
Sore harinya semua orang sudah berkumpul untuk mendengarkan apa yang akan Nadiya sampaikan.
Nadiya hanya akan menjelaskan secara singkat awal kejadian yang membuatnya harus melakukan sewa rahim atau ibu pengganti.
"Kenapa anda memilih ibu pengganti dan bukanya bayi tabung atau yang lainnya? Apa yang membuat anda harus memilih metode tersebut?" tanya seorang wartawan.
"Saya menderita kanker kandungan, dan hanya itu metode yang paling aman untuk dilakukan."
"Baik, bukankah sat anda menikah dengan Tuan Prasetyo, anda sudah punya seorang putra, lalu kenapa anda memutuskan untuk punya anak lagi, mengingat anda juga mengalami kesulitan saat mendapatkan anak pertama?" tanya wartawan perempuan.
"Karena saya ingin memberikan pewaris untuk keluarga suami saya. Dia muda, tampan, dan kaya, dia mencintai saya, itu adalah sebuah anugerah. Tentu saya ingin memberikan pewaris untuk keluarganya, karena dia adalah putra satu-satunya."
"Apakah ibu Monic tahu, saat anda memutuskan untuk menyewa ibu pengganti?" tanya wartawan yang lebih muda.
"Tidak. Kami merahasiakannya karena kami khawatir beliau akan menolaknya. Dan saat itu kami memberi tahu jika kami sudah melahirkan anak kembar."
"Kenapa anda tidak berterus terang dan mengatakanya diawal kehamilan anda?" tanya wartawan disebelahnya.
"Karena kami ingin memberikan kejutan, dan kami ingin memastikan bahwa proses ini berhasil." jawab Nadiya pelan.
"Dan siapakah ibu pengganti itu? Anda berjanji untuk mengatakanya kepada kami?" wartawan itu menagih janji Nadiya.
"Dia tidak ada disini. Saat ini dia sedang berlibur keluar negeri." Kata Nadiya.
"Apakah dia sahabat, teman atau saudara anda?"
"Bukan, dia adalah orang lain dan kami tidak mengenalnya sebelumnya."
"Baiklah, bolehkah kami tahu siapa namanya?"
Nadiya terlihat berfikir sejenak, lalu menoleh kearah Prasetyo. Prasetyo mengangguk sambil menggendong Aaron.
"Namanya Sandra." Kata Nadiya setelah Prasetyo mengangguk dan tersenyum padanya.
"Dimana Nona Sandra saat ini? Apakah dia ada disini dan apakah dia sudah menikah?"
__ADS_1
"Dia belum menikah, dia ada diluar negeri dan akan tinggal disana selama dua tahun."
"Jadi, dia masih lajang? Tapi, sayang sekali kami tidak bisa mewawancarai Nona Sandra."
"Kalian hasut bersabar dan menunggu dua tahun lagi." Kata Nadiya sambil tersenyum, dan entah kenapa dia merasa lega.
"Bagaimana tanggapan ibu Nadiya tentang sebagian masyarakat yang masih menentang soal ini pengganti?"
"Saya tidak akan berkomentar soal itu. Karena itu hak mereka."
"Baiklah, apakah yang terjadi setelah nona Sandra menyewakan rahimnya? Apakah dia sudah menikah saat ini? Karena dia, maksud saya sudah mengandung bahkan sebelum dia menikah. Dengan kata lain, apakah ada seorang calon suami yang mau menerimanya setelah apa yang beliau lakukan?"
"Maafkan saya, untuk pertanyaan seperti ini, mohon tanyakan langsung pada yang bersangkutan. Kalian bisa menunggu nona Sandra kembali."
Nadiya lalu bangkit dari tempat duduknya dan akan meninggalkan tempat itu.
"Saya rasa, hati ini cukup sekian, dan.... terimakasih."
"Tapi...tunggu...Bu Nadiya....!" Panggil beberapa wartawan.
Nadiya tidak ingin melanjutkan wawancara lagi karena dia merasa sudah memberikan klarifikasi atas berita simpang siur yang berkembang akibat kasusnya.
"Sekarang kita akan kekantor polisi!" Kata Nadiya karena harus menandatangani beberapa berkas terlebih supaya Joan dan siapa yang memberikan jaminan padanya merasakan akibatnya karena telah melakukan perbuatan yang buruk pada orang lain.
"Menurutmu, siapa yang ada dibalik Joan? Aku dengar dia menyuruh orang untuk mencelakaimu." Kata Prasetyo pada Nadiya.
Nadiya lalu bergantian menggendong Aaron. Prasetyo merasa lelah karena dia tidak mau turun dari gendongannya.
"Pasti orang yang ingin menggantikan posisimu." jawab Nadiya.
"Kita akan segera tahu siapa orangnya setelah polisi melakukan penyelidikan dan menumpulkan cukup bukti untuk keterlibatannya."
Begitu sampai dikantor polisi Nadiya dan Prasetyo sangat terkejut saat melihat sepupu Prasetyo ada disana untuk dimintai keterangan.
Ada bukti transfer dari rekeningnya kerekening Joan belum lama ini. Dan mereka tidak melakukan kerja sama apapun. Jadi uang yang ditransfer itu dipertanyakan untuk apa. Dan polisi segera tahu tanpa membutuhkan waktu lama.
__ADS_1
Dia juga yang sudah menjamin kebebasan Joan. Apalagi dia juga menjadi kandidat calon CEO Minggu depan. Semua pasti ada kaitannya dengan kecelakaan Nadiya.
"Kau ada disini?" Tanya Prasetyo pada sepupu yang juga mendaftarkan diri menjadi kandidat CEO.
Orang itu langsung membuang mukanya tanpa menoleh pada Prasetyo. Apalagi urusannya dengan kepolisian sudah selesai. Tanpa berpamitan dia langsung pergi begitu saja.
Nadiya terheran-heran melihatnya.
"Apakah dia selalu seperti itu?"
"Ya, dia ingin menggeser posisiku sejak dulu, tapi belum pernah berhasil."
"Pantas saja dia sampai melakukan tindakan yang tidak benar demi bisa menggantikanmu."
"Mari duduk pak Prasetyo dan Bu Nadiya." kata seorang anggota polisi saat tamunya sudah pergi.
Nampak Nadiya menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan, begitu juga dengan Prasetyo.
Lalu saat akan pergi dari tempat itu dia melihat Joan baru saja dibawa oleh dua anggota polisi dengan muka yang lebam karena dihajar oleh Ardy.
Hhhhhh, ckckck,
Nadiya menatap Joan dengan sinis, karena dia sudah kelewatan dan nekat menabraknya.
Jika tidak ada Sasha, mungkin Nadiya sudah tiada saat itu juga.
"Pantas saja Dara menceraikanya, begitu juga Karina, dia punya sisi hitam seperti psikopat."
Gumam Nadiya sendirian, Prasetyo yang melihat perubahan wajah Nadiya langsung mengajaknya keluar dari tempat itu.
"Ayo kita pulang sekarang!" Ajak Prasetyo.
"Kita akan kemana?" Tanya Nadiya.
"Kita akan kerumah sakit. Aaron biar bertemu ibunya, hari ini perban dimulainya akan dilepas. Sehingga Aaron bisa mengenali wajah ibunya."
__ADS_1
Nadiya mengangguk lalu berjalan bersama Prasetyo kemobil. Mereka akan menuju rumah sakit.