Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Saat ingatannya kembali


__ADS_3

Mereka semua bangun kesiangan. Matahari sudah sepenggalah naik. Dan yang pertama kali bangun adalah Pak Arya. Pak Arya menatap sofa yang kosong. Kemudian dia menyalakan lampu dan membuka tirainya.


Akhirnya semuanya pun terbangun, kecuali Freya. Prasetyo membuka matanya perlahan dan tanganya masih memeluk erat pinggang Freya. Prasetyo menatap wajah yang tertutup oleh gumpalan rambut. Prasetyo kemudian perlahan menyibakkan gumpalan rambut itu.


Deg.


Siapa dia?


Prasetyo lalu menarik tangannya dari pinggang Freya. Bagaimana dia bisa tidur disampingku? Dan kenapa kita tidur didalam kamar yang sama? Dimana Nadiya?


"Nadiya! Bangun Nad!" Kata Prasetyo dan membalikan badan Nadiya yang masih lelap tertidur.


Perlahan Nadiya membuka matanya. Dan dia juga terkejut saat melihat Prasetyo tidur disamping Freya.


"Kau tidur disini semalaman? Disamping Freya? Kau menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk tidur dengan wanita yang belum kau nikahi?" Nadiya langsung membombardir dengan banyak pertanyaan karena kaget dan shock juga tidak bisa menahan rasa cemburunya.


"Kau bicara apa Nadiya? Menikah? Siapa yang akan menikah?"


"Kau tidak usah pura-pura. Kau ingin sekali terus berdekatan dengan Freya. Dan saat kami lelap tertidur kau menyelinap masuk kedalam selimutnya. Apa yang sudah kau lakukan?"


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?" Prasetyo nampak kebingungan.


"Ohhh bagus! Sekarang kau pura-pura tidak mengerti dan lupa apa yang kau lakukan semalam? Apa yang kau lakukan? Kau belum menikah dan kau ingin tidur diselimut yang sama? Begitu?"


"Pura-pura? Menikah? Apa yang kau katakan? Kau sudah kelewatan!" Kata Prasetyo.


"Ya! Aku memang kelewatan dan kau? Tidak tahu malu! Kau belum menikah tapi pikiranya sudah mesum!"


"Tunggu! Tunggu! Aku bahkan tidak mengerti kenapa bisa tidur dengan mereka? Ini kamar kita bukan? Lalu kenapa kau biarkan orang lain tidur satu kamar dengan kita?"


"Apa!? Kau sekarang menyalahkan aku? Bangun tidur langsung marah-marah dan kau gunakan amnesiamu untuk menutupi kesalahanmu? Kau memang aktor yang hebat!" Kata Nadiya gregetan melihat Prasetyo tidur semalaman disamping Freya.


"Aktor? Kau yang sudah membawa mereka masuk. Aku bahkan tidak ingat kapan mereka masuk kemari. Pasti kau yang mengizinkan orang lain tidur disini bukan. Kau bahkan membiarkan wanita lain tidur satu ranjang dengan kita!?"


"Wah-wah sekarang kau pandai berdalih. Kau sudah menikmati malam yang indah bukan? Ap a yang kau lakukan semalam hah!?"


"Aku tidak melakukan apapun. Tapi katakan bagaimana mereka bisa masuk kemari. Dan kita berada dimana sekarang? Ini jelas bukan kamar kita?"


"Iya. Ini memang bukan kamar kita. Ini kamar hotel. Kita sekarang ada di Papua."


"Papua? Bagaimana kita kemari? Dan kenapa kita harus kemari?"


"Tanyakan pada dirimu sendiri kenapa kita sampai disini dan harus menginap satu kamar berempat seperti ini."

__ADS_1


"Jelaskan padaku? Aku benar-benar tidak mengerti. Aku tidak ingat apapun."


"Kau tidak ingat?" Tanya Nadiya.


Freya bangun dan bingung kenapa ada Prasetyo disampingnya. Dan mereka ada diranjang yang sama.


"Pras! Kau tidur disini?" Tanya Freya kepada Prasetyo.


"Freya? Kau ada disini?" Tanya Prasetyo kepada Freya seakan kaget dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Bagaimana kau tidur disampingku?"


"Nadiya! Jelaskan padaku apa yang terjadi aku benar-benar tidak mengerti. Siapa laki-laki itu? Bukankah dia akunting diperusahaanmu?"


"Iya. Dia Pak Arya. Apalagi yang akan kau jelaskan? Kau terus saja berpura-pura amnesia dan kau menyelinap dikasur kami."


"Ini tempat tidur kita Nadiya! Tanyakan kepadanya kenapa dia tidur diantara kita?" Kata Prasetyo menunjuk kearah Freya.


"Aku? Kenapa kau malah menyalahkan aku? Apakah kau......" Freya curiga jika ingatan Prasetyo sudah kembali.


"Kau yang ingin ikut denganku kesini bukan?"


"Ikut denganmu? Untuk apa?" Kata Prasetyo.


"Tidak! Siapa yang bilang begitu?" Jawab Prasetyo.


Kemudian Freya membisikan sesuatu ketelinga Nadiya.


"Benarkah?" Tanya Nadiya dengan mata melebar dan bercahaya.


"Pras! Siapa aku?"


"Hahahaha! Kau amnesia? Kau lupa siapa dirimu? Kau Nadiya bukan?" Kata Prasetyo sambil tertawa dan memegangi keningnya dengan kedua tangannya.


"Maksudku...apakah kau ingat dengan Edsel dan juga Eiden?" Tanya Nadiya ingin tahu apakah ingatan Prasetyo sudah kembali?


"Iya. Dimana mereka? Aku tidak melihat mereka, apakah mereka ikut kemari?"


"Tidak." Jawab Nadiya sambil menggelengkan kepalanya.


"Apakah kau sudah sembuh Pras?"


"Emang aku sakit Nadiya? Aku merasa baik-baik saja."

__ADS_1


"Kemarin kau menderita amnesia, apakah sekarang kau sudah ingat sesuatu. Maksudku tujuh tahun yang lalu? Apa yang terjadi denganmu selama tujuh tahun terakhir ini?" Nadiya masih ragu untuk mengatakan jika dia adalah istrinya. Dia takut jika Prasetyo belum pulih dan akan membuat kinerja otaknya menjadi berat untuk mengingat moment yang dia lupakan.


"Tujuh tahun lalu..." Prasetyo berpikir dan memejamkan matanya. "Tujuh tahun lalu....apa yang kulakukan? Aku tidak ingat. Kepalaku malah pusing. Nadiya! Kepalaku sangat pusing!" Akhirnya Prasetyo pingsan setelah sekuat tenaga memegang kepalanya yang berputar.


"Pras! Pras!" Nadiya panik dan langsung menghubungi rumah sakit terdekat untuk memesan kamar rawat inap.


"Kita harus membawanya kedokter! Sekarang juga! Pak Arya bantu saya mengangkat suami saya." Kata Nadiya sambil berusaha membopong Prasetyo.


"Sepertinya ambulan sudah datang."


Mereka kemudian membawa Prasetyo kerumah sakit dan dokter langsung melakukan tindakan untuk dirinya. Nadiya menjelaskan kepada dokter tentang apa yang baru saja terjadi dan dialami oleh Prasetyo.


Dokter kemudian keluar dan membiarkan pasien beristirahat.


"Saya sudah menyuntikan obat, biarkan pasien beristirahat. Sepertinya Pak Prasetyo sempat mengingat sesuatu dan saat ini dia sedang bingung dengan informasi yang bercampur aduk didalam pikiranya. Mungkin tadi ingatannya sempat kembali namun belum begitu sempurna. Semoga saja tidak ada komplikasi, sehingga ingatannya benar-benar kembali." Kata Dokter.


"Terimakasih dokter." Kata Nadiya.


"Kalian pulanglah kehotel. Aku akan menunggu Prasetyo disini." Kata Nadiya.


"Baiklah. Jika kau membutuhkan sesuatu, hubungi kami." Kata Arya dan juga Freya.


Nadiya mengangguk dan masuk kedalam kamar Prasetyo. Nadiya kemudian duduk disamping suaminya.


Nadiya menatap kening, hidung hingga bibir suaminya dengan lembut. Dalam hatinya menaruh harapan besar agar ingatannya kali pulih saat siuman nanti. Dan mereka bisa kembali ke Jakarta jika memang Prasetyo sudah mengingat semuanya.


Dua jam telah berlalu.


Telepon berbunyi.


"Halo Mami...."


"Bagaimana keadaan kalian?" Tanya Ibu Monic.


"Kami baik-baik saja mi...Bagaimana keadaan Edsel dan juga Eiden?" Tanya Nadiya yang merindukan kedua anak kembarnya.


"Mereka sedang main ditaman. Apakah mami bisa bicara dengan Prasetyo?"


"Sepertinya sekarang Prasetyo sedang tidur mi. Nanti kalau Prasetyo bangun, Nadiya akan kabari mi." Kata Nadiya yang terpaksa harus berbohong agar ibu mertuanya tidak kepikiran dan khawatir.


"Ya sudah kalau begitu, mami tutup teleponya ya."


Nadiya kemudian menatap Prasetyo kembali dan dilihatnya tangan Prasetyo mulai bergerak perlahan-lahan.

__ADS_1


Nadiya menunggu reaksi selanjutnya. Namun lama sekali sampai akhirnya Prasetyo membuka matanya dan menatap Nadiya.


__ADS_2