
Beberapa hari ini Elis tidak mengunjungi Ardi karena Joan sedang cuti untuk liburan akhir tahun ke Eropa. Sehingga Elis sangat sibuk di kantor dan karena banyak pekerjaan yang menumpuk sehingga tidak sempat untuk mengunjungi Ardi.
Sementara Nadiya dan Prasetyo juga sudah bersiap-siap untuk liburan akhir tahun ke Bali selama 1 minggu. Nadia sudah bersiap-siap akan berangkat dan tinggal membawa kopernya saja namun tiba-tiba berita di televisi heboh tentang sebuah ledakan di di penjara di mana jika saat itu para tahanan sedang olahraga pagi.
Nadiya yang baru saja akan menenteng koper dan akan berjalan berhenti sejenak. Prasetyo sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.Nadiya kemudian membesarkan volume televisi itu sebelum dia tinggal pergi dan dia penasaran dengan berita yang baru saja dia dengar itu.
Apakah tadi aku tidak salah dengar
Kemudian Nadiya mendekat di depan televisi dan dia lihat bangunan itu hancur tinggal puing-puing dan asap mengepul ke udara.
Ternyata terjadi ledakan dan belum diketahui ledakan itu berasal dari apa. Polisi masih menyelidiki dari mana ledakan itu berasal. ramai-ramai orang berhamburan untuk menyelamatkan diri dan beberapa jenazah tergeletak akibat terkena serpihan ledakan dan reruntuhan bangunan.
Beberapa narapidana berhasil menyelamatkan diri namun belum diketahui siapa saja yang selamat dan yang meninggal dunia. Prasetyo kemudian memanggil Nadiya berulang kali namun Nadiya tidak bergeming dan masih berdiri di depan televisi.
Akhirnya karena yang ditunggu tidak kunjung datang Prasetyo mematikan mesin mobilnya dan turun menghampirinya.
Prasetyo melihat Nadiya sedang menangis di depan televisi dan mengusap air matanya.
"Ada apa Nadiya kok kamu menangis?" tanya Prasetyo.
"Tidak papa Pras." Kata Nadiya yang langsung mengusap airmatanya.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Prasetyo.
"Bagaimana kalau kita berangkat 2 hari lagi?" Kata Nadiya.
"Ada apa kok mendadak begini? Bukankah kita sudah siap dan tinggal berangkat saja." Kata Prasetyo yang kaget saat tiba-tiba Nadiya berubah pikiran padahal sudah direncanakan dari kemarin-kemarin.
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin menunda nya?" Kata Prasetyo mengulangi pertanyaannya.
"Tidak apa-apa perasaan aku hanya sedang khawatir." Kata Nadiya tidak berterus terang. Kebetulan saat Prasetyo datang berita itu sedang diselingi oleh iklan.
"Apa yang membuatmu khawatir Nadiya? Bukankah semua baik-baik saja?"
"Aku teringat Regan." Nadia mengalihkan alasannya.
Padahal alasannya adalah karena dia sedang mencemaskan kabar tentang Ardy, namun jika dia mengatakannya kepada Prasetyo dia takut Prasetyo akan tersinggung dan tidak menyukai alasanya hingga menunda acara yang sudah mereka rencanakan bersama.
__ADS_1
Kepeduliannya kepada Ardi pasti akan disalah artikan oleh Prasetyo, gumam Nadiya.
namun saat ini dia benar-benar merasa sangat khawatir pada keadaan Ardy akibat ledakan itu. Bukan karena dia masih mencintai Ardy namun karena Ardy adalah Ayah dari Regan. Sehingga jika terjadi apa-apa dengan Ardy maka Regan pasti akan sedih.
"Aku tidak mengerti kenapa kamu bisa mengubah pikiranmu tiba-tiba seperti ini Nadiya?"
"Tadi kamu begitu bersemangat dan kita tinggal berangkat saja tapi dalam waktu 1 menit kamu mengubah rencana kita aku benar-benar bingung dan tidak tahu harus bagaimana." Kata Prasetyo yang menahan rasa kesalnya.
"Maafkan aku Pras, aku sepertinya tidak bisa pergi ke Bali saat ini bagaimana kalau kita tunda saja."
"Terserah kau saja! Ya sudah kalau kita tidak jadi pergi kita tidak akan pergi!" Kata Prasetyo kesal.
"Maafkan aku Pras apakah kamu kecewa karena kita tidak jadi pergi?"
"Entahlah Nadiya." Kata Prasetyo sambil keluar dari rumah Tuan Alex. Dan melajukan mobilnya menjauhi rumah itu. Biasanya mereka tinggal di apartemen tapi karena ditelpon papinya suruh menginap sebelum pergi ke Bali, maka merekapun menginap. Kebetulan ibu Sofia juga sudah berangkat liburan bersama Joan.
"Pras...." Panggil Nadiya.
Namun Prasetyo sudah keluar dari rumah Nadia dan pergi entah kemana dia tidak mengatakan apapun kepada Nadia. Jelas saja Prasetyo marah, karena sudah mau berangkat bersenang-senang dan meneruskan bulan madu mereka kok malah dibatalkan sepihak tanpa sebab yang jelas.
Nadiya kemudian menaruh kopernya kembali dan mengendarai mobilnya pergi ke kantor polisi. Di sana dia melihat beberapa orang mondar-mandir dan banyak polisi yang mengevakuasi korban serta jenazah akibat reruntuhan puing. Di sekitar terjadinya bangunan roboh itu polisi memasang garis kuning dan yang tidak berkepentingan dilarang untuk masuk dan mengganggu jalannya evakuasi korban.
Nadiya masih berdiri tak bergeming dan melihat setiap korban yang dievakuasi oleh Polisi dari jarak yang tidak terlalu jauh. Dia sedang mencari sosok Ardi apakah dia selamat atau tidak? Dia ingin tahu kabar Ardy secepatnya.
Nadiya berdiri di sana dari pagi hingga sore hari dan saat Prasetyo pulang ke rumah berusaha untuk menghubungi Nadiya namun teleponnya mati.
Prasetyo kemudian duduk di ruang tamu dan melihat ponselnya berulang kali namun pesannya juga tidak dibalas oleh Nadiya. Prasetyo sangat bingung ke mana dia pergi tanpa memberitahu dirinya. Nadia juga pergi tanpa berpamitan dengan Tuan Alex ayahnya.
Semakin lama Prasetyaosemakin khawatir tentang ke mana Nadia pergi tanpa memberi kabar sama sekali.
Tidak lama kemudian Prasetyo melihat Nadia datang dengan mobilnya dan Prasetyo merasa lega karena ternyata Nadiya tidak kenapa-kenapa.
"Nadiya kamu dari mana aku sangat khawatir?" Tanya Prasetyo yang langsung berdiri dan menyambut Nadiya yang terlihat letih, lesu dan seperti sangat khawatir entah menghawatirkan apa Prasetyo dia tidak tahu.
"Iya aku tadi pergi sebentar dan sekarang aku sangat lelah. Bisakah aku istirahat sekarang." Pinta Nadiya dan langsung berjalan kelantai dua.
"Ya sudah aku akan mengantarmu ke lantai atas."kata Prasetyo sambil menopang badan Nadiya dan memeluknya hingga ke atas.
__ADS_1
"Ada apa Nadia kamu sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku apakah ada masalah yang tidak aku ketahui?" Tanya Prasetyo melihat sikap Nadiya yang berbeda.
"Iya aku sedang cemas, aku sedang khawatir, aku tadi melihat berita tentang penjara bangunan penjara yang roboh akibat kebakaran dan ledakan sehingga banyak memakan korban terutama dari para nabi yang sedang ditahan di sana juga beberapa nabi terluka dan ada yang meninggal dunia.
"Apakah di sana juga tempat di mana Ardi ditahan Nadiya?" Tebak Prasetyo.
"Iya betul." Kata Nadiya.
"Oh aku tahu penyebabnya kenapa kamu sangat cemas dan kenapa kamu membatalkan liburan kita apakah karena kamu tadi melihat dan mendengar berita itu." Prasetyo menebaknya.
"Maafkan aku, bukannya aku mau menyinggung perasaan kamu tapi Ardy adalah ayahnya Regan, bagaimanapun jika terjadi apa-apa dengan dia, Regan pasti akan sedih. Jadi aku ke sana untuk memastikan keadaan Ardi."
"Pantas saja kamu seharian tidak ada dirumah. Aku seharian menunggumu dan ponselmu juga tidak bisa dihubungi. Kamu membuatku sangat khawatir. Seharusnya lain kali kamu kalau pergi beri tahu aku sehingga aku akan menemanimu." Kata Prasetyo. Sementara Nadiya diam saja.
"Lalu bagaimana apakah kamu bisa tahu kabar tentang Ardi?"
"Aku belum mengetahui kabar dan keadaanya saat ini Pras."
"Maafkan aku Nadiya aku hampir saja berprasangka buruk kepadamu karena kamu masih sangat peduli pada Ardi." Kata Prasetyo.
"Aku sempat berfikir bahwa kamu masih mencintainya." Kata Prasetyo.
"Kita sama-sama dewasa dan kita sama-sama sudah tahu tentang apa yang terjadi dan yang sudah aku alami." Kata Nadiya.
"Yyaa. Aku mengerti Nadiya. Arti diriku bagimu dan posisiku saat ini." Kata Prasetyo.
"Jangan diteruskan Pras. Aku mohon. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan itu, tapi yakinlah padaku bahwa aku sudah tidak ada hubungan apapun dengan Ardy kecuali karena dia adalah ayahnya Regan.
"Baiklah aku mempercayaimu." Kata Prasetyo.
"Sekarang kamu makanlah dulu pasti kamu belum makan bukan? bagaimana jika aku masak sesuatu untukmu." Kata Prasetyo.
"Baiklah terima kasih karena kamu sudah mengerti posisiku saat ini." Kata Nadiya.
"Iya. Kamu istirahat lah nanti jika makanannya sudah matang maka aku akan memanggilmu.
Nadiya mengangguk dan kemudian merebahkan badannya di atas kasur dan memejamkan matanya. Seharian berada di sekitar reruntuhan gedung itu membuat nafasnya masih agak sesak dan badannya terasa sangat lelah karena terjemur sinar matahari.
__ADS_1