
Tiba-tiba Sasha nekat mencium bibir Andro....
Dia menggila dan akalnya benar-benar hilang akibat minuman itu.
"Sasha...." bisik Andro ditelinga Sasha saat ciumannya semakin tidak terkendali.
Sasha seperti menuntut lebih dari sekedar hanya ciuman saja.
Tangannya bahkan menggenggam tangan Andro dan mengarahkannya untuk memegang titik sensitif lainya.
Andro sangat senang sekali karena Sasha benar-benar menggila. Dia sangat agresif dan diluar dugaan.
"Mas...." kata Sasha sambil melepaskan kemeja Andro.
Sasha memeluknya dengan sangat erat dan membiarkan dirinya hanyut dalam panas darahnya.
Lalu....( sampai disini saja ya, kalian bisa berimajinasi sendiri, apa yang terjadi selanjutnya).
Sasha dan Andro terhempas berulang kali hingga Sasha merasa lelah dan lemas.
Sasha lalu tertidur pulas disamping Andro.
Mereka semalaman disana. Hingga pagi harinya, saat matahari menerobos masuk menyapu wajah mereka berdua, merekapun bangun secara bersamaan.
Mereka saling berpandangan dan saling melihat satu dengan yang lainya.
"Mas?" Sasha sangat kaget karena satu ranjang dengan seniornya.
"Sasha!?"
Sasha lalu meraih selimut dan menyadari jika mereka telah melakukanya.
Ada bagian dari tubuhnya yang terasa sangat ngilu dan perih.
Sasha lalu menangis karena menyadari telah melakukan kesalahan besar.
Dia menangis sesenggukan.
"Sasha maafkan aku. Tadi malam kita mabok dan kau terus memintanya, aku tidak kuasa menolaknya. Kau terus saja meminta hal itu. Maafkan aku Sasha." kata Andro berpura-pura baik.
Karena selama ini Andro memang menunjukan sisi lain dari dirinya. Dihadapan Sasha dia begitu baik dan sopan. Tidak terlihat sedikitpun betapa kurang ajarnya dan liarnya pikiranya.
Sasha terus menangis dan sedikit banyak dia ingat jika dia juga bersalah.
Namun dia tidak pernah sadar jika dia meminum obat perangsang. Dia pikir dia memang mabok dan bertindak diluar akal sehatnya.
"Jangan menangis....maafkan aku...aku tidak bermaksud melakukan semua ini. Tapi kau terus menginginkannya dan menyerangku. Aku tidak bisa mengendalikan diriku." Andro masih berpura-pura baik seakan dia adalah korban.
"Aku akan keluar."
Kata Andro lalu memakai kemejanya dan keluar dari kamar itu. Andro duduk diruang tamu dan menatap kejendela lalu mengirimkan pesan pada temanya.
"Jangan kembali. Thanks! Sungguh luar biasa. Aku sudah mengirimkan kerekeningmu. Pergilah keluar kota selama satu Minggu. Jangan terlihat didepanku!"
sending....
Done!
__ADS_1
Pesan terkirim dengan cepat.
Andro sengaja membiarkan Sasha sendirian dikamarnya.
Dia masih menunjukan sisi lain dari kepribadianya.
Sasha tersedu-sedu sendirian, dan menyesali apa yang sudah terjadi pada dirinya saat ini.
Dia melepaskan selimut yang menutupi badannya lalu melihat disebagian dadanya penuh tanda kepemilikan.
Dia menghela nafas dan berusaha mengontrol dirinya. Dia juga bersalah karena tidak mawas diri. Dan untuk menyalahkan seniornya dia terlalu malu.
Bukankah tadi seniornya sudah mengatakan jika dia yang memulainya? Mendengat ucapanya saja sudah membuat telinganya meradang.
Aaaaakkkk! Dia menjerit.
Aaaahkkkkkk!!!
Sasha menjerit berulang kali. Namun seniornya sedang keluar dari kamar itu sehingga tidak mendengar jeritannya.
Seniornya sedang menemui seseorang diparkiran mobil.
Namun pintu itu tertutup rapat, siapa yang akan mendengarkan jeritannya.
Dan kepada siapa dia akan mengadu jika dia tidak dalam naungan keluarga manapun.
Namun ternyata jetitannya terdengar dari ruang sebelah. Dan kebetulan Arya, sedang ada disana. Dia malam ini menginap di hotel yang sama dengan Sasha.
Tapi mereka masing-masing tidak tahu jika mereka berada di satu hotel yang sama.
Arya berpikir dia jatuh atau kenapa sehingga membutuhkan bantuan seseorang.
Arya pun mendekati pintu dimana Sasha ada didalamnya.
Pintu itu rupanya tidak dikunci karena Andro sedang keluar menemui salah seorang temannya.
Arya lalu masuk perlahan-lahan. Tidak ada siapapun didalam.
Namun dari kamar lain masih didalam ruangan besar itu terdengar suara seorang gadis menangis sesenggukan.
Arya lalu mendengarkan dari luar pintu.
Aaaaakkkk!
Sasha menjerit histeris membayangkan apa yang sudah dilakukanya.
Arya lalu membuka pintu itu karena ternyata tidak dikunci.
Betapa terkejutnya dia saat buah hatinya ditemuinya dalam keadaan seperti itu.
Diapun langsung mendekat dengan sedih, marah, dan kecewa.
Dia langsung melepaskan jaketnya dan memberikannya kepada Sasha.
Sasha kaget saat tiba-tiba ada Arya disamping nya.
Kaget dan malu.
__ADS_1
Juga banyak sekali perasaan yang bercampur aduk tak menentu.
Sasha lalu bersandar pada bahu Arya dan menangis dibahunya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Arya saat dilihatnya dada anak perempuannya penuh dengan tanda kepemilikan.
Belum sempat Sasha menjawab....
Nggekkk!
Pintu terbuka.
Lalu tiba-tiba Andro masuk dan dia juga kaget saat ada orang lain disana.
Melihat Sasha yang menangis amarah Arya langsung meledak.
Tanpa bertanya apa sebabnya dia langsung memukul Andro dengan membabi buta hingga Andro terkapar tanpa sempat melawannya.
Bahkan Andro nyaris pingsan karena perutnya dipukul berulang kali.
Dia juga masih sadar saat Arya membawa Sasha keluar dari tempat itu.
Setelah puas menghajar Andro tanpa memberikan kesempatan dia berbicara sepatah katapun, Arya lalu mengajak Sasha keluar dari tempat itu.
Sasha yang masih menangis sesenggukan entah kenapa sebabnya lalu menurut saja saat diajak Arya keluar dari tempat itu.
Impiannya menjadi model belum terwujud, namun kesuciannya telah terenggut darinya.
Siapa yang harus disalahkan?
Keinginannya yang membuatnya tidak mawas diri dan berakhir dengan noda yang tertinggal dalam dirinya.
Arya tidak menanyakan apapun pada putrinya.
Dia tahu jika saat ini yang dibutuhkan putrinya hanya seorang yang mampu melindunginya tanpa banyak bertanya.
Dia butuh ketenangan.
Dia pasti terguncang.
Entah sejauh mana putrinya melakukan perbuatan yang dilarang, apakah hanya sebatas pusar keatas atau justru sudah melakukan layaknya suami istri.
Dia masih memberikan waktu agar putrinya tenang.
Dia takut jika putrinya nekat dan merasa dihakimi, sehingga justru membuatnya melakukan tindakan bunuh diri.
Dia juga paham, beberapa remaja bisa melakukan kesalahan.
Dan diantaranya adalah tidak mawas diri dan melakukan hubungan yang melanggar norma.
Dia berharap, putrinya masih suci dan belum ternoda.
Entah bagaimana dia bisa ada disana bersama pria yang sudah dewasa.
Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan itu semua.
Arya lalu membawa Sasha pulang kerumahnya.
__ADS_1