membaca. Padahal sebenarnya dia sedang berusaha mendengar pembicaraan mereka.
"Iya papi... sebenarnya Karina sedang sedih dan bingung." Kata Karina mulai membuat jurus untuk mengutarakan maksud kedatangannya.
Sementara ibu Sofia memicingkan matanya dan mendengarkan dengan seksama apa yang akan dikatakan Karina.
"Karina butuh pekerjaan papi?" Kata Karina.
"Kamu mau bekerja? Ya sudah sana mumpung Nadiya sedang berbulan madu maka bantu si Danar untuk mengurus perusahaan papi." Kata Tuan Alex sumringah dan senang karena putrinya mau kekantor dan membantu bisnisnya.
"Bukan untuk Karina papi." Kata Karina mulai deg-degan. Sebenarnya dia juga takut kalah Papinya menolak dan malah berbalik memarahinya.
__ADS_1
"Lalu untuk siapa?" Tanya Tuan Alex sambil menatap tajam kearah putrinya.
"Untuk suami Karina papi....Joan."
Hening sejenak. Karina diam seribu bahasa menunggu reaksi papinya. Dan Ibu Sofia terbelalak matanya namun berusaha tetap diam dan menahan rasa kesalnya. Sementara Tuan Alex sedang berfikir sambil menatap putri kesayangannya. Tuan Alex memang tidak pernah membedakan antara Nadiya dan juga Karina, hanya saja Karina memang tidak sepandai dan secerdas Nadiya.
"Maksudmu Joan sudah tidak didalam penjara lagi?" Tanya Tuan Alek pada putrinya.
"Iya. Joan tidak terbukti bersalah, sehingga dia sudah dibebaskan dari dalam penjara. Tapi tidak akan ada satu perusahaan pun yang akan mempekerjakanya karena Nadiya sudah menghancurkan nama baiknya." Kemudian Karina mulai menangis agar papinya iba.
Dan benar saja melihat putrinya menangis hati Tuan Alex menjadi trenyuh. Kemudian dipegangnya bahu Karina dan dipeluk dengan penuh kasih sayang.
"Apakah kamu yakin suamimu tidak bersalah dan bisa dipercaya?" Tanya Tuan Alex.
Karina kemudian mengangguk dan memohon kepada papinya dengan muka yang dibuat-buat.
"Baiklah papi akan memberi kesempatan kepada suamimu untuk bekerja kembali diperusahaan papi." Kata Tuan Alex.
"Terimakasih papi."
"Tapi Karina, Joan tidak akan bekerja di perusahaan yang dipegang Nadiya. Dia akan bekerja dikantor cabang dikota A."
"Tapi kenapa papi? Nadiya kan sekarang akan jarang ada disini. Dia akan ikut bersama suaminya di Luar Negeri. Jadi siapa yang akan memimpin perusahaan papi?" Tanya Karina sambil berusaha mempengaruhi papinya.
"Sudah ada Danar yang tentu saja kepiawaiannya tidak diragukan lagi. Dia teliti pandai dan bisa dipercaya. Jadi kalau kamu setuju Joan akan bekerja di kantor cabang A." Kata Tuan Alex setelah memikirkan secara bijaksana.
Ibu Sofia yang mendengar perkataan Suaminya menjadi lega karena tidak memperkerjakan Joan dikantor pusat. Atau dia akan membuat usaha suaminya hancur dan menguras asetnya.
__ADS_1
"Tapi Pi....Joan kan suami Karina, masa bekerja dikantor cabang? Sedangkan Danar kan bukan siapa-siapa, masa kerja dikantor pusat?" Karina masih berusaha menggoyahkan keputusan papinya.
"Semua kesuksesan itu tidak ada yang instan Karina. Semua harus dimulai dari bawah. Dulu papi juga merintis usaha ini dari nol. Jadi katakan pada suamimu untuk lebih giat bekerja supaya kamu hidup nyaman dan sejahtera." Kata Tuan Alex menasehati putrinya yang terbilang keras kepala dan mudah terperdaya.