
Tiga bulan kemudian Nadiya sudah pulih seperti sediakala. Badanya sudah tidak kurus lagi. Dan terpikir oleh Nadiya untuk memeriksakan kondisi kandungannya. Nadiya juga pergi ke tukang urut bayi yang kata orang bisa membuatnya bisa hamil.
Salah satu temanya menyarankan demikian. Katanya setelah urut dia bisa langsung hamil. Nadiya akhirnya mengikuti kata temanya pergi ketukang urut.
Nadiya juga meminum beberapa obat dari dokter agar menambah kesuburan. Nadiya juga mengikuti saran dari instruktur olahraga dan melakukan olahraga bersama Ardy. Mereka melakukan berbagai gaya yang disarankan. Tapi ternyata semua itu belum membuahkan hasil. Dan saat melakukan tes kehamilan, Nadiya berharap ada dua garis berwarna merah. Tapi rupanya Nadiya masih harus bersabar karena hanya muncul satu garis merah pada test packnya.
"Gimana hasilnya ma?" Kata Ardy bersemangat.
"Belum pa." Nadiya berkata lirih dan kecewa nampak dari mimik wajahnya.
Ardy juga nampak kecewa, karena sudah melakukan berbagai hal tapi hasilnya masih negatif.
"Ya udah ma. Papa mau kekantor dulu." Nadia mengangguk masih shock dengan hasil test packnya. Padahal Nadiya yakin pasti ini akan berhasil dan menjadi yang terakhir kalinya dia melakukan test pack. Dan berharap hasilnya positif.
Ardy juga nampaknya sangat kecewa. Setiap bulan bertanya pada Nadiya tentang hasil test packnya. Bahkan melakukan ini dan itu agar Nadiya bisa hamil. Tapi setelah semua cara dicoba dan dilakukan hasilnya masih negatif. Ardy juga berharap hari ini dia akan mendapatkan kabar gembira.
Sejak Nadiya dinyatakan sehat, dan bisa menjalani program kehamilan, ini sudah satu tahun lamanya. Pernikahan mereka sebentar lagi sudah memasuki empat tahun.
Ardy melewati rumah Dara saat mau pergi kekantor. Dilihatnya Dara dan Joan sedang menggendong dan mencium putri mereka sebelum Joan berangkat kekantor. Ardy bahkan sempat menghentikan mobilnya dan memperhatikan mereka dari kejauhan.
Dalam hati Ardy hanya berbisik semoga dia memiliki kebahagiaan seperti itu. Saat tangan mungil menyentuh hidungnya dan bermain dalam gendongannya. Tak lama kemudian Ardy melanjutkan perjalananya.
Sore harinya Nadiya sudah menyiapkan makan malam dirumah, dan menunggu suaminya pulang dari kantor. Tapi jam sudah menunjukan pukul 21.30 dan Ardy belum pulang juga. Dihubungi juga tidak bisa. Nadiya akhirnya belum makan malam, malah ketiduran disofa.
Dari kantor Ardy tidak langsung pulang kerumah, melainkan kesebuah kafe, dimana dia sering pergi kesana, kalau lagi banyak pikiran. Ardy mulai menenggak minuman untuk menghilangkan sakit kepalanya. Dan bayangan kebahagiaan yang tadi pagi dia lihat saat mereka menggendong anak, masih terbayang dalam ingatannya seakan memenuhi seluruh isi kepala. Kepalanya jadi terasa sakit karenanya. Setelah minum minuman yang membuatnya tak sadar, kepalanya jadi lebih ringan, karena kesadaranya juga mulai hilang.
__ADS_1
Sarah mulai menyanyi dan menghibur pengunjung dalam kafe dimana Ardy juga ada disana. Saat pekerjaannya selesai Sarah langsung mengambil tas dan melihat jam di hp nya. Sudah tengah malam maka dia buru-buru akan pulang, tapi tiba-tiba matanya melihat Ardy duduk sendirian sambil memegang segelas minuman.
Sarah kemudian berjalan mendekatinya. Ardy menoleh dan begitu melihat Sarah datang langsung menarik tanganya dan mengajaknya duduk disampingnya. Kemudian Ardy memaksa Sarah untuk menemaninya minum bersamanya.
Tadinya Sarah ngga mau, tapi Ardy terus memaksanya, dan akhirnya mereka minum bersama. Tadinya Sarah juga sering menghabiskan waktu untuk minum saat sedang banyak pikiran. Tapi kebiasaan buruk itu sudah lama ditinggalkannya. Dan sekarang minuman ini mulai membuatnya melayang dan kehilangan akal sehatnya.
Dalam keadaan setengah sadar mereka berceloteh dan tertawa bersama. Sampai akhirnya Jan 02.00 Kafe itu akan tutup karena sudah tidak ada pengunjung. Dan hanya tinggal mereka berdua. Pelayan kafepun mengataka pada mereka untuk meninggalkan tempat ini, karena akan segera ditutup.
Mereka hanya tertawa tanpa menjawab, dan berjalan sempoyongan keluar dari kafe itu. Didekat kafe ada sebuah hotel yang tidak terlalu besar. Ardy menggandeng Sarah dan menunjuk kearah hotel disamping kafe tersebut. Sarah menunjuk dengan jemarinya kearah hotel yang dimaksud Ardy.
Ardy mengiyakan den mereka saling berpegangan satu sama lain sambil berjalan sempoyongan. Setelah meninggalkan kartu nama dan merekapun masuk ke hotel tersebut. Ardy menggandeng Sarah dan mereka masuk kesebuah kamar berdua.
Dalam kondisi tidak sadar mereka masih cikikikan dan berbicara ngelantur. Kemudian mereka sama-sama rebahan diatas kasur dan masih tertawa terbahak-bahak.
"Kamu cantik. Sangat cantik." Puji Ardy
"Mata kamu. hidung kamu. bibir kamu. Aku sangat menyukainya." Kata Ardy sambil menyentuh wajah Sarah.
Kemudian tanpa diduga Sarahpun memeluk Ardy dan membuka bagian atas bajunya. Ardy yang mendapat respon tidak diduga langsung memanfaatkanya tanpa berpikir panjang. Akal sehat dan kesadaranya telah melayang bersama minuman itu. Dalam kondisi setengah sadar akhirnya mereka melakukan hasrat terlarang. Dan mereka tertidur tanpa busana. Dibawah selimut yang sama. Busananya tercecer di lantai, dan disofa juga disamping tempat tidur.
Nadiya terbangun, dan saat melihat jam didinding ternyata sudah jam 03.00. Dilihatnya mobil suaminya masih belum terparkir disana. Artinya suaminya tidak pulang kerumah. Hpnya juga tidak bisa dihubungi.
Nadiya kemudian bangun dan membereskan makan malam yang masih utuh. Setelah itu berjalan mondar mandir diteras rumahnya. Nadiya menatap rumah Sarah yang nampak masih gelap gulita. Apa Sarah juga tidak ada dirumah? Biasanya jika sudah pulang lampu teras dan kamarnya menyala. Kali ini sepertinya Sarah tidak ada dirumah.
Tidak biasanya Sarah tidak pulang. Selama menetap didepan rumah Nadiya, Sarah selalu pulang kerumahnya meskipun kadang sudah larut. Nadiya kerap mendengar suara mobilnya saat malam hari. Dan melihat dari jendela kamarnya, kalau itu adalah mobil Sarah yang akan diparkir. Setahunya Sarah tidak punya saudara, jadi tak mungkin dia menginap dirumah saudaranya.
__ADS_1
Nadiya akhirnya masuk karena banyak nyamuk diluar sana.
Ardy terbangun dan kaget saat matahari menembus jendela dan menyilaukan mata mereka.
Mereka terbangun secara bersamaan. Dan saling berpandangan dengan terkejut, saat menyadari kondisi mereka yang tidur dibawah selimut yang sama.
Sarah mulai menangis dan bingung setelah mengetahui apa yang mereka lakukan semalam. Baju mereka berceceran dimana-mana. Ardy juga shock melihat keadaan sekelilingnya. Dan menyesali perbuatannya yang dalam pengaruh minuman keras.
Memakai kemejanya dan mengambil baju Sarah yang tercecer. Sarah menyelimuti tubuhnya dan berjalan ke toilet untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian Sarah keluar dengan baju yang semalam dia pakai. Dan Ardy sudah memakai semua bajunya dan duduk disamping ranjang.
Sarah tertunduk dan malu pada Ardy juga pada dirinya sendiri. Ardy yang merasa bersalah dan tak bisa mengendalikan diri mulai menyesali perbuatannya.
"Maafkan aku Sar. Aku tidak bermaksud....."
"Tidak apa Ar. Ini semua kesalahanku. Harusnya aku tidak ikut minum bersamamu. Dan akhirnya terjadi hal ini."
"Aku juga bersalah padamu terutama pada istriku. Aku telah mengkhianatinya." Ardy menatap Sarah yang tertunduk.
"Sekali lagi maafkan aku. Kita lupakan kejadian ini. Kita juga melakukanya dalam keadaan tidak sadar. Anggap tidak terjadi apa-apa semalam." Kata Ardy pada Sarah.
"Aku malu pada Nadiya Ar. Dia sahabat baikku. Aku bahkan tak berani menemuinya setelah ini."
"Jangan lakukan hal yang membuatnya curiga. Bersikap seperti biasa saja."
"Jika kamu mengatakan uang sebenarnya. Kita akan menyesalinya. Rumah tanggaku akan hancur. Dan pertemanan kalian juga."
__ADS_1
Sarah mengangguk. "Jadi lebih baik. Kita lupakan apa yang terjadi semalam. Sehingga semuanya akan baik-baik saja."
Sarah mengangguk. Ardy mengajak Sarah berdiri dan pulang meninggalkan hotel tempat mereka menginap.