
Setiap hari mereka berlatih dengan giat. Latihan pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, dan seterusnya berjalan dengan lancar.
Hari ini adalah latihan yang terakhir. Sasha sudah ada dilapangan satu jam sebelum pelatih datang.
Biasanya Catrine juga sudah datang satu jam sebelum pelatih datang, dan mereka akan pemanasan bersama-sama.
"Pagi pak!" Sapa Sasha saat melihat pelatih sudah datang dilapangan.
"Pagi!"
"Mana Catrine? Tumben belum datang. Ini latihan terakhir loh!" kata pelatih lalu mengambil handphone disakunya.
"Halo...."
"Ya. Nanti saya akan segera kesana."
"Ini latihan terakhir."
"Baiklah saya mengerti."
Pelatih itu lalu menutup handphonenya.
Pelatih menunggunya hingga hampir 1 jam.
"Ayo kita mulai saja! Dia tidak datang." Kata pelatih kepada Sasha.
"Baik pak."
Catrine sedang pesta di salah satu apartemen milik papinya.
Dia tidak latihan karena merayakan kebahagiaanya. Dia berpesta bersama teman-temannya.
Ternyata dia sedang mengadakan pesta bersama teman-temannya dan tidak akan datang untuk latihan saat ini.
Dia sedang bersenang-senang merayakan dirinya yang akan ikut kompetisi lusa. Salah seorang teman Catrine mengirimkan pesan kepada Rossa.
Rossa lalu menyampaikan pesan itu kepada pelatih yang sedang berdiri di lapangan bersama Sasha.
"Pak, hari ini sepertinya Catrine tidak bisa ikut latihan." kata Rossa kepada pelatih agar tidak usah menunggu kedatangan Catrine untuk sesi latihan terakhir.
"Ya sudah kalau begitu. Sasha berlatih sendirian saja," ujian ujar pelatih tanpa terlihat kesal dan marah.
"Saya sudah siap!" kata Sasha sambil berdiri dalam posisi siap.
"Ya sudah kalau begitu, kita akan memulai dengan pemanasan kaki dulu," kata Pelatih itu sambil melihat jam di tangannya.
Mereka pun melakukan peregangan kaki agar pergelangan kaki lentur dan tidak kaku juga tidak terjadi keseleo saat berlari cepat dan lama.
Setelah selesai melakukan pemanasan Sasha berlari, sementara pelatih duduk dan menunggu di pinggir lapangan.
Ada Rossa juga di sana yang sengaja menunggu Sasha dan memberikan dukungan padanya.
"Aku selalu suka semangat Sasha dan aku tidak suka Catrine yang mudah puas dengan kemampuannya, di situlah kelemahannya, dia selalu meremehkan kekuatan lawan sehingga membuat peluang bagi lawan untuk mengalahkannya." kata pelatih tersebut sambil terus memperhatikan bagaimana Sasha berlari dan tetap semangat meskipun dia hanya menjadi pelari cadangan.
"Bapak benar Sasha sangat ingin mengikuti kompetisi ini dan ingin menjadi salah satu bintang iklan dan menjadi model dengan segudang prestasi. Namun saya telah merampas impiannya."
"Maksud kamu?" tanya Pelatih itu kepada Rossa.
Rossa berkata dengan kesedihan dan penyesalan yang mendalam.
"Saat itu Catherine bertanya kapan Sasha latihan untuk pertandingan? dan saya mengatakan jika dirinya berlatih pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit." kata Rossa dan berpikir sejenak.
Haruskah aku jujur pada pelatih ini? Tapi aku sudah tidak sanggup lagi menyimpan semuanya seorang diri.
"Lalu apa yang terjadi?" tanya pelatih itu sambil menatap dengan serius ke arah Rossa.
"Lalu tiba-tiba saya melihat Sasha digerbang asrama dengan kaki yang terluka. Ada orang misterius yang menabraknya."
__ADS_1
Kata Rossa sambil menatap Sasha yang berlari didepannya.
Sasha menoleh sebentar ke arah mereka dan tersenyum kearah mereka yang sedang asyik mengobrol. Sasha juga senang melihat sahabatnya ada disana untuk menemaninya latihan.
Mereka pun melambaikan tangannya kepada Sasha.
"Maksudmu ada orang yang sengaja mencelakai Sasha berdasarkan informasi yang kamu berikan?" kata Pelatih itu.
"Benar! Kemungkinan yang mencelakai Sasha adalah orang yang tidak ingin dia menang dan mewakili Universitas ini." kata Rossa sambil menatap kearah rumput didepanya.
"Lain kali jangan berikan informasi penting atau apapun tentang sahabatmu!" kata Pelatih itu kemudian berdiri karena waktu latihan sudah habis.
"Hari ini cukup sampai disini saja, besok kita tidak latihan, kau jangan pergi ke mana-mana, tetap di kamarmu dan kau akan datang ke acara di tempat yang tertera dalam undangannya. Sampai di sana tepat waktu jangan terlambat! Aku percaya padamu. Kau harus datang ke sana sebelum acara dimulai." kata Pelatih itu kepada Sasha yang sudah selesai latihan dan saat ini sedang berdiri didepan pelatih.
Sasha lalu membungkukkan badannya dan memberikan salam penghormatan dan juga terima kasihnya kepada Pelatih itu karena telah sabar melatihnya selama ini.
Mereka pun berpikir dan akan bertemu di tempat pertandingan itu lusa.
Disepanjang jalan di Amerika sudah ramai pengunjung terutama dari kalangan mahasiswa yang ingin menonton perlombaan lari maraton dan juga memberikan dukungan kepada teman yang mewakili universitasnya.
Hari ini semua orang terlihat begitu bahagia karena mereka akan menonton lomba lari maraton antar Universitas 1 Negara.
Setiap universitas mengirim 2 orang untuk mengikuti pertandingan 1 putra dan 1 Putri.
Menteri sudah duduk di kursi bersama pelatih yang juga duduk menemaninya dari tadi. Mereka sengaja datang lebih sebelum para mahasiswa itu membludak dipinggir jalan ditempat penonton umum.
Pelatih terlihat begitu tenang, tidak dengan Menteri yang nampak gelisah karena Catrine katanya mau berangkat lebih awal tapi malah belum sampai di tempat acara.
Beberapa teman satu universitasnya bahkan sudah berdiri dan berkumpul disana. Dari jauh terlihat juga Sasha sudah ada diantara para pelari cadangan. Namun tidak nampak Catrine dimana-mana.
Hal itu membuat Menteri menjadi gelisah dan berusaha menghubunginya.
Menteri lalu menghubunginya berkali-kali namun tidak mendapat jawaban.
Handphone Catrine sepertinya dimatikan, padahal pertandingan akan dimulai 15 menit lagi.
Pelatih juga heran karena tidak melihat kehadiran Catrine di sana.
Menteri khawatir melihat sisa waktu yang semakin dekat dan sekarang tinggal 15 menit lagi, namun Catrine juga belum terlihat di antara para pelari yang sedang pemanasan di belakang garis start.
"Kenapa Catherine belum datang?" tanya pelatih kepada Menteri.
"Entahlah! Harusnya dia sudah datang saat ini. Tapi kenapa dia bisa ceroboh seperti ini," kata menteri dengan kesal.
Pelatih pun berinisiatif untuk menelepon Catrine. Namun ternyata tidak ada jawaban.
Pelatih lalu menatap Menteri dan mengangkat bahunya. Menteri terlihat semakin cemas dan khawatir.
"Sekarang tinggal 5 menit lagi," kata pelatih itu.
"Jika Catrine tidak datang dua menit lagi maka terpaksa kami menggunakan pelari cadangan untuk maju ke depan." kata pelatih tersebut.
"Kau benar, ini pertandingan bergengsi tapi putrimu bahkan tidak datang diwaktu yang tepat," kata Rektor yang tidak mau kehilangan kesempatan untuk ikut berkompetisi dan bahkan peluang untuk membawa pulang piala.
"Tinggal 3 menit lagi." kata Pelatih itu sambil tersenyum.
"Panggil pelari cadangan!" titah Rektor kepada pelatih.
"Baik Sir." Kata Pelatih lalu berjalan kearah Sasha yang sedang terlihat bingung juga karena Catrine tidak terlihat dimana-mana.
Pelatih berjalan mendekati Sasha.
"Kenapa Catrine belum datang padahal pertandingan sebentar lagi akan dimulai?" kata Sasha saat dia lihat pelatih datang kearahnya.
Sasha juga turut cemas dan merasa aneh melihat pelatih datang dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Seakan ketidakhadiran Catrine bukan masalah baginya.
__ADS_1
"Pergilah ke sana dan bergabung dengan pelari lainnya! Kau akan menggantikan Catherine."
Haaa?
"Jangan sia-siakan harapan kami!" kata pelatih sambil menatap tenang ke wajah Sasha.
Apa?
"Saya akan menggantikan Catrine!?"
Sungguh sebuah mukjizat! Ini luar biasa.
"Benarkah?"
Tanya Sasha seperti tidak percaya jika akhirnya akan mewakili universitasnya untuk ikut berkompetisi lari maraton dan mendapatkan kesempatan menjadi bintang iklan.
Pelatih itupun mengangguk sambil tersenyum.
"Kau siap?"
"Tentu! Saya tidak akan mengecewakan bapak dan semua yang sudah mendukung saya."
"Doakan saya Pak! Restumu sangat berarti bagi saya." kata sasa dan menyentuh kaki pelatihnya.
"Semoga berhasil!" kata Pelatih itu sambil menepuk bahu Sasha.
Sasha pun langsung berlari ke belakang garis start dan berdoa di sana sebentar.
Setelah itu dia meregangkan kaki nya sebelum panitia meniup peluit nya agar semua peserta berada di garis start.
Saat ini Panitia sudah mengumpulkan semua peserta dan memberikan aba-aba kepada mereka.
Setelah itu panitia meniup peluit lebih panjang, dan semua peserta berlari dengan kecepatan penuh.
Semua bersemangat ingin menang. Ratusan pelari hanya fokus melihat kedepan dan mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk hari ini.
Sasha juga berlari dengan segenap kemampuannya.
Satu jam mereka berlari dan semua masih terlihat segar dan kokoh setelah melewati setengah jarak tempuh.
Mereka terlihat mulai lelah dan kecepatannya semakin berkurang, 3/4 jarak yang ditempuh terlihat hanya 10 peserta yang bersaing di urutan paling depan. Dan sebentar lagi mendekati garis finish tinggal 5 peserta yang berusaha saling mendahului dan menambah kecepatan larinya.
Saat ini Sasha berlari di urutan nomor 4 dari depan.
Sasha pun menambah kekuatan dan mengatur nafasnya agar hatinya tenang dan benar saja setelah tidak tegang dia bisa menyalip 2 peserta dan saat ini Sasha berada diurutan nomor dua dari depan.
Semua pendukungnya terus berteriak dan menyemangatinya.
Mereka bernyanyi dan menari karena Sasha berada diurutan nomor dua.
Pelatih pun tersenyum penuh kebahagiaan karena dia yakin Sasha punya kemampuan diatas rata-rata.
Dia tidak mudah menyerah dan tidak menyepelekan lawannya. Saat ini dia membuktikan kemampuanya.
Pelatih lalu menoleh kesamping dan Menteri sudah tidak ada disampingnya.
Pasti saat ini Menteri sedang mencari putrinya yang entah ada dimana.
Mereka semua berusaha agar Sasha tidak bisa ikut pertandingan namun pelatih yakin jika dia bisa membuat Sasha mengikuti kompetisi ini. Dan hanya pelatih yang tahu apa yang sudah dilakukanya agar Sasha bisa mengikuti kompetisi ini.
Semua menjadi rahasia besar pelatih yang percaya pada kemampuan muridnya. Banyak yang meragukanya namun pelatih yakin hanya dia yang bisa membawa pulang piala itu.
Entah dimana Catrine berada saat ini?
Seseorang pasti sudah membuatnya tidak datang ke acara dengan sengaja.
Dan ingin agar Sashalah yang bertanding mewakili universitas itu.
__ADS_1