
Tiba-tiba dari belakang ada yang membekap mulut Nadiya, Nadiya kemudian meronta. Namun orang itu malah menyeretnya dan membawanya sembunyi di semak-semak. Dan setelah itu orang yang membekap mulutnya dari belakang melepaskanya. Dan ternyata dia adalah Prasetyo.
"Pras!?" Kata Nadiya sangat terkejut.
"Nadiya apa yang kamu lakukan? Dari tadi aku mencarimu kemana-mana. Tapi kemudian aku melihatmu mengikuti orang itu. Untuk apa? Jangan cari masalah." Kata Prasetyo.
"Aku...aku..." Nadiya tidak mungkin mengatakan jika dia mengikuti orang itu karena wajahnya mirip dengan Ardy.
"Sudah ayo kita pulang." Kata Prasetyo sambil menarik tangan Nadiya.
Mereka kemudian masuk kedalam mobil. Sepanjang perjalanan pulang Nadiya diam saja dan pikiranya masih tertuju kepada orang yang wajahnya mirip sekali dengan Ardy.
"Ada apa? Kok diam saja?" Tanya Prasetyo sambil menoleh kearah Nadiya.
"Eh...oh aku ..." Nadiya terkaget.
"Kamu pasti masih memikirkan orang tadi." Kata Prasetyo menebak pikiran Nadiya.
"Ehm...aku..."
"Jika kamu mengenalnya kenapa kamu tidak langsung memanggil namanya? Kamu malah mengikutinya seperti seorang mata-mata." Kata Prasetyo karena melihat Nadiya yang berjalan seperti seorang detektif dibelakang orang tadi.
"Bagaimana jika ternyata dia orang jahat dan dia melukaimu." Kata Prasetyo.
"Aku tidak berpikir sampai sejauh itu." Kata Nadiya.
"Berjanjilah untuk tidak melakukan hal-hal yang membahayakan seperti itu." Kata Prasetyo.
Nadiya kemudian mengangguk berat. Bagaimanapun wajah orang itu mirip sekali dengan Ardy jadi rasa penasaran Nadiya masih saja ada didalam hatinya. Tapi seperti yang Prasetyo bilang, bagaimana jika ternyata dia orang jahat dan menyakitinya ditempat yang sepi seperti tadi.
Ooh Aku harus melupakan kejadian itu.
"Besok mami akan datang kemari." Kata Prasetyo kemudian yang mendapat pesan dari maminya saat sedang mencari Nadiya.
"Baiklah."
__ADS_1
"Sekarang kita akan kemana?" Tanya Nadiya.
"Aku mencari sebuah rumah untuk kita berdua. Aku beberapa bulan lalu melihat rumah dengan desain yang bagus. Aku ingin membelinya. Kebetulan orang itu mau menjual rumahnya." Kata Prasetyo.
Tapi Nadiya bingung karena mobil Prasetyo menuju komplek rumah lamanya. Dan sedetik membuatnya teringat beberapa momen dimasa lalunya.
Kenapa dia akan membeli rumah disini?
Tiba-tiba Prasetyo menghentikan mobilnya. dan saat Nadiya sadar dia terperanjat dan kaget.
deg
deg
deg
Karena dia berhenti dirumah lamanya yang dulu dua tempati bersama Ardy.
Prasetyo sudah turun lebih dahulu. Namun Nadiya masih mematung didalam mobil saking kagetnya.
Desis Nadiya sambil melepas seatbelt nya. Rumah itu adalah rumah yang dibelinya bersama Ardy saat mereka baru saja menikah. Dan sekarang rumah itu sudah bukan milik mereka lagi karena Ardy sudah menjualnya kepada orang lain, belum lama ini. Dan ternyata yang membeli rumah entah kenapa akan menjualnya lagi.
Rumah itu sekarang sudah banyak bagian yang direnovasi menjadi lebih modern. Bagian depan rumah juga sudah tidak seperti dulu lagi. Semua interior dan desainnya sudah berubah total.
Prasetyo kemudian membukakan pintu mobil untuk Nadiya. "Ayo turun!" Kata Prasetyo sambil mengulurkan tangannya pada Nadiya.
Akhirnya meskipun dengan rasa yang berat Nadiya terpaksa turun dan Prasetyo menggandengnya untuk masuk kedalam. Rumah itu sudah kosong. Prasetyo sudah memegang kunci duplikatnya karena sudah membayar uang muka tanpa sepengetahuan Nadiya. Tadinya Prasetyo akan memberi Nadiya kejutan, namun ternyata Nadiya bukan saja terkejut dia malah lebih ke syok berat.
"Lihatlah, rumah ini bagus bukan? Aku langsung menyukainya saat melihatnya pertama kali disebuah suratkabar. Ini adalah rumah yang sangat unik dan desainnya bagus. Sepertinya rumah ini nyaman untuk kita berdua, apalagi jika mami menginap lama, apartemen terlalu sempit." Kata Prasetyo.
Nadia kemudian masuk dan berhenti di pintu masuk. matanya melihat ke sekeliling ruangan. Nadia kemudian mengingat beberapa momen dimana dia sering menunggu Ardi saat dia terlambat pulang dan Nadia akan ketiduran disana hingga Ardy pulang dan membangunkannya. Kemudian matanya tertuju pada meja makan yang yang sering digunakan bersama Ardy saat mereka masih menjadi suami istri.
"Ayo kok malah bengong." Kata Prasetyo yang mengagetkannya.
"Aku sudah menduga kau pasti akan terkejut dengan desain rumah ini. Rumah ini sangat cantik menurutku dan ini adalah hadiah dariku untukmu aku ingin menghabiskan waktu bersamamu di rumah ini."
__ADS_1
"Eehh.... ehmmmm."
"Kau pasti terkejut dan sangat menyukai desain rumah ini bagaimana menurutmu unik dan bagus bukan?" Kata-kata Prasetyo sambil berjalan ke setiap sudut ruangan.
Dementara Nadia masih menjadi patung di pintu masuk.
"Ayo Nadiya kemarilah" kata Prasetyo. Aku akan menunjukkanmu lantai atas."
"Ehh...." Nadiya masih terpaku tak bergeming.
Prasetyo kemudian mendekati Nadiya dan menggandeng tangannya kelantai 2.
Di sana Nadiya lebih terpana lagi saat Prasetyo membuka sebuah kamar yang luas, kamar di mana pertama kali Nadiya membina hidup baru dengan penuh kebahagiaan bersama Ardy.
Dan ranjang itu bagaimana mungkin dia bisa lupa jika setiap malam dia akan menghabiskan malam bersama Ardy dengan hati yang sangat bahagia.
"Aku sudah menduganya jika kau akan menyukainya, lihatlah kamar ini desainya unik sekali." Prasetyo terus berbicara kepada Nadiya.
"Tapi Pras aku...." Nadia ingin mengatakan jika dia tidak menyukai rumah ini namun melihat Prasetyo yang sangat ingin menempati rumah ini dan dia menyukai desain rumah ini akhirnya Nadiya tidak jadi mengatakanya.
Aku tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya pada Prasetyo tentang rumah ini juga tentang masa laluku.
Terlalu sakit jika aku harus mengulang menceritakan cerita itu dan mengingat setiap hal yang menyakitkan dari kisah yang sudah tidak ingin aku ingat kembali.
"Baiklah kita akan membeli rumah ini dan mulai minggu depan kita akan pindah ke sini." Kata Prasetyo dengan nada yang sangat gembira.
Nadiya hanya mengangguk pelan tanpa mampu mengucapkan apa-apa.
"Baiklah ayo kita keluar nanti aku akan menyelesaikan administrasinya." kata Prasetyo.
Prasetyo kemudian berjalan di depan kemudian Nadiya dibelakangnya masih melihat setiap sudut ruangan dimana dia berdiri, memasak, makan berdua bersama Ardi dan setiap sudut dari rumah itu merupakan hal terindah saat tragedi itu belum terjadi.
Dan saat keluar dari rumah itu dia menatap rumah di seberangnya yang tidak lain adalah rumah Sarah sahabatnya. Bagaimanapun setiap melihat rumah itu, kenangan pahit itu akan terbesit didalam benaknya dan mengiris hatinya. Dan tiba-tiba saja kata jika, jika dan jika mulai mengoyakkan sanubarinya.
Entah kenapa jika tidak terjadi begini maka tidak akan seperti ini jika tidak begitu maka aku tidak akan mengalami ini berbagai kata jika sudah mulai menghantuinya lagi.
__ADS_1
Nadiya kemudian menarik nafas panjang dan mencoba lepas dari belenggu masa lalu yang saat ini hadir kembali melalui rumah Ardi dan rumah di seberangnya itu.