Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Ke Luar Negeri


__ADS_3

Tiga bulan kemudian...


Sandra merasakan mual dan tidak nafsu makan. Badannya juga terasa lemah dan bahkan dia malas bangun dari tempat tidur. Nadiya kemudian mengambil jasa asisten rumah tangga untuk semua keperluan Sandra.


Nadiya berfikir ditengah kesibukannya dia tidak mungkin bisa terus menerus mengurus Sandra selama 24 jam. Sedangkan saat ini Sandra hanya terbaring saja diranjangnya.


"Sepertinya kita harus pergi keluar negeri sampai Sandra melahirkan Pras!" Kata Nadiya karena dia tidak ingin orang mencurigainya jika dia menggunakan jasa ibu pengganti.


"Ya itu lebih baik. Aku juga berfikir demikian. Perutmu tidak membesar dan bagaimana mungkin kau tiba-tiba melahirkan." Kata Prasetyo menimpali.


"Yang kau katakan itu benar. Jika sampai tersebar maka rumor akan membuat kita berada dalam kesulitan. Dan aku tidak bisa membayangkan akibatnya." Nadiya mengatakan kepada Prasetyo sambil membuka bajunya.


"Baiklah. Kita akan mengatakan kepada mami untuk pergi berbulan madu."


"Ya....itu alasan yang masuk akal. Bukankan mami ingin agar kita cepat mendapatkan keturunan?"


"Ya. Mami pasti mengizinkannya."


"Kita lakukan secepatnya."


Malam harinya dimeja makan. Nadiya, Prasetyo dan ibu Monic sedang menyantap makan malam bersama.


"Oya Pras, Bagaimana kabar istrimu?"


"Baik mi. Bukankah tiap hari mami melihat Nadiya baik-baik saja." Prasetyo bingung dengan pertanyaan maminya. Saat itu Nadiya sedang mengambil sesuatu di dapur.


Setelah Nadiya kembali ibu Monic mengubah topik pembicaraan. Mungkin merasa tidak enak atau khawatir menyinggung perasaan menantunya.


"Oya mami, Prasetyo dan Nadiya memutuskan untuk bulan madu dan liburan diluar Negeri untuk lumayan lama. Sekalian kami ingin melakukan program kehamilan."


"Oooo itu berita yang bagus." Kata Maminya. Nadiya sampai terkejut mendengar jawaban ibu Monic yang terdengar nyaring ditelinganya.


"Benarkah itu Nadiya?" Ibu Monic menatap Nadiya dengan tatapan mata yang bersinar dan penuh kebahagiaan.


Nadiya mengangguk.


"Kalian pergilah, biarkan mami yang akan menjaga Sasha dan Regan disini." Kata ibu Monic sambil menatap kami secara bergantian.


Aku sangat bahagia, akhirnya Sandra hamil. Dan anak yang dikandungnya akan menambah kebahagiaan bagi keluarga besar kami.


Beberapa hari kemudian Sandra sudah merasa lebih baik. Rasa mualnya sudah semakin berkurang dan mereka saat ini ada di bandara. Nadiya menatap suaminya dengan perasaan yang penuh kebahagiaan.


Tiba-tiba seorang Pria dengan topi menabraknya.


Buuukkkk!


Dan orang itu adalah orang yang waktu itu menyekapnya. Dengan cepat dia menghilang sebelum Nadiya menarik tangannya dan berteriak pada Prasetyo.


Aku tidak mungkin berteriak. Mana mungkin kukatakan jika wajahnya mirip dengan Ardy? Hal ini akan membuat hati Prasetyo terluka. Akhirnya aku tidak menceritakan tentang pria yang menabrakku baru saja.

__ADS_1


Untuk apa juga aku menangkapnya dan berurusan dengan kepolisian? Bukankah kita akan pergi meninggalkan Negara ini untuk sementara waktu? Untunglah aku tidak gegabah seperti biasanya.


Jika aku berurusan dengan polisi maka aku akan menunda keberangkatan ku keluar Negeri.


"Ayo kita jalan." Ajak Prasetyo.


Kemudian mereka bertiga masuk dan saat ini mereka telah berada didalam pesawat. Mereka hanya pergi bertiga tanpa asisten yang mengurus Sandra. Karena Nadiya sendirilah yang akan mengurus Sandra dan kehamilanya.


Dokter yang menangani kehamilan Sandra sudah bekerja sama dengan dokter yang ada di Negara S.


Sehingga mereka tidak perlu mencari dokter untuk kehamilan Sandra.


Sampai di negara S mereka langsung menuju apartemen milik Prasetyo.


"Kita langsung keapartemen saja."


"Ya baiklah. Sandra ...biarkan aku yang membawa kopermu." Kata Nadiya dan membiarkan Sandra berjalan tanpa beban.


"Tapi Bu..." Sandra merasa tidak nyaman dan tidak enak hati.


"Sudah tidak papa. Kamu sedang hamil jadi biarkan kami yang membawa semua barang ini."


"Baik Bu." Sandra kemudian berjalan bersama mereka.


Aaaaaaaahhhhkkk!


Sandraaaaaaa!


Nadiya menatap kecanggungan Prasetyo. Dan Nadiya kemudian tersenyum tipis.


"Untunglah kamu tidak jatuh. Jantungku hampir copot. Lebih baik kau jangan memakai sandal itu lagi. Pakai sandalku saja. Sepertinya ukuran kita sama. Sandal yang kamu pakai terlalu berbahaya." Kata Nadiya pada Sandra sambil melepas sandalnya dan memakai sandal milik Sandra.


"Iya....pakailah sandal milik Nadiya." Kata Prasetyo.


"Baiklah Bu." Kemudian Sandra memakai sandal milik Nadiya. Dan benar ukuran sandal mereka, ternyata sama.


"Benarkan ukuranya sama?" Kata Nadiya. Sandra kemudian berjalan dan Prasetyo menjaganya dibelakangnya. Bagaimanapun saat ini Sandra sedang mengandung anak mereka. Prasetyo juga tidak ingin sesuatu hal yang buruk menimpa bayi dalam kandungan Sandra.


Tiba-tiba Nadiya juga terpeleset dan Prasetyo tidak sempat menolongnya.


"Praasss....!"


"Nadiya.......!"


Tangan Prasetyo mencoba meraih tangan Nadiya namun terlambat. Nadiya terpelanting dan jatuh tertindih koper bawaanya.


"Nadiya? Bagaimana kau bisa jatuh?" Prasetyo kemudian mengulurkan tanganya.


Eeessstttt.....

__ADS_1


"Sakit sekali."


"Sudah buang aja sandalnya! Tadi Sandra hampir terjatuh. Dan sekarang kamu yang jatuh."


Nadiya kemudian melepaskan sandalnya. Dan Prasetyo membuangnya ketempat sampah.


"Bagaimana mungkin kau bisa membeli sandal seperti itu Sandra?" Kata Nadiya sambil menggeleng-gelengan kepalanya dan memegang pinggangnya yang sakit.


"Maaf Bu. Saya membelinya dari online dan kebetulan sedang ada diskon."


"Meskipun sudah kamu beli jika ternyata tidak nyaman jangan paksa untuk memakainya. Itu sangat berbahaya." Kata Nadiya.


"Iya saya mengerti Bu....." Tiba-tiba Sandra menangis tersedu-sedu.


"Hai....kenapa kamu menangis Sandra?" Nadiya jadi bingung.


Sementara Prasetyo membeli sandal untuk Nadiya di toko di dekat mereka berdiri.


Sandra menangis semakin kencang.


"Ada apa Sandra? Kenapa kamu menangis?"


Prasetyo datang membawa sandal untuk Nadiya dan dilihatnya Sandra menangis.


"Kenapa Sandra menangis?"


"Aku juga tidak tahu Pras. Tiba-tiba saja dia menangis." Kata Nadiya.


Kemudian Prasetyo mendekat dan meminjamkan bahunya agar Sandra menjadi tenang. Apalagi dia saat ini sedang hamil. Mungkin itu bawaan bayi.


Nadiya tidak cemburu sedikitpun, karena saat ini kedekatan mereka hanya sebatas kerja sama hingga Sandra melahirkan.


"Sudah diamlah." Kata Prasetyo sambil menenangkan Sandra. Sementara Nadiya masih memegang pinggangnya yang sakit.


"Jika kamu sudah merasa lebih baik. Ayo kita naik keapartemen!" Kata Prasetyo sambil memapah Sandra. Sementara Nadiya berjalan dibelakang mereka dengan tertatih akibat jatuh.


Tapi biarlah saat ini yang terpenting adalah kenyamanan Sandra. Aku bisa jalan sendiri. Saat ini Sandra lebih membutuhkan Prasetyo.


Aku mungkin terlalu bawel sehingga dia merasa tertekan.


Nadiya berjalan sambil bergumam sendiri.


Prasetyo berhenti dan menoleh kepada Nadiya.


"Apakah masih sakit? Jika iya nanti kita akan langsung kedokter."


"Tidak usah Pras. Itu tidak perlu. Aku akan langsung istirahat saja."


"Baiklah. Aku akan mengantarkan Sandra kekamarnya. Kamu bisa kekamar sendiri?" Tanya Prasetyo.

__ADS_1


"Antarkan Sandra saja, dan kau bantu keperluannya. Sementara aku akan istirahat dulu." Kata Nadiya sambil membawa masuk kopernya.


"Baiklah jika begitu." Kemudian Prasetyo memapah Sandra kekamarnya.


__ADS_2