
"Darimana ma?" Tanya Ardy karena melihat Nadiya sangat sibuk akhir-akhir ini.
"Iya pa. Mama cuma ada pekerjaan tambahan saja." Jawab Nadiya sekenanya. Karena tak mungkin dia jujur pada Ardy jika dia sedang sibuk mengurus Sarah dan Leo.
"Oh. Papa sih ngga keberatan. Cuma kan mama lagi hamil. Jadi lebih baik sering istirahat dirumah. Biar mama tetap sehat dan bayinya juga sehat." Kata Ardy yang mengkhawatirkan kesehatan Nadiya.
"Iya pa. Papa ngga usah khawatir. Mama akan menjaga diri mama dan kandungan mama agar tetap sehat."
"Gitu dong. Papa senang mendengarnya. Soalnya mama ni, sibuuukk aja sama hp. Terus mama juga sering pergi dalam waktu lama."
"Iya pa. Sekarang mama siapin makan malam dulu ya?" Ardy mengangguk sambil melihat koran yang ada diatas meja.
Nadiya mulai menata piring diatas meja makan. Dan sesekali melirik hp suaminya, kalau-kalau ada pesan dari Sarah, maka dia harus lebih cepat mengetahuinya.
"Sekarang ini banyak kasus perempuan bunuh diri karena hamil, dan tak ada yang bertanggung jawab."
"Masa sih pa?"
"Iya ni. Papa lihat dikoran. Ada yang membuang bayinya, ada yang membunuh bayinya, ada juga yang nekat bunuh diri."
Nadiya menghela nafas panjang, karena teringat dengan Sarah. Bagaimanapun dia juga tidak ingin Sarah sampai melakukan hal senekat itu. Tapi dia juga tidak mau Sarah menjadi bagian dari rumah tangganya. Apalagi berbagi suami denganya. Dadanya sesak saat mengatakan berbagi suami, rasanya seperti tertimpa runtuhan batu bata. Tidak! Aku tak bisa berbagi kasih dengan Sarah. Atau menjadikanya istri kedua Ardy. Itu tidak boleh terjadi. Hatinya berbisik pada dirinya.
"Tega kamu pa. Membuat noktah merah dalam perkawinan kita." Bisik Nadiya lirih.
"Apa ma? Tadi mama mengatakan sesuatu?"
"Oh tidak pa. Mama cuma bingung aja dengan banyaknya berita dikoran yang membuat mama sedih mendengarnya."
"Oh iya. Namanya juga kehidupan ma. Pasti selalu ada cobaannya."
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya. Kemudian dengan cepat Nadiya membuka pintu. Sarah berdiri dan memegang sesuatu.
"Sarah?" Kata Nadiya mulai cemas. Ngapain Sarah kemari? Apakah Sarah akan mengatakan kehamilanya pada Ardy? Oh Tuhan. Semoga tidak.
"Iya Nad. Ini ada kiriman paket. Nyasar ke rumahku." Kata Sarah sambil membawakan sebuah kantong berusia paketan barang untuk Nadiya.
"Oh iya. Pantesan aku tunggu-tunggu kok ngga datang padahal akan dikirim hari ini."
"Tadi mungkin kerumahmu. Dan tidak ada orang, jadi kerumahku. Karena aku tahu ini pesananmu, dan ada namamu disana makanya aku terima dulu."
"Siapa ma?" Terdengar suara Ardy dari dalam.
"Ngga papa pa. Ini cuma paketan mama." Kata Nadiya sengaja ngga mau menyebut nama Sarah. Tadinya Sarah ingin masuk saat mendengar suara Ardy. Tapi sepertinya Nadiya sedang tak ingin menerima tamu.
"Ya sudah ya Nad, aku pulang dulu." Kata Sarah berpamitan, sambil matanya melirik kedalam dan hal itu tak luput dari penglihatan Nadiya.
Sarah masuk membawa paketan barang. Ardy melihatnya sekilas kemudian mulai bersiap untuk makan malam.
"Yuk pa, makan dulu. Ini makanan kesukaan papa." Kata Nadiya sambil memberikanya pada Ardy.
__ADS_1
"Iya ma. Papa cicipi enak sekali. Ini pasti mama yang masak." Kata Ardi memuji Nadiya.
"Iya pa. Tadi mama sengaja masak makanan kesukaan papa."
"Terimakasih ma. Mama memang istri yang terbaik." Kata Ardy sambil melahap makananya. hingga habis.
Mendengar Ardy memujinya sebenarnya hari Nadiya sangat senang dan berbunga-bunga. Tapi entah kenapa sulit sekali melupakan apa yang dia ketahui, tentang penghianatan suaminya. Selalu ada yang berdesir didalam hatinya setiap kali terlintas dalam ingatannya. Seperti ada yang menyayat hatinya dan terasa sekali sakitnya. Tapi Nadiya berusaha mengendalikan perasaanya. Atau impian mereka akan langsung hancur menjadi serpihan jika Nadiya membuka suara tentang penghianatan itu.
-------------------------
Dara juga sedang merasa sedih didalam kamarnya. Sendirian. Anaknya sedang bersama bibinya didalam kamarnya, sehingga tidak melihat jika ibunya sedang bersedih.
Noktah merah dalam perkawinanya juga kadang membuatnya merasa kosong dan hampa. Apalagi sudah satu Minggu Joan tak pulang kerumahnya. Alasanya karena ada ibunya Sofia yang menginap dirumah mereka selama satu bulan.
Jadi agar rahasia ini tetap terjaga Joan tetap berada disana selama mertuanya menginap. Hal ini tentu membuat hati Dara sedih dan merasa kesepian. Kadang Kiara menangis dan ingin menemui papanya. Tapi Dara harus selalu membuat alasan agar Kiara berhenti merengek.
Perjanjianya empat hari disini dan tiga hari disana. Tapi ini sudah satu Minggu disana. Hal ini tentu saja membuat Dara resah. Ada semacam rasa khawatir dan ketakutan akan sikap suaminya. Dara takut suaminya tidak menepati janjinya untuk bersikap adil. Dara juga jarang berkomunikasi dengan Karina. Jika sangat terpaksa baru Dara akan menghubunginya.
"Mama, Papa mana?"
"Masih kerja sayang."
"Kok lama?"
"Iya. Papa kerjaannya banyak. Jadi Kiara harus sabar dulu ya?"
"Ayo pergi ketempat Papa! Kiara mau papa!"
"Iya mama janji nanti akan mengajak Kiara untuk bertemu papa."
"Janji?"
Dara mengangguk. Kemudian Dara menggendong Kiara kekamarnya dan menemaninya bermain. Dara meraih ponsel ditasnya dan menulis pesan untuk Joan. 'Kiara sangat kangen, jadi temuilah sebentar.'
Dirumah Karina Joan sedang sarapan saat mendapat pesan tersebut. Kemudian Joan membalasnya dengan cepat. Ibu Sofia melirik dan memperhatikan Joan.
"Seperti biasa, Pulang kantor langsung kerumah dan kalian harus banyak istirahat. Supaya Karina lekas mengandung." Celetuk ibu Sofia. Ibu Sofia melihat gerak gerik Joan dan Karina seakan setengah hati untuk memberikanya seorang cucu.
"Iya ma." Joan dan Karina tidak mau berdebat dengan ibunya. Karina berangkat kekantor bersama Joan. Didalam mobil Karina bertanya siapa yang mengirim pesan?
"Siapa mas?"
"Kiara sangat kangen dan ingin bertemu. Tapi ibumu ada dirumah."
"Ya udah mas. Hari ini mas ngga usah kekantor. Mas temui Kiara dan mbak Dara aja. Nanti kalau balik jam kerja kita ketemuan dikantor."
"Kamu ngga papa kekantor sendirian?"
"Iya ngga papa mas. Aku bisa. Tidak usah khawatir."
__ADS_1
"Baiklah aku anter kamu kekantor dulu ya?"
Karina mengangguk. Kemudian sebelum menemui Kiara, Joan membelikan sesuatu sebagai oleh-oleh untuk Kiara.
Joan membuka pintu. Dan memanggil Kiara.
"Kiara.....Papa pulang....."
Duk!Duk!Duk! Kiara turun dari lantai dua dan langsung berlari memeluk papanya.
"Papa......Kiara kangen....." Kemudian Joan mengeluarkan sesuatu untuk Kiara.
"Ini hadiah untuk Kiara. Karena Kiara sudah menjadi anak yang baik."
"Terimakasih papa." Joan menggendong Kiara dan membawanya duduk disofa.
"Sudah sarapan belum pa. Kalau belum mama bikinin dulu."
"Sudah ma."
Dara tersenyum dan duduk disamping Joan. Dara juga begitu merindukanya. Kemudian Dara menaruh kepalanya pada bahu Joan dan bersandar sambil menatap wajahnya.
"Maafin papa ya ma."
"Iya pa."
"Ada ibunya Karina yang menginap hingga satu bulan. Dan terus mengawasi gerak-gerik papa. Papa jadi ngga bisa leluasa untuk menemui kalian."
"Iya pa. Mama ngerti. Gimana kabar Karina?" Dara juga ingin tahu perkembangannya. Dan melalui Joan Dara suka bertanya kabar Karina.
"Karina juga sangat pengertian. Karina yang menyuruh papa pulang kesini untuk menemui kalian. Dan hari ini papa ngga kekantor. Karina yang mengurus semuanya."
"Syukurlah pa. Kalau Karina juga mengerti."
"Ibu Sofia ingin Karina hamil."
"Apa!?" Dara juga kaget. Karena dulu Joan bilang tak ingin mendapatkan anak dari Karina. Cukup Kiara saja.
"Karina masih memegang janjinya. Dia tidak hamil."
"Apakah papa bahagia?"
"Tentu saja ma. Papa sangat bahagia. Karena semua impian papa sekarang sudah terwujud. Juga masa depan dan hidup Kiara yang lebih baik. Semua itu membuat papa bahagia. Bagaimana dengan kamu Ra? Apakah kamu bahagia?"
Dara terpaksa mengangguk. Meskipun sebenarnya dilubuk hatinya yang paling dalam, Dara merindukan kehidupan sebelum kehadiran Karina. Tapi demi menjaga perasaan suaminya, Dara menyimpanya.
"Mama juga bahagia selama papa bahagia."
Kemudian Dara dan Joan berpelukan. Kiara melihatnya dan tersenyum melihat kebahagiaan kedua orangtuanya. Kemudian Kiara mendekat dan berada diantara Joan dan Dara
__ADS_1