
Pagi harinya Prasetyo sudah bangun lebih dulu dan siap-siap berangkat kekantor. Kemudian dilihatnya istrinya masih pulas. Prasetyo iseng dan mencium bibir Nadiya, namun yang dicium tidak merespon.
Beneran deh tidurnya pules banget.
Sebaiknya aku tidak usah bangunin Nadiya, mungkin dia tadi malem tidak bisa tidur.
Jam berapa sekarang?
Masih jam 05.50, masih pagi sekali.
Prasetyo kemudian turun kebawah dan membuat teh hangat sendiri.
"Kenapa dispenser nya ngga nyala? Yah terpaksa deh harus masak air!" Prasetyo kemudian menuang sedikit air kedalam panci dan memasaknya sendiri.
Setelah matang kemudian Prasetyo menuangnya kedalam cangkir. Hampir saja tumpah dan mengenai tanganya saat tiba-tiba saja maminya masuk kedapur.
"Apakah Nadiya belum bangun? Tumben kamu bikin teh sendiri?"
"Ops!"
Prasetyo menoleh kearah suara yang mengagetkanya itu. Mami....sejak kapan mami berdiri disana?
"Iya mi, Nadiya sepertinya semalaman gelisah, jadi tidurnya larut malam, Prasetyo ngga tega mau bangunin."
"Ya sudah kamu mau sarapan apa? Mami biar siapapin sebelum berangkat kekantor?"
"Roti saja mi." Prasetyo kemudian duduk di meja makan, sementara maminya membuatkan Roti dengan selai untuknya.
Selesai makan Prasetyo langsung berangkat kekantor.
"Mi ... Prasetyo berangkat sekarang."
Maminya mengangguk dan mengantarkan Prasetyo hingga ke pintu depan.
*********************
Siang harinya Dokter menelpon Nadiya dan memberitahukan jika ada wanita yang bersedia menjadi ibu pengganti.
"Halo dokter....."
"Ya. Baiklah. Terimakasih dokter. Saya akan segera memberitahukan pada suami saya."
Kemudian Nadiya bergegas kekantor Prasetyo dan tidak sabar untuk memberitahukan kabar baik ini.
Nadiya tidak mungkin menelpon Prasetyo karena saat ini Prasetyo sedang rapat.
Sampai dikantor, Nadiya diantar oleh Sekretaris Prasetyo yang cantik dan seksi keruangan CEO.
__ADS_1
"Selamat siang ibu, hari ini CEO sedang berada di ruangan rapat. Mohon ibu tunggu dikantor CEO." Kata Sekretaris itu ramah.
Kemudian Sekretaris itu langsung pergi keruanganya dan dipintu masuk bertabrakan dengan Prasetyo. Hingga Prasetyo harus menangkapnya agar Sekretaris itu tidak terjatuh.
Nadiya kaget dan melihat saat suaminya menolong Sekretarisnya dan mereka dalam posisi yang sangat dekat.
Mata Nadiya langsung melebar dan berdiri dari tempat duduknya setelah melihat adegan tidak disengaja itu.
"Maaf pak, saya tidak melihat kedatangan bapak."
Belum juga Prasetyo menjawab. Nadiya langsung menasehatinya.
"Lain kali kamu kalau jalan hati-hati....." Nadiya berjalan mendekati mereka.
Prasetyo kaget dan menatap Nadiya. Ada apa dengannya? Batin Prasetyo.
"Terimakasih Pak, saya permisi dulu." Kata Sekretaris itu yang wajahnya memerah dan berjalan kembali kemeja kantornya.
"Hai....kau disini?" Tanya Prasetyo sambil menaruh map di atas meja kerjanya.
"Ya....aku ada kabar gembira dari dokter."
"Kabar gembira?"
"Ya. Dokter mengatakan jika saat ini ada wanita yang bersedia menjadi ibu pengganti untuk anak kita."
Kata Nadiya sambil melihat respon Prasetyo.
Nafiya mengangguk dan menggenggam tangan Prasetyo.
"Ayo kita bertemu dokter, dan kita akan mencoba metode ini, Pras....cobalah mengerti. Penting bagiku untuk memberimu keturunan."
"Apakah tidak lebih baik kita mengadopsi anak dari Panti Asuhan saja?"
"Tidak Pras. Aku tahu niat kamu mulia. Tapi apa salahnya kita mencoba metode ini dulu, seenggaknya orang tua kamu pasti ingin darah nya mengalir pada cucunya."
"Metode ini terlalu rumit menurutku Nadiya."
"Tidak Pras. Ini tidak rumit selama ada yang bersedia menjadi ibu pengganti." Kata Nadiya keras kepala.
"Ya sudahlah jika kamu bersikeras. Ayo kita kedokter." Prasetyo kemudian menjawabnya dengan wajah datar.
"Terimakasih Pras. Akhirnya kamu mengerti...."
"Jika aku menolaknya, kamu pasti ngambek lagi kan? Jadi mau bagaimana lagi....Kita sedang berdiskusi tapi kamu sudah menentukan keputusan bahkan sebelum diskusi dimulai...."
Nadiya tidak mempedulikan perkataan Prasetyo. Baginya satu anggukan kepala sudah lebih dari cukup. Artinya Prasetyo mengizinkan nya meskipun Nadiya tahu hanya setengah hati.
__ADS_1
Satu jam kemudian mereka sudah berada di ruangan dokter.
"Baiklah karena Tuan dan Nyonya Prasetyo sudah disini maka saya akan memanggil calon ibu penggantinya.
"Ibu Sandra silahkan masuk." Dokter memanggil Sandra yang berada didepan ruangan dokter.
Sandra masuk kedalam. Dan saat sampai dipintu matanya tertuju pada Prasetyo dan mereka sama-sama kaget.
"Bukankah kita pernah bertemu dipesta? Kamu temanya Luna kan?" Tanya Prasetyo.
"Duduklah disini ibu Sandra." Sandra duduk didekat Prasetyo.
"Iya Pak. Saya adalah temanya Luna. Dan kita pernah bertemu dipesta.
Nadiya juga mengingatnya jika pertama kali dia melihat Sandra di pesta muda-mudi itu.
"Apa yang membuatmu ingin menjadi ibu pengganti?"
"Saya sangat membutuhkan uang itu. Saya benar-benar sudah memikirkan masak-masak untuk menjadi ibu pengganti."
"Apakah kamu sudah menikah?" Tanya Prasetyo.
"Belum." Jawab Sandra.
"Nah kamu bahkan belum pernah menikah. Lalu bagaimana mungkin kamu membuat keputusan sebesar ini. Nanti bagaimana kamu akan menikah jika kamu pernah hamil dan melahirkan anak. Ini sangat beresiko bagi masa depanmu."
"Tidak Pak. Jangan tolak saya. Saya sangat membutuhkan uang itu lebih dari sekedar hidup saya. Saya tidak bisa mengatakanya untuk apa, tapi saya benar-benar membutuhkannya."
Nadiya senang sekali karena wanita ini tidak tergoyahkan oleh penolakan Prasetyo. Dia pantas mengandung anaknya. Dia pasti wanita yang baik dan kuat. Nadiya membutuhkan ibu seperti itu. Yang tekadnya bulat dan tidak mudah digoyahkan oleh keyakinan orang lain.
"Jika Sandra memang sudah siap, maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi." Kata Nadiya. Prasetyo langsung menatapnya tajam dan membuat ekspresi datar.
"Sandra sebaiknya pikirkan sekali lagi. Kamu masih sangat muda, masa depanmu masih panjang." Nasehat Prasetyo mengingatkan Sandra.
"Kau pernah melihat wanita hamil bukan? Badannya gemuk dan mukanya berubah, dan bahkan saat proses melahirkanya juga butuh pengorbanan yang tidak mudah." Kata Prasetyo sepertinya keberatan karena ibu penggantinya masih gadis.
"Saya mengerti. Dan Arya bersedia melakukan semua itu." Kata Sandra mantap untuk tidak mengubah keputusannya.
Nadiya langsung menggenggam tangan Sandra. "Terimakasih karena kamu sudah bersedia menjadi ibu pengganti untuk anak kami. Aku salut karena kau adalah wanita yang kuat. Kau pantas mengandung anak kami." Kata Nadiya mendukung keputusan Sandra.
Prasetyo menghela nafas panjang, dan menggelengkan kepalanya.
"Baiklah jika kalian bertiga sudah sepakat maka saya akan memeriksa kondisi ibu Sandra."
"Ibu Sandra ikutlah dengan saya." Sandra kemudian berjalan ketempat tidur dan dokter mulai memeriksa kesehatannya.
"Karena ibu Sandra tidak punya riwayat sakit yang berbahaya dan alergi, maka kita bisa memulai program nya dalam satu Minggu ini."
__ADS_1
"Baiklah dokter." Kata Nadiya bersemangat dan kegembiraan terlihat jelas dimatanya.
Setelah menyelesaikan semua yang diperlukan maka mereka bertiga keluar dari rumah sakit.