Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Terselamatkan


__ADS_3

Setelah mendapatkan kunci duplikatnya, Arya lalu mencari kamar yang dipesan pria tersebut.


Setelah sampai didepan pintu Arya langsung membuka kamar yang dipesan oleh pria itu.


Kletek!


Kunci berhasil dibuka.


Arya memutar handle pintu dan mendorong pintu itu hingga terbuka.


Didalam Sasha sedang meronta dan berusaha lepas dari cengkraman laki-laki itu.


"Jangan! Jangan dekati saya. Pergi dari sini!" Kata Sasha sambil menangis.


Namun laki-laki itu tidak mempedulikan Sasha dan tetap berada diatasnya.


Arya gregetan dan tanganya mengepal penuh kemarahan. Dia lalu melangkah maju dan menarik lengan laki-laki yang sedang berada diatas badan Sasha.


Lalu Sasha langsung mengambil selimut untuk menutupi sebagian bajunya yang terbuka karena terkoyak.


Sementara Arya memukul pria tersebut dan menendangnya keluar dari kamar itu.


Duk!


Buk!


Duk!


Pria itu tidak melawan dan apalagi setelah tahu jika itu adalah bosnya.


Arya lalu mendekati Sasha. Dia memberikan jasnya padanya. Sasha tertunduk dan menangis tersedu-sedu diperlukan Arya.


"Sudah, jangan menangis, om akan mengantarkanmu pulang." Kata Arya lalu merangkul Sasha.


Sasha mengangguk.


"Ini tas kamu bukan?" kata Arya lalu memberikan tas kecil itu kepada Sasha.


Sasha hanya mengangguk dan masih gemetar.


Untung saja Arya datang tepat waktu. Jika tidak dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.


"Makasih om....!" Kata Sasha yang berulang kali bertemu dengan Arya.


Arya menoleh dan menatap mata putrinya dengan sedih.


"Lain kali kau harus lebih berhati-hati." Kata Arya dan mengantarkan Sasha hingga kedepan gerbang rumahnya.

__ADS_1


"Om, jangan kasih tahu siapa-siapa tentang masalah ini." Pinta Sasha pada Arya dengan mata sangat berharap Arya menyetujuinya.


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin mereka khawatir. Dan aku tidak akan diijinkan bertemu dengan teman-temanku lagi." Kata Sasha berharap Arya menyetujuinya.


"Baiklah. Kamu sudah cukup dewasa untuk memilah mana teman yang baik dan mana teman yang tidak baik. Berhati-hatilah, tidak semua teman bisa kau percaya begitu saja." Pesan Arya.


Ceklek!


Sasha lalu membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Arya.


"Jasnya akan saya kembalikan besok siang Om." Kata Sasha.


Arya mengangguk.


Sasha lalu tersenyum dan masuk kedalam gerbang.


Arya melajukan mobilnya, sementara ada sinar dari mobil yang baru saja datang.


Tin! Tin!


Itu rupanya Regan yang juga baru pulang dari rumah temannya.


Sasha lalu berjalan kepinggir dan dia lihat ada Regan didalamnya.


Regan masuk ke halaman rumah. Setelah memarkirkan mobilnya dia keluar dan terkejut saat dia lihat Sasha berdiri didepan mobilnya.


"Iya. Kau juga." Kata Sasha pada Regan.


"Aku laki-laki, bebas mau pulang jam berapa aja. Kalau kamu kan perempuan, pulang terlalu malam sangat beresiko." Kata Regan sambil berjalan mendahului Sasha.


Sasha mengangkat bahunya.


Regan menoleh kearahnya sebentar lalu masuk kedalam.


Sasha berjalan dengan pelan karena takut membangunkan Nadiya dan Prasetyo.


Dan mereka mungkin akan banyak bertanya apalagi jika melihatnya pulang selarut ini.


Dengan cepat Sasha mengendap-endap dan langsung masuk kedalam kamarnya tanpa sepengetahuan siapapun.


Sasha lalu menutup dan mengunci pintunya. Dia lalu melepaskan jas itu dan menggantungnya didekat lemari bajunya.


Sasha menghela nafas panjang dan membersihkan tubuhnya didalam kamar mandi dengan air hangat.


Krecrk krecrk krecrk!

__ADS_1


Terdengar suara air dari kamar mandi Sasha.


Sasha membiarkan rambut dan badannya basah oleh air dari shower yang mengalir deras membasahi seluruh badannya.


Air itu terasa hangat dan menyegarkan meskipun malam telah larut.


Sasha merasa jijik dan menghilangkan jejak dari lelaki itu yang hampir saja merenggut kehormatannya.


Air membasahi rambutnya dan setelah merasa badanya lebih segar, Sasha mematikan kran air itu.


Dia lalu mengambil handuk karena mendengar suara pintu diketuk.


Tok tok tok!


"Ya tunggu sebentar!" Kata Sasha.


"Apakah kau sudah pulang?" Tanya Prasetyo dari luar kamarnya.


"Sudah Om." Jawab Sasha saat menyadari itu suara omnya.


"Ya sudah, istirahatlah, om hanya khawatir jika kau belum pulang." Kata Prasetyo lalu pergi dari kamar Sasha tanpa berniat mengganggunya.


"Iya om." Kata Sasha dari dalam dan hendak membukakan pintu itu. Namun saat dia tahu jika omnya sudah tidak ada diluar kamarnya, Sashapun berbalik dan mengurungkan niatnya untuk membuka pintu kamarnya.


Dia ingin sendirian.


Tidak ingin ditemani siapapun.


Jantungnya masih berdetak cepat saat mengingat kejadian yang baru saja dialaminya.


Dia tidak ingin berbicara pada siapapun saat ini.


Dia hanya ingin sendiri dan menangis.


Jika saja ayah dan ibunya masih ada, dia ingin menangis dan mencurahkan kegelisahan dan kesedihannya.


Tapi jika harus jujur dan bercerita kepada om dan tantenya, dia terlalu sungkan.


Hiks! Hiks! Hiks!


Sasha menangis dan duduk disamping ranjangnya dengan terus memandangi foto ibunya yang dia ambil dari lemari bajunya.


Dia tidak berani memajangnya diatas meja, karena jika Nadiya tahu semuanya maka mungkin dia tidak akan diterima lagi dirumah ini.


Sasha hanya bisa melihat foto ibunya saat dia kesepian dan membutuhkan seorang teman untuk berbicara.


Setelah itu Sasha menyimpan kembali foto ibunya ditempatnya semula. Sasha lalu berbaring di atas ranjangnya dan berusaha untuk tidur.

__ADS_1


Saat tengah malam Nadiya terbangun dan berjalan kekamar Sasha karena dia tidak melihat Sasha. Dia ingin memastikan apakah Sasha sudah pulang apa belum, juga dia ingin kekamar Regan, dan melihat apakah putranya ada dikamarnya atau tidak?


Mereka sudah dewasa, namun meskipun begitu, Nadiya juga harus memastikan jika mereka pulang dan tidak tidur sembarangan diluar rumah.


__ADS_2