
Sejak Vano menghilang Jack menjadi jarang keclub. Sekarang dia lebih sering terlihat bersama Sasha.
"Ayo kita jalan!" kata Sasha yang sudah menunggu Jack dari tadi.
"Naik motor?" tanya Jack.
"Ngga usah! Jalan kaki saja." kata Sasha.
Sasha memakai kaos warna putih dan sweater warna pink. Dipadukan dengan celana jeans dan sepatu kets warna putih.
"Nanti sekalian anterin aku kebutik depan ya."
"Mau ngapain?"
"Ada deh!" kata Sasha lalu berjalan disamping Jack.
"Mau es krim?" tanya Jack saat melintasi toko es krim.
"Boleh!" kata Sasha lalu berjalan dibelakang Jack dan mengantri es krim.
"Tumben antri." kata Sasha.
"Nih, gara-gara ini." kata Jack sambil memperlihatkan voucher diskon 50%.
"Ohhh, pantas saja." kata Sasha sambil berdiri dibelakang pengunjung lainnya.
"Kamu tunggu ditaman saja. Biar aku yang antri disini." kata Jack karena tidak ingin Sasha kelelahan akibat antrian panjang.
"Baiklah! Aku tunggu ditaman ya!" kata Sasha lalu keluar dari antrian.
Sasha berjalan sambil melihat pemandangan disekelilingnya. Orang nampak berlalu lalang sambil berjalan kaki dengan kesibukan masing-masing.
Sasha lalu duduk dikursi taman dan tersenyum pada seseorang.
"Sedang apa disini?" tanya salah seorang teman yang pernah ikut kompetisi bersamanya.
"Menunggu teman."
"Teman apa pacar?"
"Teman." kata Sasha sambil menengok kearah jalan raya. Namun Jack belum terlihat juga.
"Teman rasa pacar ya!"
"Hah!"
__ADS_1
"Ya udah ya. Aku duluan. Aku juga mau ketemu teman."
Tidak berapa lama Jack datang dengan dua es krim ditanganya.
"Kau mau yang mana?" tanya Jack pada Sasha.
"Strawberry saja."
"Siapa tadi, aku lihat kau berbicara pada seseorang. Sepertinya bukan teman kampus?"
"Iya, bukan. Kami berbicara saat kompetisi. Rupanya dia masih mengenaliku."
"Ohh..."
Mereka menikmati es krim di taman dengan suasana yang romantis. Namun sayangnya mereka bukanlah pasangan kekasih. Mereka hanya bersahabat hingga saat ini.
***
Vano saat ini sedang terbaring disebuah kamar dirumah sakit sendirian.
Tidak ada yang tahu jika dia ada disana. Dia bahkan tidak memberi tahu papinya jika saat ini berada dirumah sakit.
Uang dari papinya untuk bayar kuliah dia gunakan untuk biaya rumah sakit. Dia dirawat oleh seorang dokter muda. Dokter itu baru saja keluar dari kamarnya. Namun tidak berapa lama dia kembali.
"Tidak!"
"Apakah dokter menanyakan ini karena mengasihaniku?" tanya Vano.
"Tidak!"
"Aku pikir, dokter juga mengasihaniku. Itulah kenapa aku merahasiakan penyakitku ini. Aku tidak ingin orang mengasihaniku. Aku tidak ingin setiap mata iba kepadaku. Aku tidak ingin kehilangan harga diri dan kejantananku."
"Semua orang yang menderita sakit cancer selalu berpikir seperti itu. Mereka berpikir semua orang menatapnya dengan rasa kasihan."
Vano membuang mukanya.
"Operasinya satu Minggu lagi. Apakah kau siap?" tanya dokter kepada Vano.
"Ya." kata Vano mantap.
"Sudah kubilang dari satu tahun yang lalu, agar kau segera melakukan operasi, tapi kamu tidak mau dengar." kata Dokter kepada Vano dengan sedikit kesal.
"Aku takut." kata Vano.
"Kenapa kau takut? Mereka yang mengetahui distadium awal, semua melakukan operasi. Tapi kau tidak menghiraukan nya."
__ADS_1
"Sekarang aku harus operasi, karena aku masih ingin hidup untuk seseorang." kata Vano.
"Kekasihmu?"
Vano diam saja.
"Tapi aku tidak pernah melihatnya disini. Apakah dia juga tidak tahu jika kau akan operasi?"
Vano menggelengkan kepalanya.
"Lalu apakah dia juga tidak tahu jika kau sakit?"
Vano juga menggelengkan kepalanya.
"Kau ini mengesalkan. Aku bahkan hampir menangis karenanya."
Kata dokter itu sambil mengusap airmatanya.
"Bagaimana jika kau tiada?"
"Kau bilang operasinya akan berjalan lancar, dan aku akan berumur panjang setelah operasi."
"Kau ini!" Usia mereka seumuran, dan karena Vano sering berkonsultasi dengannya maka, mereka seperti teman.
Dokter itu kira-kira usianya lebih tua dua tahun dari Vano. Rambutnya pirang dan digelung kebelakang.
"Apakah kau punya kekasih?" tanya Vano saat dokter akan mengganti botol infusnya.
"Perlu kesabaran untuk menjadi suami seorang dokter sepertiku." kata dokter itu.
"Kenapa?"
"Karena aku sangat sibuk." katanya terdengar asal saja. Sepertinya dia punya jawaban lain. Namun dia tidak ingin terlalu terbuka pada pasiennya.
"Oh iya dokter, apakah sebelum aku, ada pasien lain yang menderita cancer sepertiku?"
Dokter itu lalu menatap Vano.
"Mereka rata-rata wanita. Dan baru kau saja yang menderita seperti ini."
Vano lalu tersenyum kecut.
"Sebaiknya kau mengajak seorang teman. Itu lebih baik. Agar ada yang kau ajak bicara. Secara psikis dan mental, itu akan mengurangi pikiran negatif."
"Bagaimana jika ada yang tahu aku disini? Aku sangat malu. Aku tidak bisa menatap mata mereka jika mereka tahu penderitaanku." kata Vano lalu menatap kewajah dokter yang tersenyum manis padanya.
__ADS_1