
Elena lalu duduk diantara Vano dan Rossa.
"Kalian ini kebangetan ya. Masak gue ditinggal sendirian. Gue cari kalian kesana kemari ngga tahunya udah pada pulang." Kata Elena.
"Gue yang lupa." Kata Vano.
"Gue ngga inget kalau elo masih disana. Mau balik tapi udah terlanjur jalan." kata Vano.
"Iya, tadinya kita mau balik, tapi Sasha sudah ketiduran. Dan kita pikir dia butuh istirahat. Akhirnya kita ngga jadi balik." Kata Rossa.
"Ya udah, sebagai gantinya. Gue traktir Lo makan sepuasnya." kata Vano yang memang anak orang kaya.
"Seriusan nih!"
"Iya. Ayo pesan semua makanan. Tapi habisin ya. Jangan mubasir."
"Oke lah kalau begitu. Kita impas." kata Elena.
Elena lalu memesan makanan yang mahal dan lezat. Mumpung gratisan. Syukur juga deh ditinggalin sama mereka, jadi bisa mukbang gratis, hehehe, kata Elena dalam hati.
Dia memang sangat lapar, tadi pagi langsung pergi kesana tanpa sarapan dulu. Dan sekarang adalah waktunya balas dendam, dan mengenyangkan perutnya.
"Makanya pakai jeda kali," kata Rossa yang melihat Elena makan dengan lahap.
"Tuh ada Regan!" teriak Vano.
"Mana? mana?" tanya Elena.
"Giliran ada dua aja. Makanya pakai jaim. Kalau ngga ada dia. Lima jari masuk semua. Giliran makan sama Regan, sepiring ngga habis dua jam."
"Masa sih?" tanya Rossa.
"Iya. Gue kan sering bareng makan sama dia sama Regan." kata Vano.
"Lo jangan bongkar kartu dong!" kata Elena sambil makan dengan lahapnya.
"Lo naksir ya sama Regan?" tanya Rossa.
"hehehehe..." Elena malah tertawa.
"Saingan Lo berat. Naksir aja sama yang lain." kata Vano.
"Emang siapa aja, yang deketin Regan?" tanya Elena serius dan menghentikan makanya.
__ADS_1
"Catrine, dia seperti penguntit. Dan Madina, cantik dan anggun, dan banyak lah."
"Madina juga?" Tanya Elena.
"Iya, kalau gue lihatin sih gitu. Dia juga naksir sama Regan. Regannya aja yang kelewat sombong, mentang-mentang laku. Sok jual mahal!"
"Bukanya jual mahal. Regan itu pasti memilih mana yang terbaik diantara yang baik." kata Rossa.
Elena tiba-tiba menghentikan makanya dan menatap Vano lekat.
"Ngapain Lo liatin gue kaya gitu?" kata Vano jadi salah tingkah dilihatin bulat-bulat seperti mau ditelan.
"Coba kamu tatap aku!" titah Elena.
"Menurutmu, aku cantik ngga?" tanya Elena tanpa malu-malu.
"Cantik." Kata Vano dan matanya mengamati wajah Elena dari dahi, mata hidung hingga ke bibirnya.
"Nah siapa yang lebih cantik diantara aku, Catrine, dan Madina?" tanya Elena.
"Whaaattt!!!??" kata Vano sambil cekikikan.
"Gue serius nanya."
"Bukan cantik kali keles, kriterianya." kata Rossa.
"Mungkin Regan punya kriteria cantik yang berbeda dari cantik yang dimaksud Vano. Kalau menurut gue, kalian bertiga itu cantiknya diatas standar. Tapi itu standar gue, nah standar Regan, beda lagi?" kata Rossa.
"Maksud lo, yang wajahnya cantik, dadanya penuh, dan bodi goal gitu?" tanya Elena sambil memegang dadanya.
"Secara dada gue rata." Kata Elena sambil meraba dadanya yang rata.
Vano jadi salah tingkah.
"Kalian ngebahas apaan sih! Pusing gue! Nih gue kasih tahu. Maksud kriteria itu bukan hanya cantik secara fisik. Tapi inner beauty, cantik dari dalam juga." kata Vano kepada Elena.
"Emang gue ngga punya inner beauty maksud loh?" kata Elena dan merasa sudah kenyang, saat membahas tentang Regan.
"Ya mana gue tahu." kata Vano.
"Lagian apa sih bagusnya Regan, kalian sampai segitunya suka sama dia."
"Gue ngga ya!" Kata Rossa.
__ADS_1
"Yaaa...gue juga ngga tahu. Pertama kali melihatnya, menyapanya, mendengar suaranya, gue langsung suka." kata Elena sambil membayangkan saat pertama kali bertemu Regan.
"Aku belum pernah jatuh cinta, jadi aku ngga tahu rasanya." kata Rossa.
"Rasanya jika tidak ada dia, maka dunia ini terasa hampa." kata Elena.
"Hahahaha....." Vano tertawa ngakak.
"Makanya sudah?" tanya Rossa.
"Ya udah yuk cabut! Kita bawa ini ketempat Sasha!" kata Rossa.
"Lo aja deh, gue masih mau disini." Kata Elena.
"Gue juga." Kata Vano.
"Ya udah deh kalau kalian ngga kesana. Biar gue aja yang bawa."
Rossa lalu mengambil kantong berisi makanan dan menentengnya.
Sambil jalan Rossa menengok kesekelilingnya. Dia tiba-tiba teringat pada Catrine.
Dimana dia?
Kenapa dia bisa menghilang disaat yang dia nantikan?
Ini sangat aneh dan tidak masuk akal.
Dia tidak terlihat dimanapun.
Dia cara dari awal hingga akhir juga tidak terlihat.
Asrama juga masih sepi, tapi dia juga tidak terlihat berkeliaran kesana kemari.
Biasanya dia terlihat dimana-mana.
Apakah dia mengundurkan diri?
Tidak mungkin! Itu mustahil.
Tapi kemana perginya?
Bahkan pelatih tidak mengetahuinya.
__ADS_1
Pelatih?
Apakah pelatih mendukung Sasha? Dan bukan Catrine?