Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Penabrak misterius


__ADS_3

Regan lalu mengantarkan Sasha hingga kekamarnya. Disambut oleh tatapan aneh dari Madina. Madina hanya melihat apa yang dilakukan Regan dari depan laptopnya.


"Istirahat lah, kau pasti sangat lelah. Aku akan duduk disini." Kata Regan.


"Baiklah. Tapi kau boleh pergi." Kata Sasha sambil melirik kepada Madina yang sedang sibuk beberapa hari terakhir ini. Sasha memberitahu Regan melalui matanya kalau Madina sedang sibuk dan tidak ingin dia terganggu.


"Oke kalau begitu aku pergi dulu. Ingat! Jika ada yang berusaha menyakitimu maka aku tidak akan tinggal diam. Kau harus memberitahuku jika disuruh menemui menteri itu lagi."


Sasha mengangguk.


Regan lalu pergi setelah mengangguk pada Madina.


Setelah Regan pergi, Madina lalu menutup pintu dan mendekati Sasha.


"Aku melihatmu bersama Menteri tadi, apa yang kalian bicarakan?" Tanya Madina dan duduk disamping Sasha.


Sasha berpikir sejenak. Haruskah dia ceritakan kepada Madina apa ya g tadi dialaminya? Bagaimana jika Madina menceritakanya pada Regan.


Ohh tidak! Aku tidak boleh menceritakan pada siapapun. Aku takut madina keceplosan dan akan tersebar di seluruh kampus ini.


"Ngga! dia hanya mengucapkan selamat padaku karena masuk lima besar." terpaksa Sasha berbohong.


"Ohh, kalau begitu kenapa Regan begitu khawatir?"


"Kau seperti ngga tahu dia aja," jawab Sasha.


Tiba-tiba pintu dibuka dari luar dan Vano masuk kedalam.


Madina dan Sasha menoleh secara bersamaan. Merekapun saling berpandangan.


"Sasha! Aku tidak melihatmu dari tadi, kau kemana?"


Tanya Vano dan membuat Sasha jadi teringat pada suara didalam kamar Vano.


"Ngga kemana-mana. Justru aku tidak melihatmu dari pagi. Kau biasanya ada di lapangan. Kau kemana aja?" Sasha balik bertanya.


Madina yang merasa seperti nyamuk pun memilih untuk pergi dari kamar dan membiarkan mereka berdua bicara.


"Aku tadi ada tugas. Jadi aku kerjakan dulu." Kata Vano.


Tapi Sasha sepertinya tidak yakin dengan jawaban Vano. Karena saat Sasha pergi kekamarnya, Sasha seperti mendengar suara orang sedang bercakap-cakap. Dan itu seperti suara cewek.


"Apakah kau absen? Kau tidak latihan?" Tanya Sasha.


"Aku pergi kelapangan pas banget satu menit akan dimulai. Aku cari kesana tapi kau tidak ada." Kata Vano.


"Ohh...."


Sasha masih ragu-ragu dengan ucapan Vano.


"Bagaimana hari ini? Apakah kau berhasil masuk lima besar?" Tanya Vano.


"Ya. Aku masuk lima besar." Kata Sasha.

__ADS_1


"Bagaimana denganmu? Apakah kau juga masuk lima besar?" tanya Sasha.


"Aku juga," jawab Vano. "Ayo kita berusaha agar kita menang dan sama-sama mewakili kampus kita!" kata Vano.


"Tentu," jawab Sasha. "Kemana Madina tadi?" tanya Sasha.


"Mungkin ada urusan diluar," kata Vano.


Lalu Vano mulai mendekati Sasha. Vano menatap Sasha sangat lekat. Dan tiba-tiba Vano mulai mendekatkan kepalanya. Dan bermaksud mencium bibirnya.


Namun dengan cepat Sasha menahanya dengan kedua jarinya.


Sasha menggelengkan kepalanya tanpa berbicara. Vano sedikit kecewa lalu merengkuh kepala Sasha dan dia sandarkan kebahunya.


Lama mereka diam tanpa berbicara dan hanya menikmati imajinasi masing-masing.


Tiba-tiba Madina membuka pintu dan membuat Sasha dan Vano kaget.


Madina pun berbalik dan akan meninggalkan mereka berdua. Tapi Vano langsung berdiri dan berpamitan pada Sasha.


"Aku pergi dulu." Kata Vano. Sasha lalu mengangguk dan membiarkan Vano pergi.


Melihat Vano pergi Madina kemudian masuk dan memberikan kotak nasi dan lauk juga minuman untuk Sasha.


"Untukmu. Dari Regan." Kata Madina.


"Apakah kau baru saja bertemu dengan Regan?" tanya Sasha.


"Ohh. Makasih. Kita makan berdua aja ya!" ajak Sasha.


"Ngga ahk! Aku sudah makan barusan. Buat kamu aja. Gih, makan! Nanti keburu dingin." Kata Madina lalu dia berjalan kedepan laptopnya dan duduk lagi disana.


***


Sementara Catrine saat ini sedang duduk bersama papinya.


"Apakah papi sudah bertemu sama teman-teman Catrine?" Tanyanya.


"Sudah."


"Apakah mereka setuju untuk melakukan kompromi ini?" Tanya Catrine.


"Hanya satu yang tidak mau."


"Pasti Sasha!" tebak Catrine.


"Siapa namanya?" tanya Papinya.


"Sasha! Hanya dia saingan berat Catrine. Dan Catrine yakin dia tidak mau disuap. Dia bukan dari keluarga miskin. Dia punya orang tua kaya." Jelas Catrine.


"Pantas saja dia tidak tertarik dengan uang," kata Papinya. "Tapi kau tenang aja. Dia hanya masalah kecil. Dia tidak akan bisa mengalahkanmu pada kompetisi ini."


"Tapi Catrine tetap khawatir. Dia tidak bisa dianggap remeh. Bagaimana jika dia yang menang? Catrine tidak siap untuk kalah." Kata Catrine.

__ADS_1


"Kau tenang saja. Dan kau hanya perlu latihan. Fokus saja pada pertandinganya. Masalah temanmu itu, itu urusan papi." Kata Catrine.


***


Pagi harinya, seperti biasa, Sasha pergi keluar asrama dan berlatih lari disepanjang jala n mengelilingi kampus yang begitu besar.


Tidak ada yang menemaninya karena mungkin semua orang masih tertidur. Hari juga masih berkabut meskipun tidak begitu gelap. Matahari juga mulai nampak dibalik pohon cemara yang tinggi dan rimbun.


Sasha terus berlari tanpa menoleh kebelakang. Dia sengaja manfaatkan hari yang masih sepi dan belum banyak yang mondar-mandir disepanjang jalan raya.


Tiba-tiba sebuah sepeda motor menyerempetnya dari belakang. Dan Sashapun jatuh meskipun tidak cidera berat, namun kakinya sepertinya terluka.


Pengendara motor itu tidak mempedulikannya, dan tetap melajukan motornya semakin kencang. Mereka berjumlah dua orang. Pakaian serba hitam dan bukan dari salah satu mahasiswa di kampus itu. Sasha tidak mengenali siapa mereka.


Sasha masih duduk dipinggir jalan raya dan melihat kakinya yang berdarah. Memang tidak keseleo namun darahnya lumayan banyak. Tidak ada orang yang mondar-mandir disana.


Akhirnya dengan tertatih Sasha berjalan pulang keasrama. Baru sampai di gerbang Asrama Rossa yang akan keluar untuk suatu keperluanpun kaget saat melihatnya berjalan tertatih dan ada darah dikakinya.


"Sasha? Kau kenapa?" tanya Rossa sambil merangkul Sasha dan mengajaknya masuk kedalam asrama.


Rossa lalu memanggil salah satu temanya jurusan kedokteran untuk mengobati Sasha. Namanya Elena.


Tidak lama kemudian Elena datang dengan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan. Elena mengambil kapas dan mulai membersihkan luka itu.


Setelah dibersihkan Elena kemudian membalutnya dengan kain kasa setelah memberinya obat.


Rossa melihat Sasha dengan wajah cemas dan Khawatir.


"Apa yang terjadi? Apakah kau jatuh?" Tanya Rossa.


"Aku terserempet." kata Sasha. "Dua orang pengendara motor menyerempetku dari belakang. Aku tidak mengenali mereka. Setelah itu mereka langsung kabur dan tidak ada siapapun disana. Hari masih begitu sepi." kata Sasha.


"Kurang ajar!" kata Elena kesal pada pengendara motor itu. "Sudah nabrak! Bukanya menolong malah kabur."


"Sudahlah tidak apa. Ini hanya luka kecil." Kata Sasha.


" Tidak bisa begitu dong. Bagaimana kalau terjadi apa-apa, lebih baik kita lapor polisi saja." Kata Elena.


"Jangan!" kata Rossa dan membuat Elena da Sasha saling berpandangan.


"Maksudku, Sasha tidak sampai terluka parah. Jika lapor polisi maka Sasha akan bolak-balik kesana untuk memberikan keterangan. Sedangkan Sasha sedang ikut turnamen lari, tentu akan menyita waktunya." Kata Rossa agak ketakutan saat berbicara tentang polisi. Entah apa yang dia sembunyikan, tapi dia sepertinya tidak mendukung untuk melaporkan kejadian ini.


"Ya. Rossa benar. Aku tidak apa-apa. Aku tidak akan melaporkanya pada polisi." kata Sasha.


"Baiklah jika begitu aku pergi dulu. Kau istirahat saja." Kata Elena.


"Terimakasih... sekarang sudah mendingan berkat kau." Kata Sasha kepada Elena.


"Aku akan kekamarku." Kata Sasha.


"Aku akan mengantarkanmu." Kata Rossa.


Dari jauh Regan melihat jika Sasha dipapah dan berjalan dengan terpincang-pincang.

__ADS_1


__ADS_2