
Dilapangan terbuka hijau disamping kampus, Sasha berdiri didekat mahasiswi yang tadi pagi berpapasan dengannya.
Setelah nama mereka dipanggil satu persatu Sasha berada di grup A dan Catrine ada di grub B, ternyata mahasiswi yang berpapasan dengan Sasha saat didampingi dua pengawal namanya adalah Catrine.
Masing-masing grub harus berputar keliling lapangan 50 kali.
Sashapun langsung mengambil start dan siap untuk berlari. Nanti akan dinilai siapa yang paling cepat selama satu Minggu berturut-turut. Namun ini hanya latihan awalnya saja. Pertandingan yang sesungguhnya masih satu bulan lagi.
"Sasha! Ayo lari terus!" Teriak Vano memberikan semangat. Entah sejak kapan dia datang, Sasha tidak mengetahuinya, namun setidaknya satu orang yang memberikan dukungan dengan tulus, itu sudah sangat berarti.
Sashapun tersenyum dan memberikan jempolnya kearah Vano yang berdiri didekat pelatih.
Catrine melihat apa yang dilakukan Vano dengan mencibirnya.
"Paling juga tertinggal dibelakang gue. Apalagi aku lihat fisiknya lemah gitu. Huh, mana mungkin bisa menang dari gua. Sekarang aja sudah tertinggal satu putaran dari gua," gumam Catrine.
"Sasha! Ayo semangat! Terus lari!" Kata Vano saat Sasha melintas dihadapannya. Sekarang sudah 25 putaran. Tinggal 25 putaran lagi maka latihan ini selesai.
"Ayo lebih cepat lagi! Ini baru 25 putaran!" Teriak pelatih itu kepada seluruh muridnya.
"Sepuluh putaran lagi!" Teriak pelatih itu memperingatkan para muridnya.
"Kau sudah selesai!" Kata pelatih itu kepada Catrine.
Hah, hah, hah! Nafas Catrine masih terdengar ngos-ngosan.
"Kau juga sudah selesai!" Kata pelatih kepada Sasha!"
"Hah, hah, hah! Air, mana air. Haus banget!" Kata Sasha.
Vano lalu menyodorkan minuman kepada Sasha.
"Minumlah!" Kata Vano.
"Terimakasih!" ucap Sasha.
Catrine melihat dari jauh apa yang Vano dan Sasha lakukan.
"Manja!" Ucap Catrine pada Sasha.
Lalu pelatih itu berteriak kepada sisa yang lainya.
"Selesai! Silahkan kalian istirahat! Hari ini cukup sampai disini. Mulai besok akan ada sistem eliminasi. Dan bagi yang tertinggal paling belakang maka akan langsung dieliminasi hari itu juga. Dan akan disisakan lima orang yang akan diadu secara bersamaan. Kalian siap!"
"Siap Pak!" Kata mereka serempak.
"Ya sudah! Sekarang lapangan ini akan dipakai grup putra. Kalian bisa istirahat."
"Gue kesana dulu ya!" Kata Vano kepada Sasha.
Sasha mengangguk sambil mengatur nafasnya yang masih terengah-engah karena lari dan energinya juga belum kembali.
Vano lalu berlari kelapangan dan tersenyum sambil mengedipkan matanya kepada Sasha.
__ADS_1
Catrine yang melihat semua itu menjadi risih dan kesal.
Catrine lalu berjalan keluar lapangan dan akan menemui seseorang. Dia berjalan dengan cepat tanpa menoleh. Lalu sampai ditempat yang dituju dia langsung mengetuk pintu dan keluar seseorang dari kamarnya.
"Kau? Ngapain kesini?" Tanya Regan tanpa mempersilahkannya masuk.
"Biarin gue masuk!" Kata Catrine langsung menerobos masuk kedalam.
Catrine kemudian duduk di sofa didekat ranjang Regan.
Setelah itu dia mendekati Catrine dan memberinya air mineral.
"Kenapa kamu kesini? Bukankah kamu harusnya ke lapangan?" Tanya Regan.
"Latihannya sudah selesai. Kenapa aku tidak melihatmu ada disana?" Tanya Catrine sedikit kesal.
"Untuk apa aku kesana? Aku lagi sibuk." Sahut Regan.
"Kau tidak akan menyemangatiku? Ini hari pertama aku latihan." Kata Catrine.
"Kau sudah sangat bersemangat. Kau tidak membutuhkan dukungan lagi. Sudah banyak bukan yang mendukungmu?" Kata Regan dingin.
"Kenapa sih kamu seperti ini?" tanya Catrine.
"Aku ingin kita kembali menjadi seperti dulu, aku janji! Aku tidak akan posesif lagi," kata Catrine.
"Sudahlah! Aku tidak sedang ingin membuat hubungan dengan siapapun," sahut Regan.
"Jika kau sudah selesai, kau boleh pergi, kau butuh istirahat!" kata Regan sambil membukakan pintu untuk Catrine.
Karena diusir secara halus akhirnya Catrine pun berdiri dan melangkah keluar.
"Kau masih tidak berubah," kata Catrine sambil berlalu. "Dingin dan keras!" kata Catrine.
Regan langsung menutup pintunya dan dia duduk sambil memegangi keningnya.
Aku tahu siapa kau, itulah alasannya aku melarang Sasha untuk ikut lomba ini. Kau adalah tipe yang harus mendapatkan segalanya dengan berbagai cara. Aku tidak mau Sasha terkena masalah. Aku tahu benar bagaimana sifat Catrine. posesif dan ingin menjadi yang terdepan.
Sasha sedang berjalan ke kamar Regan dan berpapasan dengan Catrine, namun Sasha tidak tahu jika Catrine baru saja keluar dari kamar kakaknya itu.
Sasha lalu masuk kekamar Regan. Dan memang tidak dikunci.
Kreeekkkk!
"Sudah kubilang pergi! Kenapa kembali lagi?" Kata Regan tanpa menoleh.
Dan saat dia menoleh, dia terkejut karena itu Sasha.
Sasha yang melihat kelakuan aneh Regan menjadi terbengong dan berdiri dipintu.
"Kau kenapa? Aku baru saja datang. Tapi kau ingin aku pergi." Kata Sasha.
"Kau? Aku pikir....." Regan tidak jadi meneruskan kalimatnya.
__ADS_1
"Hayo siapa? Pacar niye? Pasti lagi bertengkar!" Kata Sasha mulai lagi deh kejailanya.
"Bukan siapa-siapa!" Kata Regan lalu membuka laptopnya.
"Pasti kau menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan dong! Siapa kekasihmu! Aku kan juga ingin tahu, seleramu itu seperti apa? Kau terus saja menjelek-jelekkan setiap pria yang mendekatiku. Haruskah aku menjadi jomblo terus? Sementara kau punya pacar dan kau main rahasia-rahasiaan dariku."
"Ngomong apa sih? Ngaco!" Jawab Regan sambil memperhatikan beberapa data yang sudah dia masukkan kemarin malam.
"Wajahmu kenapa harus merah gitu?" tanya Sasha.
"Merah apanya? Daging sapi kali, merah!" ucap Regan.
"Ya sudah kalau kau tidak mau berbagi denganku. Tapi aku ingin tanya sesuatu padamu," kata Sasha.
"Apakah kau kenal Catrine?" tanya Sasha.
"Catrine? Apakah dia membuat masalah untukmu? Apakah dia menyakitimu? Atau dia melakukan hal yang buruk padamu?" Regan langsung menoleh saat nama itu disebut. Dan Regan tidak bisa menutupi kecemasannya.
"Kau ini kenapa sih? Hari ini kau aneh banget. Tidak ada yang menyakitiku. Kau sebegitunya mengkhawatirkan aku," kata Sasha.
"Bukan begitu. Kita sedang berada di negeri orang. Ini bukan negara kita. Jadi wajar saja aku terus mencemaskanmu," kata Regan.
"Ini hanya lomba. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Semua akan bertanding secara sportif." Kata Sasha agar Regan berhenti mengkhawatirkan dirinya secara berlebihan.
"Kau tidak tahu apa-apa. Oh ya, apakah kau satu regu dengan Catrine?" tanya Regan.
"Tidak. Kami berbeda grup. Tapi kemarin pagi aku berpapasan dengannya dan aku heran kenapa dia harus selalu didampingi oleh dua bodyguard?" kata Sasha.
"Karena dia anak seorang Menteri," kata Regan.
"Sebaiknya, kamu biarkan saja dia menang," lanjut Regan.
"Kau ini aneh. Kau bukannya mendukung ku kau malah mendukung agar orang lain menang." Kata Sasha menatap Regan dengan tatapan penuh selidik.
"Dia sudah berlatih dengan pelatih khusus. Dan aku juga tahu kemampuan larinya. Percuma, melawannya. Bahkan pelatih juga ingin agar dia yang menang. Aku sudah bilang, ini hanyalah kompetisi politik, kadang pemenangnya sudah ditentukan." Kata Regan.
"Tidak! Aku tidak percaya semua ini sudah diatur. Aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku untuk mengalahkannya." Kata Sasha.
"Menteri itu juga salah satu penyelenggara kompetisi ini. Dia juga salah satu sponsornya." Kata Regan.
"Ya itu lebih bagus. Biarpun ayahnya mensponsori kompetisi ini, tidak harus putrinya juga kan yang harus menang? Orang lain juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk menang," ucap Sasha.
"Kau tidak mengenal sifat mereka. Kau terlalu polos." Kata Regan putus asa untuk meyakinkan Sasha bahwa jika dia menang jiwanya berada dalam bahaya.
"Kau juga tidak mengenal mereka. Tapi kau sok tahu." Kata Sasha. " Aku kecewa, kau tidak mendukungku. Padahal di awal latihan aku juara dua. Dan Catrine yang pertama. Sudah kubilang, aku akan mampu mengalahkannya, kami hanya selisih beberapa detik saja."
"Mundurlah dari lomba ini." Kata Regan lebih khawatir lagi karena Sasha punya kemampuan untuk mengalahkan Catrine.
"Tidak! Aku mau kekamarmu. Percuma menemuimu. Kau tetap tidak mau mendukungku." Kata Sasha lalu keluar dari kamar Regan.
"Berhati-hatilah, dan jaga dirimu baik-baik." Kata Regan sambil menatap punggung Sasha yang pergi meninggalkanya.
"Ya. Itu pasti!" Jawab Sasha tanpa menoleh.
__ADS_1