Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Terjebak di lift


__ADS_3

Nadiya menelpon ke kantornya Prasetyo, karena dari rumah Jeslin, Nadiya akan langsung kekantornya.


"Pak Prasetyo belum kekantor hari ini, Bu." Kata Sekretarisnya.


"Baiklah, saya akan kesana."


"Baik Bu," jawab Sekretaris Prasetyo.


Nadiya melajukan mobilnya ke kantor Prasetyo. Dia lalu duduk didalam kantornya dan menunggu disana.


Tidak lama kemudian Prasetyo sampai di kantornya, dan sekretarisnya mengatakan jika didalam ada Bu Nadiya.


"Maaf pak, didalam ada Bu Nadiya sudah menunggu bapak."


"Apakah istri saya sudah dari tadi?"


"Tidak, pak. Bu Nadiya baru saja datang."


"Baiklah, terimakasih." Kata Prasetyo lalu masuk kedalam ruangannya.


"Kau darimana? Bukankah kau sudah pergi dari tadi?" Tanya Nadiya.


"Aku ada urusan sebentar. Apakah kau sudah lama menunggu?" Tanya Prasetyo.


"Tidak. Aku baru saja sampai. Dari rumah Jeslin aku langsung kemari."


"Ohh, baiklah. Apakah kau sudah makan?" Tanya Prasetyo.


"Sudah tadi."


"Ok. Aku akan melihat berkas tadi pagi. Apakah kau tidak keberatan?"


Nadiya menggelengkan kepalanya. "Bekerjalah, aku tidak akan mengganggumu. Aku hanya bosan dirumah. Sudah lama aku tidak kekantor. Jadi aku pikir aku mampir ke kantormu untuk berganti suasana."


Prasetyo menatapnya lalu mengangguk dan mulai terlihat sibuk dengan berkasnya.


Dua jam Prasetyo duduk tanpa berbicara. Dia hanya sesekali melirik Nadiya.


Nadiya nampak ketiduran disofa karena jenuh. Prasetyo lalu mendekatinya. Dia membelai rambutnya dan memegang pipinya.

__ADS_1


Nadiya kaget dan terbangun.


"Aku ketiduran dikantormu, maafkan aku? Apa ada yang melihatku tertidur tadi?"


Prasetyo diam, dan mulai iseng untuk menggodanya.


"Ehm, coba aku ingat-ingat, ada beberapa pegawaiku yang masuk kemari tadi dan mereka melihatmu tertidur disini, lalu mereka langsung pergi."


"Apa!?" Nadiya nampak salah tingkah.


"Apakah aku mengeluarkan suara aneh?"


"Suara? Maksudmu suara apa?" Prasetyo menatap Nadiya yang terlihat salah tingkah.


"Maksudku, ya suara....suara aneh atau apakah saat tidur aku terlihat jelek?"


"Hehe, kau tadi mengeluarkan suara aneh seperti orang mendengkur, suaranya sangat keras hingga aku tidak bisa konsentrasi bekerja."


"Benarkah?!" Nadiya langsung meninggikan suaranya.


"Ahk tidak mungkin! Mana mungkin aku mendengkur, aku tidak mungkin tidur seperti itu. Kau pasti berbohong!" Kata Nadiya sambil mengerutkan keningnya.


"Karena jawabanmu tidak seperti yang aku inginkan. Harusnya kau bilang, meskipun tertidur aku tetap terlihat cantik. Tapi kau malah bilang jika aku mendengkur sangat keras. Kau sangat memalukan...." Nadiya kesal dan pipinya memerah.


"Ehem, kau tetap cantik, saat kau tidur ataupun saat kau berkeringat."


"Ahk, kenapa kau bilang begitu sekarang? Kau ini....." Kata Nadiya lalu merapikan rambutnya.


"Ayo kita keluar, kita langsung makan saja." Kata Prasetyo.


"Tapi....apakah semua pegawaimu sudah pulang?"


"Sudah. Mereka semua sudah pulang."


Nadiya dan Prasetyo lalu keluar dan masuk kedalam lift. Tiba-tiba sampai dilantai tiga, lampu lift mati dan liftnya terhenti.


"Pras! Liftnya kenapa ini?" Nadiya mulai panik.


Prasetyo lalu memencet tombol emergency.

__ADS_1


"Kami terjebak didalam lift, dilantai tiga, bisa tolong segera berikan bantuan?" Kata Prasetyo lalu menatap Nadiya yang panik.


"Kami akan segera memberikan bantuan."


Prasetyo lalu berjalan mendekati Nadiya. Dan tiba-tiba lift itu bergoyang.


Greeeekkkk!


Greeeekkkk!


"Pras!" Nadiya lalu mendekap Prasetyo.


Tiba-tiba pintu lift terbuka saat mereka berpelukan. Dan diluar banyak orang yang melihat mereka didalam lift dalam keadaan pelukan.


Orang yang melihatnya nampak tersenyum dan menatap mereka berdua.


Nadiya sadar jika saat ini dia sedang memeluk Prasetyo sangat erat. Dan diapun melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah.


Prasetyo lalu menggandeng Nadiya keluar dari kantornya dan tersenyum pada beberapa orang, yang melihat adegan romantis itu layaknya sebuah adegan dalam film secara gratis.


Nadiya berjalan dengan tertunduk karena malu.


"Kau ini bagaimana sih? Kantor elite begini tapi liftnya bisa rusak."


"Itu hanya kebetulan saja. Setiap hari aku menggunakannya dan baik-baik saja."


"Hampir saja jantungku copot, belum lagi tadi mereka menatapku seperti aku ini sedang bermain drama saja."


Prasetyo tersenyum tipis, dan menatap Nadiya lalu mengecup bibirnya saat dia berada didalam mobil.


"Aku tadi hampir menciumu didalam lift, tapi liftnya keburu terbuka."


"Jika kau melakukan itu, dan pintunya terbuka, maka aku tidak akan pernah datang kekantormu lagi. Atau mereka akan selalu tertawa saat melihatku."


"Hahahaha kau ini lucu sekali. Bukankah kita suami istri. Kenapa mereka harus tertawa. Mereka juga bisa melakukanya pada pasangan mereka masing-masing."


"Karena itu tempat umum."


Prasetyo masih tertawa kecil saat mengingat lift itu tiba-tiba terbuka. Hampir saja dia mencium Nadiya disana. Karena dia pikir akan lama memperbaikinya. Tapi ternyata hanya dua menit, lift itu kembali terbuka.

__ADS_1


__ADS_2