Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
TERCERAI BERAI


__ADS_3

Nadiya malajukan mobilnya dengan sangat kencang, keluar dari perumahan itu.


Airmatanya berderai di pipinya. bahunya terangkat naik turun karena sesenggukan.


Dadanya terasa sesak penuh rasa kecewa.


Dia menatap lurus kedepan. Kakinya menginjak gas secara brutal tanpa disadarinya.


Tiba-tiba ada mobil yang menyalip dari arah berlawanan, dan karena terlalu kencang mengemudikan mobilnya, diapun bukanya menginjak rem, dia malah menginjak gas saking paniknya.


Nadiya langsung membanting setir ke trotoar. Dia tidak tahu jika pinggir trotoar itu adalah jurang yang airnya mengalir deras.


Tabrakan bisa dihindari, tapi mobilnya meluncur bersama dirinya dari jalan raya kedalam jurang.


Mobil itu ringsek dan Nadiya terpental keluar hingga hanyut terbawa arus sungai.


***


Sasha memberikan uang pada tukang ojek yang dia tumpangi.


Dia lihat dibelakang Regan telah kehilangan jejaknya. Regan tidak bisa mengejarnya.


Sasha lalu masuk kedalam dan bertabrakan dengan Arya.


"Sasha!"


Arya mata Sasha berkaca-kaca.


"Om, bukankah om bilang Sasha bisa pergi ke Amerika?"


"Ya. Betul. Apakah kau mau?"


"Iya om. Sasha mau kesana hari ini juga."


"Mendadak sekali?"


"Iya om. Tolong ya om..."


Pinta Sasha karena ingin jauh dari Nadiya dan keluarganya.


Arya mengangguk dan dia bisa melihat sesuatu seperti baru saja mengguncangkan jiwa putrinya.


"Oh ya om, mobil on ada di Mall. Sasha tadi kemari naik ojek."


"Jangan dipikirkan, nanti anak buah om akan mengambilnya." Kata Arya.


"Apakah kau tidak mau berangkat besok saja?" Tanya Arya yang mengkhawatirkan keadaan Sasha.


"Tidak om. Sasha ingin berangkat hari ini juga."


"Baiklah jika kau ingin seperti itu. Om akan memesan tiket untuk kita berdua. Om akan mengantarmu."


"Tapi Om...."


"Tidak papa....om sekalian akan liburan beberapa hari disana."


Sasha mengangguk lalu masuk kedalam kamarnya.


Dia lalu mengemas bajunya. Dia menatap keluar jendela sebentar. Dia diam sesaat. Kata-kata Nadiya masih terngiang di telinganya.


Dan itu membuat beberapa kristal bening tidak mau berhenti keluar dari ujung matanya.


Aku harus pergi jauh.


Kenangan itu sangat menyakitkan.

__ADS_1


Kebahagiaan dan kehangatan dalam keluarga, telah sirna. Aku tidak akan mendapatkanya lagi.


Aku akan pergi jauh dari sini.


Jika perlu, aku akan bekerja disana dan menetap disana.


***


Dirumah, Prasetyo sedang berusaha menelpon Nadiya dan juga Regan. Tapi dua-duanya tidak bisa dihubungi.


Prasetyo sangat mengkhawatirkan mereka berdua, terutama Nadiya.


"Papi....mami kok lama, ngga pulang-pulang. Ini sudah hampir malam. Apa mami ngga mau makan malam sama kita? Lalu siapa yang akan menemani Edsel dan Eiden makan?"


"Oma yang akan menemani kalian."


"Tapi kami ingin mami....."


"Mami kalian belum pulang juga. Apakah kalian tidak mau makan? Bagaiamana jika mami kalian pulangnya tengah malam? Apakah kalian tidak akan kelaparan?"


"Ya sudah....." kata Eiden sambil cemberut.


"Pras! Apakah kau tidak menelpon Nadiya? Mami jadi khawatir....." kata Omanya sambil mendekati Edsel dan juga Eiden.


"Iya mi. Prasetyo sudah coba berulang kali, tapi handphonenya diluar jangkauan." kata Prasetyo.


"Nah ada mobil masuk!"


"Semoga itu Nadiya." Kata Prasetyo sambil berdiri dan akan menyambutnya dipintu.


Regan berjalan dengan tertunduk lesu. Dia kehilangan jejak Sasha.


"Mana mami?" tanya Prasetyo saat dilihatnya Regan datang sendirian.


"Mami? Regan tidak bersama mami. Emangnya mami pergi?"


"Ini sudah hampir malam. Kenapa mami belum pulang juga?" Gumam Regan.


"Regan akan mencari Mami."


"Tunggu....om ikut.


Kata Prasetyo lalu berpesan pada Omanya untuk menjaga kedua anaknya.


"Mi, tolong jaga anak-anak dulu. Saya akan mencari Nadiya bersama Regan. Nadiya tidak bisa dihubungi, dan dia pergi dalam keadaan marah. Pras, takut terjadi apa-apa denganya."


"Ya sudah. Apakah kalian tidak mau makan dulu?" kata Omanya.


"Tidak usah mi."


Prasetyo dan Regan lalu masuk kedalam mobil.


"Biar Om yang nyetir, kamu baru saja pulang. Pasti kamu kecapean." Kata Prasetyo lalu duduk dibelakang kemudi.


Mereka mencari Nadiya kebeberapa jalan utama.


Mereka juga mengunjungi tempat-tempat yang biasa dikunjungi Nadiya.


Mereka pergi ke pantai dan juga kebeberapa rekan kerjanya.


Tapi hasilnya nihil.


Nadiya tidak ditemukan dimana-mana, hingga tengah malam.


"Sebaiknya kita lapor polisi." Kata Prasetyo.

__ADS_1


"Tapi sebelum dua puluh empat jam, kita hanya harus menunggunya, karena polisi akan menerima laporan kita setelah dua puluh empat jam, mami tidak kembali." Kata Regan.


"Tapi kita tetap harus melaporkanya, kita bisa meminta bantuan polisi melalui cctv dibeberapa jalan utama. Seri mobil Nadiya akan terekam dibeberapa lampu merah." Kata Prasetyo yang tahu jika sekarang sistem sudah lebih canggih, dan beberapa informasi yang dibutuhkan lebih cepat didapatkan.


Prasetyo mengarahkan mobilnya kekantor polisi.


Dia membuat laporan disana. Lalu meminta seorang anggota kepolisian untuk menghubunginya jika melihat mobil yang dikendarai istrinya.


Setelah laporan mereka diterima, akhirnya Prasetya dan Regan pergi meninggalkan kantor itu.


Mereka kembali kerumah jam 01.00 dini hari.


Namun beberapa makanan masih tersedia diatas meja makan.


Begitu mendengar mobil masuk, Oma lalu turun dan menanyakan apakan mereka menemukan Nadiya.


Dia juga sangat khawatir karena menantunya tidak juga kembali.


Belum pernah dia pergi seperti ini selama ini. Apalagi meninggalkan kedua buah hatinya yang baru saja sembuh.


Dia bahkan tidak menelpon dan menanyakan keadaan mereka. Jantung Oma berdebar sangat kencang, membayangkan hal-hal yang negatif.


"Pras, bagaimana? Apakah kalian bisa menemukan Nadiya?" Tanya Omanya penuh harap Nadiya bisa ditemukan.


Prasetyo dan Regan menggelengkan kepalanya.


Terlihat wajah mereka begitu sedih dan khawatir.


"Kalian makanlah. Kalian belum makan dari tadi." Kata Omanya karena ingat jika cucu dan putranya belum makan.


"Kami tidak ingin makan."


"Tidak! Kalian harus makan. Jika kalian sakit, siapa yang akan mencari Nadiya." kata Omanya lalu menyiapkan makan untuk mereka berdua.


Suasana tetap hening. Tidak ada tawa dan ceria seperti biasanya.


"Apakah kau sudah lapor polisi?"


"Sudah mi. Mereka akan melihat dari cctv."


"Baiklah. Itu bagus. Kita jadi bisa tahu kemana arah mobilnya. Besok pagi semoga ada kabar baik." Kata Omanya mencoba mengalihkan pikiran negatif dari hatinya.


***


Pagi harinya dua orang polisi datang kerumah Prasetyo dan memberikan kabar jika mobil yang dikendarai ibu Nadiya masuk kedalam jurang.


"Apa!?" Prasetyo langsung kaget dan seluruh badannya lunglai.


Regan yang turun dari tangga juga menahan cairan kristal dan penyesalan yang teramat dalam.


Oma yang sedang duduk dimeja makan langsung pingsan.


"Omaaaaa!" Teriak Edsel dan juga Eiden.


Prasetyo langsung lari menolong Omanya dan membawanya kerumah sakit.


Regan pergi bersama polisi ketempat kejadian.


Sementara Edsel dan juga Eiden diasuh oleh Bibi Parti.


Dilain tempat, Sasha dan Arya sedang didalam pesawat menuju Amerika.


Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada Nadiya dan keluarganya.


Sasha juga melamun dan tidak banyak bicara saat didalam pesawat.

__ADS_1


Arya hanya bisa berharap putrinya lekas melupakan kesedihannya. Apapun yang menimpanya dan terjadi padanya, bisa dia lupakan dan cepat bangkit demi masa depannya.


__ADS_2