Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
CEO yang berhati dingin


__ADS_3

Dua tahun kemudian...........


"Letakkan semua berkas disitu!" Perintah CEO yang baru dengan nada tegas tanpa senyum.


"Baik Bu." Sekretaris itu tak berani menatapnya. Dan tak ingin berlama-lama berada didekatnya. Tak ada yang suka padanya. Perintahnya harus dilakukan dengan segera dan tak ada yang berani menundanya. Jika berani siap-siap diskor atau gajinya akan langsung dipotong.


Tak ada yang suka berpapasan dengannya. Semua bawahannya lebih suka menghindar dari pada berpapasan atau menyapanya. Jika CEO itu lewat mereka akan pura-pura tidak melihatnya meskipun wajahnya cantik dengan riasan yang super glamor tapi senyumnya seperti singa yang akan menerkam.


Kata-katanya adalah titah yang harus dilaksanakan, jika berani mengkritiknya maka harus siap dengan segala konsekuensinya yaitu surat pengunduran diri.


Namanya Nadiya pewaris PT Alexander dan menjabat sebagai CEO sejak dua tahun ini. Terkenal tidak memiliki hati dan mendapat julukan wanita penyihir. Jika bisa melihat dia tersenyum itu adalah suatu keajaiban dan keberuntungan baginya. Selama dua tahun tidak satupun pegawai melihatnya tersenyum.


Hampir separo pegawai kantor telah dipecat dan diganti dengan yang baru. Semua harus bekerja sesuai dengan aturanya. Disiplin adalah mutlak baginya. Tidak ada gosip yang boleh beredar selama dikantor apalagi terlambat dengan alasan klasik, macet dijalan.


"Hari ini rapat jam 13.00. Tidak boleh terlambat! Semua harus sudah ada disana jam 13.00. Lebih dua menit, tidak bisa ikut rapat. Mengerti!?" Nadiya berkata dengan suara tegas dan jelas.


"Baik Bu." Jawab pegawai diruangan itu.



Nadiya berjalan dengan anggun dan berwibawa mengelilingi setiap ruangan sambil memeriksa apa yang dilakukan pegawainya. Tak ada yang berani berkumpul dan bergosip sejak Nadiya menjadi CEO diperusahaan tersebut. Tapi kelebihanya adalah gaji mereka naik dua kali lipat, apalagi bagi yang bekerja dengan loyalitas tinggi, selain gajinya naik maka akan mendapatkan bonus tambahan.


Derap langkahnya seperti berirama memecah keheningan. Semua orang bisa menebak siapa yang sedang berjalan.


"Suara apa itu berisik sekali!" Kata Nadiya saat salah seorang pegawainya lupa mematikan dan menyetel mode silence di hpnya. "Matikan!"


Semua pegawai menoleh kearah suara itu. Dan ternyata itu adalah pegawai baru yang menggantikan pegawai lama yang baru dipecat.

__ADS_1


"Cepat matikan!?" Kata pegawai lama yang berada didekatnya.


"Ini?"


"Huh! Iya!" Dasar! pegawai yang baru sepertinya agak oon alias telat mikir tapi dipekerjakan oleh Nadiya. Pegawai yang lain sampai tidak habis pikir apa kelebihanya. Baru pertama bekerja aja sudah melakukan kesalahan. Dan susah diajak ngomong. Kacamatanya tebal dan pakaianya juga culun. Tapi dia memegang jabatan akunting di perusahaan tersebut.


Waktu istirahat tiba......


"Aku ngga habis pikir. Apa coba kelebihan si Danar itu? Lihat caranya berpakaian? Kacamatanya setebal itu? Apa dia bisa melihat dengan jelas saat mencatat angka dan data. Sebentar lagi juga dipecat." Gerutu temanya.


"Iya kenapa ibu Nadiya memperkerjakan si Danar yang notabene tidak kelihatan kompeten sama sekali."


"Entahlah! Kita lihat saja besok atau lusa. Pasti kursi itu akan dilelang lagi."


"Sudah yuk cabut! Nanti kena terkam kau!"


"Saya tidak melihat Johana! Dimana dia?"


"Mungkin masih makan Bu."


"Suruh keruangan saya."


"Baik Bu. Segera saya sampaikan kalau Johana sudah datang."


Semua pegawai terdiam dan tangan mereka menjadi dingin. Apa kira-kira yang akan terjadi pada nasib Johana teman mereka. Mata Nadiya seperti elang yang akan nenerkam saat ada satu pegawainya tidak disiplin dan tepat waktu.


"Sudah saya katakan berkali-kali! Hargailah waktu! Waktu adalah?"

__ADS_1


"Uang!" Si Danar menjawab saat akan menyerahkan berkas pada Nadiya. Semua pegawai yang mendengar ucapan menahan tawa tanpa berani bersuara, sehingga membuat perut mereka sakit. Karena terpingkal-pingkal dalam hati.


"Ya! Betul kamu! Kamu mendapat kartu peringatan dari saya. Simpan baik-baik dan ingat tiga kartu yang kamu dapatkan akan mengantarkanmu kemana?" Nadiya marah sambil menghardik dengan tatapan yang siap menghunus bagai pedang.


Johana gemetar sampai menahan kencing. Jika dia dipecat, bagaimana nasib keluarganya. Dia sangat membutuhkan pekerjaan ini. Akhirnya Johana meneteskan sesuatu berwarna kuning dan tercium bau pesing.


"Bau apa ini?" Tanya Nadiya masih dengan suara lantang.


"Sa....saya kencing dan saya tadi buru-buru sehingga sa...saya tidak tahan lagi."


"Ya sudah cepat kekamar mandi. Baunya seperti jengkol! Bikin saya mau muntah!" Kemudian Nadiya pergi meninggalkan ruanganya.


"Hai kamu! Bilang sama cs suruh bersihin ruangan saya!" Nadiya menyuruh pegawai baru yang tidak dia ketahui namanya karena terlalu sering berganti orang sehingga sulit mengingat nama mereka.


Pegawai yang mengetahui kejadian itu langsung menahan tawa didalam hatinya. Entah sudah berapa kali kantor Nadiya bau kencing karena pegawai yang gemetaran hingga terkencang di celana. Terlebih mereka yang sangat membutuhkan pekerjaan ini dan takut dipecat.


Nadiya kemudian mengambil beberapa berkas dan duduk disofa yang ada sudut ruangan itu. Dan itu adalah hal yang paling menyebalkan menurut pegawainya. Karena membuat pegawainya panas dingin jika berada didekatnya. Bahkan jika mau bersin saja terpaksa mereka menahanya karena takut bersuara dan mengganggu CEO itu.


Nadiya duduk dengan kaki yang disilangkan. Roknya pendek sehingga pahanya yang putih mulus dan jenjang sangat kelihatan. Namun tak satupun pegawai laki-laki yang berani melirik apalagi menatapnya. Atau bola mata Nadiya akan meloncat dan menampar matanya yang jelalatan.


Penampilannya sungguh luar biasa sempurna tanpa cacat cela. Tatanan rambut juga baju yang selalu berbeda setiap harinya. Perhiasan yang indah tak pernah terlihat sama dari hari ke hari. Bajunya pun dalam satu tahun tidak pernah ditemukan dengan warna atau model yang sama. Tak ada yang bisa menyamai pesonanya. Harga yang fantastis dan dandanan yang cetar membahana. Meskipun wajahnya cantik dengan riasan yang sempurna tapi tak ada satupun lelaki yang berani mendekatinya.


Tidak ada satupun temanya yang akan mengenalinya saat ini. Dulu dia begitu sederhana dengan riasan yang tipis dan baju biasa saja. Tapi sekarang rambutnya tertata disalon, baju dengan model terbaru, wajah dengan riasan tebal yang menambah kecantikanya juga sepatu yang memiliki hak tinggi dan matching dengan bajunya, membuatnya seperti model yang berjalan diatas catwalk.


Begitu keluar dari kantor sudah ada empat penjaga yang sudah menantinya dengan setia dan mendampinginya kemana-mana. Mereka adalah sopir dan tiga pengawal pribadi yang siap mempertaruhkan nyawa demi keselamatanya. Dua tahun yang telah merubah kehidupan dan sudut pandangnya. Merubah mimpi dan masa depanya. Merubah sikap dan hatinya. Mereka saat ini hanya mengenal Nadiya yang berhati dingin dan kejam. Sedikit toleransi dan tanpa ampun bila berurusan dengannya.


Bersambung.....

__ADS_1


Ikuti terus kisahnya dengan Nadiya yang berubah total dari wanita sederhana menjadi CEO Perusahaan ternama dan penampilan yang cetar membahana.


__ADS_2