
Nadiya menatap lekat wajah Prasetyo dan mencari kesungguhan dari matanya. Kata orang mata selalu jujur, sehingga Nadiya mencari kejujuran dari mata Prasetyo.
Kemudian Prasetyo mengangguk dan menunggu reaksi dari Nadiya. Mereka bertatapan lama dan sambil Nadiya memikirkan tentang lamaran Prasetyo. Jika dia kembali pada Ardy, apakah iya semuanya akan berubah lebih baik? Ataukah suatu saat kisah itu akan terulang kembali. Mengingat sikapnya yang mudah berubah.
Akhirnya Nadiya mengangguk dan meminta waktu agar Regan tidak bingung dengan kondisi antara Dia dan Ardy. Prasetyo menyetujui permintaan Nadiya. Karena baginya yang terpenting adalah mengetahui isi hati Nadiya dan kelanjutan hubungan mereka.
Prasetyo mulai was-was melihat sikap Ardy yang masih menganggap Nadiya adalah istrinya. Mereka memang sudah berpisah lama. Tapi dua hati yang pernah hidup satu atap berdua, tetap ada kemungkinan sisa-sisa cinta yang masih ada dalam diri Ardy, terajut kembali untuk Nadiya. Apalagi mereka punya ikatan yang kuat, yaitu Regan. Bukan tidak mungkin pertemuan demi pertemuan mereka setiap hari, akan membuat luluh hati calon istrinya.
"Nanti jika Regan sudah sehat maka akan aku jelaskan perlahan, tentang kondisi ayah dan ibunya."
"Lakukanlah. Aku akan menunggumu sampai kau benar-benar siap." Jawab Prasetyo.
"Terimakasih." Kata Nadiya.
Kemudian Prasetyo mengambil jemari Nadiya dan mencium punggung tanganya.
"Aku sangat berharap kabar bahagia itu segera tiba."
"Doakanlah semoga semua berjalan sesuai harapan kita dan Regan bisa menerima semuanya."
"Tentu my queen." Kata Prasetyo sambil tersenyum bahagia. Kemudian Prasetyo menghidupkan kembali mesin mobil dan mereka menuju apartemen Ardy.
Sampai diapartemen Regan masih tertidur. Kemudian Prasetyo menggendongnya dan membaringkannya ditempat tidur Regan. Mengetahui anaknya tidur dan khawatir akan kedekatan Regan dan Prasetyo juga Nadiya, Ardy ingin berbicara empat mata denganya.
Kemudian Nadiya meminta Prasetyo untuk menjaga buah hatinya yang sedang tidur, sementara Ardy dan Nadiya keruang tamu untuk berbicara empat mata.
"Duduklah." Kata Ardy mempersilakan Nadiya untuk duduk didekatnya. "Ada yang perlu aku bicarakan padamu."
"Oke. Katakan." Jawab Nadiya.
"Ini tentang anak kita."
"Baiklah. Aku mendengarkan." Kata Nadiya.
"Aku ingin kita memperbaiki hubungan kita demi Regan." Kata Ardy yang rupanya sudah membulatkan tekad untuk memperbaiki hubungannya dengan Nadiya sebelum semuanya terlambat.
Seperti tersambar petir Nadiya mendengar ungkapan Ardy yang tiba-tiba ingin memperbaiki hubungan mereka.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin." Jawab Nadiya karena tidak menduga Ardy akan mengutarakan perasaannya secepat itu. Belum lagi baru saja Prasetyo melamarnya dan Nadiya sudah mengiyakan untuk menerima lamaran dari orang lain.
"Kenapa?" Tanya Ardy penasaran.
"Karena aku bukan Nadiya yang kamu kenal dulu. Aku sudah berubah." Jawab Nadiya karena dia tahu Ardy tidak bisa menerima karakter Nadiya yang saat ini ada dihadapannya.
"Aku akan membuatmu menjadi Nadiya ku kembali. Dan kita akan bersama-sama menjaga Regan."Kata Ardy.
"Aku bahagia menjadi Nadiya yang sekarang."
"Tidak. Ini hanya pelarianmu saja."
"Kamu salah Ardy. Nadiya yang dulu sudah tiada. Inilah aku sekarang. Aku dan perubahanku yang kamu benci."
"Ini tidak mungkin. Aku pasti salah dengar. Aku akan berjanji untuk menjadi suami yang terbaik di dunia. Tapi....Kembalilah menjadi Nadiya yang kukenal dulu."Jawab Ardy membujuk Nadiya agar menjadi Nadiya yang sederhana dan penurut.
"Hhhhhh...Aku sudah berubah dan tak mungkin kembali manjadi Nadiyamu.Dan sebaiknya kita akhiri hubungan kita. Kita tidak bisa kembali membina rumah tangga lagi." Lagi-lagi jawaban Nadiya terdengar datar dan tanpa ekspresi.
"Tidak! Jangan katakan itu Nadiya. Itu sangat menyakitkan. Aku ingin memperbaiki semuanya." Ardy bersikukuh.
"Kaca yang sudah hancur dan retak tidak mungkin kembali utuh Ardy. Kuharap kamu mengerti." Kata Nadiya agar tidak terjebak dalam situasi yang sama dimasa depan.
"Stop Ardy! Jangan katakan apapun lagi. Aku tak ingin mendengarnya." Nadiya benci setiap kali ingat momen itu. Momen dimana Ardy menyalahkan dirinya padahal dia berjuang menguatkan hati demi rumah tangganya. Tapi di salah pahami oleh Ardy hingga sekarang.
Kemudian Nadiya melangkah untuk pergi dari tempat itu, tapi tangan Ardy memegang tanganya dan menahanya.
"Lepaskan!" Nadiya mengibaskan pegangan Ardy.
"Oke akan aku lepaskan. Tapi apakah kau bisa memberiku kesempatan sekali lagi?"
"Tidak. Maaf aku tidak bisa Ardy. Aku punya alasan dan tidak ingin menjelaskan apapun tentang rasa sakit itu. Dan lagi sebenarnya aku ingin kita bercerai secepatnya." Kata Nadiya datar tanpa ekspresi.
"Bercerai? Aku ingin memperbaiki semuanya tapi kamu ingin bercerai? Kamu memang bukan Nadiya yang dulu. Hatimu keras seperti batu. Kamu bahkan tidak memikirkan tentang perasaan Regan."
"Jangan menggunakan Regan sebagai alasan Ardy."
"Kita tidak akan bercerai, aku tak ingin Regan terluka." Kata Ardy. "Terserah apa maumu. Tapi aku tidak akan menceraikanmu."
__ADS_1
"Regan akan mengerti pelan-pelan. Kita berdua akan menjelaskannya. Tapi berhentilah bersifat kekanak-kanakan." Kata Nadiya kesal dengan sikap Ardy yang keras kepala.
"Hentikan dramamu kita tidak akan bercerai fix!" Kata Ardy kemudian melihat kearah yang lainya. Wajah kecewa terlihat jelas dari matanya. Entah apa sebabnya sehingga Nadiya bahkan tidak mau berpikir dua kali atas permintaanya.
"Terserah padamu. Tapi itu keputusanku." Kata Nadiya kemudian melenggang meninggalkan Ardy disana sendirian.
Nadiya masuk disambut tatapan Prasetyo yang merasa pasti sesuatu yang dia takutkan telah terjadi. Pasti Ardy akan membuat hubungan mereka menjadi sulit. Prasetyo masih bisa melihat begitu banyak cinta tersimpan dalam ego Ardy.
Prasetyo tidak ingin bertanya selama itu masalah privasi mereka, kecuali Nadiya sendiri yang ingin membaginya. Diam-diam Prasetyo memperhatikan perubahan pada wajah Nadiya yang seperti tertekan oleh sesuatu. Tapi akhirnya Prasetyo mendekati Nadiya dan duduk disampingnya.
"Ada apa Nadiya? Kamu kelihatan sedih? Apakah kamu ingin membaginya denganku?" Tanya Prasetyo yang menerka-nerka apa yang sudah terjadi pada Nadiya.
"Ada sedikit masalah dan aku tidak mengira jika Ardy yang akan menjadi salah satu hambatanya."
"Maksudmu?" Tanya Prasetyo bingung.
"Ardy ingin aku kembali menjadi istrinya....." Prasetyo langsung menatap tajam bagai busur panah yang siap menikam sasaranya.
"Lalu?" Prasetyo makin penasaran dan tanganya mengepal kencang siap untuk memukul tembok disampingnya.
"Aku tidak mau." Jawab Nadiya.
"Syukurlah!" Jawab Prasetyo spontan karena hanya jawaban itu yang dia tunggu dari Nadiya. Nadiya menatap Prasetyo dengan tatapan yang bingung saat dia spontan berkomentar.
Prasetyo yang sadar tatapan aneh dari Nadiya cepat meralat ucapanya. "Aku senang karena kamu tidak menerimanya kembali dalam kehidupanmu dimasa mendatang."
"Iya. Tidak mudah bagiku untuk mengulang cerita dan drama yang sama." Jawab Nadiya.
"Terimakasih kamu sudah memberiku kesempatan dan peluang untuk hidup bersamamu. Soal Ardy biarkan dia tetap menjadi masa lalumu. Kamu adalah wanita yang Smart, sehingga aku yakin kamu tidak akan membuat keputusan yang keliru untuk kedua kalinya." Kata Prasetyo sedikit lega setelah mengetahui jawaban Nadiya dan kemudian menggenggam tangan calon istrinya.
Dan tiba-tiba Ardy masuk kedalam dan matanya langsung menuju pada Prasetyo yang sedang menggenggam jari Nadiya. Ardy mengepalkan tangannya dan menatap tajam kearah Prasetyo. Kemudian dengan cepat Prasetyo melepaskan genggamanya. Dia juga menyadari jika Ardy tidak menyukainya, bagaimanpun Nadiya adalah mantan istrinya.
Kemudian Prasetyo pamit pada Nadiya untuk menghirup udara segar diluar. Dan mengajak Nadiya juga jika dia mau untuk sejenak menghilangkan beban dibenaknya.
"Aku mau keluar dan menghirup udara segar. Apakah kamu mau ikut?" Tanya Prasetyo pada Nadiya.
Karena tidak ingin terjadi pertengkaran lagi dengan Ardy maka Nadiya lebih memilih untuk menghindari satu ruangan dengan Ardy dan pergi ketempat lain.
__ADS_1
"Aku ikut." Kemudian dengan reflek Prasetyo menggandeng Nadiya dan mengajaknya keluar dari sana. Ardy bertambah kesal dan keki dengan kelakuan bodyguard yang satu ini karena telah lancang memegang tangan mantan istrinya. Ardy mengepalkan tangannya dan saat mereka sudah pergi tembok menjadi sasaran pelampiasan amarahnya.
bersambung.......