Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Akibat pergaulan


__ADS_3

Nadiya duduk ditemani Prasetyo. Prasetyo melepaskan dua kancing baju didekat lehernya. Menggendong Nadiya membuat lehernya terasa sesak dengan kemeja yang agak ketat.


Diapun melonggarkannya agar tidak gerah. Prasetyo lalu turun kebawah dan mengambil makan untuk Nadiya. Dia juga ingin melihat kedua anaknya.


"Apa kalian sudah makan?" tanya Prasetyo saat kedua anaknya akan beranjak dari meja makan.


"Kami sudah makan papi." Kata keduanya lalu berusaha menghindar dari papinya.


Mereka takut karena baru saja membuat mami mereka terpeleset dikamar mandi.


Prasetyo yang melihat gelagat kedua anaknya lalu memanggil keduanya untuk berdiri didekatnya.


"Apa yang tadi kalian mainkan hingga mami kalian jatuh?" tanya Prasetyo.


"Kami main air dari closet." kata Edsel.


"Apa?"


"Ya papi. Kami main semprot-semprotan air dari selang itu yang didekat closet."


"Baiklah. Kalian sekarang tahu kan akibat apa yang kalian mainkan, membuat mami kalian terpeleset? Lain kali mainlah dihalaman. Jangan main dikamar mandi." Kata Prasetyo lalu menyuruh mereka untuk bermain diruang mainan.


"Iya papi." kata Eiden.


"Sekarang mainlah. Jangan main diluar, hari sudah malam. Sebentar lagi akan hujan. Main saja diruang bermain."


Mereka lalu pergi berlari kelantai satu. Disana ada ruang bermain yang besar dan luas. Ruangan itu sengaja dibuat agar anak-anaknya merasa nyaman bermain dirumah.


Prasetyo lalu mengambil piring dan akan membawanya keatas. Dia akan makan disana bersama Nadiya.


"Makanlah." kata Prasetyo kepada Nadiya. "Kau belum makan bukan?" tanya Prasetyo.


Nadiya mengangguk.


"Apakah anak-anak sudah selesai makan?" bagaimanapun Nadiya tetap mengkhawatirkan kedua buah hatinya meskipun mereka nakal dan membuatnya terpeleset.


"Sudah. Sekarang mereka sedang main diruang bermain." Kata Prasetyo.


"Sepi sekali. Regan dan Sasha pada kemana?" Tanya Prasetyo.


"Mereka keluar untuk bertemu teman-temannya," kata Nadiya.

__ADS_1


Prasetyo lalu mengangguk-angguk dan menyadari jika mereka sudah dewasa untuk bisa menjaga diri mereka sendiri.


***


Sasha didalam Cafe bersama kedua temannya. Mereka asyik berjoget dan mengikuti irama musik yang hingar bingar.


Mereka bertiga perempuan semua. Hal seperti ini memang susah biasa dikota besar. Sebagian muda-mudi pergi keCafe untuk bersenang-senang hingga tengah malam.


"Minum lagi!" Kata seorang temannya.


"Ngga ah! Kepalaku sudah pusing." kata Sasha lalu dia duduk.


Sasha tertunduk begitu lama merasakan kepalanya yang semakin berat.


Dan saat dia mengangkat kepalanya dan melihat kesekililing, ternyata kedua temanya sudah tidak ada disana.


Kedua temanya tiba-tiba menghilang entah kemana.


Ternyata pacar mereka mengajak mereka dan mereka lupa pada Sasha yang ada juga ditempat itu.


Mereka datang bersama Sasha, namun tiba-tiba pacar mereka datang dan mengajak mereka bersenang-senang.


Dari sudut ruangan itu nampak seorang lelaki terus memperhatikan Sasha dari tempatnya duduk.


Dan saat dia tahu jika Sasha sendirian, laki-laki itu lalu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Sasha.


Namun laki-laki itu hanya berdiri satu meter dari Sasha tanpa menyapanya. Dia menunggu saat yang tepat.


Sasha lalu menatap sekeliling ruangan itu, namun dia tidak melihat teman-temannya.


"Kemana mereka? kenapa mereka meninggalkanku disini?" Sasha berbicara sendiri.


Tiba-tiba Sasha menyenggol gelas didekat sikunya. Airnya tumpah dan membuat bajunya basah. Lalu Sasha berjalan kekamar mandi dan mengelap bajunya dengan tissu lalu mengeringkannya pakai hairdryer.


Sasha lalu kembali ketempat duduknya. Disampingnya ada lelaki tidak dikenal dan menyapanya dengan ramah.


Sasha lalu tersenyum padanya. Sasha meminum sisa minumanya yang tergeletak diatas meja.


Dan setelah meminumnya Sasha menjadi tidak sadarkan diri.


Lelaki disampingnya lalu memapahnya dan tidak ada yang peduli tentang semua itu. Mereka berpikir jika itu hal yang biasa terjadi didunia malam.

__ADS_1


Mereka anggap itu sebuah kesepakatan atau seperti pacar satu malam.


Sasha rupanya lupa membawa tasnya. Dan tas itu tergeletak begitu saja diatas meja.


Cafe itu milik Arya. Dan saat itu Arya sedang ada disana juga. Hanya saja Arya berada didalam kantor dan bukan diruangan yang hingar bingar oleh musik dan cahaya yang gemerlapan.


Arya keluar dari kantor, dia akan minum sebentar disana.


Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah tas yang ada diatas meja. Tas itu mengingatkan Arya pada seseorang. Dia adalah Sarah, tas itu adalah tas limited edition. Dan Sarah sering memakainya, bahkan saat mereka terjebak satu kamar.


Arya lalu duduk disamping tas itu dan menunggu siapa pemiliknya.


Setengah jam berada disana Arya tidak bertemu siapapun yang merasa memiliki ras tersebut.


"Siapa yang meninggalkan tasnya disini?" tanya Arya pada pegawainya.


"Seorang gadis masih muda. Kira-kira usianya 20 tahun." kata penjaga minuman.


"Anak muda. Kemana orangnya?"


"Entahlah, tadi sepertinya diajak oleh seorang lelaki kekamarnya." kata penjaga itu.


Arya mengangguk-angguk.


Tiba-tiba handphone dalam tas itu berbunyi. Tas itu tidak mempunyai resleting sehingga terlihat layar handphonenya dari luar.


Arya penasaran dan mengintipnya.


"Nadiya?"


Gumam Arya kaget. Bagaimana mungkin yang menelpon adalah Nadiya? Apakah jangan-jangan Sasha yang memakai tas ibunya?


Arya lalu menanyakan kamar pemuda yang mengajak gadis pemilik tas tersebut.


"Tapi pak...."


"Aku pemilik cafe ini. Atau kalian ingin dipecat?"kata Arya karena sangat cemas dan khawatir.


Sasha.....


"Baiklah pak. Ini kunci duplikatnya." kata penjaga minuman itu sambil memberikan kunci duplikat kamar yang dipesan pria tersebut.

__ADS_1


__ADS_2