
Sesampainya dirumah, Prasetyo dan Nadiya langsung memberikan makan siang yang sudah mereka beli untuk Ibu Monic. Kemudian mereka naik keatas untuk beristirahat.
"Sebaiknya kita istirahat Nadiya. Nanti malam kita akan datang kepesta temanku." Kata Prasetyo.
"Baiklah." Kata Nadiya.
Teman Prasetyo yang baru saja pindah ke Indonesia akan mengadakan pesta ulang tahunya yang ke 28 tahun.
Banyak teman-teman yang diundang juga beberapa teman yang dari luar negeri bahkan juga hadir.
Prasetyo sempat berbicara melalui telepon dengan Nathan, yang akan mengadakan pesta. Pesta ini adalah untuk merayakan keberhasilan ya yang bersamaan dengan bertambahnya usianya. Sehingga dia mengundang banyak teman dan membuat pesta yang mewah dikhususkan untuk teman-teman seusianya.
Sore harinya Nadiya sudah menerima amplop dari dokter itu. Namun dia enggan untuk membukanya. Dia memilih untuk menyimpanya dan karena Prasetyo tidak menanyakanya maka dia menyimpanya didalam laci dan akan dia buka besok saja.
Prasetyo benar-benar lupa soal surat dari dokter yang akan dikirim kerumah.
Karena Prasetyo tertidur dan saat bangun sudah menunjukan jam 6 sore hari.
Prasetyo langsung ingat tentang pesta itu yang dimulai jam 7 hingga tengah malam. Kemudian dengan cepat Prasetyo kekamar mandi dan mengganti bajunya. Sementara Nadiya sudah siap dari tadi.
Saat ini mereka sudah tiba dimana pesta itu diadakan.
Jadi ini bukan pesta bisnis. Melainkan pesta muda-mudi jaman now. Banyak gadis cantik berseliweran kesana kemari dengan pasangannya atau dengan teman sesama wanitanya.
Nadiya sebenarnya malu ada didalam pesta muda mudi yang diadakan teman Prasetyo.
Terlihat sekali bahwa pesta itu tidak cocok untuknya. Entah kenapa dia merasa canggung ada diantara teman-teman Prasetyo.
Gadis yang bersamanya saat ini usianya jauh sekali dibawahnya. Rata-rata mereka berusia 19 hingga 22 tahun. Mereka berpakaian layaknya model yang serba terbuka disana-sini.
Sementara Nadiya juga memakai pakaian pesta yang sesuai dengan usianya 36 tahun. Meskipun agak terbuka namun tetap dengan model yang menunjukan usianya. Tidak kurang bahan seperti layaknya anak muda yang masih bebas mengeksplor dirinya.
Nadiya benar-benar merasa bahwa dia harus segera pulang sebelum dipermalukan, atau membuat Prasetyo malu diantara teman-teman nya.
Prasetyo kemudian menggandeng Nadiya dan semakin masuk kedalam diantara kerumunan orang yang sedang asyik ngobrol juga bernyanyi.
Tidak ada satupun yang seusianya.
Semua wanita yang ada disini masih sangat belia dan muda. Prasetyo kemudian memperkenalkan Nadiya kepada beberapa teman masa mudanya dulu. Mereka rata-rata mengajak pacar serta istri yang usianya masih muda jauh dari usia mereka pada umumnya.
Hanya Prasetyo yang mengajak istri yang usianya lebih tua darinya 6 tahun dan hampir mendekati kepala empat. Jelas saja ini bukan tempat berpesta seperti yang biasa Nadiya datangi. Konsepnya seratus persen muda mudi.
"Pras...Apakah kita bisa pulang lebih cepat." Kata Nadiya karena merasa semua mata tertuju padanya juga kepada Prasetyo.
Ada yang tersenyum mengejeknya. Ada juga yang mentertawakanya. Ada yang berbisik-bisik dan menatapnya dengan meremehkannya.
__ADS_1
"Lihat itu Lun, Pria yang kau kejar mati-matian dari Indonesia hingga kau ikuti keluar negeri, dia datang membawa tante-tante. Ternyata seleranya payah!" Kata seorang wanita yang sedikit terdengar oleh Nadiya.
"Cintaku dia tolak mentah-mentah! Aku masih ingat itu. Dan sekarang....dia membawa tante-tante di acara pesta anak muda. Dasar bodoh!"
Kata Luna, salah seorang teman masa kecilnya yang cinta mati-matian kepada Prasetyo hingga mengejarnya keluar negeri. Namun cintanya ditolak mentah-mentah. Dia mengatakan jika Luna bukanlah gadis impiannya.
"Lo jauh dibandingkan wanita itu. Kamu cantik dan bodimu? bohaiiii ..." Kata teman disampingnya.
"Iya gue juga bingung dengan seleranya. Dia muda, tampan, CEO dan berkharisma. Tapi gue? Dia tolak mentah-mentah. Dan wanita itu....Apakah dia istrinya atau kekasihnya?" Kata Luna kepada Sandra teman yang dia ajak bicara.
"Ayo kita dekati mereka!" Kata Luna sambil menarik Sandra teman akrabnya.
"Hai..." Sapa Luna kepada Prasetyo juga Nadiya.
"Hai...kau juga ada disini?" Tanya Prasetyo yang kaget karena bertemu dengan penguntit seperti Luna.
Luna kemudian mengulurkan tanganya kepada Nadiya.
"Kenalkan saya Luna dan ini temanku Sandra." Kata Luna.
"Nadiya."
"Emmmmm Apakah anda ...." Kata Luna sedikit pelan dan mulai menebak status Nadiya.
Deg
Luna kaget dan berpandangan dengan Sandra. Kemudian Luna tersenyum kecut. Dia pikir Prasetyo membawa kekasih tanpa status atau wanita satu malam atau kekasih gelapnya yang dia ajak ke pesta sekedar menemaninya.
Istrinya
Ternyata itu adalah istrinya.
"Baiklah silahkan nikmati pesta kalian. Aku dan Sandra akan kesana."
"Terimakasih." Kata Nadiya sambil terus menggandeng tangan Prasetyo tanpa melepaskannya.
Karena tidak ada satupun dari mereka yang dia kenal. Jika tidak ada Prasetyo disampingnya dan mengajaknya berbicara maka dia seperti orang asing disini.
Luna dan Sandra menjauh dari Prasetyo juga Nadiya.
"Ternyata dia adalah istrinya." Kata Sandra.
"Ya. Tadinya gue pikir dia adalah wanita sewaan Prasetyo. Lo tau kan dia tidak pernah punya kekasih. Hanya bisnis, bisnis saja yang ada dalam pikirannya."
"Iya. Yang kau katakan benar Lun. Gue sampai shock mendengarnya."
__ADS_1
"Prasetyo lelaki tampan, muda dan kaya raya memilih wanita yang usianya lebih tua untuk dijadikan pendamping hidupnya. Gue masih tidak percaya dengan pilihanya." Kata Luna
"Gue juga." Kata Sandra.
"Udah yuk. Musnahlah harapan gue untuk memikatnya malam ini. Gue pikir dia masih singgle. Ternyata gue patah hati...." Kata Luna sambil menyandarkan wajahnya pada bahu Sandra.
Sandra baru saja pulang dari LA bersama Luna, sehingga mereka tidak tahu jika Prasetyo sudah menikah di Indonesia. Mereka pikir kedatanganya hanya untuk urusan bisnis belaka. Beberapa tahun lalu mereka bahkan masih bertemu dan Prasetyo masih betah menjomblo.
Nadiya kemudian digandeng Prasetyo untuk menemui beberapa teman lelakinya.
"Hai...sudah lama kita tidak bertemu." Kata Prasetyo.
"Ya sudah sepuluh tahunan kira-kira." Sambung beberapa temanya.
"Oya. Kenalkan ini istriku. Nadiya." Kata Prasetyo.
Kemudian temanya mengangguk dan melihat Nadiya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Nadiya semakin tidak nyaman.
"Sudah Pras. Kita pulang saja." Kata Nadiya yang mukanya sudah memerah dari tadi.
"Aku seperti lelucon dipesta temanmu itu." Kata Nadiya mulai kesal.
"Itu hanya perasaanmu saja Nadiya. Tidak apa. Ada aku disini. Kamu tidak usah khawatir." Kata Prasetyo.
Nadiya semakin kesal karena Prasetyo sepertinya betah dipesta anak muda seperti ini.
Ini bukan duniaku
Aku tidak pernah datang ke pesta seperti ini. Bahkan sejah bersama Ardy aku tidak pernah ada dipesta muda-mudi seperti ini.
Dan ini adalah pertama kalinya bagiku. Gara-gara suami brondong ku dan kebiasaanya hidup diluar negeri. Pesta seperti ini adalah hal biasa bagi mereka.
Nadiya kemudian meminta minuman dari seorang pelayan yang membawa minuman diatas nampan.
Dan saat dia menoleh Prasetyo sudah tidak ada disampingnya.
Kemana perginya?
Apakah dia ketoilet? Dimana toiletnya? Ruangan ini begitu luas dan juga semua terlihat remang-remang dan hanya lampu putar yang nampak meneranginya.
Bagaimana aku mencarinya ditempat yang seluas dan serame ini?
Kemudian Nadiya berjalan lurus kedepan dan mencari Prasetyo diantara muda-mudi yang sedang berpesta.
Didekat pintu masuk ada seorang lelaki yang mirip dengan Ardy juga datang kepesta. Lelaki itu menggunakan topi juga jaket kulit kecoklatan.
__ADS_1